Meta For Siah

Meta For Siah
Namanya luwi



Aku berdiri dan meregangkan otot-otot. Mataku menyipit memandang kearah semak dibawah hutan terlarang.


"Ka. . kakak. "Panggil dodo gugup. Sepertinya dia tau maksudku.


Suara detak jantung dodo terdengar ditelinga ku. Aku menghela nafas dan tersenyum. " Kita tidak naik gunung, hanya dipinggir saja. Kau dengar suara anak anjing itu? kau tidak kasihan? "


"Kenapa aku harus kasihan, kakak tidak ingat kejadian terakhir kali kita kesini? "Kata dodo dengan intonasi sedikit tinggi. Sebab iya takut dan khawatir. Dodo tau betul seberapa nekat kakak ketiganya. Rasa penasaran kakak perempuannya hampir saja mencelakai mereka waktu itu.


"Jangan khawatir, kau tunggu disini, kakak kesana sebentar. "Jawab ku santai. Sejujurnya aku juga khawatir. Tapi aku hanya berusaha tenang lagi pula aku tidak naik keatas gunung cuma dipinggir saja jadi tidak akan terjadi apa-apa.


Aku meninggalkan dodo dipinggir sungai wajah bocah itu terlihat cemas, aku berjalan keseberang melewati air yang tidak terlalu dalam karena memang tidak ada jembatan untuk menghubungkan ke kaki gunung.


Aku naik keatas parit dan mulai berjalan selangkah demi selangkah menuju sumber suara yang aku dengar, mata ku tetap awas memastikan sekitar ku tidak ada hewan buas.


Krak. . .


aku terkejut dengan suara ranting yang baru saja aku injak. Dalam hati aku terkekeh, aku takut juga ternyata.


Aku semakin dekat dengan suara rintihan itu, jantung ku juga semakin bedebar tak karuan. Aku menyingkirkan daun-daun yang menghalangi, disana aku melihat se-ekor anak anjing kecil sedang meringkuk. Kaki anjing itu terluka dan bagian perutnya juga ada goresan, darahnya masih segar. Sepertinya anak anjing ini baru mendapatkan lukanya. Tapi dari mana datangnya anjing ini? Lalu siapa pemilik nya?


Aku menoleh kesamping saat mendengar suara kasak kusuk seperti ada seseorang yang tengah bersembunyi disana. Aku meneguk ludah. Tanpa pikir panjang lagi aku mengangkat anak anjing itu membawanya dalam gendongan. Dalam pikiran ku saat ini hanya ingin segera pergi dan menjauh dari gunung. Menghindari sesuatu yang tak terlihat itu dengan rasa takut menggerayangi.


***


Dodo berlari dia menghampiri ku, saking tergesa-gesanya sampai dia hampir tercebur kedalam sungai. "Kakak, kau baik-baik saja? Apa yang kau bawa? "


Aku tersenyum menatap wajah dodo yang masih terlihat cemas. "Kemari. . . lihatlah, kau pasti akan suka. "Kataku sambil berjalan kearah rumah yang sedang dibangun.


" kalian masih disini? Bawa adik mu pulang, sekarang sudah sore. Sebentar lagi bapak dan dilang akan menyusul. "Ucap bapak yang sedang membantu pekerja mendirikan tiang kayu penyangga dinding rumah.


Aku mengangguk, lagi pula aku juga harus mengobati anak anjing ini. Akhirnya aku dan dodo pulang kerumah.


" Wah, dia lucu sekali ya. Kakak ketiga, setelah kau selesai mengobatinya boleh aku mengajaknya bermain? "Tanya dodo dengan mata berbinar. Seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.


Aku mengangguk. Sambil membubuhkan bubuk obat dikaki anjing yang terluka. "Sejak aku datang ketempat ini aku belum pernah melihat ada warga yang memelihara anjing. "aku bergumam dengan suara pelan. "Aku penasaran dari mana asal anjing ini, dia tidak terlihat seperti anjing liar. "


Aku cukup penasaran, sebab anak anjing itu memiliki bulu yang lebat dan halus. Aku yakin anak anjing ini ada pemilik nya.


Saat aku dan dodo sedang sibuk bersama anak anjing yang baru aku temukan. Dikediaman utama sedang terjadi kegaduhan. Mereka sudah mengetahui kalau keluarga anas sedang membangun rumah.


Gena datang dengan wajah panik. "Nenek, ibu. "


"Ada apa? Kau sudah melihatnya? Apa berita itu benar? "Tanya nenek.


Tangan gena gemetar. Mulut nya terasa berat memberitahu nenek atas apa yang dia lihat. " Ru-ru rumah. "


"Rumah apa? "Tanya nenek tak sabar. " Katakan apa yang kau lihat disana kenapa malah jadi gagap?"


"Benar nek. " Jawab gena sambil mengatur nafasnya karena tadi dia datang sambil berlari. "Bukan hanya itu, rumah nya sangat besar dan terlebih juga bertingkat. Ada tangga untuk naik kesana. "Ucap gena dengan wajah rumit. Dia merasa sangat iri sekaligus antusias karena itu pertama kalinya dia melihat rumah sebesar itu.


"Kurang ajaar. " Umpat nenek. "Dari mana mereka dapat uang untuk membangun rumah batu? Kalian tidak berguna, apa saja yang kalian lakukan sehingga tidak bisa seperti anak siaalan itu. " Hardik nenek pada semua cucunya.


"Lalu bagaimana ibu? Apa kita akan diam saja, dan membiarkan mereka menikmati kemewahan itu sendiri. "Tanya ibu gena.


Nenek tampak berfikir sejenak sebelum menjawab. " Tunggu ayah mertua dan suami kalian kembali, baru kita bicakan ini lagi. "


Setelah mengatakan itu nenek langsung masuk kedalam kamarnya. Sementara para menantu juga bersiap memasak makan malam sebelum ayah mertua dan suami mereka datang.


Didalam rumah aku dan elis sedang membantu ibu menyiapkan makan malam. Sementara dodo sedang bermain dengan anak anjing. Meski hanya berbaring karena luka dikakinya namun anak anjing itu tampak mulai ceria bermain dengan dodo. Aku sesekali melirik kearah mereka.


Kami telah selesai memasak dan menatanya di atas meja. Setelah membersihkan diri aku inkut duduk dan bergabung bersama dodo.


"Ah, bagaimana ini. " Keluh dodo. "Sepertinya aku sangt menyukai anjing ini. "


Aku terkekeh mendengar ucapan dodo sambil mengelus kepala anjing itu. Jujur saja aku juga menyukainya, apalagi matanya yang berwarna emas itu, bulu nya coklat dan halus terawat dan tidak bau juga. Membuat ku semakin yakin kalai anjing ini ada pemiliknya.


"Kakak ayo beri nama anjing ini. "Ujar dodo sambil berguling-guling disamping anak anjing.


"Benar juga, apa ya namanya. " Gumam ku sambil berfikir.


Beberapa menit aku berfikir. Aku tersenyum. "Luwi." Gumam ku lagi.


"Kakak sudah menemukan namanya? " Tanya dodo.


Aku tidak langsung menjawab. Aku mengelus punggung anjing itu. "Luwi. . . namanya luwi. "


"Nama yang bagus. Halo luwi, aku sitampan dodo. Kau mau berteman dengan ku. " Ucap dodo seolah dia anjing itu akan menjawabnya.


Anjing itu tidak melakukan apa-apa dia hanya diam berbaring tidak memedulikan dodo yang terus mengajaknya bicara. Dia hanya terus memandangi ku dengan mata emasnya.


"Kenapa dia diam saja, apa kakinya masih sakit? "


"Mungkin saja, sepertinya dia juga kesal karena kau mengaku-mengaku tampan padanya. "Jawab ku dengan sedikit mengejek dodo.


"Enak saja ngaku-ngaku, aku ini memang tampan, mungkin saja dia tidak menyukai nama yang kakak berikan. "Balas dodo dengan bibir cemberut. Dia masih mengelus-elus kepala luwi.


"Benarkah." Gumam ku pelan. "Luwi, Apa kau suka nama itu? "Tanya ku sambil menatap mata anak anjing itu. Sementara tangan ku mengelus kepalanya.


Seolah mengerti dia menjilat tangan ku dan mengibaskan ekornya. "Oh, kau menyukainya ternyata. Kalau begitu sekarang nama mu luwi ya. "


Aku terkekeh karena luwi berguling-guling seakan dia senang sekali. Ketika aku menggelitiknya dia terlihat pasrah saja. Aku dan dodo terbahak melihat tingkahnya yang menggemaskan.


***