
Aku menarik nafas berat. Sudah satu bulan aku disini, tapi kehidupan kami masih belum bisa dibilang baik. Aku tidak bisa hanya mengandalkan sayuran liar saja, aku harus mencari bisnis yang lain, tapi, apa ada bisnis yang tidak pakai modal?
Kaki ku gemetaran, padahal aku sudah sarapan tadi, tapi sebenarnya aku sangat lelah, beberapa hari ini aku sudah bekerja cukup keras, wajar saja kalau tubuhku mulai protes.
Hari ini rencana nya aku akan mencari ikan saja disungai, jika dapat lebih akan aku buat jadi ikan asin dan menjualnya.
Begitu sampai disungai aku langsung terpukau melihat pemandangan yang ada didepan.
Menakjubkan!
Sangat indah!
Apa itu dewa?
Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Bahkan sampai menampar pipiku tak percaya.
Plak. . .
sakit, dan ini nyata!
Hei, aku tidak gila. Didepan ku saat ini ada seorang dewa! Seorang dewa yang sangat amat tampan duduk diatas batu besar ditengah sungai, dia memegang sebuah seruling ditangannya. Rambut hitam panjang yang diterpa angin terlihat sangat indah, hidungnya mancung, alisnya hitam tebal dan tegas. Bibir tipis dan seksi.
Apa dia tokoh fiksi yang terdampar didunia ini sama sepertiku? Aku memegang jantungku yang berdebar tak karuan. Siaalnya kini pemuda tampan itu menoleh kearah ku, ia melihat sekilas dengan sorot mata tajam, manik hijau nya terlihat dingin sekaligus meneduhkan.
Ini sungguh surga dunia!
Penghiburan yang sangat luar biasa.
Aku mencubit pipi dodo sedikit keras. "Apa itu sakit? "Bisik ku pelan.
Dodo mengangguk pelan. "Hanya patung yang tidak merasakan sakit saat dicubit. "Ujar dodo kesal.
Bocah itu meringis mengusap pipinya yang mulai gembul. Aku hanya tersenyum bodoh, mata ku masih menatap kearah dewa tampan didepan kami. " Apa kau melihat dewa yang ada didepan sana? "Tanya ku polos. Aku menunjuk kearah batu besar yang biasa dodo duduki.
Dodo mengerutkan kening mendengar ucapan ku dan mengangguk. "Aku melihat seseorang, tapi bukan dewa. "Jelas dodo, bocah itu langsung pergi terus berjalan kearah sungai.
Aku berdecak kesal, dan mengikuti langkah dodo, sesekali aku melirik kearah dewa tampan itu.
Dia tidak menggigitkan?
Aku menoel bahu dodo. " Kau tau siapa dewa itu, eh, maksudku orang itu. "Tanya ku pada dodo yang sudah berhenti disalah satu batu lain yang tidak terlalu jauh dari sidewa tampan.
Dodo melihat sekilas kearah laki-laki taman itu. Kemudian kembali bersikap acuh. Aku jadi geram dibuatnya.
Plak. . .
" Aw. . . kenapa memukulku? "Dodo meringis saat aku menampar kepala belakangnya.
Pemuda tampan yang duduk dibatu itu kaget mendengar teriakan dodo. Dia melirik kearah ku, namun hanya sebentar lalu kembali lagi berpose seperti patung. Setengah tubuhnya berbaring di batu dengan sebelah tangan kiri menopang badannya, sementara tangan kanan dewa tampan itu memegang seruling.
Aku yang ditatap sedikit gugup, dan juga malu. " Sok misterius sekali kau bocah kampreet. "Bisik ku pelan.
Dodo menggeleng. " Dia anak kepala desa. Namanya ethan. Kau jangan mengganggunya, dia itu tidak pernah bicara dengan orang lain selain keluarganya. "Jelas dodo tenang.
Aku merasa sedikit kecewa, pria setampan itu, kenapa dia harus dingin sih, coba lembut sedikit pasti aku langsung sayang, eh salah maksud nya lngsung ajak kenalan. Tapi tidak apa, bisa melihatnya saja sudah cukup. Anggap saja dia setangkai mawar berduri. Hanya indah untuk dilihat, namun menyakiti jika dipegang.
****
Dengan mata berbinar dodo memegangi keranjang bambu yang aku jadikan perangkap untuk menangkap ikan. Dodo bertugas menampung ikan dibawah aliran sungai. sementara aku menghalau ikan kearah keranjang.
Banyak ikan kecil yang kami tangkap ada mujair, nila, dan udang kecil.
Aku membawa keranjang ketepi, dan mulai membersihkan ikan. Yang ukuran nya sedikit besar akan jadi santapan makan siang kami, sementara yang kecil aku belah dan buang kotorannya. Ikan itu akan direndam dengan air garam lalu di jemur sampai kering.
Mata ethan sesekali melirik kearah ku dan dodo. Aku sedikit grogi diperhatikan laki-laki tampan sepertinya tapi, aku juga tidak bisa jaga imej jadi cewek angun nan cantik, karena sekarang aku sedang bekerja mencari uang. Uang lebih penting sekarang.
"Emm, nanti minta kakak kedua memasaknya untuk mu. "Jawab ku.
"Benarkah? Terimakasih kakak ketiga. Kau adalah yang terbaik. "Gumam dodo tersenyum senang. Dia hanya akan memuji ku disaat mendapat apa yang dia ingin kan saja, bocah kecil ini sangat pandai menjilat orang.
Dipinggiran sungai aku melihat tanaman pakis tumbuh dengan subur. Kalau udang ditumis dengan sayuran itu pasti rasanya enak.
" Aku akan pergi memetik sayuran disana, kau tunggu disini jaga keranjang ikannya. "
Dodo mengangguk pelan. "Baik, tapi jangan lama-lama, aku takut ada sepupu yang datang. "Ucap dodo melihat ku yang sudah berjalan didepan nya.
Aku memetik pakis muda yang biasa dimasak ibu di kehidupan ku dulu. Setelah merasa cukup aku kembali ketempat dodo. Kami harus segera pulang sebelum ikan yang ku tangkap membusuk.
Sebelum pergi aku melihat ethan sekilas, laki-laki itu masih betah dengan posisinya tadi. Aku akan mengajak nya berkenalan setelah penampilan ku lebih baik dari ini.
Tanpa aku sadari detik aku membalik kan badan ethan juga diam-diam mengamati ku.
****
Aku dan dodo sudah sampai rumah, segera aku menuju kedapur untuk memasak, kali ini aku ingin memasak sendiri. Jujur saja sejak datang kesini makanan yang aku makan rasanya hambar dan sangat tidak enak.
Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan ku yang sedang mengiris bawang. Dengan mata perih karena habis membuka bawang aku berjalan kearah pintu, aku meminta elis menyembunyikan pakaian yang sedang dia jahit, karena yang datang tidak mungkin ibu.
Ku tarik gangang pintu perlahan. Aku sangat terkejut melihat tiga orang tamu didepan pintu.
Hah, ya tuhan mau apalagi mereka!
"Bocah siaalan . . "
Panggilan merdu didepan ku membuat otak ku tersadar. Dengan rasa malas aku bertanya. "Ada apa lagi? "Tanya ku menatap mereka dengan tatapan malas.
"Bajingaan, tidak ada sopan nya kau pada orang tua ini. "Tanpa tau diri nenek tiri ku mengatakan itu.
Aku menghela nafas berat. Sejujurnya aku tidak punya waktu meladeni mereka karena aku sibuk setiap hari memikirkan bagaimana mencari uang dengan cepat, agar terhindar dari para benalu ini. Namun mau bagaimana lagi, lihat! Mereka sendiri yang datang mencari keributan.
"Siah, kita ini keluarga, juga tinggal bertetangga, dan ibu mertua adalah nenek mu, bicaralah dengan baik padanya, kesehatannya tidak baik akhir-akhir ini. "Ucap bibi kedua dengan suara pelan dan ramah.
Sejak kapan?
Sejak kapan mereka menganggap kami keluarga? Aku tidak bisa bicara baik padanya, karena aku tau apa tujuan mereka kesini.
"Memang nya ada apa kalian kesini? rumah kami kotor seperti kandang ternak tidak akan baik untuk kesehatan nenek, keluarga kami miskin tidak memiliki apa pun yang berharga. "Ujar ku pura-pura polos. Sebenarnya maksud dari kalimat ku ini adalah memberitahu mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka cari disini.
"Heh. Kau jangan pura-pura bodoh siah, kami semua melihat mu membawa keranjang tadi. Aku yakin kau membawa sesuatu pulang kerumah. " Ujar bibi pertama sedikit membentak. Nah gitu dong dari tadi kek ngegas nya, ini pakai pura-pura baik dulu tadi, dia pikir mau menipu siapa?
"Lah terus kenapa kalau aku bawa sesuatu, hubungannya sama kalian apa? "Protes ku penuh kekesalan.
"Bagaimana pun kamu itu masih tinggal ditanah ibu mertua, apa pun yang kau bawa pulang harus diperlihatkan dulu pada ibu. Jangan kurang ajar kau siah, kau sudah kelewatan, tidak ada hormatnya pada nenek mu. Jangan mau senangnya saja, kau kan cucu nya. "gena, seperti biasa wanita sundel ini selau saja memanasi situasi. Dengan cara memojok kan ku.
" Cucu? "Aku terkekeh kecil. "Giliran ada mau nya, baru mengakui aku cucu. Coba saat kalian punya banyak uang dan makanan, pernah tidak ingat punya cucu seperti saya. Setiap kali kalian selalu menghina dan mencaci kami, gikiran makan selalu dikasih sedikit dan mengatakan '𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯'. Dan sekarang kalian datang kerumah orang miskin ini mau merampok makanan kami, apa kalian sudah jatuh miskin? "
Bibi pertama dan gena terperangah.
"Bicara yang bener. Siapa yang kau katakan miskin? Tidak sadar dengan pakaian mu yang kotor itu? Jangan asal bicara saja, sadar diri kau siah. "Ucap gena sewot.
Tampak gena akan bicara lagi, tapi bibi pertama menahan tangan nya.
" Dasar kau cucu kurang ajar, memang tidak bisa dibaiki sedikit malah ngelunjak. "Nenek terlihat meremas tongkat kayunya. Dia menghentak kan tongkat kayu itu beberapa kali ke tanah.
Sungguh aku tidak tau kapan mereka pernah bersikap baik pada kami. Padahal aku harus memasak sekarang, jadi bisa kah kalian pergi saja? kami tidak minta makan lagi pada kalian jadi tolong jangan menganggu kami lagi.
Kata-kata itu tersangkut ditenggorokan ku. Aku hanya bisa menelan tampa sempat memuntahkan nya.
****