Meta For Siah

Meta For Siah
Bertemu lagi



Usaha yang aku rintis sudah membuahkan hasil, pembangunan rumah telah selesai, hari ini kami sekeluarga akan pindah, tidak satupun barang-barang kami bawa kecuali yang aku beli, semua kami tinggal takutnya ada orang yang menuntut.


"Ibu naik lah keatas kereta kuda. "Kata ku lembut.


Ibu meneguk ludahnya, seperti nya dia sedikit gugup karena belum pernah naik kereta kuda.


"Sebaiknya ibu jalan kaki saja, toh tidak terlalu jauh kan. "Tolak ibu dengan halus. Namun aku tetap bersikeras agar ibu naik keatas kereta. Aku dan elis menarik tangan ibu menaiki gerbong kereta.


Saat melihat kami akan pindah, nenek melirik kearah rumah yang kosong penuh barang-barang lama yang lebih layak disebut sampah. Aku tidak peduli, meski nenek tua itu memohon padaku aku tidak akan membiarkan mereka ikut menikmati kemewahan kami.


Nenek menghela nafas panjang. "Apa yang harus kita lakukan, apa kita benar-benar akan membiarkan mereka pindah dari sini, dan tinggal dirumah mewah itu. "


"Memangnya ada yang bisa kita lakukan? seluruh orang desa tau siapa yang membangun rumah itu, jika kita memaksa untuk tinggal disana, bagaimana kau akan mengatasi ejekan dan cemooh orang-orang. "Ucap kakek dengan penuh kemarahan.


" Ya, tapi, aku tidak mau mereka hidup senang sementara anak-anak ku. . . . "


"Apa maksudmu dengan berkata begitu? "Kakek berkata dengan wajah muram. " Biar aku perjelas pada mu, aku tidak pernah membenci putra ku. Aku hanya kesal karena dia terus membantah dan kau terus membuat keributan dengannya. Kau tak senang dia punya rumah bagus, minta anak-anak mu membuatkan rumah seperti itu. Uang ku sudah habis membiayai mereka tapi apa yang aku dapatkan, aku masih harus turun keladang menggarap lahan dan menanam padi untuk mereka makan. "


Nenek tidak berkata apa-apa lagi. Dia cukup kesal dengan perkataan suaminya, namun dia tidak mau membantah jika tidak pasti dia akan marah.


Didalam kereta, aku melihat wajah ibu yang tampak masih gugup. Mata ibu tampak berkaca-kaca, aku tau ibu pasti merasa sedih karena harus keluar dari rumah yang dia tempati selama bertahun-tahun, tapi aku juga yakin setelah ini kehidupan kami akan berubah menjadi lebih baik.


"Ibu, mulai sekarang ibu akan jadi satu-satu nya nyonya dalam rumah kita, semua peraturan ibu yang buat, jadi jangan merasa khawatir lagi. " Ucapku mengusap punggung tangan ibu.


"Terimakasih nak, kamu sudah membawa kami semua keluar dari kesengsaraan ini. Ibu sangat berterimakasih. "Ibu menyeka sudut mata nya yang berair.


Aku tersenyum dan menggeleng cepat. " Jangan berterimakasih aku sedih mendengarnya seperti aku ini orang lain saja. "


Ibu menghela nafas. "Andai mereka tidak pilih kasih terhadap kita, pasti kita bisa berkumpul menjadi keluarga besar yang bahagia, sayang sekali. "


Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Kenapa pilih kasih? Apa masih perlu ditanyakan lagi? Jelas karena bapak anak tiri nenek dan karena bapak tidak menghasilkan uang ditambah lagi pemikiran nenek tua yang kolot itu padahal disini poligami hal biasa tapi dia malah tak terima dan merasa dikhianati.


Tak lama kemudian kereta kuda sampai dirumah baru kami, aku sampai menitik kan air mata melihatnya, bahkan dikehidupan aku dulu, rumah orang tua ku tak sebesar ini. Tetapi sekarang aku bisa membangun rumah dengan jerih payah ku sendiri.


Halaman yang tertata dengan batu-batu sungai . Tanah yang sudah diratakan dan ditanami berbagai macam bunga, disamping itu ada sebuah gazebo yang cukup luas untuk kami bersantai.


Dari kejauhan rumah itu tampak sangat megah. Aku melirik ibu dan elis kemudian mengangguk, kami turun bersama dari kereta kuda.


Aku tersenyum sambil menunjuk kearah rumah. "Bagaimana bu? Apa ibu suka? Ini rumah kita, sekarang kita akan tinggal disini. "


Dodo dan dilang sangat bersemangat, mereka langsung berlari masuk kedalam rumah, mereka tertawa sampai menitik kan air mata saking bahagianya.


Membayangkan bisa tinggal dirumah sebesar ini sena merasa seperti sedang bermimpi, apalagi rumah itu milik mereka sendiri. Setelah melihay keseluruhan rumah kami semua duduk dilantai berselonjoran, perasaan puas dan bahagia menyelimuti keluarga kami.


Disini elis yang paling bergembira, dapur luas nan bersih terpampang nyata dihadapannya, gadis itu menangis sesegukan dia sampai melarang siapa saja memasuki dapur, katanya dapur itu area kekuasaan nya jadi tidak ada yang boleh masuk kesana kecuali dirinya. Untuk itu makan malam kami hanya elis seorang yang memasak, aku dan yang lain duduk santai diteras rumah, andai ada listrik tentu kami sudah menyaksikan siaran tivi saat ini. Sayang sekali dijaman ini tidak ada hal seperti itu.


**


"Ada apa dengan mu luwi, kau seperti seekor anjing mesum? Tanya ku sembari mengangkat luwi membaring kan anjing itu diatas tubuhku.


Luwi hanya menjilati tangan ku, aku terkekeh karena merasa geli. Aku ingin bersantai dan bermalas-malasan hari ini sudah lama sekali rasanya aku tidak menikmati hidup, sejak datang kesini aku selalu pontang panting kesan kemari mencari makan, sekarang aku sudah punya uang, tetapi usaha ini tidak bisa bertahan lama aku juga harus memikirkan usaha yang lain, tapi itu nanti akan kupikirkan, hari ini aku akan bekeliling, melihat-lihat mencari udara segar.


**


Aku keluar dari kamar aroma lezat tercium dari arah dapur, aku yakin saat ini elis dan ibu sedang menyiapkan sarapan, rumah besar ini terasa sunyi karena hari yang memang masih pagi.


Aku berjalan keluar rumah menghirup udara segar, mungkin karena rumah kami berada dibawah gunung sehingga udara sekitar sangat dingin dan sejuk. Ah, rasanya luar biasa sekali belum pernah aku selega ini, mata ku menatap kearah hutan terlarang, aku masih penasaran dengan hutan tersebut namun aku tak cukup bernyali untuk masuk kesana lagi.


Aku melihay siluat bayangan besar dari arah sungai, karena rasa penasaran ku yang tinggi aku mulai melangkahkan kaki ku menuju bayangan itu tak lupa sikecil luwi mengikuti ku dengan berlari kecil.


"Waah,... " Aku sungguh merasa takjub melihat pemandangan yang ada didepan mataku saat ini.


"Surga dunia, ini pagi terindah yang pernah aku alami. "Seru ku dengan suara sedikit keras.


Laki-laki yang menjadi objek kekaguman ku itu langsung menoleh dan menatap ku dengan wajah terkejut. Aku mengulum senyum melihat wajah tampan nan rupawan itu.


"Mesum, " Ucapnya dengan tatapan sengit.


Aku tidak tersinggung sama sekali, perkataan itu keluar dari mulut orang tampan jadi aku rela saja. Aku mendekati laki-laki yang sudah lama tak kulihat itu.


"Ethan apa ku seorang manusia? " Tanya ku dengan mata memuja. Tetapi reaksi yang ethan tunjuk kan membuat ku cukup terkejut.


"Dari mana kau tau? Siapa kau sebenarnya. " Cerocos ethan dengan peluh membasahi kening nya.


Aku menyeringit, kenapa dia berlebihan begitu, aku hanya ingin menggodanya saja. "Karena ketampanan mu itu terlalu sempurna untuk seorang manusia, apa kau dewa? " Tanya ku semakin memperpendek jarak kami. "Kau tidak tau aku? Kalau begitu biar aku beritahu, aku adalah masa depan mu. " Sambungku dengan senyum lebar.


0 8Sinting." Balasnya kemudian memduduki pantat nya dirumput yang masih basah. Tapi aku daoat melihat kelegaan dari sorot matanya.


Dulu aku tidak berani berbicara dengan nya, namun sekarang penampilan ku sudah lebih baik dan pantas, aku lebih percaya diri untuk berdiri dihadapan ethan.


"Apa yang kau lakukan pagi-pagi buta disini? Bukanya tempat ini terlalu jauh dari rumah mu? " Tanya ku sembari ikut duduk disamping 0rethan, rasa nya ingin sekali menyandarkan kepalaku dibahu lebarnya itu tapi masih kutahan, aku tidak mau dia merasa ilfil berujung dia menghindariku.


Ethan tidak menjawab, matanya menatap kearah lain, aku mengikuti arah pandang nya, luwi!!!kenapa dia melihat luwi seperti itu? Apa luwi anjingnya, tapi itu tidak mungkin, jika benar pasti luwi akan mengenalinya kan. aku semakin heran karena sikecil luwi juga menatapnya yak berkedip.


"apa kau pemilik anjing ini? " tanya ku pada ethan.


Ethan dan luwi secara serentak mengalihkan pandangan kearah ku dan menatap ku dengan kening berkerut. Apa ini? kenapa mereka kompak sekali, dan luwi kau. . .


***