
Aku harus segera mempercepat bisnis ini kalau ingin keluarga ku hidup dengan tenang.
Aku berjalan dibelakang bapak dan langsung pergi kedapur, disana terdengar suara dodo yang asik bercerita, dodo berjongkok di dekat tungku, elis sedang membuatkan telur tumis dengan irisan cabe ditambah kecap asin, aroma harum dari bawang putih langsung menguar memenuhi rumah kecil kami.
"Kakak, dodo. "Aku muncul dengan wajah kusut.
" Ada apa? Kau butuh sesuatu? "Elis menoleh padaku. Ia mengangkat tumis telur dan memindahkan nya kedalam mangkok.
Elis berdiri menghampiri ku. Menatapku dengan tatapan bingung. " Kenapa wajah mu seperti itu, apa ada sesuatu yang terjadi? "
Aku menghembuskan nafas pelan. "Tiga hari lagi, kakak ikut aku kepasar ya, ada sesuatu yang harus kita lakukan. "
Aku berencana membawa elis kepasar tiga hari lagi, tujuanku membawanya agar bisa ikut mempromosikan baju-baju yang dijahit tuan halbert nanti. Kami tidak bisa menunggu terlalu lama. Nenek pasti akan terus menggerogoti hasil panen bapak nanti jika kami masih tinggal disini.
"Memang nya kakak bisa bantu apa disana? " Tanya elis bingung.
Aku menepuk bahu elis. "pokoknya kakak tinggal ikut saja, nanti kita pikirkan lagi. " Ujarku.
"Ya sudah sana kamu bebersih dulu. Udah bau keringat ini. " Ujar elis. Kemudian menyipakan makan malam diatas meja.
****
Dikediaman nenek rumah utama.
"Apa yang harus kita lakukan bu, kehidupan sena dan anas tampak semakin membaik, mereka juga selalu makan enak sekarang. "Ucap bibi pertama pada nenek. Dia tidak suka jika hidup adik iparnya itu lebih baik darinya. Pokonya dia harus selalu ada diatas sena.
" Mengapa tanya ibu! Kau pikir sendiri dengan saudara mu yang lain. Ibu ini pusing, memikirkan kelakuan anak siaalan itu. Sejak dia sadar dari tenggelam waktu itu, anak itu tampak berubah. "Cerocos nenek yang juga merasa geram dengan siah.
Sejak dulu dia memang tidak menyukai sena dan anas apalagi anak-anaknya yang bukan cucu kandungnya, tapi semakin lama dia semakin membenci keluarga anak tirinya karena hidup mereka yang seharusnya menderita malah jadi lebih baik.
"Ya wajar lah bu, ibu ini kan mertua sena dan ibu nya anas. Mereka pasti menuruti ucapan ibu. Anas itu anak yang penurut dan berbakti sama ibu. "Sahut bibi pertama dengan entengnya.
" Sudah lah, nanti ajak saudaramu yang lain membicarakan solusinya. Ibu pusing, mau istirahat. "Cicit nenek sembari bangkit dari duduk nya lalu berjalan masuk kamar.
Bibi pertama menatap jengkel pada ibu mertuanya. Kemudian dia kembali kerumah dan masuk kedalam kamar gena.
"Anak ini, baru selesai makan malam langsung tidur, memang nya dia babi. "Ujar bibi pertama kemudian menarik selimut gena. Membuat gena merasa kedinginan.
" Gena. "Bibi pertama menguncang tubuh putrinya itu agar terbangun.
" Kenapa bu, ini kan sudah malam aku mengantuk. "Ujar gena dengan suara parau.
" Bangun dulu, ibu mau bicara sama kamu gena. Cepatlah! Kau ini babi ya habis makan langsung tidur. "
Tidak ada jawaban dari gena, gadis itu malah semakin mendengkur.
"Kau ingin di injak-injak oleh siah? Kau mau hidup nya lebih baik dari pada kita. " Bibi pertama menarik tangan gena agar gadis itu terduduk
Gena duduk diatas ranjang dengan wajah cengo. Ia menatap bingung ibu nya yang sudah melotot padanya.
"Ibu, ibu kita dimana sekarang? "Tanya gena yang msih linglung.
" Anak sialaan, cuci muka sana, ibu mau bicara sekarang. Cepat!!! "Teriak bibi pertama dengan geram.
****
Pagi hari nan cerah, suara kepakan sayap burung menari-nari diatas pohon. Kupu-kupu mulai berterbangan mencari serbuk bunga. Angin berhembus seketika hawa dingin langsung menusuk kedalam tulang. Cahaya hangat mentari menerobos masuk melalui jendela yang terbuka lebar.
Aku terbangun dari tidur. Kepalaku rasanya sedikit pusing karena semalam tidak dapat tidur nyenyak. Suara serigala yang ribut dibelakang gunung kembali terdengar. Padahal dari cerita elis. Biasanya hanya malam bulan purnama saja suara serigala terdengar. Tapi sekarang entah kenapa suara itu jadi sering terdengar.
"Kau sudah bangun, cuci muka dulu lalu sarapan. "
Aku menoleh mendapati ibu sedang membangun kan dodo. Aku tersenyum melihat pemandangan yang sudah hampir dua bulan ini aku lihat. Lalu aku menjawab dengan suara serak. "Baik ibu. Kita sarapan bersama ya. "
Ibu tersenyum kearah ku. Wajahnya nya tak lagi lelah. Tubuh ibu juga tampak lebih berisi dari biasanya. Aku sangat bersyukur karena keputusan ku untuk memasak sendiri adalah langkah yang benar.
"Makan bersama sambil bercanda lebih enak, dari pada makan sendiri. " Imbuh ku lagi.
Ibu mendekati ku saat dodo sudah terbangun. Wanita itu mengambil tangan ku lalu mengusapnya penuh kelembutan. "Putri kecil ku sudah dewasa. Bijaksana dan tau memikirkan keluarga. Maaf karena ibu tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk mu. "
Hatiku terenyuh melihat tatapan sendu ibu. Aku mendekati ibu dan memeluknya erat. "Jangan pikirkan itu, kehidupan kita tidak layak karena selalu bergantung dengan pemberian nenek. Tapi mulai sekarang kita akan hidup atas kerja keras kita sendiri. "
Aku berbisik pelan ditelinga ibu. Berusaha menghiburnya agar tidak terlau larut dengan rasa bersalah.
Ibu mengurai pelukan ku. Ia melempar pandangan ke luar jendela menatap langit biru yang bersinar cerah. Pandangan ibu terlihat jauh menembus keatas awan. "Andai saja bapak ka. . . "
"Bapak hanya seorang anak yang mengharapkan kasih sayang orang tua, sehingga dia berfikir dengan selalu menjadi patuh dan berbakti dia akan mendapatkan kasih sayang itu. "Aku menyela ucapan ibu dengan suara tenang. Meski sulit membayangkan bagaimana acuhnya bapak dengan kehidupan kami dulu. Namun dibalik sikap bapak aku tau dia sangat menyayangi kami. " Bapak juga terpaksa. "
"Semoga setelah ini kehidupan kita bisa lebih baik. "
"Pasti. Kehidupan kita akan jouh lebih baik. " Sela ku lagi. "Dan saat hari itu tiba, baik ibu atau bapak tidak akan aku izinkan bersikap baik pada keluaraga nenek. "
Ibu terdiam dengan senyum sedih. Wanita itu merasa miris sekaligus bangga pada putrinya. Bila putri orang lain sedang menikmati harinya menunggu pemuda datang untuk melamar. Namun putrinya harus berjuang dan bekerja keras untuk memghidupi keluarga. Atau lebih tepatnya menjadi tulang punggung keluarga. Pasti sangat sulit dilalui oleh putrinya.
"Ibu berharap kelak kau mendapat suami dan mertua yang Baik dan menyayangimu. "Ucap ibu yang ku balas dengan senyum tulus. Aku juga berharap begitu. Walaupun tidak yakin apa aku akan menikah atau tidak. Sementara aku sendiri hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama mereka.
****
Hari ini aku dan dodo ikut dengan dilang dan bapak keladang. Lahan yang bapak garap baru sedikit karena memang tanah itu sedikit keras. Tapi melihat dari bentuk tanah yang banyak ditumbuhi tumbuhan liar juga banyaknya cacing tanah aku yakin tanah ini tanah yang subur dan sangat bagus jika dijadikan lahan pertanian.
Suhu dikaki gunung sangat dingin, matahari hampir mencapai kepala namun desa masih tampak berkabut karena hawa dingin. Tidak heran banyak tanaman yang tumbuh disekitar desa.
Aku dan dodo memilih bermain air disungai sambil menangkap ikan. Berbeda dengan sungai digunung sebelumnya. Sungai disini tanahnya berlumpur, sedangkan sungai digunung yang aku datangi sebelumnya tanah nya penuh kerikil.
"Jangan terlalu dekat ke kaki gunung. Main disekitar sungai saja. " Peringat bapak ketika aku dan dodo sudah masuk kedalam sungai. Air nya tidak terlalu dalam hanya setinggi paha ku saja.
Otak bolang ku langsung berputar. Apa mungkin disini ada kepiting? Ikan gabus? Tunggu sepertinya aku melupakan sesuatu.
Kerang lokan!!!!
Aku ingat dengan salah satu teman kampus ku yang orang minang, dia sering mendapat kiriman rendang lokan dari kampungnya. Dan tiap kali ibu nya mengirimkan rendang lokan yang dicampur sayur pakis itu dia selalu membaginya dengan ku. Rasanya sangay enak dan luar biasa.
Kalau tidak salah ingat dia pernah mengatakan kalau kerang lokan itu hidup di air berlumpur sekitar hutan nipah dimuara sungai. Cara menangkapnya pun cukup unik. Bisa dilihat dari matanya bagi yang sudah ahli. Bagi pemula bisa menggunakan pisau dapur dengan cara membuat garis acak disekitar tanah yang lembab. Jika ada bunyi keras beradu dengan pisau maka bisa jadi itu adalah lokan.
Teman ku itu juga mengatakan sungai dibelakang rumahnya juga ada banyak lokan bahkan ukurannya lebih besar lagi dari pada lokan di hutan nipah. Cara menangkapnya pun lebih muda. Tinggal ******* -***** tanah saja jika ada lokan sudah pasti langsung dapat.
Baik!!!
Ayo kita coba. Semoga keberuntungan hari ini berpihak padaku. Jika memang ada hewan bercangkang keras itu didalam sungai ini. Maka malam ini kami akan makan rendang lokan.
𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗽𝗮 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗶𝗸𝗲 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮, 𝗱𝘂𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝘂𝗵 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗸𝗲𝗹𝗮𝗻𝗴𝘀𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗻𝗼𝘃𝗲𝗹 𝗶𝗻𝗶.
𝘁𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗺𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿🥰🥰🥰
****