Meta For Siah

Meta For Siah
Sepertinya akan cocok



Anna dan kedua orang tua nya menatap kagum bangunan tinggi didepan mereka, dari matanya yang berbinar-binar itu aku tau mereka menganguminya.


"Ini rumah kamu? " Anna menatap takjub ukiran rumit di daun pintu.


Aku mengangguk dan tersenyum puas. "Masuk lah, semua keluarga ku sudah menunggu didalam.


Dengan ragu-ragu mereka melangkahkan kaki masuk kedalam rumah.


" Ibu , pak, tamu nya sudah datang. "Aku berteriak cukup keras, jiwa bar-bar ku sudah kembali. Aku yakin anna dan kedua orang tuanya terkejut mendengar suaraku. Padahal tadi aku bicara dengan lembut pada mereka.


" Kenapa berteriak, kamu ini anak gadis, coba bersikap anggun sedikit. "Omel ibu berjalan menghampiri kami.


Aku cenggesan bodoh kearah ibu. " Bu, ini tamu istimewah sudah datang. Ibu tersenyum berjalan anggun kearah tamu, malam ini ibu memakai pakaian hasil desain ku, baju itu seperti gamis berlengan panjang namun tidak terlalu longgar, cocok sekali ditubuh ramping ibu.


"Aduuh, kenapa berdiri disini, ayo masuk dan duduk, eh, keruang makan saja, sekaian kita makan bersama. " Aku menatap bangga pada ibu, aura nyonya sudah mulai terlihat. Ibu menoleh kebelakang ia mencubit lenganku karena tau aku menatap kagum padanya. Telinganya yang memerah membuktikan wanita cantik itu merasa malu. Ini pertama kalinya kami menerima tamu. Ibu dan elis sangat antusias sejak sore tadi menyiapkan makan malam berbagai dlhidangan.


Dilang yang baru datang nampak terkejut melihat kehadiran anna dan orang tuanya duduk dimeja makan. Sepertinya kakak laki-lakinku itu baru saja seesai mandi terlihat dari rambutnya yang masih basah. Aku melirik anna gadis itu menunduk malu-malu, semburat merah dipipinya membuat aku ingin menggodanya.


"Aw, kenapa kakak mencubit ku. " Aki meringis karena elis memcubit lenganku sakit sekali karena cubitan kecilnya itu tidak main-main aku yakin bekas nya pasti akan lebam nanti.


"Kenapa kau terus melihatnya, kau tidak lihat wajahnya itu sudah semerah udang rebus. " Ucap elis membuat aku terkikik geli. Mendengar suara ku yang tertawa anna dan dilang semakin malu-malu. Tak tahan lagi aku langsung terbahak keras, ibu dan bapak menutup wajahnya karena malu dengan sikap ku yang tidak ada anggun-anggun nya itu.


"Hem, kau akan terus berdiri disitu, apa perlu bapak buatkan tongkat agar kau lebih kuat. " Perkataan nyeleneh bapak kembali membuat ku menyemburkan tawa.


Dilang menggaruk tengkuknya ia berjalan kaku seperti robot. Aku semakin tertawa melihat penampilan tak biasanya itu. Sangat tidak cocok dengan wajah nya yang sangar itu.


"Sumpah, kakak pertama kau sungguh lucu. " Ucap ku masih terkekeh. Laki-laki itu memukul kepalaku kesal, jujur saja aku tidak marah sama sekali, justru aku semakin tertawa dibuatnya.


"Saya minta maaf pak liman bu sarmi, anak perempuan kami yang satu ini memang sedikit berbeda. Harap bapak dan ibu tidak tersinggung. " Ucap bapak menyudahi tawa kami.


"Tidak apa-apa pak anas, anak perempuan memang harus ceria, agar rumah tidak terlalu sepi. "


"Benar pak, kami juga menyukai nak siah, dia anak yang sopan. " Tambah bi marni.


"Sudah, sudah, makanan nya akan dingin kalau kita terus bicara. " Ibu ikut menimpali.


"Kau benar istri ku, kalau begitu pak liman bu sarmi dan nak anna kita sebaiknya makan dulu, nanti kita bicara lagi."putus bapak, mereka tersenyum dan mengangguk sungkan.


Di atas meja menu nya sangat lengkap. Oseng daging dengan irisan paprika dan bawang putih, kucai tumis telur, sup jamur kuping, ada goreng ikan kecil yang ditangkap dilang sore tadi. Tak lupa tumis balado telur favorite dodo. Kami semua makan dengan nikmat diselingi tawa canda dan sesekali menggoda dilang dan anna.


***


"Kak anna, bagaimana menurut mu? Kakak laki-laki kami tampan tidak? " Pertanyaan elis membuat wajah anna kembali memerah.


Saat ini kami bertiga berada dibalkon kamarku, sedangkan para orang tua dan dilang berada diruang tamu. Jika anna menjadi kakak ipar kami tidak akan sulit baginya mengakrab kan diri dengan kami, karena anna gadis yang baik dan lembut, sangat cocok jadi seorang kakak perempuan.


"Kakak kedua kau membuat kak anna malu. Lihatlah wajah nya merah sampai ketelinga. " Sahutku sambil menyenggol bahu anna.


Pembicaraan kami terus berlanjut, aku pikir anna gadis pendiam ternyata dia cukup asik dan enak diajak bicara. Keasikan ngobrol posisi kami yang tadi dibalkon sudah pindah keatas ranjang.


Tok... Tok... Tok..


Pintu kamar ku diketuk dari luar, kebetulan aku yang baru keluar dari kamar mandi langsung berjalan kearah pintu.


Ceklek...


Aku menaikan satu alis, dilang berdiri dideoan pintu dengan kedua tangan berlipat didada, huh! Kenapa dia terlihat keren.


"Keluarga anna akan pulang. "Kata dilang dengan datar seperti gaya biasanya.


" Kak anna, orang tua kakak memanggil. "Teriak ku masih berdiri diambang pintu bersama dilang, tangan kakan ku memegang tepi pintu agar tidak terbuka lebar, jadi anna dan elis tidak tau kalau diluar ada dilang.


Elis dan anna turun dari ranjang mereka berdua berjalan kearah ku. Aku melepaskan tangan seketika itu pintu langsung terbuka dan memperlihatkan dilang yang masih berdiri disana, elis dan anna sontak terkejut, aku tersenyum tipis dan segera menarik tangan elis, membiarkan dua sejoli yang sedang jatuh cinta itu mengikuti kami.


Anna dan kedua orang tuanya langsung pamit karena hari sudah malam, berbekal dua lentera sisi kiri kanan kereta kuda dilang pergi mengantar calon istrinya itu, benar! Kedua orang tua kami sudah sepakat dilang dan anna akan segera menikah satu minggu lagi.


Untungnya acara pernikahan disini tidak perlu mencetak undangan apalagi menyewa orgen tunggal, tidak pakai pelaminan atau catering. Hanya acara seperti perayaan festival, aku juga sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana proses pernikahan adat disini.


Saat ini aku sudah kembali kedalam kamar, aku tidur menelungkup diatas kasur kapuk yang dialasi sprei buatan tangan elis tentu saja aku yang mendesain nya. Aku memeluk guling dan memejamkan mata, tunggu! Seperti ada yang kurang, apa ya? bantal dan guling ada, selimut ada, kasur? Jelas sudah aku tiduri. Lalu luwi? Hah! Aku langsung terduduk, luwi kemana anjing kecil itu? Aku sudah tidak melihatnya setelah makan malam tadi.


Sudut kesudut sampai balkon aku tidak juga menemukan anjing kecil itu, aku berlari menuruni tangga suara kaki beradu kayu jati itu menimbulkan bunyi yang cukup keras, ibu dan bapak keluar dari kamar, mereka mengelus dada setelah melihatku, mungkin tadi mereka pikir ada maling.


"Ada apa ini, kenapa kau tergesa-gesa begitu. " Tanya ibu panik melihat aku yang kalang kabut.


"Bu lihat luwi tidak? Dia tidak ada dikamar. " Aku berjalan kearah dapur, tidak ada di ruang makan juga tidak ada.


"Apa mungkin dia ikut dilang? " Aku menoleh mendengar perkataan bapak.


"Mana mungkin, dia tidak sedekat itu harus ikut dengan kakak pertama. " Jawab ku tegas. Memang benar, luwi hanya mau bersama dengan ku, sesekali main bersama dodo itupun juga ada aku disana.


"Coba cari diluar. " Saran ibu sambil mengikuti ku dari belakang. Benar juga kata ibu mungkin luwi menyelinap keluar.


Aku segera membuka pintu, diluar rumah cahaya bulan bersinar sangat terang. Kemana aku harus mencari nya. Suara kasak kusuk terdengar dari arah gunung, aku, ibu dan bapak saling pandang.


"Masuklah, besok kita cari lagi. " Titah bapak matanya masih awas menatap kearah gunung.


"Tapi pak.... "


"Siah, ini sudah malam, dengarkan bapak mu. " Ucap ibu, wanita itu menegadah keatas bulan penuh bersinar sangat terang sekali. Aku mengerti kecemasan ibu dan bapak jadi terpaksa aku menurut untuk masuk kedalam kamar, mungkin saja anak itu sudah ada dikamar lagi. "


***