Meta For Siah

Meta For Siah
Rencana bisnis



Hari berikutnya, aku terbangun dengan suasana hati yang cukup gembira. Ketika aku bangun tidur aku mendapati sebuah gaun yang sangat cantik tergeletak di samping ranjang. Aku tersenyum dengan wajah penuh semangat.


Aku meregangkan otot-otot kemudian melirik kearah jendela yang terbuka. Matahari bersinar cerah diantara langit biru. Aku bertambah bersemangat untuk memulai aktivitas hari ini.


Aku turun dari ranjang dan membersihkan diri kemudian berganti pakaian dengan gaun yang baru yang dijahit oleh elis. Terlihat mewah meskipun tidak menggunakan kain sutera, juga terlihat sangat pas dan cocok ditubuh ramping ku. Pakaian itu membuat ku tampak anggun dan terlihat seperti putri keluarga bangsawan.


Hari ini aku berencana berjalan-jalan kepasar sambil mencari peluang bisnis. Karena jika hanya mengandalkan penjualan dari sayuran liar, maka kehidupan kami tidak akan berubah, hanya dapat untuk makan sehari-hari saja. Sementara hubungan kami dengan keluarga bapak semakin memburuk.


Setelah sarapan dan memberitahu ibu dan elis aku dan dodo segera berangkat menuju pasar. Sebelum berangkat aku juga meminta kepada elis untuk menjemur ikan kecil yang aku rendam dengan air garam kemarin.


"Kakak, apa yang akan kita lakukan dipasar? Kita tidak punya apapun untuk dijual. "Tanya dodo dengan kening berkerut. Wajahnya tampak bingung.


Aku menoleh kesamping dan menjawab singkat. " Aku berencana menjual mu untuk dijadikan budak. "


Wajah dodo langsung berubah masam, bibir nya cemberut. Dan langsung terdiam. Aku tergelak sampai memegangi perutku.


"Kakak ketiga, leluconmu sangat tidak enak didengar. "Dodo berkata dengan wajah sengit. Dia selalu jengkel jika aku mulai usil dan mengodanya. Aku pun merasa terhibur melihat wajah tersiksa dodo.


Aku berdehem pelan. " Adik kali ini kita akan melakukan bisnis besar. "Ujar ku sembari melirik keramaian dipasar. Seperti biasa para pedagang akan meneriaki dagangan nya, aksi tawar menawar adalah pemandangan yang sudah biasa terlihat ditengah pasar.


Mendengar ucapan ku wajah dodo tampak bersemangat dan tidak sabar menantikan bisnis apa yang akan aku lakukan.


Disisi lain didesa aster. Aktivitas pagi itu berjalan bik seperti biasa. Desa ini dinamakan desa aster sebab disetiap jalan-jaan desa dan kaki gunung banyak tanaman bunga aster tumbuh subur. Konon seorang tetua desa mengatakan bunga aster adalah bunga kesukakan dari ratu serigala yang dulu tinggal digunung bintang. Oleh sebab itu meski tidak dirawat pun bunga aster dengan ajaib dapat tumbuh subur dimana-mana. Hal ini dapat dipercaya karena setiap kali malam bulan purnama bertepatan dengan kerasnya suara lolongan serigala. Seluruh bunga aster akan mekar secara bersamaan.


Disaat semua orang tengah sibuk bertani dan mengawasi hewan ternak diladang. Sesuatu yang tidak terduga terjadi. Tiba-tiba suara pertengakaran hewan buas di gunung terlarang terdengar memekak kan telinga. Suara serigala kesakitan melengking dengan sangat keras.


Beberapa hewan ternak yang berada cukup jauh dari kaki gunung langsung lari begitu mendengar suara serigala itu.


Bapak dan dilang yang berada tak jauh dari kaki gunung segera menjauh dan memilih kembali kerumah.


"Oh dewa, apa yang telah kami lakukan, hingga kami harus mendengar kemarahan penguasa gunung bintang. "Jerit seorang warga yang sedang menarik hewan ternak nya dengan raut kecemasan.


Semua orang yang mendengar suara itu hanya berani diam didalam rumah. tanpa ada terbesit rasa keingintahuan tentang apa yang terjadi digunung tersebut.


Ketika suara kesakitan itu redup. Sebuat mata tajam berwarna emas menatap kearah desa aster. Setelah itu terdengar suara auman yang mengerikan bagi para warga.


****


Setelah melihat-lihat dan mengelilingi pasar. Aku dan dodo memilih memasuki sebuah toko pakaian yang terletak ditengah pasar. Dari luar terlihat toko itu seperti bangunan klasik dikehidupan ku dulu. Begitu aku memasuki nya, dalam toko itu terdapat banyak pakaian dengan bahan sutera dan aksesoris mewah. Lantai dan dinding tampak bersih dan terawat. Berbagai macam ornamen dan lukisan terpajang didinding menambah kesan mewah dari toko tersebut.


Aku yakin ini menjadi salah satu toko yang sering didatangi oleh para putri bangsawan. Jadi aku tidak salah datang ketempat ini. Ini adalah tempat yang tepat untuk memulai bisnis.


"Selamat datang nona, apa anda ingin membeli pakaian, atau ingin mengambil pesanan? "Seorang gadis yang aku perkirakan seusia dengan ku datang dengan senyum ramah menyambutku dan dodo.


" Nona, ini adalah model pakaian terbaru ditoko kami. "


Gadis itu menunjuk kan sebuah gaun panjang berwarna merah muda, dengan banyak pernik disetiap sisinya, melihat gaun itu aku mengerinyit, norak dan kuno.


"Dimana pemilik toko? "Tanyaku sembari menatap gadis yang ada di depan kami.


Gadis itu sedikit terkejut dan buru-buru menjawab. " Mohon ampun nona, apa saya sudah melakukan kesalahan? Jangan laporkan saya pada tuan odeylin nona. "


Odeylin? Apa dia pemilik toko? Lalu kenapa gadis ini sampai berlutut dan memohon ampun padaku, padahal aku hanya ingin bertemu dengan bosnya karena ingin menjalin bisnis.


"Berdiri lah, aku ada sedikit urusan dengan bos mu, kau tidak melakukan kesalahan. "


Gadis itu langsung berdiri dari posisi berlututnya. "No-nona. . . anda benar-benar ada urusan dengan tuan odeylin? Bukan karena ingin melaporkan kesalahan ku? " Tanya gadis itu ragu-ragu, namun raut wajah lega tidak dapat dia sembunyikan.


Aku mengangguk pelan dan berkata. "Katakan ada yang ingin berbisnis dengannya. "


Tanpa menunggu lagi gadis itu bergegas masuk kedalam dan memanggil tuan odeylin. Dia berjalan dengan tergesa-gesa. Dalam sekali lihat saja aku tau dia pasti lah pekerja baru ditoko ini.


Sembari menunggu gadis itu memanggil tuannya. Aku dan dodo melihat-lihat baju yang terpajang. Ada beragam jenis warna pakaian, bahan kain nya halus dan lembut, jahitan nya juga rapi, namun sayang modelnya tidak jauh berbeda, aku yakin yang membuat baju ini adalah orang yang sama.


"Selamat datang ditoko odeylin nona. . . " Pria itu mengantung kalimatnya dia menatap kearah ku.


"Meta, panggil aku meta. " Ucap ku memperkenalkan diri. Aku sengaja memakai nama meta, karena jika menggunakan nama siah, aku takut jika bibi atau paman ku datang kepasar dan mendengar namaku mereka akan mencari keributan lagi. Dan alasan lainnya adalah, aku tidak ingin nama asli ku hilang, apalagi sampai terlupakan, kesuksesan ku kedepan nya haruslah menggunakan nama 𝘮𝘦𝘵𝘢 nama asliku.


Pria paruh baya itu terus memperhatikan penampilan ku, aku juga tidak tersinggung karena aku tau dia bukan pria mesum melain kan dia sedang melihat pakaian yang aku kenakan.


Pria itu terus menatap ku dengan mata berbinar dan penuh semangat.


Aku berdehem dan menyadarkan keterpesonaan pria itu. "Bisa kita bicara sebentar tuan odeylin? "


Tak membuang banyak waktu aku langsung saja mengatakan keinginan ku pada pemilik toko.


"Oh tentu, maaf ketidak sopanan ku nona, mari silahkan. " Dengan sopan pria itu mempersilahkan aku dan dodo mengikutinya kesebuah ruangan yang aku perkirakan itu adalah ruang pribadinya.


"Silahkan duduk nona meta. "


Aku menatap ruangan itu, banyak lukisan yang mengantung dan buku-buku tersusun rapi. Ruangan itu tidak terlalu luas namun sangat bersih dengan sirkulasi udara yang terjaga sehingga tidak ada aroma apek ataupun tidak sedap.


****