
Aku menyingsing lengan baju dan mulai menunduk memasuk kan tangan kedalam air perlahan aku meraba-raba. Lalu mulai mengambil tanah dan mengacaknya. Tidak ada, coba lagi mungkin disebelah sana bagian tepi sungai.
Aku kembali meremas dan mengacak tanah berlumpur itu, semoga tidak ada lintah disini. Aku paling benci sama hewan kecil satu itu.
Beberapa menit aku mencari tapi belum menemukan apapun. Pinggangku terasa sakit dan mulai lelah.
"Kakak sebenarnya apa yang kita cari dengan cara seperti ini. " Dodo menatap jijik tangan nya yang sedang memegang tanah berlumpur bahkan kukunya sudah menghitam karnanya.
Saat dodo akan membuang kembali tanah itu mata jernih ku menangkap sesuatu yang familiar. Bukan kah itu. "Tunggu jangan dibuang dulu. " Aku menahan tangan dodo. "Ini. . . ini benar-benar kerang lokan? Ya ampun benaran ada ternyata. "
Aku langsung mengambilnya dan melempar kerang itu ke atas parit. "Ayo cari lagi yang seperti itu. " Ucap ku bersemangat dan langsung mengali tanah.
Dodo terdiam dengan kening berkerut. "Kakak untuk apa batu itu? Apa itu bisa dijual? "
"Bukan batu tapi itu kerang, rasanya sangat enak juga bergizi. " Jawab ku tanpa melihat dodo.
"Apa. . . " Teriak dodo dengan keras lalu berlari lagi kearah tadi dia pertama kali turun.
Aku yang bingung melihat aksi dodo langsung bertanya. "Apa yang terjadi? " Tanya ku melihat wajah dodo yang tampak frustasi. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan ku. "Hei bocah, ada apa dengan wajah mu itu. "
Tidak tahan lagi melihatnya aku segera mendekati dodo. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan nya bisa-bisa ibu dan bapak melarang ku untuk mengajaknya pergi lagi nanti. Sementara aku masih butuh bocah itu untuk disuruh-suruh.
Saat aku berdiri didepannya dodo masih tidak mengacuhkan ku, dia terus memasuk kan tangannya dan meremas tanah. Sesekali ia mencelupkan kepalanya kedalam air.
Aku menarik tangan dodo agar berhenti. "Dodo, apa kau tidak mendengarkan ku. " Bentak ku cukup keras.
Dodo mengangkat wajahnya mata nya berair aku tidak tau dia ini sedang menangis atau karena air sungai yang masuk matanya.
"Kakak, huhuuuhhuu. " Isaknya. Ternyata dia menangis tapi kenapa? Apa ada yang mengigit nya, bisa jadi.
"Ada apa jangan menangis! Kalau bapak dengar kau akan disuruh pulang. "Dia segera menghentikan tangisnya dan menatapku dengan wajah sedih.
" Aku menemukan banyak batu keras seperti tadi, bahkan ada yang sebesar kepalan tangan ku. "Jelas dodo yang kembali menangis.
" A apa!!! "Teriak ku kaget. Dasar bocah bedebaaah ini. Aku sejak tadi tidak menemukan satupun sampai tangan ku perih begini. Sementara dia menemukan banyak malah membuangnya.
Aargh!!!!
Dasar bocah!
Aku menarik nafas dalam mencoba meredakan amarahku. " Ya sudah, kalau hilang tinggal cari lagi. "Ucap ku setelah mendapat ketenangan.
Dodo mengangguk lesu. Sudah pasti dia merutuki kebodohannya. Anak ini dan doyan makan. Betapa kesalnya dia membayang kerang besar itu dia buang.
Aku dan dodo kembali mencari kerang didalam air. Aku menemukan kerang yang cukup besar setelah beberapa menit menggali. Dodo juga menemukan banyak kerang itu dengan ukuran sedang, kecil juga besar. Bocah itu nampak kembali bersemangat setelah melihat kerang yang mulai menumpuk.
Hampir dua jam kami didalam air. Masih betah dan bersamangat mencari kerang meski tubuh sudah mulai memggigil. Hingga suara teriakan dilang menghentikan kegiatan kami.
"Ayo naik, kenapa lama sekali main air, memangnya kalian ini ikan? " Dilang mengomeli ku dan dodo. Ada raut khawatir dimatanya. Mungkin karena kami terlalu lama jadi dia memghampiri kami kesini.
"Kakak jangan marah, lihat apa yang kami temukan. " Ujar dodo tenang. Dia menunduk dan mulai mengumpulka kerang-kerang itu dengan semangat.
Dilang ikut berjongkok disebelah dodo dan mengambil satu kerang lalu memperhatikan nya dengan kening berkerut. "Kalian berlama-lama di dalam sungai karena mencari ini? "
Aku dan dodo mengangguk pelan sambil memgumpul kan semua kerang itu.
"Memangnya ini apa? " Tanya dilang lagi. Dari nada suaranya aku tau dia penasaran.
"Benar, kerang ini akan aku buat jadi rendang nanti. " Ucap ku seraya meluruskan kaki ku yang terasa pegal.
"Benarkah, lalu bagaimana memakan nya? " Tanya dilang yang semakin bingung saat melihat kulit kerang yang keras.
Aku mengambil kerang ditangan dilang kemudian pisau dipinggang juga sudah berpindah ditangn ku. Dilang terpekik saat sadar aku memegang pisau.
"Kembalikan, kau bisa terluka adik. Pisau ini sangat tajam dan kau bisa terluka. " Dilang langsung mengambil kembali pisau ditangan ku.
Aku menggaruk kepala dan menghela nafas. "Aku akan hati-hati, berikan pisaunya, biar aku tunjukan bagaimana cara memakannya. " Bujuk ku agar dilang mau memberikan pisaunya.
Dilang melihat mata ku dengan ragu. Aku menegadah kan tangan dan menggoyangkan telapak tangan agar dilang memberikan pisau itu. Dengan berat hati akhirnya dilang meletak kan pisau ditelapak tanganku.
Dengan cekatan aku menusukkan ujung pisau yang runcing diantara sela kerang dan membukanya. Setelah kulit kerang terbelah didalamnya ada daging kerang berwarna putih dan bagian yang tampak tebal itu berwarna hitam.
Dilang dan dodo menatap takjub dengan apa yang dia lihat. Aku menyerahkan pisau pada dilang. "Lakukan seperti yang aku buat tadi. Aku akan kesana mencari sayur pakis. " Ujar ku kemudian berdiri meninggalkan dodo dan dilang.
Baru beberpa langkah aku menoleh kebelakanh. "Adik katakan pada ayah untuk mencari dua buah kelapa, kita akan masak pakai kelapa nanti. "
****
Aku memasuk kan semua bahan yang sudah dicuci bersih kedalam wajan. Terakhir masuk santan tidak lupa aku membuat kelapa sangrai yang aku tumbuk sampai berminyak. lalu memasukan kerang dan memasak sampai mendidih.
Ketika kuah santan mendidih aroma rempah yang pekat langsung menggugah selera. Aroma yang sudah sangat lama tidak aku cium. Tanpa terasa mata ku memanas hidung ku terasa masam.
Lagi-lagi aku merindukan keluarga ku.
Ketika kuahnya sedikit menyusut aku memasuk kan sayuran pakis. Sengaja aku masukan belakangan agar pakisnya tidak terlalu lembek.
Beberapa menit kuahnya sudah tinggal sedikit. Aku meminta elis mengambil mangkuk. Tidak tahu bagimana rasanya karena aku nya mengandalkan bumbu yang ada.
Dodo dan elis tidak henti-hentinya memuji masakan ku setiap kali kerang itu masuk kedalam mulutnya. Senyum nya semakin lebar saat aku meletakan kerang dengan ukuran besar diatas piringnya.
"Makan yang banyak sampai kau puas, besok kita cari yang lebih enak lagi. " Kataku.
Dodo semakin sumrigah mendengar kalimatku itu.
Selesai makan malam aku dan dodo serta elis duduk dikursi bambu luar rumah. Kami bercanda dengan mengoda dodo sampai bocah itu menangis.
"Dasar gila, adiknya menangis malah ketawa. " Cetus gena yang tiba-tiba datang seperti setaan karena aku tidak mendengar suara langkah kakinya.
"Tidak usah ikut campur. Ada apa kau kesini? Mau cari keributan? "Ucap ku segera aku berdiri dan menyingsing lengan baju.
"Jangan mulai kurang ajar kau, mau aku adukan pada kakek. "Ancamnya sambil tersenyum sinis.
"Dasar pengadu, emang nya aku kurang ajar sama nenek dan bibi, sampah macam kau mah, tidak ada apa-apanya. "Kilah ku. Enak saja mengancam segala. Dia pikir aku takut padanya.
"Mau apa kau kesini. "Tanya ku curiga saat gena mulai melirik kedalam rumah.
" Halah, makan makanan ternak saja pelit nya minta ampun udah kayak makan daging saja. "Umpatnya mencebik, kemudian berlalu pergi meninggalkan aku dan elis yang saling tatap.
Padahal aku cuma nanya kenapa dia datang. Tapi malah ujung-ujungnya jadi makanan. Apa mereka mencium aroma rendang tadi ya, rendang itu kan aroma nya kuat. Sudah pasti angin menyampaikan kehidung mereka sehingga gena langsung datang kemari.
*****