
Berita tentang toko halbert yang menjual gaun-gaun modis sudah tersebar luas di kalangan bangsawan maupun kalangan warga biasa.
Para bangsawan yang baru mendengar berita itu langsung mengirimkan pelayan pribadi mereka untuk membeli gaun. Yang paling menarik ditoko halbert adalah setiap dua hari sekali model dan gaya gaun nya selalu berbeda. Jadi mereka tidak merasa keberatan untuk berbelanja lagi karena memang gaun yang mereka beli tidak sama dengan gaun kemarin.
Aku dan tuan halbert merasa sangat senang dan juga beruntung karena kami sengaja tidak membuat banyak stok. Untuk satu model hanya dibuat sebanyak lima puluh potong, jadi jika ada yang berebut apalagi sampai menawar dengan harga tinggi kami hanya diam dan menerinya saja toh kami tidak memaksa, mereka sendiri yang membuat penawaran jadi tentu saja kami tidak menolak.
Sudah satu minggu berturut-turut. Setiap gaun yang selesai dijahit selalu habis sebelum selesai dipajang. Tuan halbert bahkan berencana akan memperbesar tokonya.
Aku juga membantu tuan halbert mendesain bentuk tokonya seperti toko di kehidupan ku dulu agar semakin menarik pembeli untuk datang dan berbelanja.
Hari ini tuan halbert memberikan hasil penjualan selama satu minggu. Aku tidak menyangka ditangan ku saat ini ada sekitar sepuluh koin emas dan lima ratus koin perak. Seperti rencana ku, aku ingin membeli kereta kuda.
Setelah keluar dari toko tuan halbert aku dan elis tiba ditempat penjualan kereta kuda. Aku membeli kereta kuda yang cukup bagus. Tujuan aku membeli kereta kuda agar tidak terlalu lelah dalam perjalanan dan juga aku tidak mau terlalu lelah.
"Kakak, ada barang yang ingin kau beli? " Tanya ku saat kami sudah selesai membeli kereta kuda.
Elis yang masih terbengong kembali sadar setelah mendengar suara ku. "Kita perlu membeli persediaan makanan juga kebutuhan sehari-hari. " Jawab elis. Matanya masih menatap takjub kereta yang ditarik dua ekor kuda itu.
"Kalau begitu ikut aku, kita pergi ketoko serba ada di ujung sana. "Ujar ku setelah menitipkan kereta kuda pada penjual kuda.
Elis mengangguk kemudian berjaan disampingku.
" Beli apapun yang kakak mau, kita punya uang sekarang. "Ucap ku pada elis.
" Kau tidak takut uang mu habis? "Balas elis.
Aku tertawa mendengar ucapan elis. " Tidak sama sekali, besok tuan halbert masih akan memberiku uang. "Jawab ku lagi.
Elis memgangguk dengan senyum senang. Kami berjalan hingga sampai di depan toko serba ada.
Aku membeli sampo, sabun, handuk untuk ibu dan dilang. Juga beras, minyak tanah. Elis membeli beberapa set peralatan dapur seperti mangkuk dan gelas berbahan enamel. Dia juga membeli beberapa helai selimut tebal.
Tidak lupa membeli daging dan beberapa sayuran juga buah. Hari ini kami benar-benar belanja sepuas hati. Aku hampir lupa membelikan ibu, bapak dan dilang pakaian baru untung saja elis mengingatkan jadi selain baju aku juga membeli sepatu baru untuk mereka.
"Apa masih ada yang mau kakak beli? "Tanya ku setelah membayar belanjaan kami.
" Tidak, ayo kita pulang, aku sudah tidak sabar memasak menggunakan peralatan yang batu kita beli. "Jawab elis sambil mengandeng tangan ku.
" Adik, siapa yang akan membawa kereta kuda itu? "Tanya elis.
Benar juga baik aku atupun elis tidak pernah menunggangi kuda. Aku harus mencari seseorang yang bisa mengantar kami pulang.
Setelah sampai ditempat penitioan kuda, aku meminta tolong pada mereka agar mencarikan seseorang yang bisa mengantar kereta kuda itu pulang kerumah kami.
Untungnya anak pemilik kereta kuda yang seusia dilang mau mengantar kami. Perjalanan yang kami tempuh biasanya lebih dari satu jam sekarang menjadi kurang satu jam, inilah untungnya kalau memakai kereta kuda. Perjalanan jadi cepat dan singkat.
Sesampai dirumah kereta kuda diparkir disamping rumah. Dodo yang berada diluar langsung bersorak melihat aku dan eis keluar dari kereta.
"Kakak apa kereta kuda ini milik kita? Kau membelinya? " Dodo langsung mencecar ku dengan pertanyaan dia tidak membiarkan ku mengambil nafas walau sekejap saja.
"Iya, aku dan elis membelinya, terlalu lelah kalau pergi jalan kaki "aku tersenyum sambil menyahut. " Pergi kedapur bantu elis malam ini kita akan makan daging. "
"Hore! Sangat menyenangkan punya dua kakak perempuan. "Teriak dodo dengan gembira.
Dodo berlari kedapur aku tersenyum bahagia melihat tingkah lucu dodo. Aku tidak memiliki saudara kandung. Jadi aku tidak tau bagamana rasanya punya adik, setelah berada disini bukan hanya adik tapi aku juga memiliki dua orang kakak. Mendapat keluarga lengkap seperti ini aku sangat bahagia. Meskipun tidak bisa bertemu dengan keluarga kandung ku lagi, tidak apa-apa aku sudah menerima takdir ku hidup disini.
Selagi elis dan ibu menyiapkan makanan aku masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri.
Beberpa menit kemudian aroma makanan tercium menyapa hidung. Aku yang baru selesai berganti baju langsung duduk dimeja makan. "Ibu, masakan ibu wangi sekali, dari bentuknya sudah terlihat enak. "
Benar, sejak kami makan rendang kerang lokan waktu itu, ibu dan elis meminta ku mengajari mereka beberapa masakan. Meskipun mereka sedikit bingung, karena sebelumnya aku tidak pernah memasak apalagi sampai tau bahan-bahan dapur seperti jahe, lengkuas dan kunyit.
Aku sudah menduga pertanyaan itu pasti akan mereka katakan, jadi aku sudah mempersiapkan jawabannya. Aku mengatakan kalau bibi pembeli sayuran liar lah yang mengajari ku, meskipun aku berbohong tapi itu lah alasan terbaik yang dapat aku pikirkan, karena tidak mungkin aku mengatakan kalau ibu kandungku yang mengajarinya. Mungkin mereka akan mengusirku dan menganggapku gila nanti.
Dendeng basah dengan warna merah cabe yang mengoda dan beraroma wangi rempah sangat menggungah selera.
Selain itu ikan bakar dengan bumbu santan kelapa juga tampak menggiurkan.
Ikan nya dibakar setengah matang terlebih dahulu, lalu disiram dengan kuah santan yang dimasak dengan rempah seperti duo bawang, jahe, lengkuas dan kunyit dimasak sampai kuah mengental dan berbau harum. Hidangan malam ini sangat memanjakan lidah. Aku merasa bernostalgia dihadapan semua makanan ini.
Hanya dengan mencium aromanya saja sudah bisa merasakan betapa nikmat dan lezatnya hidangan itu.
Sambal hijau dari cabe rawit dengan bawang putih mentah juga disandingkan dengan ikan bakar . Membuat siapa saja meneteskan liur melihatnya.
Kami saling tatap, ada rasa bahagia juga haru tak percaya bahwa mereka bisa menikmati makan malam selezat ini.
Namun makanan itu tidak akan masuk sendiri kedalam mukut jika kita tidak memakannya. Jadi aku pun membuka suara. "Apa kalian tidak lapar? Makanan nya akan dingin kalau hanya dibiarkan seperti ini. "
Dodo langsung menyodorkan piringnya pada ibu. "Ibu isi piring ku dengan banyak nasi, aku akan makan sampai kenyang malam ini. " Ujar dodo dengan gembira.
"Setiap kali kau selau mengatakan itu. " Sahut dilang.
"Kau iri padaku kakak pertama, karena aku tumbuh lebih tampan darimu. "Ujar dodo dengan mengejek dilang.
Mana mungkin dilang merasa iri, karena sekarang pun pemuda itu tidak lagi kurus, tubuhnya lebih berisi dari yang terakhir kali makan bersama nenek. Wajah dilang juga lebih merah tidak seperti dulu yang selalu pucat dan kuyu.
Mereka berdua terus berdebat hingga makan malam selesai. Semua hidangan dimeja habis tak bersisa. Aku tidak takut kehabisan makanan karena kami sudah membeli persediaan untuk satu minggu.
Selesai makan dan membersihkan meja bapak memanggilku. Laki-laki itu sedang duduk dikursi tempat kami makan tadi. "Ada yang mau bapak tanyakan. "
Aku mendekati bapak dan duduk dihadapannya. Aku tidak tau apa yang akan ditanyakan oleh bapak.
"Ada apa pak? "Tanya ku dengan suara pelan.
Bapak menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. " Apa bisnis gaun mu berjalan lancar? "
Aku sedikit kaget mendengar pertanyaan bapak, karena sudah lebih dari satu minggu aku menjalani bisnis ini tapi bapak tidak pernah bertanya. Tapi sekarang bapak terlihat sangat penasaran . Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan sekarang.
"Lumayan, aku bisa membeli beberapa barang dari hasil penjualan gaun. "
Aku menjawab dengan tenang. Tapi sebenarnya aku khawatir bapak akan meminta uang untuk diberikan kepada nenek.
Nenek itu licik, jika dia mengancam bapak dengan dalih berbakti. Tentu saja bapak akan menurut dengan ucapannya, anak mana yang tidak mau berbakti pada orang tua?
Dalam sepekan ini penghasilan ku dari bisnis kain sudah mendapat lebih sepuluh koin emas. Uang sebanyak itu aku sudah bisa membangun sebuah rumah besar.
Namun aku masih berfikir dimana kami harus membangun rumah sementara kami tak punya tanah. Aku akan menyimpannya sampai menemukan tempat yang cocok.
"Kereta kuda itu kau yang membeli nya dari hasil jual gaun? " Tanya bapak lagi.
Aku mengangguk. Meski tidak tau tujuan bapak menanyakan nya aku tetap menjawab dengan sabar.
"Ya sudah, bapak hanya menanyakan itu saja, kau pergilah tidur. " Ujar bapak kemudian beranjak masuk kedalam kamar.
Aku memperhatikan punggung bapak sampai menghilang dibalik pintu. Aneh, tapi ya sudah lah, aku tidak mau memikirkan nya lagi. Setelahnya aku beranjak dan ikut bergabung bersama elis diatas ranjang lalu ikut tertidur mengarungi mimpi indah.
****