Meta For Siah

Meta For Siah
Pemanasan pagi hari



"Pantas saja kau dibenci ibu mertua sama saudara sendiri pelitnya minta ampun. Baru punya uang sedikit sombong nya sudah seperti saudagar kaya. Tidak malu kau melihat mertuamu hidup susah sementara kalian enak-enak kan disini. " Suara bibi pertama melengking keseluruh ruangan, bahkan terdengar jelas sampai kekamar ku yang berada dilantai dua. Padahal kami sudah pindah dari rumah mereka, tetap saja mereka itu datang kesini mencari-cari kesalahan kami. Segitu busuk nya hati mereka. Susah melihat orang senang, senang melihat orang susah.


Dan kali ini masalah apa lagi yang dia ributkan, dan apa katanya tadi sombong? Tidak malu? Bukan kah kali ini bibi pertama sudah kelewatan. Ini pasti dia minta sesuatu pada ibu dan wanita itu tidak memberikan yang dia mau jadi bibi pertama marah-marah seperti itu. Aku yang masih bergelung manja dikasur empuk itu langsung beranjak kekamar mandi mencuci wajah dan mengosok gigi. Beraninya dia datang kesini membuat keributan pagi-pagi.


"Bukan begitu kakak ipar, kami juga membeli beras, masa panen masih lama, apa yang mau aku berikan. "Ujar ibu yang masih bersikap ramah. Wanita itu memang selalu bersikap baik, tetapi jika dia sudah marah bapak saja akan kewalahan dibuatnya. Seperti nya bibi pertama datang ingin menguji nyali dia masuk kadang singa sendirian tanpa persiapan. Sepertinya aku harus bertepuk tangan melihat kepercayaan dirinya yang tinggi itu.


"Halah, bilang saja kau itu memang tidak mau ngasih. Pakai banyak alasan lagi, kalau memang kau itu orang yang baik setidaknya ada basi-basi menyuruh aku masuk dan duduk, suguhi teh hangat dan camilan, memang dasarnya kau itu tidak ada sopannya. "Sanggah bibi pertama yang membuat kaki ku seakan terbang, aku meluncur dari pembatas tangga yang memang terbuat dari kayu jati yang licin sehingga aku bisa meluncur dari sana.


Ibu dan bibi pertama ternganga melihat aksi heroik ku, kemarilah,, selangkah saja kau masuk ku hajar kau sampai mampus, begitulah kira-kira tatapan tajam yang aku layangkan pada bibi pertama. Wajahnya terlihat pucat ketika langkah kaki ku semakin dekat kearah mereka.


Mata ibu menatap lembut kearah ku, tidak!! Ibu jangan coba-coba membujuk ku aku tidak akan luluh meski ibu menatap ku seperti itu beraninya dia berkata kasar pada wanita yang kusayangi ini.


"Buk, masuk saja, bukankah kakak kedua sedang membuat sarapan? Sepertinya dia kesulitan memotong daging yang kakak pertama beli kemarin, bu, aku ingin makan sup iga pagi ini. " Ucap ku merengek dengan sengaja pamer kepada bibi pertama. Bukan kah dia bilang kami sok kaya dan sombong. Jadi dari pada dia kecewa terpaksa aku mewujudkan keinginannya itu.


"Siah. . . " Ucapan ibu terhenti, usapan lembut dilengan ku tidak berpengaruh apa-apa. Mataku yang bulat ini dengan kurang ajarnya menatap tajam kearah ibu menyuruhnya diam dan mengikuti perkataan ku.


Ibu menghela nafas panjang, dengan berat hati dia meninggalkan aku dengan bibi pertama. Setelah memastikan ibu benar-benar sudah pergi kedapur mataku kembali menatap bibi pertama yang seolah menunggu untuk adu otot dengan ku.


"Bocah sialaan, beraninya kau berlagak didepan ku, daging? Iga? Siapa yang mau kau bohongi, bisa makan sayur dan telur saja sudah untung jangan mimpi kau, kenyataan hidup tidak seindah angan mu. "Teriak bibi pertama di iringai umpatan-umpatan bahagia dari mulut lebarnya itu. Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum, lucu mendengar omongan bibi ku yang luar biasa cantik ini.


" Apa itu pengalaman bibi? Bermimpi jadi orang kaya, berangan-angan tinggal dirumah mewah, makan-makanan yang enak punya pelayan pribadi yang mengurus rumah setiap hari hanya tau rebahan dan bersantai, benar? Gimana rasanya saat bangun dari mimpi dan menghadapi kenyataan? Piring kotor yang menumpuk, kain yang menggunung minta dicuci? Meniup api ditunggku sampai keringatan dan bau asap? Sakit ?perih? Ckck. . . kasihan. "Ucap ku yang membuat bibi pertama semakin mereok, wanita itu berteriak histeris. Aku rasa fakta dan kenyataan nya lebih pedih lagi dari apa yang aku katakan. Katakan lah aku ini jahat dan tidak sopan, manusia seperti bibi pertama dan nenek bukan lah orang yang bisa dibaiki, mereka tidak peduli sebanyak apa kebaikan yang kita berikan dimatanya jika kau sudah dibenci maka tetap saja kau selalu salah.


"Siah, nenek mu yang menyuruh bibi datang kesini, ibu bilang bibi harus pulang membawa sesuatu kalau tidak bibi akan dimarahi nenek mu, jadi sekarang kau siapkan saja berasnya jangan lupa beberapa lauk untuk sepupu mu juga. "Pinta bibi pertama dengan tidak tau malu. Aku salut sekali dengan orang ini, sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


Rasanya aku ingin pura-pura pingsan lalu tertawa saking gemasnya melihat sifat mereka yang sungguh ajaib luar biasa itu. Sebagai orang yang datang untuk meminta bukan kah seharusnya dia bersikap sopan baik dan bicara dengan lembut dan pelan? Tapi lihat lah keangkuhannya itu, dia pikir aku orang tuanya kali ya.


"Maaf ya bibi pertama, kalau mau mengemis dipasar sana, atau pergi keibu kota saja, disana banyak orang kaya dermawan yang mungkin merasa kasihan melihat kemiskinan bibi, jadi bibi salah tempat. "Tolak ku yang kembali membuat bibi pertama murka. Wajahnya merah padam aku rasa dia tidak terima dikatai pengemis, tapi mau bagaimana lagi sikapnya itu bahkan lebih parah dari pengemis, perampok?


" Jangan tidak tau diri kau siah, jika tidak ada beras dan makanan, berikan saja uang nya, biar bibi yang belanja kepasar, cepatlah hari semakin siang, dirumah ibu mertua sudah menunggu ku. "Paksanya yang semakin membuat aku terperangah. Aku memegangi kedua tanganku mengepalkan dengan erat jangan sampai tangan ini berpindah kemulutnya yang berbisa itu.


"Apa suami bibi dipecat dari kerjaan nya? Atau suami bibi punya istri lain yang dia biayai? Kenapa minta uang kesini? Jangan tidak tau diri bibi, bibi sudah seperti gelandangan. " Ucap ku lalu menutup pintu dengan keras. Lega sekali rasanya mengatakan itu sebenarnya banyak lagi macam umpatan yang ingin aku lontarkan tapi aku masih menahannya.


"Ada apa siah, kenapa bibimu sampai berteriak begitu, apa dia kesurupan? " Tanya ibu dengan wajah panik. Aku sampai tertawa mendengar perkataan ibu.


Elis memukul pelan kepalaku. "Ibu bertanya kau malah tertawa. Kami terkejut mendengar teriakan keras bibi pertama, apa kau memukulnya? " Tanya elis disalah satu tangan gadis itu memegang sudu, sepertinya dia sedang mengaduk makanan tadi.


"Kalau aku memukulnya dia tidak akan bisa berteriak kak, karena satu pukulan ku akan membuatnya langsung pingsan. " Ucap ku disela-sela tawaku.


Elis dan ibu melotot kearah ku, tawa ku semakin pecah dibuatnya, wajah terkejut dan tak percaya mereka terlihat lucu dan menggemaskan, mataku berair perut ku sampai sakit saking puasnya aku tertawa.


Ibu dan elis melengos dengan wajah kesal, meski begitu tawaku tetap tidak berhenti aku sampai memukul bahu dodo yang berdiri bengong disamping ku bocah itu baru bangun tidur, bukan karena teriakan bibi pertama tetapi karena suara tawa ku yang melengking.


***


Matahari sudah setinggi kepala, begitu angin musim semi berhembus, rasa hangat dan nyaman menyelimuti seluruh tubuhku. Aku berbaring direrumputan tepi sungai dibawah pohon rimbun.


Sejuk dan menyenangkan. Jika sedang sendirian begini aku selalu teringat keluarga kandung ku, " ibu bapak, oma, oppung, meta kangen kalian. "Mata ku merah berkaca-kaca hampir menangis. Dada ku sesak sekali rasanya. Kenapa sesakit ini merindukan seseorang yang tidak bisa ditemui.


Aroma harum bunga menyerbak masuk kerongga hidung ku, aku membuka mata yang tadi terpejam, senyum ku langsung memgembang melihat luwi berdiri disamping ku dimulutnya setangkai aster putih tampak segar masih ada sisa embun yang membasahi kelopak bunganya.


Aku mengambil bunga itu dan membauinya, harum dan segar. "Terimakasih luwi, apa kau sedang mengibur ku. " Ucap ku mencium kening nya. Namun reaksi luwi membuat ku tertawa anjing kecil itu menyembunyikan kepalanya didada ku.


"Hei, apa kau malu? Yang benar saja, kau mengerti malu? " Pertanyaan ku terdengar seperti orang bodoh. Mana mungkin dia menjawab dia hanya seekor anjing. Mungkin dia mengerti perkataan ku tetapi dia mana mungkin bisa menjawabnya.


Aku membawa luwi kedalam pelukan, mengelus kepala luwi dengan lembut. "Luwi, menurutmu apa aku bisa kembali kedunia ku yang dulu, sejujurnya aku nyaman disini tetapi, ini bukan tempat ku. " Air mata ku akhirnya jatuh juga. "Kau tau, aku bukan pemilik tubuh ini, siah yang asli sudah meninggal, aku tidak tau kenapa jiwa ku bisa masuk ketubuhnya. " Bahu ku gemetar menahan tangis.


Melihat luwi yang ikut menangis aku semakin terisak. "Aku mau pulang, aku mau pulang luwi, tolong aku, aku mau pulang. " Isak ku yang sudah tak terkendali, anjing kecil itu mengusap pipi ku, aku terkekeh dalam tangis melihat anjing itu yang mencoba menghiburku.


Puas menangis aku kembali berbaring direrumputan, aku memejamkan mata sejenak angin berhembus membelai wajah ku air mataku kembali menetes, aku biarkan mengalir sampai membasahi telinga. Rasanya sedikit nyaman tidak tau kenapa angin ini seperti memeluk ku memberikan ketenangan seolah dia berbisik dan mengatakan "aku tidak sendirian. "


***