Meta For Siah

Meta For Siah
Dilang jatuh cinta?



"Kau datang terlambat, lihatlah hari sudah mulai gelap, aku takut kita bertemu serigala. " Sungut dodo pada dilang yang baru datang menjemput kami.


"Maaf." Ucap dilang singkat.


Jangan harap akan ada penjelasan mengenai keterlambatan pemuda ini. Manusia yang sangat irit bicara, padahal dia berjanji akan menjemput kami sore hari sedangkan sekarang matahari sudah tenggelam sepenuhnya.


"Kakak, bagaimana pekerjaan rumah baru kita? " Tanya ku saat aku sudah duduk digerbong kereta.


Ini sudah hampir dua bulan, aku sudah sangat tidak sabar untuk segera pindah, apalagi keluarga kakek setiap hari selalu datang mengganggu. Jika kami masih belum pindah juga aku rasa akan terjadi perang dunia setelah ini.


"Hampir selesai, " Jawab dilang yang tetap fokus melihat kedepan.


Aku berdecak sebal. "Kak, kau harus mulai belajar bagimana cara bicara yang baik dan benar? "


Dilang terdiam kemudian berkata dengan polos. "Aku bukan bayi. "


Hah!! Percuma bicara dengan tembok. Menjawab saja sudah untung.


Kereta kuda kami berjalan dengan santai melewati desa lande, padahal hari sudah mulai gelap, aku tidak tau apa yang dipikirkan dilang kenapa dia berjalan sangat lambat begini.


"Kakak, kenapa lari kudanya pelan begini, kita bisa kemalaman sampai dirumah. "Tanya ku mengintip kearah dilang.


Dilang juga menoleh sekilas kebelakang. " Apa kau bisa melihat jelas dimalam hari? "Tanya dilang dengan mengangkat sebelah alisnya. Benar juga, malam ini tidak ada bulan, hanya mengandalkan cahaya dari langit, bagaimana jika kami menabrak seseorang, itu pasti berbahaya.


Ngiiiik. . .


Ngiiik. . . .


Aku terkejut karena tiba-tiba dilang menarik paksa tali kuda sehingga kereta berhenti secara mendadak. Aku dan dodo sampai oleng kedepan untung saja tidak sampai terjatuh.


"Ada apa kak. "Aku ikut turun saat dilang turun dari kereta kuda.


Dilang tidak menjawab, tapi dia berjalan kedepan, disana ada seseorang yang sedang berdiri menatap kearah kami.


" Siapa dia? "Tanya ku pada dilang didepan kami ada seorang perempuan berdiri dengan banyak barang di kedua tangannya.


" Tidak tau. "Jawab dilang.


Aku mengerinyit dan memperhatikan perempuan yang ada didepan kami, tapi karena sedikit gelap aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, entah dia ini manusia atau hantu, untungnya kakinya masih menapak di tanah.


" Maaf, apa aku sudah menganggu perjalanan kalian? "Tanya perempuan itu, suaranya yang lembut membuat aku dan dilang saling tatap.


" Tidak menggangu, nona kau tidak terluka kan? "


Pertanyaan dilang membuat ku terperangah, sejak kapan? Sejak kapan manusia datar ini jadi bersikap perhatian, dan. . . pada orang lain???


"Nona, kalau boleh tau, kau dari mana malam-malam begini. Juga, apakah itu tidak berat? "Ucap ku menunjuk pada barang bawaanya.


" Eh, ini... Aku dari pasar, membeli banyak barang karena besok ada acara dirumah kami. "Jawab perempuan itu.


" Oh begitu, dimana rumh mu, biar kami antar, ini sudah malam akan berbahaya kalau kau berjalan sendirian ."tawarku merasa kasihan dia harus membawa banyak barang sendirian apalagi ini sudah malam dan sangat gelap.


Gadis itu menggeleng kan kepala. "Tidak, tidak usah, aku tidak mau merepotkan kalian, rumahku juga tidak jauh lagi kok. "tolak nya dengan ramah.


Saat aku akan berbicara dilang merebut barang ditangn gadis itu. " Jangan menolak, ini tidak merepotkan kami, akan berbahaya kalau jalan sendiri. "


Aku semakin tercengang dengan sikap dilang yang tak biasa, apa dia menyukai gadis ini, tapi kami belum melihat wajahnya dengan jelas, apa dilang jatuh cinta karena suara lembut gadis itu.


Mau tak mau gadis yang mengaku bernama anna itu akhirnya naik keatas kereta kuda karena semua barangnya sudah dibawa oleh dilang, kami saling bercerita sambil tertawa, aku merasa sangat cocok berteman dengannya karena gadis itu cukup pintar dan juga nyambung saat di ajak berbicara.


Sesampai dirumah anna dilang membantu menurunkan semua barang-barang dan membawanya masuk kedalam rumah, orang tua anna sangat berterimakasih pada kami dan memaksa untuk ikut makam malam, kami yang memang sudah lapar tidak menolak lagi.


Keluarga anna cukup ramai walau tak sebanyak keluarga siah, dan mereka tampak rukun, mereka berbicara dengan sopan dan ramah. Ditengah-tengah pembicaraan aku melihat dilang dan anna saling melirik beberapa kali, dalam hati aku tertawa melihat tingkah dilang yang seperti orang jatuh cinya, itu terlihat lucu sekaligus menjijikan, aku terbuasa melihat wajah datar nya, namun hari wajahnya memerah dan malu-malu ingin sekali aki memukul kepalanya itu tetapi aki menahan diri karena menjaga harga dirinya.


***


Akhirnya kami tiba dirumah, jam makan malam sudah lewat, tapi tidak masalah karena kami sudah makan dirumah anna tadi.


"Kenapa malam sekali pulang nya. Ibu sangat khawatir kalian kenapa-kenapa dijalan. Apalagi tidak ada bulan, dijalan pasti sangt gelap. " Ibu terus mengomel sampai kami selesai membersihkan diri.


"Tanya saja pada putra sulung ibu, dia datang terlambat tadi, dan juga tanyakan kemana dia membawa kami. " Adu ku sambil melirik dilang.


Dilang tampak gelagaoan mendengar ucapan ku. "Istirahat lah. " Ucapnya menghindari tatapan ibu.


Aku dan dodo tertawa melihat tingkah dilang. Elis penasaran dan mendesak ku untuk bercerita, aku dan dodo menceritakan pertemuan kami dengan anna dan bagaimana sikap dilang pada gadis itu. Elis dan ibu ikut tertawa mendengarnya, dilang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena malu, wajah garangnya itu terlihat tidak cocok dengan sikapnya itu.


Puas menggoda dilang, rasa lelah dan kantuk mulai merajai mata ku, aku berbaring sambil memeluk luwi yang selalu tidur bersama ku, anak anjing ini tidak mu tidur dilantai, setiap kali aku menidurkan nya dibwah malam hari dia akan pindah tidur disamping ku. Akhirnya aku biarkan saja toh, dia juga tidak menganggu tidak seperti anak anjing lain, luwi sangt bersih, dia tidak membuang kotoran sembarangan, dan juga aromanya sangat wangi aku tidak mengerti padahal setahu ku anjing itu memiliki aroma yang tidak enak.


Ditengah malam yang semakin gelap, seekor hewan kecil melompat dengan pelan, cahaya terang menyelimuti tubuhnya. Begitu cahaya itu menghilang, seorang pria tampan berdiri menatap seorang gadis yang tidur nyenyak diatas ranjang.


Rahang tegas, mata tajam dengan manik emas sejernih lautan. Serta hidung mancung, dan alis tebal nan rapi. Dia terlihat seperti sebuah pahatan yang teramat indah. Kulitnya putih dengan urat-urat menonjol dilengan kekarnya menambah sisi maskulin dari penampilannya. Matanya tak berkedip menatap gadis itu. Dengan langkah seringan kapas ia mendekati objek yang menjadi titik perhatiannya. Tangannya terangkat mengelus lembut surai panjang itu dan mencium aroma manis dari leher gadis itu.


"Kau milik ku, jiwa mu adalah milik ku. " Bibirnya menyentuh kening gadis itu dengan lembut.


"Aku ingin segera memberikan tanda padamu, sayang sekali umurmu masih belum cukup dewasa. " Ia membelai pipi gadis cantik itu. "Tunggu aku, sebentar lagi aku akan mucul dihadapan mu. " Setelah mengatakan itu, pemuda itu menghilang bersama hembusan angin.


Sementara gadis yang tertidur lelap itu hanya menggeliat kecil dan kembali tertidur nyenyak hingga pagi menjelang.


***