Meta For Siah

Meta For Siah
Lolongan serigala



     Tok. . . tok. . . tok. . .


    Aku yang baru saja memejamkan mata kaget mendengar suara ketukan pintu. "Siapa ya? Apa mungkin itu bapak. " Gumam ku pelan.


   Aku bangkit dari tidur kemudian berjalan kearah pintu dengan hati-hati.


   "Siapa? " Teriak ku sedikit keras. Memastikan siapa yang ada diluar sebelum aku membuka kan pintu.


   "Ini bapak nak. Buka pintu nya cepat. " Sahut bapak dari luar.


   Mendengar suara bapak gegas aku membuka kayu palang pintu. Ketika pintu terbuka terlihat wajah bapak yang kusut dan matanya memerah. Apa bapak baru saja menangis?


   Aku menggeser tubuh ku saat bapak akan masuk. "Bapak kenapa?"aku melebarkan mataku melihat wajah bapak . "Apa yang dikatakan nenek? " Aku menatap bapak lebih lekat karena aku yakin bapak pasti habis menangis.


   Sebenarnya apa yang mereka bicarakan, sampai bapak pulang dengan wajah ditekuk begitu.


   "Tidak ada apa-apa! Kembali lah tidur. " Ujar bapak seraya mengelus puncak kepala ku.


   Bapak masuk kedalam rumah. Sepertinya bapak tidak mau menceritakan nya sekarang mungkin karena sudah malam dan juga sudah lelah, jadi aku akan bertanya besok saja.


   Setelah mengunci pintu aku kembali naik keatas ranjang, bersiap untuk kembali tidur yang tadi sempat tertunda, baru saja akan menutup mata, aku dikejutkan lagi oleh suara lolongan anjing yang cukup keras, bukan, bukan anjing tapi ini suara serigala, aku yakin ini pasti suara serigala, karena dikehidupan dulu dirumah bapak kami memelihara se-ekor anjing, suara yang aku dengar barusan sangat berbeda.


   Semakin lama suara itu terdengar semakin menakutkan, suara yang mengerang kesakitan seolah sedang di siksa. yang jelas suaranya sangat mengerikan.


   Aku gelisah, tidak bisa tidur, suara lolongan itu terasa dekat dibelakang rumah kami. Apa mungkin suara itu berasal dari gunung terlarang itu ya.


   Saking takutnya aku sampai ingin pipis, tapi aku juga takut kalau harus pergi sendiri. Ku lirik elis yang tidur disebelah ku, gadis itu tidur sangat nyenyak, sedikit tidak tega membangun kan nya, tapi yang dibawah sini juga sangat mendesak.


   "Kakak. . . kakak kedua! " Akhirnya aku tetap membangunkan nya. Elis menggeliat beberapa kali, sebelum dia tidur lagi aku memanggil sambil menggoyangkan tangannya.


   "Kakak bangun, ada pencuri, sepertinya mau mencuri kain yang baru aku beli tadi. " Aku berbisik lagi ditelinga elis. Sengaja aku pakai alasan ini, karena memang elis sangat berhati-hati menjaga kain itu.


   Dan benar dugaan ku, mata elis langsung terbuka dan terduduk.


   Elis menyingsing lengan bajunya dengan mata menantang. "Mana? dimana pencurinya? Kurang ajar sekali, beraninya dia ingin mencuri kain ku, tidak akan kubiarkan kau keluar dari rumah ini dalam keadaan utuh. "


  Aku sedikit meringgis mendengar ucapan elis, lihat lah matanya yang seperti akan menguliti orang hidup-hidup. Tidak disangka, gadis polos yang terlihat lemah itu menjadi garang ketika miliknya diganggu.


   "Kakak, tidak ada pencuri, hanya suara angin, aku kira ada orang yang masuk tadi. " Ujar ku berusaha memadamkan aura membunuh elis.


   Elis menoleh kearahku, ia memicingkan matanya. "Kenapa kau belum tidur? "


   Ah iya aku sampai lupa, buru-buru aku menarik tangan elis . "Kakak, temani aku kebelakang, aku mau buang air, dan tidak berani sendiri. " Ajak ku sedikit merengek.


   Elis bangkit dan berdiri. "Ya sudah ayo, dasar penakut. " Cibir elis ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan aku dibelakangnya.


  Aku mengerucutkan bibir.


  Tempat ini masih terasa asing bagiku, dan minim penerangan juga tentu saja aku takut, ditambah suara serigala yang membuatku merinding.


  Aku mengikuti elis dari belakang dengan memegangi ujung bajunya. "Kakak kau dengar suara itu? "Aku bertanya saat suara lolongan itu kembali terdengar.


  Elis memandangi ku dengan tatapan bingung." kau bertanya seolah baru pertama kali mendengarnya saja. "


   Yah, memang ini pertama kalinya aku mendengar, apa jangan-jangan suara ini sering terdengar ya.


   "Adik! "Panggil elis saat aku mulai termenung.


   Aku mengerjabkan mata dan menatap elis linglung. " Kenapa? "


  Elis berjalan mendekati ku dan berkata. "Jangan melamun, segera selesai kan urusan mu, setelahnya cepat kembali masuk. " elis mengintip keluar dari celah jendela. "bulan purnama hampir penuh. "Bisikan elis semakin menambah ketakutan ku.


   Buru-buru aku mengeluarkan segala jenis cairan kotor itu dan membersihkan nya. Setelah selesai aku dan elis kembali masuk kedalam.


   Elis kembali berbaring dan bersiap untuk tidur. Perasaan ku terus gelisah dan juga penasaran mengingat ucapan elis tadi. 'Bulan purnama hampir penuh' Itu apa maksudnya?.


   Aku berdehem pelan. " Kak, itu tadi maksud kakak tentang bulan purnama itu apa? "Aku bertanya setelah ikut berbaring disamping elis, mataku menatap langit-langit rumah.


   Satu detik, dua detik, tidak ada jawaban, aku menoleh kesamping, mulut elis terbuka di iringi suara hembusan nafas yang teratur.


   Aku mencoba memejamkan mata lagi, berharap rasa kantuk segera menghampiri.


   Suara lolongan serigala semakin terdengar sahut menyahut keringat dingin ku mulai keluar bersamaan rasa takut ku yang semakin besar.


   Tidak tau berapa lama namun perlahan mata ku mulai redup dan aku terlelap dalam kegelapan.


****


   Waktu telah berganti kokok ayam yang saling bersahutan menandakan pagi telah datang.


   Meski matahari belum keluar dari persembunyian nya, namun mata ku sudah terbuka, rasa kantuk ku telah hilang berganti dengan energi semangat mencari uang, uang, uang. Daya tarik yang luar biasa.


   "Hoamz. . . Selamat pagi dunia tipu-tipu. "Dengan suara lembut aku menyapa dunia baru ku. Aku menoleh kesamping.


   Kosong!


   Sepertinya karena sudah kebiasaan, jadi meski pun tidak lagi bekerja dirumah utama, elis tetap bangun dipagi buta.


   Pagi ini dengan semangat empat lima aku berjalan menuju kamar mandi, ibu dan elis sedang berada didapur menyiap kan sarapan.


   " Kenapa bangun begitu pagi. "Tegur ibu saat aku melewatinya.


   " Pagi ibu. "Sapa ku sambil mengecup pelan pipi wanita itu.


   Elis hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ku. Meski sedikit merasa aneh dengan perubahan sikap ku, namun untungnya gadis itu tidak pernah menanyakan nya.


   " Cepat bersihkan diri mu, setelah nya kita sarapan bersama. "Elis sedikit mendorong ku agar segera masuk ke kamar mandi.


   Meninggalkan ibu dan elis aku membersihkan diri.


****


   " Nanti bapak dan dilang akan menggarap lahan digunung belakang. "Ucap bapak setelah menyelesaikan sarapan nya. Ibu diam seolah memikirkan sesuatu.


   Aku menatap ibu yang masih termenung. "Kalau begitu ibu akan ikut dengan kalian, tanah itu sangat keras, dua orang saja tidak akan cukup dan akan menghabiskan banyak waktu. "Jelas ibu dengan tenang.


   "Sebenarnya kenapa kakek memberikan tanah itu pada kita? Jelas-jelas tanah itu tidak pernah digarap karena dekat dengan gunung terlarang. "Tanya ku mendekati elis yang membawakan bekal untuk bapak dan dilang.


   aku menatap bapak dengan pandangan rumit, pertama bapak adalah anak kandung mereka, lalu kenapa kakek dan nenek membenci bapak? Kedua, lahan dibawah gunung itu adalah tempat berbahaya karena gunung itu sendiri adalah hutan terlarang. Dan yang terakhir, apa kakek tidak khawatir dengan keselamatan anak cucunya? Bagaimana jika terjadi sesuatu saat mereka bekerja?


   "Karena bapak bukan anak kandung nenek kalian. "Ucap bapak dingin.


   Aku hampir tersedak ludah ku sendiri, aku memandangi bapak dengan kening berkerut.


   Kami semua terdiam, sesaat aku melihat gurat kecewa di mata bapak. " Semalam ayah menceritakan pada ku, aku dan sibay bukan anak kandung ibu. "Jelas bapak seraya menatap ibu dengan mata berkaca-kaca.


   " Ha, pantas saja nenek sihir itu begitu membenci kita. "Seru ku dengan wajah yang masih shock tak percaya.


   Elis mendengar itu langsung menghela nafas. "Kau tidak punya kesopanan siah, bicaralah yang baik pada orang tua. "Ucap elis tegas.


   "Aku punya sikap sopan kok. "Ucap ku tak terima dikatai tidak memiliki tata krama.


   " Mulutmu itu penuh bisa. "Tegas elis. " Kau bicara tanpa pandang lawan, tidak peduli orang mau sakit hati atau tersinggung dengan ucapan mu. "Seru elis membuat ku jadi terdiam.


   "Meski nenek bukan orang tua kandung bapak, kalian tetap harus menghormatinya, bagaimanapun juga dia yang telah menjaga bapak waktu kecil. " Aku dan elis memandangi bapak yang meraih cangkul dan meletak kan dipundaknya.


   "Memangnya nenek merawat bapak waktu kecil? Sekarang saja dia membenci bapak, apalagi sewaktu kecil. "Jelas elis tegas.


   "Hei, kau bahkan lebih berbisa dari ku kakak kedua. "Gumam ku menatap elis dengan kekehan kecil.


   Bapak menghela nafas pelan. " Sudah lah, tidak usah dipikirkan. Kami akan pergi keladang, kalian jaga rumah dan berhati-hatilah. "Ujar bapak mengingatkan.


   Aku menggeleng kepala pelan. "Aku dan dodo akan keluar sebentar. "


   Bapak berdehem. "Hati-hati lah, jangan pergi terlalu jauh. Juga pulang sebelum hari gelap. " Tegas bapak sebelum meninggalkan rumah bersama dilang dan ibu.


****