
Tuan halbert membawa kami masuk kedalam ruang kerjanya. Ruangan itu kecil dan penuh barang. Meski tak sebesar ruangan kerja tuan odeylin tapi ruangan ini tampak cukup bersih. "Silahkan duduk nona. "
"Terimakasih."
"Bisnis apa yang ingin anda lakukan dengan toko saya nona, anda bisa lihat sendiri, toko saya sepi dan tidak ada pembeli. " Ucap tuan halbert dengan raut wajah sedih. Nampak mata pria itu berkaca-kaca.
Aku mengangguk paham, dari pertama masuk tadi aku sudah yakin toko ini tidak ada pembeli, siapa yang mau membeli pakaian kuno dan jelek seperti itu. Apalagi tampilan tokonya yang tidak menarik menambah kesan suram toko itu sendiri.
"Coba anda lihat dulu sketsa yang saya berikan. "
Laki-laki itu melihat dan memperhatikan sketsa itu dengan seksama. Mata tuan halber tampak berbinar saat melihat ketiga sketsa ditangan nya.
"Itu saya yang melukisnya. " Ujar ku. Aku menjelaskan sistem pembagian dari hasil penjualan yang aku dapatkan adalah 30 persen perpotong baju. Dan pembayaran dilakukan setelah pakaian terjual. Aku juga berjanji akan menjadi desainer tetap ditoko halbert.
"30 persen itu terlalu besar nona, sejujurnya saya sangat tertarik dengan sketsa yang nona berikan. Tapi untuk membuat sepotong pakaian saya juga harus mengeluarkan modal yang tidak bisa dibilang sedikit. "Kata tuan halbert jujur.
"25 persen, tidak ada tawar lagi atau kita batalkan kerja sama ini. " Ujar ku tegas. Dalam hati aku berdoa semoga tuan halbert menerima tawaran ku ini. Jika tidak aku tidak tau harus mencari toko yang mana lagi, dan aku juga sudah merasa lelah.
Tuan halbert menghela nafas panjang kemudian mengambil secarik kertas lalu menulis beberapa kalimat disana. Setelahnya dia menyodorkan kertas itu padaku.
Aku membacanya, kertas itu seperti surat kontrak dan isinya sesuai dengan apa yang aku ingin kan, aku langsung menandatangani surat itu dan memberikan kembali pada tuan halbert.
Tuan halbert mengulurkan tangannya, aku juga tidak basa-basi lagi langsung saja menyambutnya dan bersalaman.
"Semoga kerja sama ini berjalan dengan lancar nona. " Ucap tuan halbert dengan senyum sumrigah.
"Bisnis ini pasti lancar tuan halbert. " Kata ku meyakinkan.
Aku sangat percaya diri dengan model pakaian yang aku buat. Aku dan tuan albert sepakat akan membuat 50 potong pakaian dari setiap tiga model sketsa yang aku berikan. Jadi total pakaian yang akan diproduksi nanti sekitar 150 potong pakaian. Aku juga akan menjadi model yang mempromosikan pakaian itu nanti dengan cara berkeliling pasar. Atau berjalan-jalan di depan rumah para bangsawan.
"Baik tuan halbert saya akan datang tiga hari lagi kesini. Dan saya akan mulai mempromosikan bajunya jika sudah selesai dijahit. "Ucap ku pamit pada tuan halbert.
" Baik terimakasih nona, saya akan mulai membeli kain hari ini agar bisa mulai menjahit pakaian. "
Tuan halbert mengantar ku dan dodo sampai kedepan pintu toko. Aku dan dodo segera pergi karena hari sudah hampir mulai sore.
****
Karena hari yang sudah sore aku dan dodo memutuskan naik gunung sebentar guna mencari beberapa sayuran liar untuk makan malam.
Saat berjalan menyusuri jalan-jalan gunung aku dikejutkan suara dodo yang berteriak cukup keras.
"Kakak, kakak kemari, lihat apa yang aku temukan. " Panggil dodo bersemangat.
"Suara kau hampir membuat ku jantungan bocah, berhentilah berteriak. " Tegur ku yang kaget. Aku berjalan kearah dodo yang sedang jongkok diantara rerumputan yang tumbuh subur. Aku tidak tau apa yang dilakukan anak itu sampai aku mendekat kearahnya.
Telur?
Yah, diantara rerumputan itu ada sekitar sepuluh butir telur. Dari bentuk nya aku tau kalau itu bukan telur ular. Aku yakin itu ada lah telur ayam hutan. Tapi dimana ayam itu?
Ayam hutan adalah leluhur para ayam kampung, bentuk fisik dan perilakunya sama persis dengan ayam-ayam kampung peliharaan. Hanya saja di kehidupan ku dulu harga ayam hutan sangat mahal dibanding ayam kampung biasa.
Aku mengedarkan pandangan kearah rerumputan mencari keberadaan induk ayam hutan. Aku menyibak tumbuhan ilalang disekitar dan seketika mataku terbelalak menyaksikan kawanan ayam hutan yang ada didepan ku.
Apa aku baru saja menemukan keluarga ayam? Atau desa ayam? Saking banyak ayam-ayam itu membuat aku bergidik ngeri.
Aku mengambil lima butir telur dan segera mengajak dodo pergi dari sana, jangan sampai ayam-ayam itu mengetahui kehadiran kami disana apalagi kami sudah mencuri telur salah satu dari mereka.
"Kakak, kenapa hanya mengambil lima? Bawa saja semuanya. Aku ingin makan banyak telur nanti. " Dodo terus menggerutu saat tau aku hanya mengambil lima telur saja.
"Jangan serakah bocah, kalau pemilik telur ini datang dan mengetahui semua telur nya hilang dia pasti akan merasa sedih. " Ucap ku asal. Sebenarnya aku hanya takut jika ayam-ayam itu waspada dengan keberadaan kami, melihat begitu banyak ayam, aku yakin tempat itu tidak pernah ditemukan oleh warga yang datang berburu.
Sebelum pulang aku sempatkan mengambil daun kucai dan bunga honje. Setelah dirasa cukup aku dan dodo langsung pulang kerumah.
Aku dan dodo berjalan pelan dibelakang laki-laki itu. Jantungku dag dig dug ser saat mencium aroma manis yang dibawa angin.
Apa itu aroma ethan?
Ini membuat aku meneguk ludah, lihat rambut hitamnya yang diterbangkan angin. Sungguh ini adalah hari keberuntungan ku sejak aku datang kesini.
Tiba-tiba ethan berhenti mendadak sehingga aku yang berada tepat dibelakangnya tanpa sengaja menabrak punggung lebar nya.
"Aduh." Pekik ku saat dahi mulus ku beradu dengan punggung keras milik ethan.
Laki-laki itu membalik kan badan dan menoleh kearah ku dan dodo.
Apa? Apa yang dia ingin kan!
Sorot mata tajamnya seolah akan melubangi kepala ku.
"Ada apa? " Tanya ku dengan santai.
Ethan mengerutkan keningnya. Lalu melipat kedua tangan nya didepan dada seolah sedang menantang ku.
Apa maksudnya itu!
Jangan bilang. . . .
"Hei, kau tidak berfikir kalau kami sedang mengikuti mu kan? " Tanya ku dengan kening berkerut. Dia diam saja tapi dari sorot matanya aku tau pertanyaaan ku tadi benar adanya.
Percaya diri sekali dia, jangan mentang-mentang kau tampan jadi berfikir se-enaknya begini memang nya aku ini suka padanya.
Hah!
Ya , kau tampan memangnya gadis buta mana yang tidak akan menyukai wajah indahnya itu.
"Kami ini mau pulang kerumah, bukannya mengikuti anda tuan kulkas. " Sahut ku kemudian. "Jangan berprasangka buruk anda, mentang-mentang tampan dan menggemaskan. "
Lah, kenapa aku sampai keceplosan memujinya. Tanpa sadar aku mengigit bibir karena malu.
Ethan melihat ku dari atas sampai bawah. Ha, dia pasti melihat penampilan ku yang berbeda. Lihat matanya itu rasa ingin kutatap lekat saja.
"Apa kau seorang pemuda mesum. Bagaimana bisa kau memperhatikan seorang gadis seperti itu, dasar tidak tau malu. " Ucap ku kemudian berjalan melewati ethan dengan wajah kesal.
Biar saja kalau dia berfikir aku gadis kasar, aku tidak akan bersikap sok lembut hanya untuk menarik perhatian nya. Soal percintaan itu nomor sekian dalam list hidup ku, sekarang aku hanya ingin cepat menghasilkan uang dan menjadi orang kaya.
Tak ingin memikirkan urusan pemuda tampan itu lagi, aku dan dodo mempercepat langkah agar segera sampai dirumah.
Untunglah tidak ada orang diluar jadi tidak ada yang akan melihat apa yang kami bawa.
"Kalian sudah pulang. " Suara berat bapak mengejutkan kan ku ketika aku baru membuka pintu. Aku menoleh kebelakang tampak bapak berdiri disana, namun tidak ada cangkul ditangannya. Apa bapak sudah pulang dari tadi?
"Bapak dari mana? " Tanya ku pada bapak setelah kami masuk kedalam rumah.
Bapak duduk dikursi panjang dan menghela nafas. "Dari rumah utama. Nenek memanggil bapak tadi. "
Nenek sihir itu pasti sudah mengatakan keinginan nya kemarin pada bapak. Dasar rubah tua tidak bisa apa melihat hidup kami tenang.
𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗽𝗮 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗶𝗸𝗲 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮, 𝗱𝘂𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝘂𝗵 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗸𝗲𝗹𝗮𝗻𝗴𝘀𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗻𝗼𝘃𝗲𝗹 𝗶𝗻𝗶.
𝘁𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗺𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿🥰🥰🥰
****