Meta For Siah

Meta For Siah
Siapa??



Dua hari telah berlalu, bapak dan ibu juga sudah datang melamar anna secara resmi, sebuah cincin emas tersemat dijari manis anna. Kami datang sekeluarga hanya pak kepala desa dan istrinya saja yang datang menemani kami, sedangkan keluarga bapak tidak diundang sama sekali, aku hanya takut mereka datang bukan nya mau membantu justru malah bikin keributan.


Barang-barang yang kami bawa cukup banyak, ya walaupun tidak ada barang mewah seberharga berlian. Akan tetapi bagi warga disini apa yang kami berikan sudah merupakan yang terbaik, bahkan warga lande terus membicarakan anna karena banyaknya hantaran yang kami bawa.


"Jadi tiga hari lagi kita akan mengadakan upacara pernikahan kakak pertama? " Tanya ku sambil melipat pakaian bersih yang baru diangkat oleh elis.


"Iya." Jawab ibu tanpa menoleh padaku.


"Bu.... " Aku membisikan sesuatu ketelinga ibu, wanita itu terdiam sejenak seolah terkejut dengan apa yang aku katakan.


"Kau serius, apa tidak masalah? " Ibu tampak ragu dengan perkataan ku.


"Masalah apa, kita punya rumah, dan jangan lupa, ibu adalah nyonya disini, kalau ibu sudah setuju, siapa yang akan menentang. " Wajah ibu memerah karena malu, lucu sekali melihatnya.


"Emm, kau ini, pandai sekali memuji ibu, baiklah, baiklah, kapan kita kesana? "


"Nanti sore bagaimana? Kalau besok kita pasti sudah mulai sibuk mengurus pernikahan kakak. "


"Baiklah, ibu ikut kau saja. "Kata ibu lalu beranjak pergi kedapur.


Aku mengajak luwi bermain dipinggir sungai aku duduk dibawah pohon, menatap aliran sungai yang cukup deras. Kalau dipikir-pikir, sudah cukup lama aku tidak pergi keluar, beberapa hari ini aku terus menghabiskan waktu dirumah. Dilang akan menikah, dan elis juga sudah memasuki usia dewasa. Selama berada disini aku terus sibuk mengurus keluarga siah, dan melupakan diriku sendiri.


Aku juga bingung, setelah ini apa yang harus aku lakukan, apa aku pergi saja ya? Aku sudah membuatkan mereka rumah, tabungan ku juga sudah banyak untuk hidup mereka hingga setahun ini.


Sudah tidak ada yang menarik lagi disini. Aku butuh sesuatu yang lebih menantang yang memicu adrenalin ku. Kehiduoan seperti ini sedikit membosankan.


Ah, akan ku pikirkan lagi nanti setelah usaha untuk dilang selesai aku akan membicarakan ini demgan mereka.


Karena terlalu asik melamun aku sampai tidak sadar kalau luwi menghilang, aku tidak tau anak itu pergi kemana. Akhir-akhir ini dia sering sekali menghilang lalu muncul tiba-tiba.


"Luwi, luwi kau dimana! "Aku berjalan menyusuri sungai sambil memanggil luwi.


"Dia datang, dia datang. "Tiba-tiba sebuah suara muncul.


" Siapa disana? Jangan sembunyi keluarlah? "Jika itu manusia aku tidak akan takut, aku mengangkat belati ditangan ku untuk jaga-jaga jika ada orang jahat yang muncul.


"Ada aroma tuan ditubuhnya, walau tidak terlalu pekat tetapi aku bisa menciumnya. "


"Tapi dia tidak memiliki tanda di tubuhnya? " Suara itu terus terdengar aku berputar mencari sumber suara namun tetap tidak menemukan siapa-siapa.


Aku juga merasa bingung, mereka ini membicarakan apa? Siapa yang sedang mereka bicarakan? Luwi juga kemana, dia menghilang disini, apa dia masuk kedalam hutan, bagaimana ini, aku takut dia kenapa-kenapa.


"Argh.... " Tiba-tiba ada sesuatu yang melompat kearah ku, belati yang ada ku pegang terlepas dari tangan ku.


Mata ku terbelalak, aku fikir hewan buas ternyata itu luwi, dasar anak ini dia mengejutkan ku. Hampir saja jantung ku copot karena terkejut.


"Kau dari mana saja, aku khawatir padamu, ayo pulang, kau tidak boleh tidur dengan ku nanti. " Ancam ku pada luwi, aku yakin dia mengerti perkataan ku. Sayang sekali dia tidak bisa bicara. Aku harus segera membawa luwi pergi, tempat ini cukup aneh, meskipun aku merasa tidak berbahaya namun tetap saja aku merasa ini cukup aneh.


Aku mengajak luwi kembali kerumah, ibu pasti sudah menunggu ku sekarang. Aku bergegas melangkah kan kaki menuju rumah.


Aku mendekati ibu dan mencium pipinya sekilas. "Tunggu sebentar ya bu, tidak akan lama. "


Aku langsung berlari kekamar sebelum ibu mulai mengomeli ku. Setelah membersihkan diri aku langsung turun kebawah menemui ibu, wanita itu sudah duduk manis dalam gerbong kereta. Ketika aku naik keatas kereta ternyata didalam bukan hanya ada ibu tetapi juga ada dodo.


"Kenapa kau ikut? "


"Kakak."dodo tersenyum manis kearah ku, aku memicingkan mata menatap curiga kearahnya. " Jangan melihat ku begitu, aku juga ingin ikut dan melihat nya. "


"Apa maksud mu? kau tidak mungkin mau ikut untuk hal seperti ini, katakan apa mau mu? "Aku tidak akan tertipu, dodo pasti menginginkan sesuatu, sejak kami pindah rumah dia tidak pernah mau lagi aku ajak keluar, alasannya dia merasa betah dirumah dan ingin menikmati hidup seperti anak bangsawan kaya, dan sekarang dia dengan suka rela ikut sendiri padahal kami bukan pergi untuk bermain, jadi ini patut untuk dicurigai.


"Musim panas sudah berakhir, kakak, bagaimana kalau aku menemani mu berpetualang lagi? "


"Tiba-tiba? "


"Tidak, tidak, sebenarnya akhir-akhir ini aku mulai merasa bosan, kau ingat saat pertama kali kita naik gunung? "


"Naik gunung? Kapan kalian naik gunung? "Ketika ibu bersuara aku baru menyadari kalau ini rahasia kami, dan bocah ini baru saja membocorkannya.


Suasana nya sedikit tegang, aku melotot kearah dodo, anak itu menunduk dengan takut, aku tau dia tidak sengaja, tetapi kenapa dia tiba-tiba membahas ini.


" Siah jelaskan pada ibu, kapan kalian naik gunung? "Ibu mulai mendesak kami, ia menatapku dengan mata minta penjelasan. Aku menyelipkan anak rambut ku kebelakang telinga, satu tangan lain mengusap kepala luwi dengan lembut.


" Bu, kau ingat ubi, yang pernah aku bawa pulang? "Tanya ku dan ibu mengangguk.


" Itu kami dapatkan digunung belakang rumah kepala desa. "


"Apa!!! "


"Tunggu jangan marah dulu, kami hanya dipinggir-pinggir saja, tidak sampai masuk kedalam jadi jangan khawatir, lagi pula kami baik-baik saja sekarang. "Berharap penjelasan ku ini tidak diperpanjang lagi.


" Jangan ulangi lagi, atau kalian tidak ibu izinkan keluar rumah setelah ini. "Ancam ibu dengan serius.


Aku dan dodo mengangguk, toh aku juga berencana pergi, aku ingin mengembara keberbagai tempat mencari pengalaman dan keseruan didunia ajaib ini.


Kereta kuda berhenti disebuah halamam yang tidak terlalu luas, aku dan ibu keluar dari kereta disusul oleh dodo, anak itu menatap gubuk yang ada didepan kami, tempat ini lebih buruk dari rumah kami dulu, jika ada badai kencang aku yakin rumah ini pasti akan terbang di bawa angin.


Aku dan ibu saling tatap, aku mengangguk ibu mengheka nafas dan mengajak ku masuk kedalam. Aku mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban sama sekali, ketika aku hendak mengetuk lagi pintu itu terbuka dari dalam, seorang wanita tua berdiri disana menatapa aku dan ibu dengan bingung.


Wanita itu memakai pakaian lusuh dan penuh tambal, ia membuka pintun sedikit lebar, hati ku terasa sakit melihat keadaan dalam rumah itu, kotor dan berantakan, bagaimana bisa ada manusia tinggal ditempat seperti ini. Aku melirik ibu, ia sudah menangis tersedu-sedu. Aku menepuk pungung ibu agar wanita itu sedikit tenang.


"Siapa kalian? " Tanya wanita tua itu dengan mata memicing.


"Nenek... "panggil ku dengan lembut. Wanita itu menatap ku dari atas sampai bawah, matanya berembun tetapi dia tidak mengeluarkan suara.


***