Meta For Siah

Meta For Siah
Pesta



Akhirnya aku jadi ikut dilang kepasar , karena kalau menyuruh dia pergi sendiri kebayang bagaimana dia hanya berdiri diam seperti patung siapa yang akan datang membeli apalagi ini barang baru dan belum ada disini.


"Turunkan saja semuanya lalu letakan disini. " Titahku pada dilang, kami sudah tiba dipasar dan saat ini sedang ramai sekali pengunjung yang datang.


"Gorengan, gorengan, enak dan gurih apalagi dimakan dengan saos sambal pedes endes gila. Ayo-ayo sini,kumpul!kumpul!. " Teriakan ku membuat dilang terlonjak kaget tapi aku tidak peduli biar saja aku sedang bersemangat sekarang.


"Bibi, silahkan dicoba, ini enak sekali, aku jamin. Kalau bibi tidak suka tidak perlu bayar. " Tawar ku pada salah satu bibi yang lewat.


"Tentu saja tidak bayar, kamu yang nawarin kok. " Jawabnya sewot, hadeuuh sepertinya salah menarik orang aku.


Sebuah bakwan yang sudah lengkap dengan saos aku berikan pada wanita judes itu, dia terihat ragu dan melihat ku dan gorengan itu begantian.


"Kalau aku sampai keracunan kau yang bertanggung jawab. " Ucapnya menatapku tajam. Aku meneguk ludah kasar dan mengangguk cepat, tentu aku tidak takut karena memang itu tidak beracun lain lagi kalau dia sakit perut karena tidak bisa makan pedes berabe juga urusannya ini.


Selagi menunggu komentar wanita itu aku kembali berteriak menawarkan dagangn ku . Tiba-tiba tangan ku ditarik oleh bibi tadi.


"Kenapa? Apa bibi sakit perut? " Tanya ku waspada.


Dia menggeleng, sambil menjilat sisa saos dijarinya. "Enak, ada lagi tidak? " Tanya nya berbinar.


Aku mengangguk. "Tapi yang kali ini bayar ya bibi. Yang pertama aku kasih gratis. "


Ia mengangguk dan langsung menyambar bakwan ditangan ku. Aku geleng-geleng kepala, tadi saja dia judes gitu sekarang malah ramah sekali, makanan memang pemersatu hubungan terbaik.


"Eeh, sini dulu, enak coba ini! " Bibi itu memanggil temannya lalu membagi dua bakwan dan memberikan pada temannya.


"Tambah sambal nya. " Wanita itu meminta saos lagi. "Ini juga, kau tau sambalnya sangat enak. " Katanya pada bibi disebelahnya.


Aku membirkan dua bibi itu menikmati makanan nya sedangkan aku kembali berteriak.


"Manisan tomat! manisan tomat!!enak manis legit!!semanis yang jual, manisan nya boleh dibeli yang punya tidak di jual. "Dilang melirik tajam kearah ku. Aku santai dan melanjutkan lagi. " Ayo, ayo kumpul, bu ibu... Barang baru dari luar negeri semuanya dibuat dengan bersih dijamin enak tidak akan rugi! Barang terbatas, siapa cepat dia dapat. "Beberapa yang tertarik dengan teriakan ku mulai berkumpul aku menyediakan semangkuk manisan untuk dicoba. Mereka tampak mangut-mangut, lalu juga beralih ke bakwan dan saos sambal.


" Berapa harga sambalnya? "Tanya bibi yang pertama datang tadi. Aku mendekatinya dan mulai berfikir berapa kira-kira harga yang pantas. Setelah dihitung tomat, cabai dan bawang putih.


" 2 koin perak satu botol. "Aku menganggkat botol yang terbuat dari bambu sepanjang satu jengkal tangan ku. Berisi saos sambal tidak terlalu penuh karena takut tumpah.


" Berikan aku dua botol. "Pinta bibi itu. Aku segera melayaninya sedangkan manisan tomat aku jual persepuluh biji dua perak. Tidak mahal karena manisan ini menggunakan banyak gula jadi harganya sangat sepadan.


Tak berapa lama gerai dadakan yang aku buka langsung dikerumuni oleh pembeli, tiga puluh botol saos dan sepanci besar manisan langsung ludes tak bersisa.


"120 koin perak. " Selesai menghitung aku serahkan uang itu pada dilang. Awalnya dia menolak setelah aku jelaskan kalau uang itu untuk modalnya berbisnis barulah dilang menerimanya.


Sebelum kembali pulang kerumah, aku dan dilang mampir ke toko tuan hulbert, mengambil hasil join selama satu minggu dan tak lupa memberikan desain terbaru.


"Sering-sering lah kemari nona meta. " Basa-basi tuan hulbert.


Aku menggeleng. "Tidak, aku takut kau jatuh cinta padaku tuan bulbert. " Perkataan ku langsung membungkam mulut tuan hulbert, dia menggaruk kepalanya yang kuyakini tidak gatal. Sedangkan dilang langsung memukul kepala ku tanpa bicara.


"Aww!aww!! bercanda kak, becanda, biar hidup nggak datar kayak kakak hidup tuh! " Ujarku terkekeh yang langsung dipelototi dilang.


"Tuan hulbert aku bercanda ya, tidak usah didengarkan masukan saja kedalam hati biar tambah greget. " Ucap ku tertawa keras yang menular pada tuan hulbert yang ikut tertawa mendengarnya.


Setelahnya aku pamit pada tuan hulbert. Hah, kalau sedang banyak uang begini suasana hati berubah senang jiwa terasa sehat, wajah pun jadi ceria.


***


Pagi ini semua keluarga sudah berkumpul diluar rumah, kami berdiri disina menyambut kedatangan pengantin wanita yang akan datang menggunakan kereta kuda.


Tak lama kereta kuda yang sudah dihias kain berwarna merah datang bersama iring-iringan dibelakang nya. Jantungku berdetak cepat, kulihat dilang menunduk dengan keringat dingin aku yakin dia sedang gugup saat ini.


"Sssstt.. " Aku mendesis memanggil ibu yang terihat sumrigah kearah kereta kuda yang baru datang.


"Ada apa? Suara mu membuat ibu terkejut. " Aku terkekeh mendengarnya lalu menunjuk dilang dengan bibir dimonyongkan. Ibu menoleh kearah yang aku tunjuk.


Ibu berjalan mendekati dilang yang berdiri disebelah bapak dan dodo. "Kamu baik-baik saja? "


Dilang melirik ibu sebentar lalu kembali menunduk tanpa menjawab pertanyaan ibu. Aku menghela nafas lalu ikut mendekatinya.


"Jangan gugup, atau kakak akan ditertawakan orang-orang. " Ujar ku mencoba menenangkan. Dilang diam saja membuat ku menyipitkan mata melihat keringatnya yang semakin membasahi keningnya.


"Kakak anna mungkin akan kabur setelah mencium bau keringat kakak. Malam pertamanya jadi batal karena pengantin wanitanya kabur. " Bisik ku ditelinganya.


Plak...


Satu tamparan mendarat dikepala ku. Aku meringis dan langsung menatap tajam kearahnya. Dia hanya berani begini dengan ku, sama yang lain diam saja seperti batu kali, dasar kakak tidak ada akhlak.


"Berhenti menggodaku. " Sahutnya dengan wajah merah.


Mata ku membola mendengarnya, ada perasaan jijik melihatnya yang tersipu begitu. "Iiihh, siapa yang menggoda sih! Aku itu mengatakan yang sebenarnya, kami para gadis ini... "


" Diam. "Suara berat dilang membuat ku bergidik. Aku jadi kasihan dengan anna, semoga dia kuat menghadapi kebringasan dilang.


Upacara pernikahan berlangsung dengan lancar. Setelah selesai memberikan penghormatan kepada para leluhur dan kedua orang tua dilang dan anna duduk bersanding dikursi yang telah disediakan, sementara tamu yang lain menikmati jamuan yang sudah terhidang.


Setengh jam yang lalu acara pesta telah usai. Yang tinggal hanya warga desa yang membantu membereskan piring-piring kotor dan membersihkan rumah.


"Anas! anas! dimana kau? " Itu suara nek lampir mau apa dia kesini. Ibu hendak melangkhkan kaki keuar rumah namun aku mencekal tanganya.


"Ibu disini saja temani nenek, biar aku cari bapak dulu, ingat ibu jangan keluar. "


Ibu mengangguk faham mengerti maksud perkataan ku, aku berjalan kebelakang rumah.


"Itu... Ibu mertua mu? " Terdengar suara nenek gemetaran, kurang ajar mak lampir itu beraninya dia membuat nenek ku ketakutan.


Aku langsung membawa bapak keluar rumah. Disana beberapa orang tampak berkerumun.


Seorang wanita tua dengan penampilan semrawut berdiri dengan tongkat kayu ditangan kanan nya.


"Anas, kurang ajar! Mau jadi anak durhaka kamu! Semua orang desa kau undang sementara keluarga mu sendiri kau lupakan. " Nenek lampir itu menghardik bapak sampai air liurnya terbang kemana-mana.


"Sekarang suruh sena menyiapkan makanan untuk ku bawa pulang, bungkuskan semua jenis lauk yang ada juga sisihkan sedikit uang keponakan mu akan masuk sekolah tahun ini. " Cerocos nenek tanpa beban. Dia yang sudah biasa memerintah dan mengandalkan tenaga ibu, tampaknya ia lupa dengan yang terjadi beberapa bulan yang lalu.


"Kakak kedua mu dipecat dari kerjaannya aku yakin dia difitnah oleh teman-temannya yang iri dengan keberhasilan kakak mu itu. kasihan keponakan mu dia mau masuk sekolah sementara tidak ada uang untuk mendaftar. " Kembali ia memceritakan kepahitan hidupnya. "Kasihan sekali cucu ku dia pasti malu kalau sampai batal sekolah, dia tidak boleh kalah dengan anak orang lain, anas kau harus membantu keponakan mu. "


Bapak tidak merespon sedikitpun perkataan ibu tirinya itu, sedangkan aku berdiri disamping bapak bersedekap dada. Hebat sekali mak lampir itu datang kemari dengan tidak tau dirinya minta ini itu dia pikir dirinya itu siapa.


"Sena, siapkan makanan untuk saudaramu, sekalian untuk ibu buat makan disini. "Ucap nenek sambil mengipasi wajahnya dengan tangan. Karena memang cuaca hari ini sangat panas meskipun hari sudah sangat sore.


Aku menatap takjub dengan tingkah ajaib nenek tiriku ini, dia ini seperti jailangkung, datang tak diundang pulang tak diantar. Seenaknya dia memerintah dia pikir ibu ku ini kacungnya apa.


***