Meta For Siah

Meta For Siah
Tamu tak terduga



Ketika sampai ditoko yang menjual pakaian laki-laki aku berkata pada dilang dan dodo. "Ayo kita masuk dan berbelanja baju. Setelah itu kita beli bahan makanan untuk pekerja bangunan besok. "


Dilang dan dodo mengangguk. Dua orang itu berjalan mengikuti ku dibelakang. Aku berkeliling memilih beberapa pakaian yang cocok untuk dilang dan dodo tidak lupa aku juga membelikan untuk ibu dan bapak. Sementara elis aku sudah membelikan banyak untuk nya ditoko tuan halbert.


Setelah merasa puas kami keluar dari toko membawa banyak barang belanjaan.


Dikehidupan ku dulu walaupun tidak terlalu hidup miskin tapi kalau soal berbelanja baju aku juga mencari harga murah dan berfikir-fikir dulu karena uang masih minta sama orang tua.


Namun sekarang aku tidak mau perhitungan lagi. Aku bisa menghasilkan banyak uang dalam dua hari jadi aku akan memuaskan diriku dengan membelanjakan banyak uang.


Sebelum pulang kami juga berbelanja banyak bahan makanan, aku sengaja membeli lebih karena besok akan dimulai pembangunan pondasi rumah.


Sekarang aku, dodo dan dilang telah sampai dirumah. Begitu tiba dirumah hari sudah mulai sore, aku langsung mengeluarkan bahan makanan. Ibu dan elis mengolahnya untuk makan malam kami.


Bapak pulang dari ladang ketika semua hidangan telah selesai dimasak. Aku dan elis menghidangkan nya diatas meja.


Aku melihat keatas meja. Bermacam-macam hidangan telah tersaji, teringat saat pertama kali aku datang kesini. Bukan hanya nasi yang tidak hangat, tapi makanan itu sendiri tidak bisa aku makan saking tidak layaknya.


Mataku tiba-tiba memanas. Aroma lezat yang tercium membuat hati ku penuh dengan perasaan bahagia.


Aku akhirnya mengerti kenapa banyak orang sekolah menjadi koki dan juru masak. Karena soal selera lidah memang tidak pernah bohong.


Tidak ada hal yang paling memuaskan dari pada makan makanan enak.


Tentu saja orang yang memasaknya harus pintar dalam mengolah makanan. Kalau tidak, jangan harap kau bisa puas jika yang memasak hanya seorang pemula seperti ku.


Dikehidupan ku dulu, aku tidak terlalu memedulikan makanan enak yang harus membuat hati puas. Asal sudah kenyang itu sudah cukup. Karena dulu aku tidak terlalu suka makan, sebagai seorang gadis yang baru beranjak dewasa aku sangat menjaga bentuk tubuh ku.


Karena tubuh ku tipe yang hanya mencium aromanya saja sudah menambah tumpukan lemak di beberapa bagian tubuh ku. Sekarang aku bisa makan sebanyak yang aku mau, karena tubuh siah ini bagi ku sangat ajaib. Sebanyak apa pun aku makan tidak ada lemak yang menumpuk. Aku tidak tau kemana perginya makanan yang aku makan itu.


Semua orang sudah duduk dimeja makan, hanya menunggu ibu mengambilkan makanan bapak sebelum mulai mencicipi seluruh hidangan.


Ibu mengisi piring bapak dengan nasi dan lauk sembari berkata. "Makan lah. "


Dodo pun langsung menyambar sepotong paha ayam goreng dan memasuk kan kedalam mulutnya. Kami makan sambil mendengar celotehan dodo. Saat aku akan mengambil nasi lagi, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Kami semua saling bertatapan. Tanpa perlu bicara kami sudah saling mengerti. Orang yang mengetuk pintu itu akan membuat makan kami menjadi tidak enak lagi.


"Biar aku yang membukanya. "


Aku berjalan kedepan membuka pintu. Begitu pintu terbuka aku merasa sangat terkejut. kakek dan nenek sedang berdiri didepan ku.


Hati ku tiba-tiba merasa tidak enak. Firasatku mengatakan hal buruk akan terjadi.


Benar saja, tanpa aku suruh kakek langsung mendorong ku dengan tongkat kayunya. Dan langsung masuk kedalam rumah.


Begitu melihat kakek dan nenek. Bapak dan ibu juga sangat terkejut. Mereka langsung berdiri dan menyapa. "Ibu, ayah. "


Pukulan tongkat itu membuat semua orang membeku. Bapak melihat anak-anak nya lalu kedua orang tuanya. Tatapan nya tampak serba salah. Kemarahan muncul didalam hatinya, namun dia tidak bisa berkata-kata.


Aku tidak menyangka mereka berdua yang akan datang, tadi nya aku pikir mungkin gena atau bibi pertama. Jika mereka yang datang aku masih bisa mengatasinya, tapi kalau dua orang tua ini. . . Apa yang harus aku lakukan?


"Elis, bungkus semua makanan yang ada diatas meja. " Perintah nenek. Dari nada suaranya jelas ia tidak ingin dibantah.


Apa!!! Tidak, kenapa dia selalu se-enaknya, memangnya dia pikir makanan itu dia yang membeli, ini tidak bisa dibiarkan.


"Nenek, kenapa nenek membungkus semua nya kami kan belum selesai makan. "Tanya ku. Aku berjalan mendekat kearah mereka.


"Jangan panggil aku nenek, kau tidak ada hubungan nya dengan ku. "Setelah mengatakan itu. Nenek melayangkan tongkatnya ke kepala ku.


Ibu dan elis berteriak dan langsung memeluk ku. Kepalaku terasa sangat sakit. Mataku sampai berkunang-kunang. Air mata ku mengalir tanpa bisa dicegah, seumur hidup ku ini pertama kalinya aku dipukul sampai seperti ini. Wanita yang melahir kan ku saja jangan kan memukul, mencubit pun dia tidak pernah.


Lalu hak apa yang dimiliki nenek tua ini sampai berani memukuli ku?


Aku bersumpah akan membalas kan dendam ini!


Pandangan ku mulai gelap, suara ibu yang memanggil mengingatkan ku waktu kecelakaan mobil. Beberapa detik kemudian aku tak sadarkan diri, semua gelap tidak ada lagi suara yang terdengar.


"Siah. . ." Sena berteriak melihat putrinya tak sadarkan diri.


Hatinya cemas bercampur marah. Dengan nafas memburu dia berdiri dan berkata. "Dilang, angkat adik mu dan pindahkan ke atas dipan. " Titah sena pada dilang.


Tanpa pikir panjang dilang langsung mengangkat tubuh adiknya dan membawa nya keatas kasur. Elis dan dodo ikut menjaga siah.


Sena berdiri dengan tatapan menantang. "Apa yang ibu lakukan? Kenapa ibu memukul putriku? Apa salahnya? "


"Apa salahnya? Dia itu anak yang kurang ajar, sudah sepantasnya dia dipukul. "Nenek menunjuk kearah siah yang terbaring diatas dipan. "


"Kakak tertua mu mengatakan padaku, kalau kau membeli kereta kuda, dia hanya meminjam nya sebentar untuk pergi bekerja kekota, perjalanan kekota cukup jauh dan melelahkan, tapi kau tidak mau meminjamkan sebentar saja? Apakah kalian sanggup hidup sendiri? Jangan salahkan saya tidak memperingatkan kalian, karena mulai hari ini kami tidak akan membantu kalian jika kalian menemukan kesulitan. "Kata kakek dengan sengit. Dia menatap tajam kearah anas.


Setelah mendengar perkataan kakek barulah semua orang mengerti kenapa kakek dan nenek datang membuat keributan. Tapi kenapa? Kereta kuda itu Siah yang membelinya, bukan anas, pria itu tidak bisa memutuskan apa dia boleh meminjamkan pada saudaranya atau tidak. Memang dasarnya saja mereka orang-orang egois. Mau enak sendiri. Tapi anas juga tidak habis pikir, kenapa ayahnya bisa semarah ini? Bukankah anak yang selalu dia banggakan itu adalah seorang pelajar? Memiliki gaji tetap? Aih-alih membeli kereta sendiri mereka malah ingin merebut barang milik orang lain.


"Ayah, kereta kuda itu bukan aku yang membelinya, tapi siah, lihatlah bagaimana kalian memperlakukan nya, apa dia masih akan mau meminjamkan kereta kuda itu. Jangan mempersulit kami lagi. "Anas mencoba menjelaskan dengan sangt jelas.


Namun ibu tirinya itu tidak peduli kebencian yang sudah tertanam sejak dulu semakin menumpuk. Lalu dia berkata dengan sinis. "Kamu bapaknya kan? Uang anak milik orang tuanya. Aku tau kau tidak sekolah tapi tidak menyangka akan sebodoh ini. Atau memang dasarnya saja kau yang tidak mau peduli dengan keluarga mu sendiri. "


Sena menahan rasa marah dihatinya lalu dia berkata dengan tegas. "Kami tidak akan memperlakukan anak kami seperti sapi perah. Jika mereka bekerja menghasilkan uang, itu adalah miliknya, jika ibu beranggapan uang anak adalah milik orang tua, maka perlakukan saja hal itu pada anak ibu, jangan bawa-bawa keluarga ku. "


Ayah dan ibu anas terperangah mendengr perkataan sena. Mereka tidak menyangka menantu yang selalu diam jika dihina, yang selaulu mengelah jika disalahkan. Tapi sekarang berani menjawab bahkan mengatakan kata-kata tajam seperti ini. Apa mereka sedang bermimpi?


***