
Tindakan Peter yang tak pernah terbayangkan oleh Nay, terjadi malam itu. Peter seakan tak bisa menahan apa yang ia rasakan saat itu.
"Pak, Pak Peter ....'' Nay berbisik di depan wajah atasannya itu setelah mendapatkan ciuman tak diduga itu.
"Ma ... maafkan aku Nay. Tidurlah sudah malam.'' Peter lalu pergi dan masuk ke dalam kamarnya tanpa menjelaskan apapun pada Nay.
"Pak Peter ... kita harus bicara pak.'' seru Nay mengejar Peter tapi ia sudah terlanjur masuk ke dalam kamar.
Tak jauh dari sana, seorang satpam yang baru bekerja selama tiga hari menyapa Nay. "Mbak Nay ga apa-apa?''
"Ohh, ga apa-apa Kang Mus. Saya ada perlu sama Pak Peter tapi udah besok aja. Selamat malam Kang.''
"Ohh gitu, sok atuh selamat malam Mbak. Saya lanjut keliling lagi.''
"Iya Kang.''
Tentu saja malam itu menjadi malam yang tak terduga buat Nay dan Peter. Keduanya terus terjaga di kamar masing-masing.
Sementara itu, Anton masih seperti biasa sibuk dengan urusannya sendiri. Mabuk, hura-hura dan bermain perempuan. Baginya seakan tak ada lagi Nay dalam hidupnya.
Suatu ketika saat sedang fokus bekerja di kantor, Anton mendapatkan panggilan telpon dari orangtua Nay.
"Anton, kamu ada waktu bicara? Mami tahu kamu pasti lagi sibuk.'' sapa mama Nay di telpon. Anton sedikit menghela nafas dan memikirkan apa yang harus ia katakan.
"Iya mi. Ada apa mi?'' Anton sedikit gugup dan merapikan dasinya.
"Kamu sudah dengar kabar dari Nay lagi belum? Nay bilang cuma ke tempat temannya. Cuma kok lama banget ya?'' ucap mama Nay gelisah.
"Anton juga lagi cari-cari informasi nih mi. Sabar ya mi nanti Nay pasti akan kabari kita lagi.''
"Iya kamu kabari mami lagi ya kalau ada. Mami khawatir banget. Papi Nay juga sampai sakit demam dari kemarin.''
---
Di kediaman Leo,
Leo terus menerus gelisah di rumah. Istrinya yang tak nyaman melihatnya terus mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"Kamu kenapa sih daddy? Perasaan dari sejak di Bangkok sampai kita udah pulang gini kamu kayak ga tenang gitu. Ada sesuatukah yang kamu pikirkan?''
"Nggak apa-apa ma. Kamu istirahat dulu aja ya. Aku mau ke rumah temanku dulu ya si Adi. Kita mau jenguk Andre lagi karena Andre masih dirawat di RS di Cilegon sana.''
"Jadi teman kamu Andre sudah ditemukan dad? gimana keadaannya?'' tanya sang istri, Desi yang merasa lega.
"Iya udah ketemu kemarin. Aku besok mau ke Cilegon lagi ya mau bantuin jaga dia. Keluarganya pada di Singapura semua. Aku sebagai teman ga tega ninggalin dia sendiri. Kamu ga apa-apa kan aku tinggalin lagi?''
"HHmm, iya kalau memang kamu harus ke sana. Tapi memang ga ada lagi teman lain yang bisa bantuin jaga sayang?''
"Ga ada. si Adi kan mesti jagain mamanya yang lagi sakit jadi ga bisa bantu jaga.''
"Iya deh ga apa-apa, anggap kamu nolongin teman kamu sayang. Aku sama anak-anak ga apa-apa. Besok mama juga mau nginap di rumah.''
"Ya udah ga apa-apa. Kamu ajakin mama jalan-jalan aja ke mall ya.''
"Iya deh.''
Keesokan paginya, Leo bergegas menemui Nay lagi ke Villa Camelia untuk mengajaknya kembali ke Jakarta.
Sesampainya di Villa Camelia, Peter menyambutnya dengan ramah sebagaimana mestinya kepada seorang tamu. Peter berusaha bersikap profesional dan menanyai keberadaannya.
"Apa kabar Pak Leo? ada yang bisa saya bantu, Pak Leo?''
"Kabar baik Pak. Ternyata masih ingat nama saya ya?'' tanya Leo sumringah.
"Oh ya, hhmm maaf kali ini saya datang untuk menemui Mbak Nayra ... apa dia ada?''
"Nayra? Naya maksudnya?'' tanya balik Peter.
"Ahh. ya ya Naya ... ada Pak?''
"Dia lagi ke belakang. Sebentar saya panggilkan.''
"Hmm, ga apa-apa, biar saya yang samperin ga apa-apa kan?''
"Hhhm, saya rasa dia lagi ke toilet. Tunggu sini saja nanti dia ke sini.''
"Oh, baiklah pak. Saya tunggu di sini.''
Tak lama berselang, Nay keluar dan menghampiri Leo. Mereka berdua pun pergi ke sebuah gazebo dekat pinggir pantai dan berbicara empat mata. Dari kejauhan Peter terus memperhatikan mereka dan mulai merasakan api cemburu yang tak jelas.
"Nay, sepertinya kamu sudah terlalu lama di sini. Ayolah balik ke Jakarta. Kurasa kamu harus siap untuk kembali segera deh. Ingat keluargamu di sana Nay. Kamu harus urus perceraian kamu juga kan.''
"Aku harus ngomong apa ke bosku, Leo? aku udah merasa nyaman di sini.''
"Kamu kan bisa kapan-kapan ke sini lagi. Please, kamu mau sampai kapan di sini dan buat semua orang cemas?''
Nay berdiri dan membiarkan rambut panjangnya dikibas angin yang berhembus cukup kencang. Ia berjalan ke arah pantai dan menundukkan kepalanya. Cukup lama ia diam dan berpikir sementara Leo berjalan mengikuti langkahnya dengan seksama dan menatapnya cemas.
"Oke, aku akan bicara dulu dengan bosku. Aku butuh waktu dan aku akan kembali sendiri. Kamu ga perlu datang ke sini Leo. Aku bisa kembali sendiri.''
"Baguslah, kamu udah kembali ke akal sehat kamu. Aku cuma minta satu, bersikap dewasalah menghadapi masalah kamu sama Anton.''
"Iya sepertinya aku belum dewasa dan hilang akal sehat saat ini.'' Nay menggumam sendiri sembari melemparkan karang kecil ke arah air laut.
---
"Thanks ya nanti aku kabari lagi.'' ucap Nay mengantar Leo kembali ke mobil sebelum ia berkendara lagi ke Jakarta.
"Iya, nanti kabari aku ya. Kuharap kamu bisa putuskan dengan bijaksana aja.'' Leo menutup pintu mobilnya dan menyalakan mesin. Matanya masih tak bisa melepaskan pandangan ke Nay. Dan setelah menunggu beberapa detik, ia menjalankan mobilnya dan keluar dari area villa.
Nay melambaikan tangannya dan kemudian berjalan masuk kembali ke dalam villa.
"Mbak Nay, itu saudaranya ya?'' tanya Kang Mus sedikit menggoda Nay.
"Ahh, bukan Kang. Teman saya dari Jakarta itu.''
"Wah hebat temannya kayaknya bos ya? ternyata Mbak Nay gaulnya sama orang kaya ya.'' canda Kang Mus.
Dalam hati Nay merasa sedikit sebal karena Kang Mus terlihat ingin tahu soal pribadinya dan membuatnya kurang nyaman tapi ia pilih untuk menghiraukan ucapannya dan berlalu.
"Nay, ayo kita bicara.'' ucap Peter seraya memberi tanda masuk ke dalam ruangan kantor Peter.
"Iya Pak.''
Dalam ruangan kecil berukuran 3x4 meter itu, Peter meminta Nay duduk dan meminta ia bicara.
"Ada sesuatu yang perlu kamu ceritakan atau jelaskan ke saya ga?'' tanya Peter yang semakin penasaran.
"Pak, sebenarnya ... saya ... saya mau berhenti kerja.''
Peter terbelalak dan tak menyangka dengan ucapan Nay yang tiba-tiba.
- Bersambung ke Bab 10 -