Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 7 - Berharap dengan semu



Sore itu Peter dan Nay memutuskan untuk kembali ke Anyer setelah semua urusan transaksi lahan selesai di Notaris dan pembeli. Dengan kondisi masih sedikit lelah dan mengantuk, Peter berusaha mengendarai mobil dengan tenang dan santai. Sementara Nay hanya bersikap kalem saja sembari menikmati perjalanan.


Peter memperlambat kemudinya dan membuat Nay curiga. "Pak Peter, ada apa? bapak sepertinya lelah. Bagaimana kalau kita berhenti dulu di rest area pak?''


"Nanti kita bisa kelamaan lagi. Ga apa-apa saya bisa pelan-pelan kok. Kamu tidur aja ga apa-apa kok Nay.'' ucap Peter


"Pak, mau saya gantiin dulu?'' ujar Nay menggerakkan kepalanya menatap Peter.


Peter sedikit terkejut dengan ucapan Nay dan tak menduga ia bisa menyetir. ''Tapi SIM kamu? kamu bisa nyetir?''


Nay hanya tersenyum dan mengangguk. "Daripada bapak cape biar saya gantiin. Saya sudah cukup fit dan ga begitu ngantuk Pak. Cuma soal SIM, hilang kan waktu kejadian kemarin. Moga ga apa-apa.''


"Hhmm, ya sudah kalau gitu. Kamu pelan-pelan aja.''


"Iya Pak.''


Setelah bergantian di rest area terdekat, Nay mengambil posisi kemudi dan melanjutkan perjalanan. Peter takjub begitu melihat Nay yang tampak sudah mahir menyetir mobil.


Tiga jam kemudian, Nay telah sampai di Villa dan Peter terbangun dari tidurnya.


"Loh, kita sudah sampai Nay?'' Peter kaget seakan tak percaya ia telah tertidur pulas dalam perjalanan dan membiarkan Nay menyetir tanpa ditemani ngobrol.


"Iya pak. Saya sengaja biarin bapak tidur saja supaya bapak bisa istirahat.''


"Gilaa kamu ternyata ... saya ga nyangka kamu bisa nyetir, jago malah.''


Nay hanya melemparkan senyumnya sembari pamit mau kembali ke kamar dan istirahat.


 


Keesokan paginya, Nay kembali beraktifitas seperti biasa. Begitu pun dengan Peter yang sibuk membuat beberapa proposal dan promosi untuk membangkitkan kembali Villanya.


Terik panas matahari mulai memasuki setiap sudut di Villa dan sekitarnya. Ketika Nay sedang sibuk merapikan beberapa tanaman, seseorang datang mendekatinya dan menepuk bahunya dari belakang.


Betapa kagetnya Nay setelah menengok ke belakang kalau Leo datang menemuinya secara tiba-tiba. Leo terbelalak melihat Nay dan tak menyangka ia ada di sana.


---


Leo mengajak Nay berbicara di pinggir pantai di depan villa. Peter tampak sedikit curiga dengan keberadaan Leo di sana. Leo tidak tampak seperti orang biasa dan bukan orang lokal. Ia bertanya-tanya siapakah pria yang bersama Nay?


"Nay, coba jelaskan ke aku yang sekarang terjadi sama kamu?'' tanya Leo dengan sedikit emosi bercampur lega.


"Bagaimana kamu bisa ke sini Leo?'' tanya Nay balik.


"Kamu jawab aku dulu deh, baru aku nanti jawab pertanyaan kamu.''


"Hhmm, jadi waktu kejadian tsunami itu, aku ketiduran dan aku berencana kembali ke Jakarta malam itu tapi aku terlambat dan terjadilah kejadian itu. Saat itu, aku tak sadarkan diri dan diselamatkan oleh pemilik Villa ini. Dan aku berakhir di sini, bekerja dengannya.''


"Kamu kan bisa kembali ke Jakarta, Nay, Kenapa kamu harus tetap di sini?''


"Aku memang sengaja tidak mau kembali dulu. Aku mau di sini dulu Leo.''


"Kenapa sih?'' sahut Leo emosi.


"Anton udah ajuin cerai.''


"Haa? kapan?''


"Sejujurnya aku waktu ajak kamu ke sini, aku sudah terima gugatan cerai dan aku mau tenangin diri tapi ternyata keadaan jadi seperti ini sekarang. Dan aku bingung harus gimana. Aku mau berpikir dulu rencana aku selanjutnya.''


"Lantas apa keluarga kamu tahu dan gimana Anton? apa dia tahu soal kamu ini?''


"HUft, Nay ... kamu harusnya kasitahu mereka dong. Jangan gitu Nay. Aku ngerti kamu mungkin lagi kalut sekarang tapi kamu harus pikirkan orangtua kamu juga kan. Come on, be wiser deh.''


"I know ... but let me do what i want to do now. Aku masih mau di sini dan aku masih mau bantu bos di sini.''


"Villa ini kan bukan villa yang besar amat Nay dan kamu ga ada juga ga berpengaruh banyak kan? Kamu mau berpura-pura sampai kapan dan sembunyi sampai kapan?''


"Entahlah, yang pasti aku mau tenangin diri dulu.''


"At least kamu harus kabari keluarga kamu dulu deh biar mereka ga cari kamu. Terus gimana sama barang kamu yang lain? Dompet, uang, kartu dan lain-lain?''


"Aku belum beresin sih itu.''


"Kamu butuh bantuan aku ga? biar aku beresin di Jakarta.''


"Yah kalau kamu bersedia bantu aku, aku akan hargai itu sih.''


Dari kejauhan Peter memperhatikan Nay dan Leo yang tampak berbicara dengan serius. Peter mencoba menerka jika Leo adalah seseorang yang Nay kenal. Peter mulai tak leluasa dengan apa yang ia lihat dan mencoba tenang menunggu Nay selesai bicara.


---


Hari sudah semakin gelap dan Leo memutuskan untuk menginap satu malam sebelum kembali ke Jakarta. Peter belum mau menanyakan soal Leo kepada Nay dan mencoba berpikir positif.


"Nay, bapak itu menginap semalam kan ya? syukurlah dia orang pertama yang menginap sejak kejadian itu. Kita harus kasi pelayanan yang bagus supaya ia puas dan bisa balik lagi ke sini. Saya percayakan ke kamu ya Nay.''


"Iya pak.'' Nay mengangguk dan tak banyak bicara sambil berlalu.


"Nay ....'' panggil Peter.


"Ya pak?''


"HHmm, ngomong-ngomong kamu kenal tamu itu?'' Peter bertanya dengan nada pelan tapi terlihat jelas rasa penasaran dari wajahnya.


"Ohh, beliau itu ... iya saya kenal Pak.''


"Hhhmm, siapa Nay?''


"Hanya kenalan saja Pak.'' Nay mencoba menghindar dan membuat Peter semakin curiga dan bertanya-tanya. Namun Peter akhirnya mengacuhkan hal itu dan membiarkan Nay kembali ke pekerjaannya.


---


Malam itu kian larut dan hanya sunyi yang menghiasi. Peter istirahat di kamarnya dan mencoba menutup matanya yang masih lelah.


Sementara itu Nay diam-diam menemui Leo di kamarnya.


"Nay, aku kangen sama kamu. Kamu ga tahu gimana khawatirnya aku mencari kabar kamu. Kamu tahu kan perasaan aku gimana?''


Leo memeluk Nay dengan erat dan mengusap kepalanya.


"Maafkan aku Leo. Aku juga tak mau mengganggumu dan keluargamu.''


"Kamu jangan ngomong gitu. Aku tahu aku sadar juga dengan kondisi aku tapi aku ga bisa mengenyampingkan kamu juga.''


Malam yang dingin itu tak mampu menahan hasrat dan rindu kedua insan ini dan mereka mulai melampiaskan hasratnya sekian lama. Nay jatuh ke pelukan Leo dan mereka melakukannya dengan penuh gairah di tempat tidur itu. Nay tak menghiraukan apa yang terjadi dan berharap Peter tak mengetahui perbuatannya.


Dari balik pintu, Peter berdiri dan menempelkan telinganya ke daun pintu kamar 208 yang ditempati Leo. Ia mendapati Nay sedang di dalam kamar itu dan mendengar sayup-sayup apa yang sedang terjadi.


- Bersambung ke Bab 8 -