
Setelah mendengar cerita Pak Kusuma yang pernah berselingkuh dari istrinya, Nay merasa terhentak karena ia juga pernah mengalaminya. Meskipun pernikahannya memang sudah bermasalah dan suaminya juga sudah berselingkuh duluan. Walau begitu ia juga sadar, sikapnya juga tak bisa dibenarkan.
Seharian Nay merenung di villa. Ia memikirkan hubungannya dengan Peter. Apakah ia harus meneruskannya atau benar-benar akan melangkah ke langkah serius selanjutnya? Ia tahu betul bagaimana Peter begitu mencintainya tapi apakah itu cukup kuat untuk menjalin pernikahan apalagi mereka sudah pernah gagal dari pernikahan sebelumnya.
Sore itu Nay pergi berjalan-jalan di pantai seorang diri. Ia berjalan-jalan menikmati semilir angin sambil merenungi segala sesuatu yang telah ia lalui selama ini. Di sana ia tak menduga akan bertemu dengan Anton, mantan suaminya. Ia melihat Anton sedang bersama seorang wanita dan seorang anak balita laki-laki berumur sekitar setahunan. Maksud hati ingin menghindar, tapi Anton sudah terlanjur menyadari keberadaan Nay yang berdiri tak jauh darinya. Anton menatap sebentar dan menyapa Nay.
"Nay!" sapa Anton dan kemudian ia memberi isyarat kepada wanita yang disampingnya bahwa Nay adalah mantan istrinya.
Nay mencoba mengelak tapi akhirnya ia membalas sapaan Anton itu. "Hai?''
Anton berjalan mendekati Nay sambil menggendong anak kecil itu dan menggandeng tangan wanita di sampingnya.
"Kamu lagi apa di sini?''
"Seperti yang kamu lihat, aku lagi jalan-jalan aja." Nay menjawab singkat dan melempar senyum pada wanita dan anak kecil itu.
"Ohh ya kenalin. Ini Linda dan Andy.''
"Keluarga baru kamu?''
"Iya.''
"Umm, selamat ya. Bahagia selalu." Nay menyodorkan tangannya ke wanita yang bernama Linda itu dan memperkenalkan dirinya. Wanita bernama Linda itu lalu membalasnya dan menyebut namanya.
Anton lalu mengajak Nay berbicara sebentar dan meminta Linda serta anaknya bermain sebentar di sebuah arena permainan anak-anak yang letaknya tak jauh dari mereka.
Anton dan Nay berdiri di tepi pantai sambil memandang jauh ke laut. Mereka tampak sama-sama tenang dan berusaha tidak terbawa suasana.
"Jadi kamu sekarang sibuk apa?'' tanya Anton.
"Aku sibuk mengelola villa aja di sini. Lumayanlah dapat modal dari jual rumah di Cibubur''
"Jadi uang rumah yang di Cibubur kamu pakai untuk usaha di sini?'' tanya Anton sedikit terkejut.
"Memangnya kenapa? apa aku ga boleh pakai uang yang merupakan hak aku?'' tanya Nay sedikit sinis.
"Umm, ga juga sih. Aku ga masalah juga dengan apa yang kamu lakukan dengan uang itu.'' balas Anton memelankan nada suaranya.
Sejenak keduanya diam dan saling melempar pandangan masing-masing. Anton meluruskan tatapannya ke anak dan istrinya. Tampak bagaimana sorot mata itu begitu sayang kepada dua insan yang sedang asik bermain tak jauh dari mereka. Dari situlah Nay merasakan tatapan itu ia sudah lupa kapan terakhir dapatkan dari seorang Anton, seorang pria yang telah menikahinya sekian tahun. Dan ia juga sadar bahwa memang cinta sejati kadang tak selalu dengan seseorang yang kita nikahi.
Tak terasa langit makin memerah manja pertanda matahari makin beranjak merunduk dan perlahan menggelapkan bumi. Anton kembali memulai pembicaraan dan tak ingin berlama-lama dengan Nay.
"Nay ... '' panggil Anton dengan nada yang tak biasa yaitu dengan suara pelan.
"Iya?'' Nay memalingkan wajahnya ke arah Anton.
Nay melihat tatapan mata Anton yang sendu dan tak pernah ia lihat selama ini. Nay juga bisa merasakan lirih suara Anton yang tulus dan sudah ikhlas dengan semua yang terjadi di antara mereka.
"Semua sudah masa lalu. Aku juga sudah memaafkan dan melupakannya. Kita sudah sama sama dewasa. Aku ikut bahagia melihatmu bahagia dengan keluarga kecilmu. Aku berharap kamu akan selalu menjaga mereka dengan baik.'' ucap Nay tersenyum seakan memberi tanda bahwa mereka telah saling berdamai dan menghentikan segala kepahitan yang pernah terjadi dalam hidup mereka selama berkeluarga.
Nay dan Anton berpisah sore itu dan sang istri baru Anton menghampiri Nay tiba-tiba dan membuat kaget Nay.
"Mbak Nay, ... '' sapa wanita yang bernama Linda itu.
"Iya?'' Nay membalikkan badannya.
"Mbak, aku minta maaf. Aku sudah menjadi perusak di rumah tangga kalian berdua.''
Nay mengangkat alisnya dan heran dengan ucapan Linda. "Kenapa kamu berpikir begitu?''
"Umm, mbak ga marah sama saya? kan saya berhubungan dengan Mas Anton dan hamil anaknya di saat kalian masih terikat pernikahan.'' ucap Linda sedikit menunduk.
Nay tersenyum dan membalas santai, " Sudahlah, ini bukan salah kamu sepenuhnya. Aku bisa paham dan mengerti dengan sikapmu dan Mas Anton saat itu. Kami toh sudah bermasalah dari sejak lama dan kamu datang mengubah hidupnya. Aku justru ingin berterimakasih sama kamu. Terimakasih kamu membuat dia menjadi seorang ayah dan bisa membuat dia bahagia. Aku ga apa-apa mbak Linda. Aku harap kalian selalu bahagia dan saling menjaga satu sama lain.''
"Tapi Mbak Nay tidak marahkah? tidak seperti kebanyakan para istri yang meledak-ledak saat tahu ada pelakor dalam rumah tangganya?''
"Hhahahah, saya ga seperti itu mbak. Saya masih waras dan menurut saya apapun itu ada hikmah di baliknya. Saya sudah menerima semuanya. Saya juga tidak bilang saya sesuci itu kok. Saya juga tidak sebaik yang Mbak kira.''
"Maksud Mbak Nay gimana?''
"Umm, tidak apa-apa. Itu, Mas Anton manggil. Kalian take care ya.''
Sekali lagi Linda memeluk Nay dengan tulus dan membisikkan sekali lagi, "Maafin saya mbak. Mbak Nay harus bahagia ya.''
"Terimakasih, Mbak Linda.'' balas Nay mendekap Linda.
Anton dari jauh melihat pemandangan itu dan memeluk putra kesayangannya. Anton tampak tak sanggup menahan air matanya hingga ia berusaha mengusapnya dan berlagak cuek.
---
Nay masih duduk di tepi pantai dan kembali memikirkan soal Peter. Ia tak bisa berhenti memikirkan apa yang harus ia lakukan pada Peter? mengapa ia tiba-tiba merasa ia harus memutuskan hubungan dengan Peter? apakah ia harus benar-benar melepaskan Peter dan menjalani hidupnya seorang diri?
Deru ombak makin kencang dan mulai menyapu setiap sampah di pinggir pantai. Nay berjalan meninggalkan pantai dan kembali ke Villa. Tentu saja dengan terus memikirkan soal Peter.
---
Tiba di Villa, Nay terkejut melihat Jun sudah berada di depan villa sambil menghisap sebatang rokok di tangannya.
- Bersambung ke Bab 29 -