Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 3 - Terhempas



Pagi tanggal 23 Desember 2018, Lembaga Swadaya masyarakat, polisi, TNI, pemerintah daerah setempat, awak media dan banyak warga setempat berusaha mencari para korban serta menyisir tiap tempat di sekitar kejadian bencana. Banyak tempat yang rusak dan hancur dan tak terkecuali kendaraan serta pohon-pohon yang terkena dampaknya.


Nay membuka matanya perlahan dan menyadari bahwa ia telah terdampar di dekat batu karang berjarak sekitar 1 km dari villa yang ia tempati. Kakinya tergores batu karang begitu pun kedua lengannya. Ia menahan perih goresan itu dan berusaha bangun sampai akhirnya seorang pria menopangnya dan memanggilnya.


"Mbak, Mbak ga apa-apa?'' tanya pria itu.


Pria itu tampak terluka cukup parah di bagian kepalanya. Sambil menahan sakitnya ia memeriksa kondisi Nay dengan sedemikian telitinya.


"Mari kita ke tepian. Di sana banyak bantuan.'' ajak lagi pria itu kepada Nay.


"Iya Mas.'' ucap Nay menahan sakit.


Tak lama kemudian beberapa petugas mengenali Nay dan pria itu dan membawa mereka ke tenda pengobatan terdekat.


"Bapak, Ibu bisa informasikan identitasnya?'' tanya salah satu petugas.


"Hhmm, saya Peter, Saya pemilik Villa Camelia.'' ujar pria itu.


"Kalau ibu?'' tanya petugas itu kepada Nay.


"Saya ... saya ... '' Nay seketika berbicara tidak sepantasnya dan menutupi identitasnya.


"Iya ibu ingat ibu namanya siapa bu?''


"Saya? saya Naya Kusuma. Saya warga Cilegon.''


"Bapak dan Ibu ke sini sama siapa? ada yang anda kenal?''


"Saya naik motor ke sini buat jalan-jalan ke pantai aja pak.'' ucap Nay lagi.


"Kalau saya memang mau memeriksa tempat villa saya.'' kata Peter menyambung.


"Baiklah kalau begitu, kami akan kumpulkan data informasi dulu,. Bapak Ibu silakan diobati dulu sama perawatnya dan istirahat.''


"Terimakasih Pak.'' ucap Nay dan Peter bersamaan.


---


Nay dan Peter dirawat dan mereka tak banyak berbincang. Sesekali Nay memandang Peter dan mengingat lagi kalau ia adalah pria yang dilihatnya waktu di Villa dan ia baru tahu kalau pria itu adalah pemilik villa yang ia tempati.


"Mbak, warga Cilegon? Mbak sama siapa di sini?'' tanya Peter.


"Saya ke sini sendiri aja Mas. Motor saya juga sepertinya sudah hilang.''


"Kau mau pulang?''


"Saya tinggal seorang diri mas dan lagi cari kerjaan sih di dekat sini.''


"Oh gitu ... tapi kau harus kabarin keluargamu segera.''


"Iya mas.''


Peter kemudian pamit untuk melihat situasi di villanya dan meninggalkan Nay sendirian di tenda penampungan. Di sekitar tenda tampak orang-orang sibuk berbenah dan korban luka satu per satu datang mendapatkan pertolongan obat-obatan.


Nay merasa kalut dan tak mengerti kenapa ia harus berbohong begitu saja pada petugas dan Peter. Kebohongan itu tiba-tiba saja tercetus di pikirannya. Mungkin ini kesempatannya untuk kabur dari Anton sementara waktu.


Di saluran berita TV dan internet sudah terdata ada ratusan korban luka dan puluhan orang yang meninggal.


Di Villa Camelia, Peter memeriksa dan mencari keberadaan para pegawainya. Ia melaporkan kepada para petugas terkait mengenai para pegawai dan kerugian yang ia alami. Sebagian property di villanya rusak parah begitupun villa dua lantai yang berjumlah tiga unit yang salah satunya ditempati oleh Nay. Mobil-mobil terseret tapi beruntunglah mobil milik Peter tidak terbawa arus. Mobil Nay juga hanyut dan hilang entah kemana.


Nay mencari-cari barang yang masih bisa diambil dan digunakan. Ia berjalan-jalan mencari dan apesnya dompet berisi tas dan HPnya sudah hanyut terbawa arus dan ia harus merelakannya. Sampai sore hari akhirnya Nay berhasil menemukan mobilnya kembali tapi sudah rusak parah. Mobil sedan pemberian suaminya itu sudah hancur parah dan ia pun harus menelan kesedihan kehilangan mobil yang selama ini ia gunakan. Dan kini ia harus memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia tak pernah hafal nomor kontak suami dan keluarga serta teman-temannya. Ia harus berpikir mencari solusi sementara.


Sementara itu, Anton terus mencoba menghubungi Nay tapi ia gagal terhubung. Kecemasan mulai menghinggapi pikirannya seharian sejak peristiwa itu. Ia merasa yakin istrinya baik-baik saja dan tak mungkin berada di tempat kejadian karena yang ia tahu istrinya ada di Simprug. Begitupun keluarga besar Nay mencari tahu keberadaannya tapi masih belum mendapatkan kabar apapun.


Anton merasa cemas karena ia tak banyak mengenal teman-teman Nay selama ini. Hanya beberapa yang ia tahu tapi mereka pun tak mengetahui keberadaan Nay.


"Anton, Nay ga mungkin ada di Anyer kan?'' tanya papa Nay lewat telpon kepada Anton yang masih ada di Bali.


"Ga mungkin deh Pa. Semalam saya masih chat sama Nay sebelum dia tidur di tempat temannya Mirna. Papa tahu atau pernah denger nama Mirna?''


"Papa mana tahu teman-temannya? paling tahunya cuma si Aling dan Jenny yang di Kebayoran. Papa sama mama ga pernah denger nama itu. Kamu sebagai suami harusnya lebih tahu dari kita.''


"Iya maaf pa. Saya suaminya kurang memperhatikan.''


"Kita doakan aja dia baik-baik aja. Mungkin dia lagi di jalan atau HPnya rusak. Kita tunggu sampai sore ini jika tidak ada kabar juga, kita laporin ke polisi aja deh.''


"Iya pa. Saya coba balik sore ini lebih cepat. Nanti saya kontek papa lagi.''


---


Di Bangkok, secara diam-diam Leo menghubungi Nay tapi ia tak bisa menghubunginya karena nomor Nay yang tidak aktif termasuk WA dan sosial media lainnya. Leo merasa cemas dan khawatir karena yang ia tahu Nay masih ada di sana, tapi ia berusaha melawan bisikan hatinya kalau Nay harusnya sudah kembali sebelum kejadian itu dan Nay baik-baik saja. "Apa Nay sedih dan kecewa aku tinggalin dia ya?" gumam Leo dalam hati.


"Kenapa Daddy? kok daddy sepertinya lesu sih? ga happy gitu?'' tanya sang istri.


"Hhmm ga apa-apa ma. Aku cuma cemas aja temanku bilang dia mau ke Anyer kemarin tapi mudah-mudahan dia ga jadi ke sana.''


"Temanmu siapa Dad?''


"Si Andre.''


"Oh Andre ... mudah-mudahan dia ga di sana. Tapi sedih juga ya denger kabar bencana gini di sana.''


"Iya korban sudah banyak.''


Leo tak henti mengikuti perkembangan berita lewat streaming online dan artikel di internet. Ia hanya bisa berharap Nay baik-baik saja.


Sementara itu, Nay hendak kembali ke Villa Camelia untuk mencari barang yang tertinggal di kamarnya. Meskipun tak akan banyak yang tersisa tapi harusnya masih ada beberapa yang tertinggal karena kebetulan kamarnya yang berada di lantai dua. Ia harus memikirkan cara agar bisa berpura-pura masuk dan mencari barangnya di sana.


- Bersambung ke Bab 4 -