Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 17 - Tetaplah bersamaku



Setelah kembali dari Malaysia, Peter beraktivitas seperti biasa di Villa Camelia. Meskipun kadang ia merasakan jenuh luar biasa di tengah sepinya suasana di Villa, ia sedang merasakan kehilangan karena tak adanya Nay di dekatnya. Sejak berada di Bali, Nay sudah jarang berkomunikasi dengan Peter. Begitupun Peter sejak sibuk mendampingi Amel, ia lebih memilih fokus dengan pemulihan Amel.


Hari demi hari berlau, Peter melawan rasa sepinya setiap hari dengan berjalan di pinggir pantai dan bermain game di ponsel. Ia seakan hilang arah tujuan hidup.


Bunyi pesan chat masuk dari Nay.


"Hai Peter apakabar?'' sapa Nay di chat itu.


Peter menatap pesan singkat itu sebentar dan memikirkan apa yang harus ia jawab. Beberapa detik ia hanya menempelkan jarinya di layar ponsel itu tanpa mengetik satu katapun.


Bunyi panggilan telpon dari Nay dan Peter menerimanya.


"Halo?'' ucap Peter singkat.


"Halo Peter, sedang apa?"


"Ohh, a ... aku abis ngobrol sama tamu. Kamu lagi apa?''


"Ohh gitu? kamu lagi di Villa? kapan kamu balik dari Malaysia? kamu ga kabarin aku?''


"Aku mau kasi kejutan sebenarnya buat kamu. Maaf ya.''


"Umm, besok aku ke Jakarta ada urusan. Nanti kita ketemu ya. Aku sudah kangen sama kamu.''


"Ohh, ya besok kita ketemu ya.''


Peter merasa campur aduk. Satu sisi ia begitu senang karena bisa bertemu dengan Nay tapi di lain sisi ia merasa detak jantungnya seakan berubah tak seperti dulu ketika ia masih sedang kasmaran dengan Nay. Mungkinkah perasaan cintanya berkurang seiring waktu dan jarak jauh belakangan ini mereka jalani?


Di Bali, Nay sedang sibuk membereskan beberapa instruksi pekerjaan tukang renovasi villa.


"Pak Komang, yang ini tolong bereskan segera dalam beberapa hari ini ya karena saya khawatir nanti pas tamu datang nanti belum beres."


Nay menunjuk beberapa potong kayu yang belum selesai dipasang sebagai penyangga gazebo di depan salah satu kamar.


"Baik Bu Nay. Siap. Nanti Ibu kembali sudah beres pokoknya.''


"Sip, terimakasih Pak Komang ya.''


 


Keesokan harinya, Nay dan Peter sepakat bertemu dulu di salah satu hotel di Jakarta. Nay berencana bertemu dengan seorang travel agent dan akan menghadiri acara pernikahan salah satu saudara sepupunya.


Di Hotel, Peter mendatangi Nay yang belum lama tiba dari Bandara.


"Hai?'' sapa Peter di depan pintu saat Nay membukakan pintu kamar.


"Hai ...'' Nay meraih tangan Peter dan menariknya masuk dengan sigap.


Di dalam kamar Nay dan Peter langsung berpelukan dan saling meluapkan perasaan rindu yang berkecamuk di dalam dada.


.....


.....


.....


Di atas tempat tidur, Nay dan Peter masih tak melepaskan dekapan satu sama lain. Peter mengusap rambut Nay berkali-kali dan mengecupnya dengan lembut.


"Kamu kangen ga sih sama aku selama ini?'' tanya Nay.


"Iya pasti Nay.''


"Maafin aku ya. Aku tahu kamu mungkin masih kecewa dengan keputusan aku pindah ke Bali.''


"Kamu kenapa?'' Nay bertanya.


"Aku sepertinya agak lelah. Aku tidur sebentar boleh ya?''


"Iya. Tidurlah.'' Nay bangun dan mengenakan piyamanya dan membersihkan dirinya di kamar mandi.


 


Menjelang petang, Peter ingin pamit dan kembali ke Anyer tapi Nay merasakan Peter berubah dan seakan acuh dengan keberadaannya saat itu. Nay menyadari bahwa Peter mungkin sedang tak ingin lama-lama bersamanya.


Nay menarik tangan Peter dan tak ingin ia pergi begitu saja.


"Jangan pergi ... tetaplah bersamaku di sini. Aku mohon.''


Peter mencoba tersenyum dan tetap ingin pergi.


"Aku ada kerjaan Nay dan nggak bisa tinggalin. Maafin aku. Kamu juga kan sibuk jadi aku pergi dulu.''


"Kamu ada apa? kamu ga cinta aku lagi ya? Kamu jujur deh. Apa karena aku pindah dan kita jadi seperti ini sekarang?''


"Kenapa Nay? kamu ga salah. Aku yang salah. Aku terlalu mencintaimu hingga aku takut kehilanganmu tapi sekarang perasaanku yang mulai pudar karena hubungan kita jadi seperti ini.''


"Tolong jujur ke mana sih sebenarnya arah perkataanmu ini?''


"Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Aku saat ini tidak tahu harus ngapain dan ke mana?" Peter sesekali merapikan rambutnya yang mulai memanjang sampai ke bahu setelah sekian lama tidak memangkas rambutnya.


"Kamu terlihat gelisah dan ini belum pernah kulihat selama ini. Aku tahu kamu sangat kecewa dan aku tahu kamu mungkin sedang kesepian. Apalagi setelah kamu berpisah lagi dengan putrimu Amel. Aku tahu aku seperti orang yang egois dan tidak mengerti perasaanmu. Aku hanya sibuk sendiri dan tidak memperhatikanmu. Tapi tolonglah kita sudah sama-sama dewasa. Aku mencintaimu Peter. Aku juga tahu ini sulit dan aku mungkin terlihat gegabah dengan pindah ke Bali. Tapi kamu perlu tahu kalau ini baru rencana awalku. Aku tidak tahu ke depannya apa aku akan terus menetap di sana atau di sini. Percayalah aku hanya ingin menjalani apa yang kuputuskan sekarang. Aku juga tak ingin kehilanganmu Peter. Aku sungguh-sungguh mencintaimu ....''


"Aku tahu aku juga tak bisa egois menghalangi niatmu ke Bali. Aku juga tak mungkin menahanmu terus di sini sedangkan kita belum mantap dalam berhubungan. Kurasa aku memang egois dan aku tak mungkin bertingkah bodoh terus seperti ini. Aku hanya tidak siap ditinggal lagi olehmu setelah aku berpisah dengan Amel. Aku butuh kamu di sampingku Nay ....''


Nay mendekap Peter dan memeluknya dengan erat. Aroma tubuhnya yang khas tak pernah ia lupakan dan selalu membekas di benaknya.


"Mari kita bicarakan lagi ini nanti. Aku harap kamu bisa menemaniku selama aku di sini. Aku akan menyelesaikan urusanku di sini dulu dan akan menemuimu di Villa sebelum aku kembali ke Bali. Aku tak ingin hanya sebentar bersamamu. Aku mohon tetaplah bersamaku jika kau bisa melakukannya untukku.''


"Aku akan menemanimu Nay.''


"Terimakasih.''


---


Malam itu Nay menemui kedua orangtuanya dan menginap di rumahnya. Sementara Peter masih menunggu di hotel. Nay menyelesaikan urusannya dengan seorang teman dan keesokannya ia kembali ke hotel tapi Peter sudah tak ada di sana.


"Kamu di mana Peter?''


"Maaf aku harus kembali ke Villa. Aku tak bisa lama-lama di sana.''


"Lantas aku harus menemuimu ke villa?''


"Aku akan menemuimu lagi di Jakarta. Aku harus selesaikan beberapa urusan dan akan menemuimu lagi. Kamu tunggu aku ya di hotel. Besok siang aku akan kembali ke hotel sementara kamu bisa selesaikan urusanmu dulu.''


"Iya sudah kalau gitu. Aku akan menunggumu.''


---


Di Villa, Peter mengurus beberapa booking tamu untuk beberapa acara outdoor gathering. Seluruh kamar di villa penuh dan Peter sibuk mengurus segala keperluan di sana dibantu oleh beberapa karyawannya.


Hari itu para tamu mulai berdatangan dan ketika Peter sedang sibuk menerima mereka, salah satu tamu tampak tak asing bagi Peter. Seorang wanita berambut pendek tapi wajahnya sama dengan wanita yang pernah duduk bersebelahan di pesawat. Iya, wanita itu ... Rose Darmawan sang pengacara.


- Bersambung ke Bab 18 -