Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 4 - Mencari Jejak Tertinggal



Nay memutar otaknya dan mencari cara untuk bisa masuk ke dalam kamar yang ia tempati agar bisa menemukan barang yang sempat ia tinggali. Saat itu ia membawa berkas perceraian yang ia terima dari suaminya Anton. Iya, Anton berencana akan menggugat cerai dengan beberapa perjanjian tertulis, tapi belum sempat ia baca.


Nay mendatangi Villa Camelia dan mencari tahu keberadaan Peter, pemilik Villa yang ia temui sebelumnya. Ketika berada di tempat itu, beberapa orang petugas polisi masih menanyai Peter dan beberapa orang perwakilan keluarga para pegawainya datang untuk menemuinya.


"Bapak, ibu saya turut berduka cita dan kehilangan atas para karyawan saya yang hilang. Jujur saja saya juga baru datang ke Villa ini. Tempat ini awalnya adalah milik salah satu keluarga yang saya ambil alih. Saya belum sempat mengenal mereka sama sekali.''


"Pak, anak saya sudah kerja lima tahun di sini. Tolong pak kemurahan hatinya. Bosnya dulu janji mau bantu dia biayain sekolah anaknya yang masih SD. Apa ada kebijakan pak?'' ucap salah satu bapak yang anaknya merupakan karyawan di sana.


"Pak, saya belum kenal sama sekali anak bapak yang bernama Rian. Saya belum sempat ngobrol banyak. Saya sama sekali tidak tahu.''


Isak tangis tak terbendung dari bapak itu yang membawa anak kecil, yaitu cucunya yang telah kehilangan sang ayah. "Gimana ini? cucu saya sekarang jadi yatim piatu. Udah ibunya meninggal, sekarang bapaknya. Ya Gusti Allah ....''


"Pak, bapak tenang dulu, Bapak Peter ini kan sudah jelaskan kalau beliau juga baru ambil alih kemarin dan belum sempat kenal karyawan-karyawannya.'' Seorang petugas polisi coba menengahi percakapan.


Peter tak kuasa menahan kebingungannya dan berharap ini hanya mimpi belaka. Ia mengusap keringat di wajahnya dengan sapu tangan berwarna merah maroon seraya sesekali menundukkan kepalanya.


Dua orang perwakilan lainnya coba menimpali percakapan, '' Pak Peter, begini saja, kalau dari saya, saya tidak akan menuntut apa-apa pak. Adik saya juga baru saja kerja di sini satu bulan. Cuma gajinya belum sempat diterima pak. Jadi mohon kebijakannya aja pak.'' ucap salah satu perempuan perwakilan karyawan bernama Ani.


"Kalau dari saya sih saya ikhlasin aja Pak. Saya juga ga bisa berbicara apa-apa karena kakak saya itu sudah dua tahun kerja di sini dan sudah anggap Villa ini sepertinya rumahnya sendiri. Dia sudah jadi satpam selama ini dan menjaga keamanan di sini.'' ucap salah satu perwakilan yang lainnya dari seorang satpam bernama Ahmad.


Percakapan itu cukup memakan waktu yang lama hingga tiga jam. Nay hanya duduk di teras di bawah sebuah pohon cemara dekat pos yang sudah setengah hancur. Ia menahan dingin dari pakaiannya yang masih agak lembab karena belum diganti sama sekali. Ia seperti seorang yang tersesat dan berantakan. Sementara teriakan kegelisahan dan kesedihan beberapa orang yang lewat masih terdengar. Mobil ambulans tampak hilir mudik melewati jalan depan Villa itu.


Tak lama kemudian, Para perwakilan keluarga yang datang terlihat satu persatu keluar dari ruang lobi tempat pertemuan dengan Peter. Tampaknya mereka telah menyelesaikan permasalahannya. Nay berdiri dan hanya mengangguk melihat para keluarga yang kehilangan ini.


Nay mendongak ke dalam dan melihat Peter hanya menunduk lesu. Ia tinggal seorang diri dan tampak bingung dengan situasi yang sedang ia alami. Ia pun berinisiatif untuk masuk dan menyapa Peter.


"Hai, Pak Peter.'' sapa Nay.


"Ohh, ya Mbak Naya ... mbak masih di sini? udah ga apa-apa lukanya?''


"Iya udah ga apa-apa Pak. Banyak yang lebih parah dari saya. Saya belum sempat mengucapkan terimakasih yang layak ke bapak setelah bapak menyelamatkan saya tadi.''


"Udah ga usah dipermasalahkan itu. Sudah seharusnya kita saling menolong bukan?''


"Iya Pak. Maaf Pak sebelumnya, saya ... saya mau minta tolong ...''


"Apa itu mbak?''


"Saya ... saya boleh menumpang di sini sebentar atau menginap di sini malam ini?''


"Tapi tempat ini masih berantakan saya juga sudah kehilangan para pegawai saya. Gimana ya?''


"Bukankah di lantai atas tidak apa-apa Pak?''


"Saya sudah hubungi mereka pak. Saya ga mau mereka khawatir. Keluarga saya ada di Bandung semua.''


"Ohh gitu ya? ya udah kalau mau nginap silakan saja. Ada kamar yang masih selamat di atas. Kamu bisa pilih salah satu dulu.''


"Terimakasih ya Pak. Terimakasih sekali lagi.''


"Iya.''


"Hhmm pak, sebagai balasan terimakasih saya, saya akan bantu bapak beresin tempat ini. Boleh ya pak?''


"Kamu ga apa-apa?''


"Tentu saja pak.''


---


Malam tiba dan situasi mulai tenang. Nay dan Peter hanya berdua dan tidak ada orang sama sekali. Dikarenakan listrik masih padam, mereka harus berbagi lilin agar bisa sedikit menerangi kamar yang mereka tempati. Nay menempati kamar yang ia tempati sebelumnya dan berusaha mencari berkas perjanjian perceraian yang ia simpan di laci meja. Dia menemukannya dan masih tersimpan rapi. Ia membuka berkas itu dan membacanya dengan seksama meski dengan penerangan yang sekadarnya.


Di berkas itu tertulis permintaan dari Anton bahwa Nay hanya mendapatkan harta berupa satu unit rumah di Sentul dan mobil sedan yang ia pakai serta tunjangan sekali senilai Rp 200.000.000,-. Di perjanjian itu juga Nay harus melepaskan bisnis trading yang ia jalani dari saham keluarga Anton.


"What? setelah sekian tahun ini aku cuma dapat segini? setelah aku berjuang menjalani perusahaannya dan bisa sukses seperti sekarang? apa? rumah sentul? sedangkan dia punya rumah di Pondok Indah, Alam sutra, Kemayoran dan apartemen di PIK? apartemen di PIK itu kan pake uang aku? berani sekali dia???? Uang tunjangan Rp 200.000.000? ha?? becanda ini orang.'' Nay bergumam dan merasa kesal dengan pembagian harta yang ia dapat dari Anton.


Nay menarik nafas panjang dan membanting berkas itu ke lantai dengan kesal. Peter tak sengaja melihat Nay bersikap emosi dan menegurnya. "Mbak? mbak kenapa?''


Nay kaget dan tak menyangka Peter ada di depan pintu dan memergokinya.


"Oh, ga apa-apa Pak. Saya hanya teringat dengan seseorang saja.'' Nay melirik ke arah berkas di lantai berharap Peter tak melihatnya.


"Gitu ya? Mbak kita makan sesuatu yuk. Saya sudah beli nasi goreng buat kita makan malam ini.''


"Ohh ya Pak makasih. Kita makan di mana pak?''


"Makan di kamar saya saja di sebelah. Ohh ya, ngomong-ngomong saya ambil baju tamu yang tersisa. Sepertinya cocok buat Mbak Naya.'' Peter menyodorkan baju dan celana itu kepada Nay.


"Ohh terimakasih Pak. Sebentar lagi saya ke sana.''


---


Nay dan Peter makan malam nasi goreng sambil berbincang di kamar Peter dan mereka mulai mencoba mengakrabkan diri.


- Bersambung ke Bab 5 -