
Nay mencoba membuka semua masalah hubungannya pada Jun. Tanpa ia sadari, kalimat demi kalimat mengalir begitu saja dari bibirnya malam itu saat mereka sedang menikmati makan malam bersama. Jun hanya serius mendengarkan dan menelaah setiap ucapan Nay.
.......................
.......................
"Aku merasa bahagia selama bersamanya, tapi aku tak yakin siap menjadi seorang ibu bagi anaknya. Apa aku terlihat tidak tulus mencintainya, Jun? bagaimana menurutmu Jun?'' tanya Nay setelah menyudahi ceritanya.
"Umm, maaf aku harus bilang ini. Aku rasa kamu tidak benar-benar menerima dia apa adanya. Padahal kurasa dia sudah cukup bahkan sangat mencintaimu. Mengapa kamu tidak bisa menerima anaknya? kurasa kamu harus tanyakan ke hatimu, sebenarnya tujuanmu berhubungan dengannya apa sih? hanya untuk have fun? supaya kamu tidak kesepian? atau untuk hubungan lebih jauh agar bisa bersamanya sampai tua nanti?''
"Aku? iya kadang aku tak yakin dengan apa yang sebenarnya aku mau? mungkin karena aku sudah nyaman dengan kondisiku saat ini. Aku sudah menemukan kedamaian di sini dan sepertinya aku tak bisa kembali kesana. Suasananya, vibenya, feelnya ga dapat, Jun. Beda aja ....''
Peter menatap tajam Nay dan diam sejenak. Ia menghela nafas panjang dan memangku tangannya di atas meja. Ia hanya memandang Nay.
Nay terhenyak dan bingung dengan sikap Jun. Ia tahu ada yang salah dengannya dan membuat Jun bertanya-tanya.
"Ada apa Jun? aku tahu apa yang kau pikirkan tentangku. Kamu pasti berpikir aku tidak dewasa dan tidak tulus sama Peter kan?''
Peter diam dan merapatkan bibirnya.
"Ayolah, aku merasa jadi terdakwa di sini. Say something Jun."
"Umm, i just don't get it. But somehow i can understand how you feel. If i were in your situation, maybe i would do the same thing too.''
"Nahhh, itu. Aku cinta dan sayang sama Peter. Aku sadar dari awal aku tertarik secara fisik padanya tapi setelah aku mendengar saran dari orang tua dan melihat beberapa pengalaman temanku, aku berpikir ulang. Aku sudah hampir 40 tahun dan kurasa aku tak bisa hanya menikah karena ingin hubungan resmi.''
"Kurasa kamu harus bicara lagi sama Peter. You both need to talk seriously.''
"I think so. I will talk again to him.''
"If you still need time to consider, go ahead then tell him what you feel and want.''
"Thanks Jun. You make me feel more comfortable now.''
"No big deal. I hope you will find what the right way. You just focus for what makes you happy.''
"Sure.'' Nay mengangkat gelas wine dan mengajak Jun melanjutkan minum lalu kembali ke villa.
Keesokan paginya, Nay melakukan lari pagi di sekitar villa. Ia melewati villa milik Jun tapi ia melihat mobilnya tak ada jadi ia berpikir Jun sedang tak ada di tempat. Oleh karena itu ia pergi menyusuri jalan sekitar villa sendirian.
Setelah berjalan cukup jauh dari villa, Nay melihat sepasang suami istri yang sebelumnya sempat mau pesan kamar di villa Nay. Nay menyapa bapak dan ibu itu.
"Selamat pagi Bapak dan Ibu Kusuma, lagi jalan-jalan ini?'' sapa Nay dengan ramah.
"Selamat pagi mbak Nay. iya ini kita lagi mau jalan-jalan lihat sekitar sini ternyata benar-benar indah. Mbak Nay sendiri aja ini?'' tanya Pak Kusuma balik.
Nay membetulkan ikat sepatunya sebentar lalu membalas Pak Kusuma. "Iya pak sendiri saja. Umm, bapak sama ibu sudah mau selesai atau baru mulai?''
"Kami sudah dari subuh tadi sih. Kami mau kembali ke Villa saja.'' jawab Bu Kusuma yang mengenakan hijab berwarna krem dengan senyumnya yang ramah.
"Ohh begitu. Baiklah kalau begitu Bapak, Ibu semoga liburannya menyenangkan ya.''
Lalu Nay dan Pak Kusuma serta istrinya pun berjalan menuju warung kecil itu dan memesan beberapa cangkir teh hangat. Di meja juga terdapat beberapa cemilan berupa nasi jinggo dan makanan kecil berbagai macam. Pak Kusuma memulai obrolan dan menawarkan Nay cemilan di meja untuk disantap.
"Mbak Nay, aslinya dari mana?'' tanya Pak Kusuma membuka pembicaraan seraya menyeruput teh di cangkir. Sementara itu Bu Kusuma asik memotret pohon dan bunga-bunga kamboja yang sedang tumbuh mekar subur di dekat kafe.
"Saya dari Jakarta Pak.''
"Ohh, sudah lama kah menjalankan villa di sini?''
"Umm, sepertinya sudah hampir setahun ya.''
"Mbak Nay sudah menikah?''
"Belum kedua kali pak.''
Pak Kusuma tertawa kecil. "Hahaha''
Nay ikut tertawa dan mengajukan beberapa pertanyaan pada Pak Kusuma.
"Kalau bapak dan ibu sudah berapa tahun menikah pak?''
"Umm, kami sudah 40 tahun menikah. Makanya kami ke sini untuk merayakan anniversary kami.''
"Ohhh gitu. Wahhh sudah 40 tahun. Umur menikahnya?''
"Kami menikah di umur yang sama-sama masih 18 tahun waktu itu saat baru lulus SMA.''
Pak Kusuma lalu menceritakan pengalamannya dan perjalanan cintanya bersama sang istri.
"Kami dulu menikah karena terdesak sebenarnya ... istri saya hamil waktu masih sekolah. Jadi ya terus terang saya juga tidak siap tapi saya pikir saya juga harus tanggung jawab karena itu juga anak saya. Akhirnya kami menikah dengan keadaan yang cukup memprihatinkan karena kami juga sama-sama dari keluarga kurang mampu. Dan banyak sekali yang kami lalui selama emapt puluh tahun ini. Suka duka, kecewa, pengkhianatan, bangkrut, lalu akhirnya kami seperti sekarang. Kedua anak kami sudah besar dan mandiri. Dan akhirnya aku bisa membuat istri aku bahagia.''
"Pengkhianatan?'' Nay menyela.
"Umm, iya. Saya pernah selingkuh dengan rekan kerja saya saat istri hamil anak kedua. Wahh, waktu itulah yang paling berat karena saya meninggalkan istri dan anak. Saya benar-benar pergi dan tidak pikirin lagi anak istri.''
"Berat juga ya Pak. Tapi Ibu Kusuma gimana?''
"Itulah dia ... dia punya hati yang besar dan kuat. Saya salut sama istri saya itu.'' Pak Kusuma memandang istrinya dari jauh hingga matanya berkaca-kaca.''
"Saya salut dan respek sama Bu Kusuma, pak.'' sela Nay lagi.
"Iya. Mungkin jika itu wanita lain, saya sudah lama bercerai dengan istri dan berpisah sama anak.''
"Apa yang membuat keadaan menjadi lebih baik? apa bapak berubah setelah itu?''
"Saya cukup lama meninggalkan anak istri. Sekitar setahun. Lebih parahnya lagi, setelah itu saya kehilangan pekerjaan, bisnis saya jatuh, pacar saya tinggalin saya, dan yaaa ... begitulah. Saya kembali ke istri dan dia menerima saya kembali. Sejak saat itu saya berjanji untuk berubah dan tidak akan menyakitinya lagi.''
Nay diam sejenak dan tak kuasa menahan air matanya mengalir.
"Mbak Nay, mungkin setelah dengar cerita saya, saya cuma pesan ke mbak, berbahagialah dan mendapatkan pasangan yang baik dan tulus ke mbak. Begitu juga sebaliknya. Apapun penyebab mbak berpisah dengan yang dulu, itu sudah masa lalu tidak bisa dikembalikan lagi. Sudah saatnya mbak memperbaiki diri dan lebih mendekatkan diri ke Tuhan. Saya harap mbak bisa menemukan kebahagiaan mbak.'' Pak Kusuma menepuk bahu Nay dan tersenyum padanya.
- Bersambung ke Bab 28 -