Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 20 - Tetangga dekat



Di Villa Nayra, Bali


Pagi itu seperti biasa, suasana hening dan damai menyelimuti villa yang dikelilingi dengan sawah, sungai dan kebun yang asri dan alami. Di sekitar sana hanya ada beberapa villa termasuk Villa Spring & Summer yang dikelola oleh Tuan Jun yang nama panjangnya Hidetoshi Jun. Nay menerima kartu namanya dari pertemuan singkat sebelumnya kemarin.


Nay melakukan jogging pagi agak lebih cepat pagi itu karena ia tak bisa tidur lagi. Masih subuh sekitar jam lima pagi. Nay menyusuri jalan-jalan pinggir sawah sambil menikmati aroma embun pagi dan udara yang sangat sejuk. Ketika sedang asik jogging, Nay melihat sosok Jun yang juga ternyata sedang jogging dan melakukan strecthing tak jauh darinya. Nay pun mencoba menyapa Jun.


"Good morning Mr. Jun ....'' sapa Nay mendekat.


"Hai, Morning Miss Nayra. Jogging juga ya? baru pertama kalikah? saya tidak pernah lihat sebelumnya.'' balas Jun dengan ramah.


"Ohh saya biasanya jogging jam enam tapi pagi ini saya lebih awal dan tak menyangka bisa ketemu Mr. Jun pagi ini.''


Jun tersenyum dan ternyata senyumnya itu lebih indah merekah dari sinar pagi itu. Dalam hati Nay, ini cowok jepang kece banget dan sumpah ia admire banget.


"I see ... kalau begitu silakan enjoy your day Miss Nayra.'' Jun mempersilakan Nay untuk jalan duluan.


"Ohh, okay have a nice day.'' balas Nay tersenyum lalu meninggalkan Jun.


Beberapa KM dari tempat itu, Nay berhenti dan beristirahat. Ia memandang sinar matahari yang mulai naik dari balik pepohonan. Ia memandang ke langit dan terkenang dengan kejadian di Anyer saat ia bertemu dengan Peter pertama kali. Ia mulai merindukannya.


Nay meraih HPnya yang ada di kantong celana dan memotret langit fajar dan mengirimkan foto itu kepada Peter.


"Lihat, indah bukan?'' ketiknya pada caption foto itu.


Tak lama kemudian ada balasan dari Peter dan Peter mengirimkan fotonya yang sedang bertelanjang dada setelah habis mandi.


"Aduh itu foto please deh bikin aku mau ke sana sekarang. Hehehe ....''


"Ya udah ke sinilah. Kita bisa memandang langit di pantai sepuasnya.''


 


Dari kejauhan Nay tiba-tiba mendengar suara teriakan minta tolong. Nay menengok ke sekitarnya dan tidak ada orang sama sekali tapi ada suara berteriak. Ia mencari sumber suara itu dan melihat ke sekitarnya sampai ia melihat Jun terjatuh di lobang pinggir sawah yang tampaknya adalah bekas got yang belum selesai dikerjakan. Nay lalu buru-buru dan bergegas menolong Jun yang terperosok cukup dalam sekitar satu meter lebih. Jun tampak meringis kesakitan karena kakinya terluka akibat kena gesekan batu di pinggir lobang itu. Nay menengok lagi ke sekitar berharap ada seseorang yang melihat dan membantu.


"Mr. Jun are you okay? wait ya ....'' ucap Nay panik.


"Aaahhh (kesakitan) ... iya tolong saya Miss Nayra ....'' Jun memegang kakinya yang terluka dan berusaha ingin bangun dan naik ke atas tapi ia terluka cukup parah sehingga tak kuat menahan darah yang terus mengalir.


Nay mencari kayu atau apapun yang cukup kuat untuk membuat Jun bisa naik ke atas tapi karena sudah terlanjur panik dan linglung akhirnya Nay melihat beberapa bongkahan tanah liat yang cukup keras ada di dekat lobang itu. Ia lalu membuang bongkahan-bongkahan tanah itu ke dalam lobang.


"Mr. Jun, minggir ... saya akan buang bongkahan ini dan kamu bisa susun dan naik ya. Atau saya turun dulu?''


"Ga apa-apa.Saya akan coba naik Miss.''


Perlahan-lahan bongkahan tanah itu meninggi dan cukup buat Jun naik ke atas. Sampailah akhirnya ia ke atas dengan tertatih-tatih menahan perih lukanya.


"Aahhhh ....'' Jun berteriak lagi setelah berhasil naik ke atas.


"Are you okay? bisa berjalan Mr Jun?''


"It's okay. Saya akan berjalan perlahan. Tolong saya berjalan ke villa bisa Miss?''


Beruntunglah tak lama kemudian seorang bapak separuh baya dengan sebuah motor melaju dan menyapa mereka berdua.


"Ada apa ini Bapak ibu? ada yang terluka ya?'' ucap bapak itu dengan logat bali yang khas.


"Iya pak, bapak ini terluka jatuh ke lobang yang di sana.''


"Ohh, ayo naik saya anterin. Bapak ini yang punya villa spring& summer di sana itu ya?''


"Iya Pak terimakasih ya.'' ucap Jun sambil berusaha naik ke motor bapak itu.


"Miss Nayra, terimakasih bantuannya. Ga apa-apa saya bisa sama bapak ini. Nanti saya akan mampir ke villa Miss. Take care ya.'' kata Jun pamit kepada Nay.


"Terimakasih Pak ....''


"Nama saya Pak Wayan yang tinggal di rumah kayu arah selatan sana.''


"Ohh ya Pak Wayan, terimakasih.'' ucap Nay.


 


Malam harinya Nay masih mencemaskan Jun yang terluka dan sesekali berpikir ingin menjenguknya tapi ia urungkan niat itu karena ia harus menjaga villa. Mas Eko sedang izin pulang ke rumah yang letaknya tak jauh dari villa untuk merawat ibunya yang sudah tua.


Di Villa, Nayra menyibukkan diri dengan menonton TV dan melihat perkembangan berita. Saat sedang asik menonton tv, ia tertidur dan tak sadar bahwa Jun sedang memperhatikannya dan menaruh sekotak ayam goreng di meja resepsionis yang ditempati oleh Nayra.


Selang beberapa detik, Nay terbangun karena mendengar langkah sepatu Jun yang terbuat dari bahan karet hingga suaranya terdengar cukup jelas.


"Ohh, Mr Jun ...''


"Oh hi Miss Nay. Sorry saya ganggu ya.''


"Iya ga apa-apa. Ini dari Mr Jun?'' tunjuk Nay ke arah kotak berisi ayam goreng.


"Iya saya belikan sebagai rasa terimakasih saya tadi pagi.''


"Ga perlu kok Mr Jun. Sudah kewajiban saya untuk menolong kan?'' ucap Nay tersenyum.


"Uumm, sebenarnya sih selain ayam goreng saya bawakan ini sih ....'' Jun mengangkat sebuah kantong plastik berisi beberapa kaleng bir dan mengangkat alisnya mengisyaratkan mengajak Nay minum bir sambil makan ayam goreng.


Nay tersenyum dan memberi kode bahwa ia setuju untuk menerima ajakan Jun tersebut.


Malam itu Nay dan Jun menikmati malam pertama sebagai sesama pemilik villa sekaligus tetangga. Mereka tampak akrab dan mulai terbuka satu sama lain.


 


Sementara itu di Villa Camelia, Peter juga sibuk mengawasi villa dan mengisi hari-harinya yang kosong tanpa Nay. Peter lebih sering minum-minum sendiri dan menikmati senja di pinggir pantai seorang diri. Ia berpikir keras bagaimana agar bisa menjaga hubungannya dengan Nay dan berniat untuk melamarnya.


- Bersambung ke Bab 21 -