Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 16 - Kembali sepi



Peter sudah berada di Kuala Lumpur selama dua bulan untuk mendampingi dan merawat putri kecilnya yang baru berusia tujuh tahun. Selama itulah ia terus merasakan rindu mendalam kepada Nay. Namun ia menahannya demi sang putri yang sangat membutuhkannya.


Peter menyewa sebuah unit apartemen di dekat kediaman Mey supaya ia bisa lebih dekat jika ingin mengantar Amel ke rumah ibunya. Sementara itu, Amel lebih betah bersama ayahnya di Apartemen.


Siang itu, Mey datang mengantarkan makanan untuk Peter dan Amel.


"Anakmu sedang tidur?''tanya Peter menyapa Mey yang baru datang.


"Iya. Baru saja tidur. I segera ke sini. Amel ... Amel ...'' Mey tak begitu menyimak Peter dan memanggil Amel.


"Dia sedang tidur. Jangan bangunkan dulu.''


Mey menaruh beberapa kotak makanan di atas meja dan duduk di hadapan Peter.


"Sampai kapan kau akan di sini? kau tak balik kah ke Indonesia?'' Mey bertanya serius.


"Emangnya kenapa kalau saya belum kembali ke Indonesia?''


"I am just asking lah. Amel sudah much better dan harus kembali ke rumah supaya i lebih easy untuk menjaganya. ''


"Aku masih ingin bersamanya.''


"Kenapa?''


"Salahkah aku sebagai papanya?''


"Why you must say this now? where were you before? you always busy and go everywhere you like.''


Peter diam dan mendengarkan seksama celoteh Mey lalu ia baru bereaksi, "Kamu datang ke sini hanya untuk fighting dan argue sajakah?''


Mey memelototi Peter.


"Setelah semua ini kamu masih tak puas menyakiti perasaanku? Aku tahu aku bukan suami yang baik buat kamu dan dulu aku selalu sibuk working. But that's all in the past and i regret it. Now what i focus with is just Amel.''


"So i think we must deal for some things ahead. You should not be here any longer. You can leave and go back to Indonesia and just let Amel stay with me.''


"Whatt?'' Peter terbelalak dan kaget dengan ucapan Mey.


"Why? just leave us here. You should move on.''


"Hey, i am her father and she is still my responsibility. Am i wrong here?'' Peter menggertak dan menaikkan nada suaranya.


 


Beberapa hari kemudian, Peter masih bertahan di apartemen dan merawat putri semata wayangnya Amel. Ia berusaha tidak menunjukkan kekhawatiran di balik kekisruhan komunikasi dengan bundanya Amel.


"Papa, ... kalau papa mau kembali ke Indonesia, Amel tak apa. Amel akan baik-baik saja di sini bersama bunda. Amel tahu papa juga banyak work to do there. Amel sudah sembuh dan sangat happy papa menjaga Amel di sini. Thank you papa.'' Ekspresi wajah Amel saat itu membuat dada Peter terasa sakit seolah Amel sudah beranjak dewasa lebih cepat dari usianya.


Peter mengusap pipi Amel yang lembut itu dan mengecup keningnya. "Kenapa kamu ingin papa segera kembali padahal papa ingin lebih lama bersamamu. Bahkan papa ingin kamu bisa bersama papa di sana.''


"Belum waktunya papa. Suatu saat Amel akan ke sana dan mengunjungi papa. Amel punya banyak kegiatan di sini dan Amel juga tidak bisa meninggalkan bunda di sini.''


"Tapi papa juga butuh kamu Amel ....'' ucap Peter merayu.


"Papa is a gentleman and you are stronger than us. I trust you papa.''


"Hhmm you think so? ''


"Ya i am pretty sure that papa.''


"Umm, by the way, why you sometimes call me daddy, ayah, papa? apa Amel masih belum terbiasa dengan panggilan ke papa Amel yang baru?''


Amel menaikkan alisnya dan merapatkan bibirnya. "Maaf papa, Amel kadang masih confused. Okay mulai sekarang Amel akan tetap panggil ayah karena Amel anak ayah dari Indonesia. Amel juga punya darah Indonesia dan Amel bangga punya ayah dari Indonesia.''


"Iya kamu jangan tinggalkan identitas kamu sebagai orang Indonesia ya Nak.''


Peter mendekap Amel dan mengusap rambutnya.


---


" Ayah, Amel baik-baik saja.


Amel akan selalu merindukan ayah.


Amel akan mengunjungi ayah suatu saat dan berjanjilah bahwa ayah harus bahagia.


Karena jika ayah bahagia, begitupun Amel.


I love you Ayah, Semangat ya!"


Sontak tangis pecah mengalir dari mata Peter di atas ketinggian udara kembali menuju Jakarta. Dari samping bangkunya, seorang wanita cantik menatapnya dan menanyakannya. "Mas baik baik saja?'' Wanita itu menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna biru ke arah Peter.


Peter segera menyapu air matanya dan menyekanya dengan tangan.


"Ga apa-apa Mbak. Terimakasih.'' Peter menolak pemberian sapu tangan itu dan tersenyum pada wanita yang ramah itu. Peter mengarahkan pandangannya ke jendela dan tak ingin menunjukkan kesedihannya kepada wanita di sampingnya.


Pesawat bersiap untuk landing dan wanita yang duduk di samping Peter tiba-tiba ingin muntah dan tampak gelisah.


Peter menyadari gerak gelisah sang wanita itu dan menanyakan keadaannya. " Mbak ga apa-apa? mabok ya?''


Sang wanita lalu memegang kepalanya dan memberi isyarat bahwa ia mengalami airsick yang cukup parah dan sampai akhirnya ia memuntahkan isi dari dalam mulutnya dan mengenai baju Peter yang berada di dekatnya. Sontak saja pemandangan itu dilihat oleh para penumpang yang ada di dekat mereka dan salah satu penumpang menyahut, " Waduh mabok pesawat ...'' sementara beberapa yang lain ada yang bertanya dengan ramah." Mbak ga apa-apa?''


Wanita itu lalu mengangguk dan meminta maaf atas insiden yang dialaminya hingga membuat penumpang di sekitarnya merasa tidak nyaman. Beberapa orang pramugari mendatangi Peter dan sang wanita dan menawarkan bantuan untuk membersihkan bekas muntahan dan meminta sang wanita serta Peter untuk membersihkan pakaian mereka.


"Maaf ya Mbak ....'' ucap sang wanita yang tak enak hati pada para pramugari.


---


Pesawat telah mendarat dengan baik dan lancar. Peter terus menyeka kemejanya yang masih ada bekas muntahan sang wanita yang duduk di sampingnya. Ia masih merasa aroma tidak enak dari kerah bajunya meski ia sudah mencucinya dengan sabun di toilet.


Dari belakang suara seorang wanita memanggil Peter ketika sedang berjalan menuju pintu keluar terminal.


"Mas ... Mas ... !"


Peter menengok ke belakang dan melihat sang wanita itu memanggilnya dan ia berhenti.


"Ya Mbak, Mbak udah ga apa-apa kah?''


"Iya saya baik-baik aja sekarang. Sekali lagi saya minta maaf ya mas atas kejadian tadi.''


"Iya ga apa-apa, mungkin mbak lagi tidak fit jadi merasa tidak enak badan ya. Manusiawi mbak.'' Peter tersenyum dan bermaksud untuk pamit untuk pergi.


"Eh mas, maaf saya boleh tahu namanya mas?''


Peter diam sebentar dan menjawab, " Peter Hasan.''


Ia lalu menyodorkan tangan dan menjabat tangan sang wanita itu.


"Rose Darmawan. Senang berkenalan dengan Mas Peter.'' wanita itu tersenyum dan menyodorkannya sebuah kartu nama.


Peter menerima kartu nama itu dan membacanya. Rose Darmawan seorang lawyer dari Rose Darmawan Law Firm. Tampaknya Rose adalah pemilik law firm itu sendiri. Begitu dugaan Peter.


"Kalau ada keperluan dan konsultasi boleh mas hubungi saya. Saya akan dengan senang hati membantu Mas. Kalau boleh tahu mas usaha atau kerja di mana?''


"Saya? saya hanya seorang pebisnis kecil.'' ucap Peter yang tak ingin basa basi terlalu panjang.


"Ohh gitu ya? anyway senang bertemu mas Peter. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti ya. Boleh minta no HP nya mas?barangkali nanti kita bisa kerjasama?''


Peter awalnya sungkan untuk memberikan nomor HPnya tapi akhirnya ia memberikannya pada Rose.


- Bersambung ke Bab 17 -