
Peter masih kaget dengan pernyataan Nay yang ingin berhenti kerja dan meninggalkannya.
"Uumm, tapi kenapa bisa tiba-tiba begini Nay? apa karena kejadian dua malam yang lalu hingga kamu tidak nyaman? kalau itu masalahnya saya minta maaf sudah salah sama kamu. Saya tahu saya tidak sepantasnya melakukan itu. Maafkan saya Nay ....'' Peter menopang kedua tangannya dan memasang wajah memelas.
"Tidak begitu pak. Saya memang berhenti karena saya harus menyelesaikan urusan saya di kampung. Saya tidak bisa lama-lama di sini Pak. Justru saya ingin berterimakasih sama bapak sudah bantu saya selama ini.''
Peter menghela nafas panjang dan memandang ke arah jendela. Ia diam beberapa saat lalu kembali melanjutkan pembicaraannya. "Apa karena gaji yang kecil di sini?''
"Tidak Pak.''
"Lantas apa karena kamu bosan, jenuh di sini?''
"Tidak juga pak, tapi memang saya tidak bisa menunda lebih lama lagi. Saya minta maaf pak.''
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan ini?''
"Iya pak.'' Nay melantangkan bicaranya dan mencoba bersikap tegas dengan ucapannya.
"Baiklah ... saya akan terima pengunduran diri kamu. Saya tahu saya juga tidak bisa menahan kamu lebih lama di sini. Oke ... jika itu maumu Nay ... saya hanya bisa doakan yang terbaik buat kamu.''
"Terimakasih pak. Saya keluar dulu ya Pak, mau beresin kerjaan di belakang.''
Nay meninggalkan ruangan itu dengan menahan gundah di hatinya. Ia tahu dan sadar akan ada saatnya ia harus pergi dan kembali ke akal sehatnya serta tidak melanjutkan perasaannya hingga larut kepada Peter. Di ruangan itu, Peter hanya duduk dan berpangku tangan memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya tanpa Nay yang membantu dan menemaninya.
Senja datang membawa ratapan dan kesunyian hari itu di tepi Villa Camelia.
Burung-burung camar yang berlalu di atas pantai seakan membawa senandung pilu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Suara biduanita yang bernyanyi dengan pengeras suara yang maksimal di Villa sebelah, bahkan tak bisa memecah hening ketika langit mulai memerah.
Peter berjalan-jalan di tepi pantai sembari menikmati semilir angin yang mengibas kemejanya yang dibiarkan tak dikancing.
Nay menghampirinya dan menyapanya.
"Pak Peter ....'' sahut Nay dari belakang.
"Ya Nay?'' balas Peter seraya tersenyum tipis.
"Baru saja ada satu keluarga check in tiga kamar Pak.''
"Oh, yang dari aplikasi travelia ya?''
"Iya Pak.''
"Ohh oke Nay.''
"Pak Peter ....'' ucap Nay dengan nada pelan.
"Kenapa Nay?''
"Umm, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih sekali lagi. Saya sangat menghargai apa yang bapak berikan ke saya selama di sini. Terimakasih ya Pak.''
"Sama-sama Nay. Kamu juga sudah banyak bantu saya membangun villa ini kembali dan mengembalikannya hingga seperti sekarang. Walaupun waktu kebersamaan kita hanya sebentar, tapi sangat berkesan buat saya.'' Peter menyeka rambutnya yang sedikit ikal dan panjang ke samping dan sekejap membuat Nay terpesona dengan kharismanya.
Sambil memandang Peter, Nay bahkan berkhayal sedang bergandengan tangan dengan Peter menyusuri pantai. "Ahh, pikiran konyol apa ini?'' gumamnya dalam hati.
"Umm, Pak saya akan pergi besok. Bapak ga masalah kan?''
"Ohh, kenapa buru-buru sekali?''
"Ga sih pak, saya mesti pergi besok soalnya.''
"Umm, ya udah kalau begitu.'' Peter menatap wajahnya dengan datar tapi tetap tersenyum seolah mengikhlaskan kepergian Nay.
Nay membalikkan badannya dan hendak kembali ke Villa melanjutkan pekerjaannya.
"Nay ....!" seru Peter.
"Iya pak?'' Nay menoleh ke belakang.
"Malam ini ... malam terakhir kita. Saya mau ajak kamu makan di salah satu restoran kenalan saya dekat sini. Jam tujuh kita jalan ya.''
"Iya Pak.''
---
"Nay, sepertinya rencana makan malam kita harus ditunda dulu ya? saya khawatir dengan kondisi malam ini. Kamu ga apa-apa kan?''
"Iya Pak ga apa-apa. Saya juga khawatir. Lebih baik kita berjaga-jaga di Villa saja.''
"Iya, kalau gitu, kita makan dan minum aja ya di kafe.''
---
Di Lobi, Kang Mus satu-satunya satpam yang bekerja di Villa tiba-tiba meminta izin kepada Peter dan Nay.
"Pak Peter, maaf ini saya mau izin pulang malam ini. Anak saya sakit di rumah. Istri lagi pulang kampung ke Cirebon. Gimana ya Pak?''
"Oh gitu, ini cuaca lagi begini ga ada yang jagain villa ya.'' Peter mencoba berpikir.
"Umm, ga apa-apa Pak Peter. Ada kita berdua yang jaga mudah-mudahan ga ada masalah.'' sela Nay.
"Oh, ya udah kalau gitu. Kang Mus pulang aja ga apa-apa.'' kata Peter mempersilakan Kang Mus untuk pulang menjaga anaknya yang sedang sakit.
"Kalau begitu saya permisi Pak Peter, Mbak Nay.''
"Iya Kang, hati-hati. Semoga anaknya cepat sembuh ya.''
"Terimakasih Mbak, Pak.''
---
Cuaca masih belum membaik sehingga memaksa Nay dan Peter berjaga-jaga dan mereka duduk di kafe dekat lobi.
"Nay, mobil para tamu yang tadi sore datang kok ga ada ya?'' tanya Peter bingung seraya menengok ke sekitar halaman parkir.
"Oh, belum lama mereka pergi ada acara di Pantai Carita Pak sama keluarga besar yang lain katanya. Saya dengar sih mungkin mereka akan balik ke sini besok pagi.''
"Ohh, acara di Carita kok bisa nginap di kita?''
"Iya katanya kamar sudah penuh dan cek villa kita paling rekomen jadi mereka pilih nginap di sini.''
"Ohh, berarti ... hanya kita berdua di Villa sekarang?'' tanya Peter lagi sedikit gelisah.
"Umm, iya Pak.'' jawab Nay singkat.
Malam makin larut dan Nay tampak makin mengantuk. Nay mencoba menahan kantuknya dan membuka matanya sambil menemani Peter yang duduk santai sambil meminum kopinya.
Nay memperhatikan Peter dengan gelora makin memuncak di dalam dadanya. Ia tak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Mungkin saja ini karena sedang hujan deras dan tak ada siapapun kecuali mereka. Mungkin ini hanya karena suasana yang membawanya.
"Nay ... malam ini malam terakhir kita bersama sebagai bos dan karyawan. Ada yang ingin kamu sampaikan lagi ga ke saya?'' tanya Peter santai.
"Uum, saya ... saya cuma berharap bapak bisa jaga kesehatan, usaha bapak ini sukses dan bapak bisa berbahagia.''
"Bahagia? bahagia ya?'' Peter membalas dengan sedikit tertawa.
Nay diam dan hanya mendengar Peter yang sepertinya sedang ingin menyampaikan apa yang ia rasakan.
"Nay, jujurlah sama saya. Apa yang kamu lakukan sama tamu itu malam itu? saya tahu kamu tidur bersama pria itu.'' ucap Peter dengan serius.
Nay kaget dan membisu sejenak.
"Kamu ini siapa sebenarnya Nay? siapa kamu? apa kamu benar-benar orang Cilegon dan hanya orang biasa?'' tanya Peter mulai menampakkan kecurigaannya.
"Kenapa bapak ngomong gitu?''
"Saya tahu kamu bukan wanita biasa. Kamu dan pria itu hanya melakukan skandal kan?''
Nay bingung.
....
"Saya tahu kalian punya hubungan yang jauh dan bukan pasangan suami istri sah.''
"Uum., Pak Peter ....''
Peter beranjak dari kursinya dan meraih tangan Nay lalu menciumnya dengan paksa. Ia tak bisa lagi menahan hasratnya untuk melakukan hal yang sama seperti yang Nay lakukan bersama Leo.
- Bersambung ke Bab 11 -