Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 6 - Perasaan yang berkembang



Beberapa hari berlalu, Peter mulai bangkit dan melakukan setiap agendanya secara bertahap. Beruntunglah dia bertemu dengan Nay yang banyak membantunya sejak musibah itu.


Peter sibuk menerima panggilan telepon sejak pagi tadi. Nay mulai mengawasi pekerjaan beberapa tukang yang membenahi semua property yang rusak.


"Nay!" panggil Peter dari salah satu bangku di kafe.


"Ya Pak?"


"Nay, sepertinya besok saya harus ke Bandung. Lahan saya ada yang minat nih."


"Oh gitu syukurlah Pak ...." Nay mengelus dadanya tanda ikut senang.


"Umm, kerjaan tukang udah sampe mana? kalau kita tinggal besok sehari apa bisa Nay?"


"Saya perlu ikut pak?"


"Iya dong. Saya males sendirian. Kamu temenin saya ya."


"Oke Pak saya bicarakan sama para tukang dulu kalau besok mereka off dulu. Paling saya minta satpam yang baru Kang Dadang jagain Villa dulu besok."


"Iya Nay."


 


Keesokan paginya, Peter dan Nay berangkat ke Bandung. Nasib baik mobil Peter tidak begitu parah saat bencana tsunami melanda. Dan mobil itu juga baru selesai diservis kemarin jadi mereka bisa ke Bandung dengan leluasa.


Di perjalanan Nay perlahan memejamkan matanya karena mengantuk hingga akhirnya dia benar-benar tertidur.


Peter sesekali memandang wajahnya yang terlelap di sampingnya.


 


Sampai di Bandung di lahan milik Peter yang dijual. Di sana mereka bertemu dengan beberapa orang yang tampaknya adalah mediator dan pihak calon pembeli.


Nay mendampingi Peter dengan setia dan memperhatikan pembawaan Peter yang berwibawa, setidaknya itu membuat Nay kagum. Begitu yang ia pikirkan.


"Pak Peter, kita sih udah oke sama harga dan surat-suratnya. Gini, sore ini kita kabari ya. Soalnya kami mesti diskusi dulu soal dananya. Kalau misal Oke, malam ini kita bisa ketemu lagi untuk DP dan transaksi notaris besok. Gimana Pak?" tutur sang mediator yang bernama Iwan.


"Baik pak, boleh ... saya tunggu kabarnya segera sore ini. Jika tidak ada kabar saya akan kembali ke Anyer." balas Peter seraya merapikan kembali surat-surat yang ia sudah dapatkan sebelumnya dari salah seorang kerabatnya yang kirimkan via kurir.


"Siap pak. Kami kabari segera sebelum jam 4 nanti. Ditunggu ya Pak."


"Oke pak Iwan."


 


Setelah melakukan pertemuan itu, Nay dan Peter mampir ke sebuah kafe di daerah tak jauh dari sana. Mereka makan siang yang terlambat sekaligus beristirahat sambil menunggu kabar dari Pak Iwan dan kawan-kawan.


Nay sesekali mengusap matanya yang lelah dan mengantuk. Di meja makan itu ia melirik menu makanan Sunda yang menggugah selera.


"Nay, pesen aja dulu ya. Saya smoking bentar."


Peter menghisap rokok yang ada di tangannya. Sementara Nay sesekali memandangnya dari jarak sekian meter.


"Apa sih yang aku bayangkan?" Nay bergumam dalam hati merasa ada yang aneh dengan pikirannya. Tak mungkin ia jatuh cinta pada Peter.


 


Tiga menu spesial gurame bakar, ayam goreng dan Udang asam manis ditemani dengan sebakul nasi cukup mengenyangkan. Nay dan Peter menyantap makanan dengan nikmat sembari menunggu waktu dan kabar.


Nay mencoba membuat suasana tidak terlalu keki dan tegang.


"Pak Peter, boleh tahu nanti rencana bapak gimana kalau tanah itu jadi dijual?"


"Maaf pak saya ga seharusnya banyak nanya."


balas Nay canggung.


Jam 15.10 Peter menerima panggilan dari Pak Iwan dan mendapatkan kabar yang baik.


"Pak Peter, kita sudah setuju harganya dan kita mau proses di notaris besok sekaligus pelunasannya. Gimana pak siap?" ucap Pak Iwan dengan nada semangat.


"Oh baik Pak Iwan. Dengan senang hati besok kita bisa bereskan di notaris. Nanti tolong kirimkan aja alamat notaris dan ketemu di sana untuk bicara lebih lanjut." jawab Peter dengan sumringah.


 


Sore itu, Peter memutuskan untuk menginap di Bandung dan mengajak Nay tetap bersamanya. Mereka menemukan hotel yang cukup bagus dan bermalam di sana.


"Nay, kamu udah tidur?" Peter mengirim WA ke Nay yang berada di kamar sebelah.


"Belum pak, ada apa?"


"Yuk kita makan malam. Ketemu di lobby ya jam 7."


"Oke pak."


 


"Nay, makasi ya kamu sudah temenin saya. Kamu banyak bantuin saya. Saya hargai kerja kamu Nay. Jadi kamu mau makan apa ayo pesan aja." ucap Peter seraya memangku kedua lengannya di meja dengan senyum khasnya yang berkharisma.


Nay membalasnya dengan senyum manis di wajahnya. "Terimakasih juga Pak Peter. Bapak juga sudah bantu saya dan mau memberikan saya pekerjaan."


"Anggap saja ini sudah takdir kita dipertemukan dengan cara seperti ini. Siapa yang pernah sangka kita bisa bertemu ya?"


"Iya Pak."


Malam itu suara bising kendaraan yang lewat tetap terdengar dari dalam kafe yang berada tak jauh dari depan jalan raya. Namun malam itu, Nay merasakan sesuatu yang berbeda dan sepertinya ada yang berkembang di dalam hatinya.


Iringan lagu-lagu mengudara di seluruh ruangan kafe.


Lagu Jatuh Hati dari Raisa terdengar Sendu dan merdu di telinga. Dan entah mengapa Nay merasa seakan tersihir dengan lirik lagu itu.


Selesai makan malam, Peter dan Nay masih sempat bercengkrama di kafe dan bercanda ria seakan lepas semuanya dan tidak ada batas antara seorang atasan dan karyawan. Mungkin karena Nay bukan orang biasa dan bisa menyesuaikan diri dengan Peter. Nay juga berusaha menyembunyikan identitasnya sebagai seorang tajir.


 


Di dalam kamar, Nay tak bisa memejamkan matanya dan terus terbayang dengan sosok Peter. Ia tak menyangka semudah itu ia jatuh cinta pada seorang Peter. Apakah ini karena ia memang selalu merasa kesepian?


Sementara itu di kamar terpisah, Peter juga tak bisa tidur dan merokok di bangku dekat tempat tidur. Masih ada secercah perasaan kecewa dan sedih setelah ia harus berpisah dengan mantan istri dan anak satu-satunya yang sekarang ada di Malaysia.


Peter membuka Hpnya dan melihat lagi foto-fotonya bersama anak dan mantan istrinya. "Mengapa hidupku harus berantakan seperti ini?" ucapnya lirih sampai tak menyadari air mata menetes pelan di wajahnya.


 


Di Jakarta,


Leo dan keluarga telah kembali dari liburan di Bangkok. Di pikirannya masih cemas memikirkan Nay. Ia berusaha terus menghubungi Nay tapi masih tak terhubung.


Keesokan paginya, ia pamit kepada istrinya untuk bekerja seperti biasa tapi sebenarnya ia justru bergegas ke Anyer untuk mencari informasi tentang Nay.


Sementara itu Anton masih dipusingkan dengan keberadaan Nay. Ia yakin Nay saat ini hanya menghindar karena perceraian mereka dan sedang merenung. Tanpa tahu di mana Nay dan apa yang sesungguhnya Nay lakukan, ia masa bodo dan hanya menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


- Bersambung ke Bab 7 -