
Malam terakhir Nay dan Peter, hujan masih turun cukup deras dan sepi. Nay dan Peter beralih ke dalam ruangan kerja Peter dan melanjutkan apa yang sebelumnya terjadi. Bermula dari ciuman hingga ke tahap lebih jauh. Iya mereka melakukan hubungan intim di ruangan kerja Peter.
Suara hujan yang deras menutupi jeritan kenikmatan Nay malam itu. Peter yang lama tak pernah merasakan hubungan intim tak kalah bergairah.
Peter seakan menghiraukan apa yang terjadi sebelumnya antara Leo dan Nay. Meskipun ia tahu Nay sepertinya punya masalah pribadi, tapi ia memilih untuk tidak peduli apapun malam itu. Sedangkan Nay sudah masa bodo dan ia tak mampu menahan gejolak hasrat di sanubarinya.
....
....
SInar matahari pagi muncul dari balik jendela ruangan kantor. Bunyi mesin beberapa mobil merapat di area parkiran. Nay dan Peter terbangun bersama dan menyadari para tamu sudah kembali dari Carita. Mereka bergegas merapikan pakaian dan keluar menyambut para tamu.
"Nay, kamu tolong bantu siapkan sarapan dan keperluan para tamu dulu ya. Bu Sri belum sampe kan?''
"Saya coba cek dulu ya Pak.''
Nay bergegas ke kafe dan memastikan keadaan sudah siap untuk menyambut para tamu dan mempersiapkan sarapan pagi para tamu. Dengan suasana yang masih awkward di antara keduanya, mereka berusaha bersikap wajar seperti biasanya.
....
....
"Udah kok mbak, udah saya siapkan sarapan paginya buat para tamu. Saya tadi sampe villa jam 6. Saya pikir Bapak sama Mbak lagi pada tidur jadi saya ga ganggu.''
"Oh gitu ya?'' Nay tampak salah tingkah dan berusaha menutupi perbuatan mereka supaya Mbak Sri tidak curiga.
"Bapak masih tidur ya Mbak? saya belum lihat beliau turun.''
"Umm, kurang tau juga sih. Saya juga ga lihat. Buru-buru cari Mbak Sri cek ke dapur.''
"Ohh gitu. Ya udah saya siapin dulu ya.''
"Ya Mbak Sri, saya cek ke depan dulu ya.''
---
Nay menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap ke kamarnya dan membereskan beberapa barang miliknya. Ia memasukkan berkas perjanjian perceraiannya dengan Anton dan beberapa setel pakaiannya. Tiba-tiba Peter berdiri di depan pintu kamarnya dan melihatnya berbenah.
"Kamu sudah beres-beres Nay?'' sapa Peter.
"Ohh, iya Pak.'' Nay menjawab singkat sembari menyiapkan barangnya.
Peter melangkah masuk dan menutup pintu. Ia mendekati Nay dan memeluknya. "Aku akan merindukanmu Nay.''
Nay diam dan tak bergeming. Ia masih bias dengan perasaannya kepada Peter.
Peter menunduk dan melihat di antara tumpukan pakaian Nay, ia melihat sebuah amplop coklat bertuliskan "Kesepakatan Cerai Naya dan Anton".
Ia lalu melepaskan pelukannya dan mengambil amplop itu. Sontak Nay kalut dan merebut amplop itu.
"Apa itu Nay?'' tanya Peter penuh tanda tanya.
"Uum, ini ... bukan apa-apa.'' Nay menyembunyikan amplop itu ke belakang tubuhnya dan memasukkan kembali ke tasnya dan menutupnya.
"Nay ... kamu bisa jujur sama saya?'' ucap Peter.
Nay mengambil nafas panjang dan akhirnya ia mengakui semuanya.
"Sebenarnya ... saya minta maaf. Saya berbohong selama ini.''
Peter mengernyitkan dahinya dan menarik tangan Nay. "Maksud kamu apa ya?''
"Apa? kamu ? kamu sudah menikah? siapa Anton itu yang ada di amplop itu?'' Peter terus mencecar Nay dengan banyak pertanyaan.
"Anton itu suami saya. Kami sedang merencanakan untuk berpisah.''
Peter mencengkram rambutnya dan memukul meja di depannya dengan sedikit emosi.
"Jadi, selama ini kamu hanya berpura-pura dan dari awal kamu sudah berbohong sama saya? Please, kamu jelaskan ke saya yang sebenarnya. Saya akan dengarin semuanya.''
"Ehhm, sebenarnya waktu kejadian tsunami itu saya sedang ingin sendiri sambil memikirkan rencana saya selanjutnya. Dan saya memang bertemu Leo, pacar saya selama belakangan ini. Sampai ... terjadi kejadian lalu dan saya pikir saya mau menyingkir dulu. Cuma saya ga tahu kalau ternyata kita bisa bertemu dan bersama seperti sekarang ini. Ini benar-benar di luar dugaan saya dan saya akui saya salah.''
"Oke ... So, jadi kamu akan bercerai dengan suamimu? lantas bagaimana hubunganmu dengan Leo itu? apa dia sudah berkeluarga? dan ... bagaimana dengan yang terjadi antara kita berdua? terutama yang kita lakukan semalam? apa saya cuma sebagai "yang lewat" aja?'' Peter mulai mencoba merendahkan nada suaranya.
"Soal saya sama suami saya, saya akan urus itu. Dan Leo ... iya ... dia memang sudah berkeluarga. Saya akui saya memang berselingkuh dengannya. Dan dengan bapak, ....''
"Gimana dengan saya?'' Peter menatapnya dengan sedikit amarah.
"Pak, saya sebelumnya mau tanya. Apa bapak yakin hubungan kita bisa berlanjut? bukankah kita melakukannya karena sama-sama "mau" aja?''
Peter tiba-tiba diam dan menelaah ucapan Nay. Apa arti perasaan dan hubungannya dengan Nay yang sesungguhnya?''
Keduanya diam dan menghentikan sejenak percakapan mereka.
HENING
Satu jam kemudian, sebuah taksi online tiba di Villa untuk menjemput Nay. Mbak Sri dan Kang Mus melepas kepergian Nay dengan sedih dan merasa kehilangan.
"Mbak Nay, sukses ya sama kerjaan baru di Jakarta. Jangan lupain kita ya.'' Mbak Sri yang tubuhnya kecil itu memeluk Nay dengan erat seakan tak ingin Nay pergi dengan cepat, apalagi Nay baru memberitahu kepergiannya tiba-tiba setelah selesai membereskan sarapan pagi untuk para tamu.
Begitupun Kang Mus tampak kalem dan sopan melepas kepergian Nay. Peter yang tak tampak batang hidungnya sengaja menghindar dan beralasan ia sedang menerima panggilan penting.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya,. Tolong jaga Pak Peter dan bantu jagain Villa ya Kang Mus, Mbak Sri.''
"Iya Mbak. Hati-hati ya.''
Nay masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya kepada Kang Mus dan Mbak Sri. Tak lama kemudian dia melihat Peter berdiri di pintu lobi tanpa senyum sedikitpun. Entah apa yang dipikirkan oleh Peter tapi Nay berusaha kuat berpisah dengan Peter.
Lalu mobil itu berlalu pergi perlahan meninggalkan Villa Camelia.
"Maafkan aku Pak Peter. Maafkan aku menyakiti perasaanmu. Aku belum bisa memastikan perasaanku padamu. Maafkan aku.'' Nay bergumam dalam hati dan mulai menitikkan air mata. Di dalam mobil itu ia menangis tersedu-sedu hingga membuat sopir taksi bertanya-tanya.
"Mbak, baik-baik sajakah?''
"I ... iya mas. Ga apa-apa.'' Nay mengusap air mata di pipinya tapi air mata itu terus mengalir beberapa saat.
---
Di Jakarta, Nay telah tiba di rumahnya bersama Anton. Ia masuk ke dalam rumah itu dan rasa hampa masih menyelimuti perasaannya ketika memasuki rumah itu. Sementara Anton yang sudah kembali dari pekerjaannya, sedang asik menonton film ditemani beberapa kaleng bir dan snack di meja.
"Udah pulang? gimana liburannya?'' sapa Anton dengan nada santai.
"Menyenangkan.'' balas Nay singkat dan berlalu menaiki tangga ke lantai dua di mana kamarnya berada.
Anton hanya cuek dan membiarkan istrinya berbuat sesuka hatinya.
Nay masuk ke dalam kamar dan ia terkejut melihat melihat baju-bajunya sudah dimasukkan ke dalam koper dan kamarnya sudah bersih seakan ia tak bisa menghuni kamarnya lagi.
Memang sejak satu bulan terakhir Nay dan Anton memang sudah berpisah kamar tapi Nay tak menyangka secepat ini Anton ingin mengusir dirinya dari rumah itu.
- Bersambung ke Bab 12 -