Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 12 - Pernikahan selama 15 tahun di ujung jurang



Pagi itu Nay bangun kesiangan dan tak tahu kalau Anton sudah berangkat ke Kantor sejak pagi. Sejak beberapa tahun ini mereka memang tak pernah banyak berkomunikasi. Bahkan tak saling tahu tentang apa yang dilakukan masing-masing di luar rumah. Kalaupun perlu berkomunikasi hanya yang penting saja dan sekadarnya agar orang luar tidak tahu masalah mereka. Meskipun keluarga masing-masing sudah bisa mengendus ada yang tidak beres di antara mereka, keluarga hanya bisa menasehati dan berharap mereka bisa memperbaiki keadaan.


Seharian Nay merenung dan tak banyak melakukan apa-apa. Nay berpikir keras tentang rencana selanjutnya.


Nay pergi menemui kedua orang tuanya dan akhirnya menceritakan keluh kesahnya selama bertahun-tahun.


"Ma, pa ... pertama-tama maafkan Nay menghilang beberapa minggu ini. Nay sedang ingin menyendiri saja dan melakukan beberapa hal. Sebenarnya, Nay dan Anton akan bercerai.'' ucap Nay dengan kalimat yang tersendat-sendat.


"Nay, kok bisa sih setelah sekian lama kalian bisa memutuskan bercerai seperti ini? apa karena sejak anak kalian meninggal? atau ada apa?'' kata papa Nay yang mencoba tabah.


Mama Nay sambil menyimak berita TV, mencoba diam dan mendengarkan.


"Ini keputusan bersama yang pasti. Kami sudah tidak bisa mempertahankan pernikahan ini lagi. Nay harap mama dan papa bisa menerima keputusan Nay ini. Pernikahan kami sudah tak sehat dan sudah saatnya kami saling melepaskan diri dari ikatan ini.''


"Kamu yakin Nay? lalu kamu rencananya gimana?''


"Ini ....'' Nay menyodorkan surat perjanjian perceraian yang dibuat oleh Anton dan kuasa hukumnya.


Papa dan Mama Nay membaca dengan seksama isi surat itu dan mulai menggerutu.


"Ha? ini bercanda ya si Anton? masa Nay cuma dapat segini doang? ... bukannya kalian ada aset lain juga atas nama kamu?''


"Tidak ada ma, pa. Kebanyakan aset atas nama Anton dan warisan dari anak kami, sudah dialihkan ke atas nama orang tuanya. Nay ga bisa berbuat apa-apa.'' ucap Nay perlahan.


"Ini sih ga beres Nay. Kamu dicurangi loh ini.'' keluh papa Nay lagi.


"Gimana lagi Pa? Nay belum bicara lebih lanjut lagi sama Anton. Dia mau kuasai semua aset bersama.''


"Bener-bener nih orang satu. Maunya apa sih?'' Papa Nay sontak emosi dan kesal dan membanting surat itu di meja.


"Udahlah kalau memang itu dia mau gitu, yang penting kamu masih dapat hak kamu Nay. Rejeki ga kemanalah. Biarinlah orang serakah seperti itu. Kamu ikhlasin aja lah Nay.'' sela Mama Nay.


"Ga bisa dong. Nay itu dari nol ikut membantu Anton loh apalagi yang bisnis trading itu. Papa tahu loh gimana dulu Nay sibuknya kayak apa sampai jarang ke rumah karena ngurusin usaha itu.''


Nay hanya diam.


"Kamu bicarain lagi deh sama dia sampai dapat kesepakatan lagi yang bener, Ini sih udah ga bener Nay. Kamu harus pikirkan masa depan kamu juga.'' ucap papa Nay.


"Iya Pa.''


 


Nay menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya di rumah sampai sore, dan ia kemudian pergi dan hendak bertemu Leo di suatu tempat.


Di sebuah kafe di daerah Grogol, Nay bertemu dengan Leo dan berbincang.


"Nay kamu naik apa ke sini?''


"Aku naik taksi online Leo.''


"Oh ya mobil kamu jadinya gimana?''


"Udahlah aku udah ikhlasin aja.''


"Terus udah beli lagi?''


"Belum.''


"Kamu perlulah buat mobile. Minta aja sama Anton.''


"Hahaha ... udah mau cerai masa aku minta mobil? yang ada dia bilang aku banyak nuntut.''


"Umm, Nay ... sebenarnya aku ketemu kamu ada yang mau aku bicarain sama kamu.'' Leo menyeruput kopi di depannya.


"Ada apa Leo?''


"Nay, aku mau kita berhenti berhubungan sebagai "teman mesra".''


"Nay, maafin aku ... aku ga bisa terus-terusan menipu istriku. Tapi aku akan terus jadi temanmu. KIta masih bisa berteman kan?''


Nay diam sejenak.


"Kamu kecewa sama aku ya Nay?'' Leo menggenggam tangan Nay.


Nay melepaskan genggaman Leo dan tersenyum. "Aku setuju. KIta selesaikan saja hubungan kita Leo. Aku ga mungkin terus menerus membayangi kehidupanmu dan istrimu. Aku juga mau menentukan hidupku sekarang dan tidak bisa gegabah lagi seperti dulu.''


"Aku ga akan menyesali apa yang pernah terjadi di antara kita Nay. Kamu benci sama aku?''


"Tidak. Aku sadar aku juga bisa terus menerus terbawa arus. Harusnya aku sudahi sejak lama masalah aku sama Anton.''


"Aku mengerti kamu bisa seperti ini juga karena kamu tertekan dengan sikapnya yang selama ini menyiksamu. Dia selingkuh terang-terangan bertahun-tahun.''


"Iya dan aku juga ikut-ikutan. Aku dikalahkan dengan egoku dan menjadi bajingan seperti dia. Aku sudah tak tahan lagi menjalani pernikahan yang sakit ini. Aku benci diriku sendiri.'' Air mata Nay perlahan menetes dan membuat Leo menjadi iba sekaligus tak berdaya.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?'' tanya Leo.


"Yaa ... aku akan ikuti maunya Anton. Aku akan bercerai dan menata hidupku lagi.''


"Aku harap kamu kuat Nay. Aku tahu kamu ga selemah itu. Aku akan tetap jadi teman kamu dan membantumu.''


"Thanks Leo. Aku hargai itu tapi alangkah baiknya kita juga harus jaga jarak dan kamu lebih perhatikan keluargamu. Aku baik-baik aja kok.''


Nay menyeka air matanya.


---


Sepulang ke rumahnya, Nay mendapati Anton masih belum ada di rumah meski sudah jam sembilan malam. Nay tak terbersit untuk menghubunginya untuk menanyakannya dan hanya asik minum sebotol wine di pantry.


Jam 11 malam, Anton sampai di rumah dan melihat Nay tertidur di meja pantry akibat mabuk dan kelelahan.


"Nay, bangun. Kamu mabuk ya?'' ucap Anton menepuk punggungnya.


Beberapa detik kemudian Nay terbangun dan melihat Anton dengan sedikit teler. "Kamu udah pulang? abis dari mana aja?''


"Sejak kapan kamu perlu tahu aku ngapain dan di mana?'' balas Anton ketus.


"Aku masih istrimu loh.'' Nay menunjuk-nunjuk wajahnya dengan suara terbata-bata akibat mabuk.


"Kalau mau bicara, besok aja minggu aku libur. Kamu tidur sana.''


"Iya, kita perlu bicara. Kita harus beresin persoalan kita.'' timpal Nay lagi.


"Oke. Selamat malam.'' Anton berjalan masuk ke dalam kamarnya di lantai satu.


"Huft, Aku kok bisa menikah sama pria seperti itu ya? bego amat sihhhh kamu Nay!" Nay berteriak kencang sembari meminum segelas wine di tangannya.


Dari balik kamar Anton, ia berdiri dan diam mendengar teriakan Nay. Jujur dalam hatinya, ia juga tak ingin membuat Nay membencinya tapi ia juga sadar ia telah membuat Nay menderita selama ini. Begitupun ia juga tersiksa dengan pernikahan yang selama ini terjalin tanpa kebahagiaan.


Bunyi ponsel Anton berdering.


"Halo?''


"Sayang? Ricky sakit. Aku mau bawa ke RS sekarang.''


"Ha? ya udah aku nyusul. Kamu bawa ke RS mana?''


.....


.....


- Bersambung ke Bab 13 -