
Pagi itu sebelum check out dari hotel, Nay dan Peter melakukannya lagi. Hubungan intim yang lebih bergelora dari sebelumnya waktu di Villa Camelia. Selama sisa-sisa jam itulah mereka melepas semuanya dan membuat keduanya menjadi lebih dekat dan penuh hasrat.
.......
.......
.......
Saatnya check out dan Peter serta Nay harus kembali berpisah. Namun Peter seakan tak ingin cepat-cepat berpisah. Nay tak bisa berlama-lama bersama Peter karena ia harus bertemu dengan Anton untuk membahas lebih lanjut masalah perceraiannya. Namun ternyata Anton mengirimnya pesan lagi secara mendadak.
"Sorry, karena ini sabtu aku lupa ada janji sama teman-teman golf aku mau ke Bandung pagi ini. Aku balik minggu malam. Kita bicara nanti aku pulang aja. Happy weekend!" dengan entengnya Anton menunda lagi janjinya dengan Nay dan membuat Nay seketika kesal dan kecewa.
Peter melihat ekspresi Nay yang kesal dan mencari tahu.
"Kamu kenapa Nay?'' tanya Peter.
Nay menghela nafas dan membanting tasnya ke lantai.
"Nggak apa-apa. Suamiku tidak tepati janjinya lagi dan dia malah bersenang-senang dengan teman bisnisnya di Bandung sampai besok malam.'' ucap Nay kesal.
"Ya sudah kamu juga harus bersenang-senang. Aku akan temani kamu. Gimana?''
"Pak, please aku ga mau memperkeruh suasana.'' Nay menolak secara halus.
Peter meraih tangan Nay dan memegangnya dengan erat. "Aku sudah terlanjur larut dalam perasaanku padamu. Kita sudah sama-sama dewasa. Biarkan aku mengisi hatimu Nay.''
Nay memandang wajah Peter dengan tenang dan akhirnya tak berani menolak perasaannya.
"Please jangan panggil aku Pak lagi ya. Panggil aku nama saja.''
"Iya.''
---
Siang itu mereka memutuskan untuk ke Anyer dan Nay menginap di VIlla Camelia sebagai tamu dan bukan karyawan lagi. Tentu saja itu membuat para karyawan lain senang melihatnya lagi dan menyambutnya dengan hangat.
"Ini Naya Chandra, nama aslinya. Mulai sekarang kalian sambut dia sebagai tamu ya. Dia wanita spesial saya, bukan karyawan lagi. Jadi tolong hormati dia ya.'' ucap Peter di depan para karyawannya di lobi.
Nay tersenyum tapi masih ada rasa tidak leluasa berhadapan dengan karyawan lain yang tiba-tiba mengetahui dia memiliki hubungan spesial dengan Peter, atasan mereka. Nay tetap khawatir akan muncul bahan gunjingan di antara para karyawan.
---
Peter dan Nay menikmati malam bersama di Villa. Mereka berjalan-jalan dengan santai menikmati suasana yang dulu belum pernah mereka benar-benar rasakan sebagai pasangan kekasih.
"Kamu kenapa Nay? kamu masih kepikiran ya?'' tanya Peter.
"Iya begitulah. Aku masih belum tenang karena kesepakatan kami belum selesai dengan baik. Dia mau kuasai semuanya termasuk yang aku juga perjuangkan selama ini. Sedangkan gugatan perceraian sudah dilayangkan dan kami sedang menunggu panggilan dari Pengadilan.''
"Hhmm, ya harus diselesaikan dengan baik-baik sih. Jadi selama ini kalian tidak punya anak?''
"Kami pernah punya anak perempuan tapi dia meninggal beberapa tahun lalu karena sakit. Sejak itulah hubungan kami makin memudar dan mulai menjauh satu sama lain. Aku juga tidak mengerti kenapa kami tidak mau berusaha memperbaikinya dengan maksimal. Meskipun aku sudah mencoba tapi aku juga sudah tidak bisa berbuat banyak lagi. Sejak dia sering selingkuh di belakangku dan lebih ironisnya aku juga melakukan hal yang sama seakan aku juga ingin balas dendam padanya. Aku berselingkuh juga dengan beberapa pria selama ini tapi aku sudah mengakhiri hubunganku dengan mereka.''
"Bagaimana dengan pria yang bernama Leo kemarin?''
Peter memandang Nay dan menjadi lebih bersimpati padanya. Ia salah paham kepada Nay selama ini. Ia berpikir Nay adalah wanita yang tidak baik dengan berselingkuh dari suaminya. Akhirnya dia tahu kalau dia tak pernah berniat sejauh itu karena Nay pada dasarnya adalah wanita yang lemah dan kesepian.
Peter memeluk Nay dan menenangkannya.
Nay menahan air matanya turun.
---
Beberapa hari kemudian, Nay telah mendapatkan surat panggilan dari Pengadilan dan sidang pertama akan dimulai minggu depan.
Anton dan Nay akhirnya bertemu dan membicarakan kesepakatan perceraian.
......
......
"Jadi kamu maunya gimana?'' tanya Anton dengan nada ketus.
"Oke mari kita bahas satu persatu.
Rumah Oke aku ga masalah kamu cuma kasi yang di cibubur.
Tunjangan aku minta Rp 2 Milyar
Mobil aku minta yang HHV buat aku."
"Hahaha kok jadi nambah? kamu lancang banget mau nuntut lebih ya?'' Anton mulai kesal dan tak terima dengan permintaan Nay.
"Nuntut lebih? hahaha ... selama ini aku juga support bisnismu loh ya. (PT) Sumber Selaras yang banyak bantu siapa? aset-aset lain siapa yang urus dan nego dari awal? mobil ada empat, aku cuma pake yang sedan lama sedangkan kamu pakai semua yang lain. Aku ga nuntut kan? ingat ga tahun 2012, kalau bukan aku yang maju ke bank dan handle masalah ekspor, mungkin itu perusahaan udah ga ada lagi. Jadi kamu anggap aku masih banyak menuntut. Lagian uang tunjangan 2 Milyar itu ga ada apa-apanya buat kamu loh. Aku tahu kamu punya aset lain tanpa sepengetahuan aku juga kan. Rekening pribadi kamu aja aku ga tahu sama sekali. Dan gimana dengan perjaungan aku merawat Susan selama bertahun-tahun sedangkan kamu hanya sibuk sendiri di luar?''
Anton diam dan menenggak wine di gelas.
"Kamu pikir aku mau menuntut banyak? aku minta itu buat pegangan aku selanjutnya dan kurasa itu juga merupakan sebagian hak aku. Kamu masih punya aset yang lain dan bisnis kamu sama partner kamu juga bakal jalan sebentar lagi kan? Kamu yang serakah. Aku juga ga mau jadi orang serakah ya tapi karena aku tahu tabiatmu jadi aku merasa perlu menuntut yang jadi hak aku!"
Anton tetap diam dan berpikir sampai akhirnya ia bereaksi.
"Oke fine! kamu boleh ambil yang tadi kamu sebutkan tapi tolong kita percepat proses cerai kita. Kamu ga perlu datang ke sidang supaya bisa lebih cepat keputusan verstek. Dan surat kesepakatan kita bisa ubah lagi sesuai yang kamu mau dan kuharap kamu segera pindah dari sini supaya kita ga banyak ketemu lagi.''
"Fine ga masalah. Ayo kita selesaikan ini segera dan semoga kita berdua bisa menjalankan hidup dengan lebih baik dan bahagia meski sudah berpisah.'' balas Nay.
Nay dan Anton sama-sama diam dan mereka pun kembali menyiapkan kesepakatan cerai bersama dan saling menandatangani surat bermaterai itu.
---
Enam bulan berlalu, tahun 2019 sudah mendekati ke musim penghujan yang artinya akan segera masuk ke akhir tahun.
- Bersambung ke Bab 15 -