Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 15 - Gelisah



Enam bulan berlalu dan memasuki penghujung tahun di 2019, bulan September lebih tepatnya.


Nay dan Peter masih menjalani hubungan kekasih tapi tampaknya keduanya mulai mengalami kejenuhan. Peter lebih sering bolak balik ke Malaysia sejak putrinya sering sakit infeksi usus dan membutuhkan perawatan. Sedangkan mantan istrinya sangat sibuk karena harus mengurus anak keduanya bersama suami barunya yang masih berusia satu tahun.


Peter memutuskan untuk mengambil hak asuh putri satu-satunya tapi keputusannya masih ditentang oleh mantan istri dan keluarga besar sang mantan istri. Sejak bolak balik Indonesia - Malaysia itulah, Peter dan Nay tidak begitu intens lagi dalam berkomunikasi.


Nay mendapatkan tawaran dari salah satu temannya di Bali, yaitu sebuah villa kecil yang bisa dibuatkan menjadi penginapan. Lokasinya juga sangat bagus dan strategis di kawasan Ubud. Teman Nay tersebut sedang kesulitan keuangan jadi sedang berusaha menjual asetnya meskipun dengan harga yang sangat murah, hanya Rp 500.000.000. Nay sedang berpikir untuk pindah dan menetap di Bali, tapi ia masih mempertimbangkan hubungannya dengan Peter. Apalagi setelah bercerai, Nay sudah terlalu lama menganggur dan hanya bergantung pada tunjangan aset yang dia jual yaitu rumah di Cibubur.


Di sebuah Kafe di daerah Serpong, Nay dan Peter berjumpa dan membicarakan beberapa hal.


"Kamu di telpon bilang mau bicara serius ada apa Peter?'' tanya Nay membuka obrolan sambil menyeruput kopi americano di depannya.


"Umm, Nay ... aku harus ke Malaysia. Anakku Amel sakit keras. Aku harus menemaninya di sana.''


Nay menatap wajah Peter dan membelalak kaget.


"Sakit apa dia? kapan kamu akan berangkat?''


"Infeksi usus. Aku akan berangkat besok pagi. Maaf jadi mendadak. Kuharap kamu mengerti.''


"Hhmm, iya aku paham. Aku harap Amel segera sembuh. Apa kamu perlu bantuan aku? mungkin aku bisa ikut temani kamu di sana?''


"Kurasa tidak perlu Nay. Aku tahu kamu juga pasti ada urusan di sini. Aku mau fokus dampingi Amel di sana.''


"Gimana mantan istrimu Mey?''


"Dia baik-baik saja cuma sedang sibuk mengurus anaknya yang masih balita. Jadi aku mengajukan diri untuk merawat Amel.''


"Iya aku mengerti. Sekarang yang kamu harus fokuskan adalah kesembuhan Amel, putrimu. Maafkan aku tak bisa menemanimu di sana. Jika ada waktu aku akan mengunjungimu di sana.''


"Tak apa jika kau tak bisa. Terimakasih ya Nay.''


Peter memegang tangan Nay dengan lembut dan memandangnya dengan penuh cinta.


---


Beberapa hari kemudian, Nay memutuskan untuk pergi ke Bali menengok dan memeriksa villa yang ia ingin investasikan.


Di Bali ...


Nay menemui temannya Santi yang akan menjual villanya di Ubud. Setelah melakukan pembicaraan panjang lebar, akhirnya Nay memberanikan diri untuk membeli Villa tersebut dan berpikir akan tinggal di sana sementara sejak ia juga telah menjual aset rumahnya di Cibubur dua minggu lalu dan waktu yang tepat untuk pindah. Namun ia belum memberitahu soal ini ke Peter.


"Jadi kira-kira kapan kau akan pindah ke sini Nay?'' tanya Santi sembari melipat beberapa kain di meja dengan santai.


"Umm, mungkin dalam satu atau dua minggu ke depan ya. Aku harus bereskan barang-barang aku di sana. Aku juga harus mengabari orangtuaku soal ini.''


"Oh, Oke nanti aku sekalian beresin yang di sini, jadi nanti kamu pindah udah beres semua sesuai yang kita sepakati ya.''


"San, apa rencanamu selanjutnya setelah ini?''


"A .. aku? aku akan ikut calon suami aku ke Perancis.''


"Ohh ya sama Claude ya ... kudoakan kamu bahagia ya temanku sayang.'' Nay memeluk Santi dan mengelus punggungnya saking ikut bahagia atas rencana masa depan salah satu teman baiknya itu.


---


Nay kembali ke Cibubur dan membereskan barang-barangnya sebelum pemilik baru akan pindah ke rumah itu dalam satu minggu.


Panggilan masuk ke ponsel Nay dari Peter.


.....


"Aku lagi berkemas Peter.''


"Berkemas?kamu mau ke mana?'' tanya Peter bingung.


"Aku akan pindah ke Bali minggu depan.''


"Pindah ke Bali? kamu ga ngomong sebelumnya soal ini?''


"Maaf aku belum cerita karena aku baru putuskan beberapa hari ini. Kupikir kamu sibuk jadi aku belum mau cerita juga supaya kamu lebih fokus. Apalagi Amel baru saja selesai operasi ke dua kan?''


"Iya maaf aku tidak menghubungimu beberapa hari ini karena aku sangat hectic dan sangat lelah serta kurang tidur.''


"Iya ga apa-apa.''


"Nay, kamu tidak coba hubungi aku? kamu tahu kan aku rindu sama kamu?''


"Ntahlah mungkin karena aku juga sibuk. Maafkan aku.''


"Kenapa kedengarannya kita sama-sama acuh ya?''


"Maksud kamu gimana Peter?''


"Umm, nggak. Mungkin aku yang sensitif.''


.....


.....


Peter merasakan Nay tidak begitu mempedulikannya selama ia di Malaysia hingga berbagai pikiran negatif mulai menyerangnya. Mungkinkah Nay telah berpaling darinya atau tidak mencintainya lagi?


Begitupun sebaliknya dengan Nay. Ia mulai berpikiran bahwa Peter terlalu sibuk hingga mengacuhkan dan tidak mempedulikannya lagi. Ia berusaha memungkiri kalau ia sedikit cemburu pada Amel, putrinya. Walaupun ia tahu Amel sedang sakit tapi tetap saja kadang ego nya muncul untuk juga diprioritaskan.


Berhari-hari Peter dan Nay coba berkomunikasi lebih baik tapi keduanya mulai tak seperti dulu lagi. Keduanya sama-sama sibuk dan tidak terlihat lagi kedekatan seperti dulu. Kesibukan Nay untuk pindah dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama kedua orangtuanya, membuat Nay ingin menghapus pikiran negatifnya tentang Peter.


Sedangkan Peter merasa agak kecewa dan sedih dengan keputusan Nay untuk pindah ke Bali. Tentu saja karena ia akan sulit bertemu dengan Nay. Apalagi ia memiliki Villa Camelia yang harus diurus juga. Peter merasa Nay tidak mempedulikan perasaannya sebagai kekasih, Meskipun Nay punya hak untuk pindah atau tinggal ke mana saja, tapi tetap saja Peter merasa Nay tidak memikirkan posisinya.


---


DI Kuala Lumpur, Malaysia,


Di Rumah sakit, Peter masih fokus mendampingi Amel melakukan recovery setelah operasi besar. Kondisi Amel membaik dan akan diizinkan pulang ke rumah setelah beberapa hari lagi. Peter merasa bahagia dan tenang karena putri satu-satunya telah melewati masa kritis.


"Daddy, saya nak pulang ke rumah.''


"Amel, bertahanlah sikit ya. Tunggu beberapa hari ya nak. Daddy ada bersamamu anakku, Amel.''


"Daddy, jika Amel sudah sembuh, bolehkan Amel ikut daddy ke Indonesia? Amel ingin tinggal bersama daddy.''


"Amel ingin tinggal bersama daddy? tentu saja boleh. Tapi bagaimana dengan adik dan bunda Amel di sini?''


"Tak apa daddy. Mommy sangat sibuk dengan adik.''


"Begitu ya? '' balas Peter memegang tangan Amel dan mengusap pipi dan dahinya. Sorot mata Amel yang murni dan lembut membuat Peter tak tega berada jauh darinya. Meskipun satu sisi ia sangat menyayangi Amel, tapi ia juga merindukan Nay.


- Bersambung ke Bab 16 -