
Nay melewati hari-hari di penghujung tahun 2019 seorang diri karena sibuk mengurus villa nya. Meskipun mulai muncul virus covid-19 dan banyaknya pembatalan pesanan hotel imbas kondisi tersebut, Villa masih dipenuhi dengan para tamu yang sudah memesan jauh hari.
Hanya dengan melalui video call, Nay dan Peter menjalin komunikasi untuk sementara. Nay mengetahui keberadaan Amel di Villa Camelia bersama Peter. Hal itu membuat Nay senang dan tenang karena ia juga mengetahui Peter sering sekali merindukan putri satu-satunya. Peter telah memperkenalkan Nay kepada Amel dan reaksi Amel setuju saja dan tidak keberatan dengan ayahnya yang menjalin kasih dengan wanita lain.
Malam itu adalah malam pergantian tahun 2019 ke 2020. Nay dan Peter melakukan video call dan bercakap-cakap lama. Amel ikut bersua dan banyak bertanya kepada Nay.
"Tante, di sana ramai ya suasananya?'' tanya Amel dengan polosnya di video call.
"Ohh ya ramai di sini, walau tidak begitu ramai dibandingkan sebelumnya. Amel kapan mau holiday ke sini sama papa?'' balas Nay sambil melempar senyum.
"Umm, aku tunggu papa saja ajak aku ke sana. Kalau tante kapan bisa ke sini?''
"Nanti tante ke sana ya kalau sudah ada waktu setelah tahun baru. Kalian harus jaga diri baik-baik ya di sana apalagi sekarang lagi banyak yang kena covid.''
"Iya tante.'' Amel mengangguk.
Peter yang duduk di samping Amel, mengelus-elus rambut putrinya itu dan mengecupnya. Ia lalu menimpali, "kamu juga harus take care ya di sana. Awasi protokol kesehatan di sana ya.''
"Iya mas. Umm, by the way, mama Amel di mana? apa masih di sana?''
"Dia sudah berangkat ke Jakarta dulu tadi sore, karena ada beberapa urusan sebelum dia kembali besok pagi ke Malaysia.''
"ohh gitu ...''
"Umm, mas udah dulu ya. Aku mau ke belakang. Nanti aku telpon lagi. Bye Amel. Nanti kita sambung ya sayang.'' Nay menyudahi panggilan video itu dan mengecup dari jauh buat Peter dan Amel.
---
Satu bulan kemudian, di penghujung bulan januari. Nay kembali ke Jakarta dan mengunjungi Peter dan Amel di Villa Camelia, Anyer.
Amel menyambut Nay dengan begitu bahagianya setelah sekian waktu belum pernah bertemu. Nay memanfaatkan waktu yang berharga itu untuk lebih mengenal Amel dan dekat dengannya. Di benak Peter, ia begitu bahagia bisa melihat Nay begitu dekat dengan Amel, putrinya.
"Kapan kita bisa ketemu orang tua kamu, Nay?'' tanya Peter sembari menyeruput kopi di genggaman tangannya menghadap ke pantai.
"Besok gimana?'' balas Nay dengan cepat.
"Umm, boleh. Aku ajak Amel juga ga apa-apa kan?''
"Oh tentu saja harus. Orang tua aku juga harus tahu soal dia.''
"Oke.'' Peter mengangguk dan tersenyum.
---
Keesokan harinya setelah dua hari bersama Peter dan Amel di villa camelia, Nay kembali ke rumah orang tuanya di tangerang untuk berkumpul bersama setelah beberapa bulan tidak bertemu.
Pada kesempatan itu, Nay akhirnya memberanikan diri untuk mempertemukan Peter dan Amel kepada orang tua dan keluarganya yang lain.
Di rumah orang tua Nay, beberapa orang keluarga berkumpul dan mereka sedikit kaget dengan kedatangan Peter dan Amel. Dalam hati mereka berpikir siapakah pria yang membawa anak itu?
"Ma, pa ... kenalin ini Peter. Dan ini putrinya Amel.'' sapa Nay di depan pintu sambil memegang koper kecil di sebelahnya.
Papa Nay masih asik bersiul-siul di depan sarang burung peliharaannya yang bergantung dan berbaris di teras rumah. Tampak Papa Nay tidak begitu mempedulikan kedatangan Peter dan Amel. Tentu saja ini membuat Peter sedikit tak nyaman dengan situasi yang agak awkward itu.
"Mas Peter, cuekin aja papanya Nay. Orangnya memang gitu tapi sebenarnya orangnya baek kok. Kalau belum kenal banget dia memang agak cuek sih. Ayo duduk ....'' kata Mama Nay dengan ramah.
"Ohh ya Tante. terimakasih ....'' Peter dan Amel duduk di sofa dan seorang pembantu menawarkan minuman dingin untuk mereka berdua.
Mama Nay memandang beberapa saat ke arah Peter dan Amel dengan seksama. Nay masuk ke kamarnya dan membuat suasana agak kaku karena Peter sendiri masih agak khawatir berhadapan dengan orang tua Nay. Tak lama kemudian, Papa Nay masuk dan duduk di hadapan Peter dan Amel.
"Gimana mas Peter? dari mana?'' sapa Papa Nay.
Peter sedikit grogi dan bertanya lagi ke Papa Nay, "Umm, gimana Om?''
"Maksud saya, kalian rumahnya di mana dan gimana bisa bareng Nay?'''
"Ohh, maaf om saya ga mudeng tadi. Saya tinggal di Anyer om dan ini anak saya baru saja tinggal sama saya.''
Papa dan mama Nay sedikit bingung dan akhirnya Peter menjelaskan mengenai maksud kedatangannya ke rumah orang tua Nay.
..........
..........
Setelah kurang lebih dua jam bercakap-cakap, Peter, Nay dan kedua orang tuanya akhirnya mendapatkan maksud dan tujuan Peter datang. Peter memberitahu bahwa ia menjalin hubungan spesial dengan Nay dan berharap bisa mendapatkan restu ke jenjang selanjutnya.
Hari sudah sore, Peter dan Amel pamit dan Nay tetap bersama orang tuanya di Tangerang.
---
Malamnya Nay berbincang serius dengan kedua orangtuanya.
"Nay, kamu sudah yakin mau menikah lagi dengan pria itu?'' tanya papa Nay dengan nada serius.
"Kalau papa izinkan, Nay sudah dewasa pa. Tak lama lagi Nay akan berumur 40 tahun. Nay juga tak bisa sendiri terus kan?''
Mama Nay menimpali, " Iya kita ngerti kamu ga mungkin sendiri terus. Tapi apa perlu secepat itu memutuskan merid lagi? apalagi dia punya putri yang mau remaja. Kamu udah yakin sama pria itu? dan parahnya kamu ga pernah cerita sedikitpun tentang Peter ini. Terus terang, setelah kami dengar cerita kalian pertama ketemu, okelah kami berterimakasih dan senang sekaligus lega karena ia pernah menolong kamu. Tapi, kalau mama rasa sih, sebaiknya kamu berpikir lagi deh kalau mau merid lagi. Mama cuma ga mau kamu mengulang kesalahan yang sama. Apalagi mama tahu kamu bisa saja cepat bosan sama dia. Kalian kan juga long distance?''
"Kami sudah berhubungan setahun ini dan Nay rasa cukup mengenalnya.'' Nay merespon dengan gamblang.
"Hahaha, yakin kamu?'' ucap papa Nay.
"Papa dan mama kan baru sekali ketemu sama Peter. Nay ngerti kalian perlu kenal dia lebih jauh.''
"Nay, papa cuma ingin kamu bahagia aja dan tidak ada beban lagi. Apalagi kamu sudah dewasa dan sudah pernah gagal. Setahun itu ga cukup Nay. Kamu belum bisa bilang kamu benar-benar kenal dia. Omong kosong itu Nay. Papa juga laki-laki loh Nay. Maaf Nay, papa belum bisa kasi restu kamu 100% karena papa belum yakin. Kalau kamu mau pacaran, sah-sah aja papa ga melarang tapi kalau buat merid, kamu pertimbangkan lagi. Kamu sudah dewasa, papa ga perlu ngajarin harus gimana kamu menjalaninya dengan Peter.''
"Bener kata papa kamu Nay. Kamu pikir-pikir lagi deh. Memang Peter itu orangnya tampan, punya villa, orangnya cukup matang dan mapan, tapi kami sebagai orang tua belum yakin karena kamu baru kenalin dia ke kami dan kami belum benar-benar kenal dia.''
Pembicaraan Nay dan orangtuanya menghadapi jalan buntu.
- Bersambung ke Bab 25 -