
"Waah, ternyata Mas Peter yang punya villa ini ya?'' Rose buru-buru menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Peter. Begitu pun Peter menyambutnya dengan senang.
"Kebetulan sekali Mbak Rose. Selamat datang di Villa saya. Jika ada yang diperlukan, jangan sungkan untuk beritahu ya.''
"Oh ya pasti Mas. Thanks.''
Beberapa relasi Rose yang lainnya memandang pertemuan itu dan saling berbisik tersenyum melihat Rose dan Peter.
Peter bersiap-siap untuk berangkat ke hotel menemui Nay sampai tiba-tiba Rose memanggilnya.
"Mas ... Mas tolong ....!'' teriak Rose menuju meja resepsionis di mana Peter sedang membereskan beberapa berkas bersama seorang karyawan resepsionis.
"Iya Mbak ada apa?''
"Mas bisa tolong saya?''
"Iya gimana Mbak?''
"Saya ada pertemuan sama seorang relasi dekat sini tapi saya ga mengerti gimana ke sananya. Bisa tolong anterin saya Mas?''
"Ohh, gimana ya Mbak. Saya ada keperluan mau ke Jakarta sekarang, Kalau saya minta karyawan saya yang anterin ga apa-apa?''
"Ohh gitu ga bisa ya?''
"Iya Mbak maaf saya harus bergegas pergi, tapi nanti besok siang saya udah balik lagi.''
"Ahhh, gitu ya? ya udah ga apa-apa mas. Nanti saya minta kakak saya aja yang anterin.''
"Iya sekali lagi ya Maaf ya mbak.''
Peter pamit kepada karyawannya dan melajukan mobilnya untuk menemui Nay di hotel di Jakarta. Dari arah spion Peter melihat Rose berdiri menatapnya dari jauh dengan tatapan tak biasa. Peter hanya melaju dan berlalu.
---
Sampailah di hotel, Peter harus bersabar menunggu Nay kembali dari acara pernikahan saudara sepupunya dan Peter hanya duduk di lobi sambil meminum kopi di hadapannya.
---
Selang beberapa menit kemudian, Nay sampai di hotel dan melihat Peter sedang menunggunya.
"Mas, maaf aku lama. Ayo kita ke kamar.'' ajak Nay sembari merangkul tangan Peter dan mengajaknya ke kamar.
Di Dalam kamar,
"Jadi kamu akan tetap berangkat ke Bali besok ?'' Peter menarik Nay dan memangkunya di atas pahanya di tempat tidur sambil mengusap rambut Nay dengan lembut.
Nay menatap ke dalam mata Peter dengan lesu, "Iya mas, aku harus segera kembali ke sana karena masih ada yang harus aku kerjakan. Mas, apa mas bisa ikut bersamaku?''
"Aku ga mungkin bisa ikut kamu saat ini Nay.'' Digenggamlah tangan Nay dengan erat dan Peter menundukkan wajahnya.
"Mas bisa remote kerjaan dari jauh kan? kurasa Kang Dede udah bisa back up?''
"Aku belum bisa sepenuhnya percayakan ke karyawan Nay.''
"Umm, gitu ya. Kalau gitu nanti aku akan balik lagi ke Jakarta dan temui mas kalau kerjaan aku udah beres ya. Aku janji mas.''
"Kalau kamu ribet ga apa-apa juga Nay. Jangan dipaksakan karena kita juga masih punya waktu lagi nanti kan?''
"Mas, aku sedih banget jauh dari kamu. Aku tahu ini keputusan aku tapi aku juga berat mas. Maafkan aku ya.'' Nay tak tahan menahan kesedihannya dan memeluk Peter dengan erat.
...............
...............
...............
Keesokan paginya, Nay dan Peter menyempatkan diri mereka untuk sarapan bersama di hotel sebelum ia berangkat ke Bali lagi pada jadwal keberangkatan siang hari.
"Aku tunggu mas ya. Aku harap aku bisa segera selesaikan pekerjaanku dan bisa atur waktu ke sini lagi. Mas sabar ya dan tunggu aku.''
"Iya Nay. Kamu harus jaga diri di sana ya.''
---
Peter kembali ke Villa siang itu dan tiba sekitar jam tiga. Tampak para tamu sedang berkumpul dan melakukan beberapa kegiatan permainan bersama. Para tamu itu tampak bergembira dan bersenang-senang. Banyak makanan telah dipesan dan terlihat begitu mewah serta berkelas.
Seorang karyawan menghampiri Peter yang baru turun dari mobilnya.
"Sore Pak Peter. Tamu-tamu sedang berkumpul dan semuanya berjalan baik.''
"Oh gitu, makasi ya kang. Ini makanannya mereka bawa darimana?''
"Oh, itu dari restoran Saung Seafood Pak dibawa ke sini. Saya dengar sih itu yang punya saudaranya Mbak yang tamu sini. Itu banyak banget pak makanannya tadi. Belum lagi mereka pesan wine dan kue dari Jakarta yang saya dengar.''
"Umm, oke deh nanti standby aja yang penting kalau mereka ada perlu apa-apa. Toilet semua udah bersih kan? sama air ga ada masalah ya?''
"Iya ga ada masalah pak. Aman.''
"Bagus Kang.''
Peter berjalan masuk ke ruangannya dan memperhatikan dari kaca jendela suasana ramai dan intim dari para tamu yang berkumpul di taman sebelah villa yang menghadap langsung ke kolam dan pantai. Peter melihat Rose sedang asik tertawa dan bercanda dengan para koleganya di sana. Peter memperhatikan Rose yang terlihat begitu cantik dan berkharisma luar biasa. Baru kali ini ia melihat seorang wanita yang tomboi tapi berkelas dan bersahaja seperti Rose.
"Ihh apa-apaan sih? kenapa aku mikirin wanita itu ya? aku udah punya Nay kenapa malah kagum sama perempuan lain?'' Peter berceloteh sendiri.
Matahari senja makin turun dan langit mulai gelap karena sudah lewat maghrib. Beberapa orang masih berada di taman sementara yang lain ada yang mulai masuk ke kamar masing-masing. Peter berjalan-jalan ke arah taman dan mengawasi lokasi acara. Rose yang melihatnya berjalan mendekati Peter dan menyapanya.
"Hai Mas Peter, udah balik dari Jakarta?'' sapa Rose sembari menyibak rambut poninya yang panjang ke belakang. Matanya yang kecil dan sendu itu membuat Peter merasa hanyut dalam angannya sejenak.
"Oh ya tadi siang sih cuma saya langsung beresin kerjaan jadi baru sekarang menyapa Mbak Rose. Gimana acaranya seru ya kayaknya ....''
"Iya Mas seru banget. Saya juga baru pertama kali ke sini. Ini semuanya diatur sama salah satu staf saya. Ternyata di sini sangat menyenangkan dan kita semua puas banget.''
"Baguslah Mbak saya senang. Ngomong-ngomong kok pesan beveragenya dari Jakarta? apa ga repot ya?''
"Nggak kok, emang saya yang pesan dan makanannya juga dari restoran salah satu keluarga saya. Makanya salah satu alasan kenapa kita pesan tempat di sini karena dekat dengan restoran keluarga saya dan memang staf saya sudah sempat survey ke sini sebelumnya dan dia bilang tempat ini recommended.''
"Wah terimakasih ya Mbak.'' ucap Peter dengan tersenyum dan mengajak Rose duduk di bangku kafe taman.
"Mas udah lama di sini?''
"Oh ya udah hampir setahun sejak kejadian tsunami tahun lalu. Waktu kejadian itu persis hari pertama saya mulai datang ke sini.''
"Ohh gitu ya ...''
Peter dan Rose tak sadar mereka mengobrol lama dan panjang. Peter menceritakan kejadian tsunami waktu itu dan Rose tampak nyaman bercengkrama dengan Peter. Bahkan mereka tak sadar kalau mereka bisa tertawa lepas dan mulai terbuka satu sama lain.
- Bersambung ke Bab 19 -