
Nay masih memendam rasa kecewa pada kedua orangtuanya setelah tidak mendapatkan restu menikah dengan Peter.
Hatinya menjadi gundah walaupun ia sudah sangat dewasa untuk memilih jalan hidupnya. Nay sadar setelah tidak mendapatkan dukungan dari orang tua, ia harus mencoba cara lain agar Peter bisa diterima sebagai calon menantu.
Sore itu Nay pergi ke sebuah kafe di dekat rumah orang tuanya dan kebetulan bertemu dengan salah seorang sahabatnya yang dulu pernah kuliah di kampus yang sama dengannya. Namanya Lina dan dia sudah memiliki dua anak. Nay tampak senang bertemu kembali dengan Lina dan mereka mengobrol cukup lama di kafe itu.
"Kamu apa kabar Lin?'' Nay mengecup pipi kiri dan kanan Lina.
"Aku baik Nay. Kamu gimana?''
"Baik Lin ....''
...............................
...............................
Di tengah percakapan, akhirnya Lina membongkar kehidupan pribadinya yang saat itu sudah menikah kedua kalinya. Lina menceritakan bagaimana ia bisa menikah dengan suami keduanya setelah perceraian dengan suami pertamanya.
Dari cerita itulah, Nay mengetahui bagaimana hidup Lina berubah setelah menikah ke dua kalinya yang tak jauh berbeda dengan yang pertama. Iya, Lina mengalami kemerosotan dalam hidupnya. Pernikahan pertama yang terjadi karena ia hamil duluan dan tidak siap secara ekonomi. Begitu pun dengan pernikahan keduanya dengan seorang karyawan biasa yang tidak banyak mengubah keadaan ekonominya.
"Semoga kamu tidak mengalami yang aku alami ya Nay. Aku harap kamu bisa memilih yang terbaik untukmu. Apalagi kamu tidak punya anak. Ada banyak cara untuk bahagia meski tidak berkeluarga, Nay.''
"Umm, ....'' Nay mengangguk.
"Iya memang kamu ga bisa jadikan kisah aku ini sebagai acuan kamu ke depannya. Aku yakin banyak pasangan menikah yang menikah di lain. Aku ini hanya kebetulan saja di antara banyak kisah pasangan yang tidak indah. Aku tidak bermaksud mengaduk-aduk perasaanmu loh ya.''
"Iya Lin. Aku tahu, aku kan sudah dewasa juga dan sudah pernah gagal juga. Aku banyak belajar dari orang-orang terdekat juga. Makasi loh ya artinya kamu perhatian sama aku. By the way, aku senang sekali kita bisa ketemu lagi. Keep contact aja ya. Kalau ada acara ke Bali, mampirlah ke tempat aku.''
"Iya Nay, makasi ya.''
Nay berpisah dengan Lina dan kembali ke rumah orangtuanya.
Setelah beberapa hari di Jakarta, Nay harus kembali ke Bali. Namun sebelumnya, ia mengunjungi Peter dan Amel di Anyer. Nay memutuskan untuk tinggal satu malam di Villa Camelia sebelum kembali ke Bali.
"Peter, kurasa kita harus bicara.'' ucap Nay di sela-sela situasi santai berada di kafe. Dia sesekali memandang Amel yang asik memotret bunga kamboja yang tumbuh subur di pot-pot besar yang disusun berderetan menuju ke pantai.
Peter meraih tangan Nay dan mengajaknya ke tepi pantai, di mana mereka biasa berjalan-jalan sambil bercerita.
"Mas, masih ingat gimana kita pertama kali bertemu?
"Tentu saja Nay. Mana bisa aku lupa kejadian itu?''
"Seandainya aku tidak ke sini waktu itu, mungkin kita tidak akan bertemu. Dan mungkin jika kejadian tsunami itu tidak terjadi, mungkin kita juga belum tentu akan bertemu ya?''
"Iya mungkin saja. Tuhan mempertemukan kita dengan caraNya sendiri yang kadang kita tak mengerti, Nay.''
Keduanya diam sejenak ...
Nay perlahan membuka mulutnya dan bibirnya yang mungil itu mulai berhimpit.
"Mas, aku ga tahu bagaimana harus mengatakan ini, tapi aku rasa aku harus jujur sama mas.''
Peter menghentikan langkahnya dan terlihat gugup karena merasakan ada sesuatu yang tidak biasa kala itu.
"Ada apa Nay?''
"Maksud kamu apa Nay?'' Peter menaikkan dahinya.
"Aku merasa tak yakin pada diriku sendiri mas. Aku tidak yakin dengan apa yang aku pikirkan dan rasakan.''
"Kok aku makin bingung ya?'' balas Peter lagi.
Nay diam dan hanya memandang wajah Peter dari jarak satu meter.
"Coba deh kamu jelasin Nay. Kamu kenapa tiba-tiba berubah seperti ini ya?'' Peter memajukan langkahnya dan meraih pundak Nay. Ia memegang pundak Nay dengan kuat hingga tak menyadari Nay mulai merasakan sakit akibat genggaman tangannya.
"Mas, sakit. Tolong lepasin mas.''
"Umm, maafkan aku.'' Peter lalu melepas kedua tangannya dari pundak Nay.
''Aku sudah berpikir beberapa hari ini mas. Aku tak bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya denganmu. Aku sendiri tak yakin untuk menikah lagi. Aku masih tak yakin mas ....''
"Kalau itu maksudmu tidak mau menikah dulu, ya sudah tidak apa-apa Nay. Kita bisa tunda dulu dan jalani seperti ini adanya. Aku tak masalah Nay. Aku tidak ingin berpisah Nay hanya karena masalah ini. Aku tahu dan mengerti kamu juga ada bisnis di Bali sedangkan aku di sini. Kita long distance dan jarang bertemu. Aku mengerti maksudmu. Kurasa kamu juga mungkin lagi jenuh.''
Nay memandang jauh ke arah Amel yang sedang bermain-main di kafe.
Peter menyadari tatapan Nay ke Amel dan berasumsi jika Amel mungkin menjadi salah satu alasan Nay ingin putus dengannya.
"Apa karena Amel, kamu ingin kita putus?'' tanya Peter.
Nay memalingkan wajahnya dan menatap Peter tapi ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Kamu jujur aja Nay. Apa karena Amel? kamu tidak siap untuk menjadi mama tiri dia?''
Nay masih membisu dan pikirannya seakan terhenti mengolah dan memahami ucapan Peter.
"Kamu istirahat dulu deh. Sepertinya kamu sedang tidak fokus Nay. Ayo kita masuk dan makan malam. Amel juga sudah nunggu.'' ajak Peter.
"Aku ingin pulang Mas. Aku harus selesaikan beberapa urusan sebelum aku kembali ke Bali. Maafkan aku mas, aku baru ingat. Nanti aku kabarin mas lagi ya. Ga apa-apa ya?''
"Kamu kenapa Nay tiba-tiba? kamu aneh sekali?''
"Aku ga apa-apa Mas. Kita nanti bicara lagi ya. Mumpung belum maghrib, aku jalan sekarang aja.''
Peter diam dan tak mengerti dengan sikap Nay yang mendadak ingin kembali ke Jakarta dan meninggalkannya. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Nay.
Nay berpamitan dengan Amel dan mengelus rambutnya dengan lembut.
"Tante balik dulu ya mel. Kamu baik-baik ya sayang sama ayah.''
Amel tersenyum dan memberikan setangkai bunga kamboja yang ia petik dari pohonnya dan menaruhnya di telapak tangan Nay.
''Terimakasih ya Amel cantik. Anak baik, sampai jumpa lagi ya.'' ucap Nay.
Ia juga berpamitan dengan Peter dan tersenyum. Namun senyumnya kala itu tak seperti biasa. Ada sesuatu yang absurd dari senyuman itu tapi Peter tak ingin berpikiran negatif pada Nay.
---
- Bersambung ke Bab 26 -