Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 5 - Mencoba Bangkit



Malam itu Nay dan Peter terjaga, sampai matahari fajar perlahan muncul di atas laut di hadapan kamar itu.


Peter sesekali mencemaskan janjinya untuk membereskan kewajiban kepada para keluarga korban. Ia hanya punya waktu tiga hari untuk menyelesaikannya.


Sementara Nay juga mencemaskan rencana selanjutnya yang ia harus putuskan. Perceraian, harta dan semuanya.


Nay memperhatikan wajah dan sorot mata yang kosong dari Peter. Ia ingin sekali menenangkan dan menghiburnya tapi mereka juga tidak sedekat itu.


Peter berdiri dan melangkah ke arah balkon kamar. Ia meletakkan kedua tangannya di atas penyangga balkon dan melihat ke arah laut.


"Mbak Nay, pernah merasa hidupmu seakan hancur setelah seseorang menyakitimu?" Peter bertanya kepada Nay secara tiba-tiba.


Nay terhentak dan mengerutkan keningnya. "Maksudnya gimana Pak Peter?" Nay mencoba menelaah pertanyaan Peter dengan seksama.


"Iya maksud saya, apakah mbak pernah disakiti oleh seseorang dan membuat hidupmu seakan hancur?" tanya Peter sekali lagi dengan tegas.


Nay bisa melihat Peter tampak serius dan tegas dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Nay tak tahu apa yang harus ia jawab agar bisa membuat Peter lega.


"Itu yang sedang saya rasakan Pak." jawabnya singkat.


Peter membalikkan badannya dan memandang ke arah Nay yang masih duduk di bangku. Ia menyilangkan kedua lengannya ke dada dan mengangguk.


"Tampaknya semua orang pasti pernah merasakannya ya?" katanya dengan nada pelan.


Nay ingin sekali menanyakan keresahan hati Peter tapi ia tak berani banyak bertanya apalagi setelah terjadi kemalangan di Villa yang baru ia pegang ini.


 


Pagi berlalu dengan cepat sementara tenda darurat masih tampak bertengger di beberapa titik jalan protokol sepanjang kawasan Anyer dan Carita. Banyak orang datang untuk bertanya dan mencari keluarga yang mungkin masih belum ditemukan. Villa Camelia masih sepi dan ditutup sementara. Peter belum berani pergi dari tempat itu. Ia masih banyak diam dan tak tahu harus bagaimana. Sampai seseorang datang menemuinya di Villa Camelia.


"Peter!" teriak seorang wanita berambut pendek dengan penampilan yang modis menghampirinya dari depan lobi.


Perempuan itu tak segan memeluknya dan tampak sangat mencemaskannya.


"Kau tak apa-apa??"


"Gimana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Peter kaget dengan kehadiran wanita cantik itu.


"Aku tak Sengaja melihat TV kemarin dan kamu disorot. Aku pikir itu bukan kamu tapi aku bisa jelas lihat kamu. Aaargghh! aku tenang kamu ga apa-apa." wanita itu lalu memeluknya lagi.


Nay yang berada tak jauh dari tempat itu, membalikkan badan dan beranjak pergi dari sana. Ia lalu melanjutkan bersih-bersih ke belakang.


Peter dan wanita itu tampak serius bercengkrama di depan pantai. Mereka duduk di atas batang pohon kelapa yang tumbang.


"Aku tak menyangka bisa sehebat ini kejadiannya? dan aku juga ga menduga kejadian ini persis terjadi di hari pertama kami baru mulai menjalaninya."


"Ya begitulah mungkin ada hikmahnya dari kejadian ini. Ada banyak yang lebih kehilangan daripada aku. Ada yang kehilangan keluarga, pekerjaan dan begitulah ...."


"Apa yang bisa aku bantu Pete? kita teman dan aku siap membantumu. Kamu ga sendiri di sini. Meskipun keluargamu semua ada di luar negeri, tapi ada aku di sini."


"Dian, thanks ya. Aku hargai tawaranmu tapi aku akan berusaha cari jalan lain yang tidak perlu merepotkanmu."


"Hey, Pete! dulu yang bantu aku waktu lagi susah siapa kalau bukan kamu? aku bisa seperti sekarang karena andil kamu juga. Setelah aku pisah sama Daniel, hanya kamu yang mau nolongin aku. Teman-teman ga ada satupun yang berempati samaku."


"Udahlah itu udah masa lalu waktu kita masih kerja di Aussie"


"Pete, aku ngerti kamu bukan tipe orang yang minta dikasihani. Tapi aku juga tulus bantu kamu. Aku udah dengar masalah kamu sama Mey. Kamu harus bisa move on dong! udahlah udah masa lalu. Kamu sekarang hanya perlu pikirkan gimana ke depannya setelah kamu putusin kembali ke Indonesia. Apalagi kamu harus pikirkan juga soal Amel, putrimu satu-satunya. Ia pasti kehilangan papanya kan?"


"Ayolah, kamu mau sampai kapan seperti ini? aku tahu kamu ga seperti ini kok. Dulu tuh kamu terkenal pemberani di antara teman-teman kita. Kemana sih Peter yang aku kenal itu?"


"Mungkin aku perlu waktu lebih banyak untuk bangkit lagi, Dian."


"Okay, so ... apa yang aku bisa bantu? aku ini boss dealer mobil mewah loh ya, kamu tahu kan?" canda Dian seraya mengibas rambutnya ke belakang.


Peter tersenyum kembali dan memandang Dian lalu berkata, " Makasi ya. Kalau gitu apa bisa pinjamkan aku uang untuk menyelesaikan tunjangan ke keluarga karyawan dan perbaikan Villa aku? Aku akan membayarnya dengan menjual tanahku di Bandung."


"Aset apa itu?"


"Dulu aku sebelum menikah, aku pernah membeli lahan di daerah Kopo Bandung. Di sana banyak pabrik, jadi mungkin ada peminatnya. Aku janji akan membayarmu."


"Oke kalau gitu. Ga masalah Pete."


Peter meminjam uang sebanyak Rp 500.000.000 kepada Dian dan akan menggunakan uang itu untuk menyelesaikan kewajibannya kepada para keluarga korban. Ia juga memanfaatkan sisa uang untuk memperbaiki Villa Camelia.


---


Dian kembali ke Jakarta sore itu karena urusan bisnis yang tidak bisa ia tinggalkan.


Setelah Dian pergi, Peter menghampiri Nay yang sedang sibuk menyapu sisa kotoran lumpur dan barang-barang yang masih berantakan di sekitar kafe.


"Mbak Nay, saya bisa bicara sebentar?"


"Ya Pak?"


"Saya sedang butuh karyawan. Mbak bilang sedang butuh pekerjaan kan?"


Nay terkejut dan tak menduga Peter akan menawarkan pekerjaan padanya. Tentu saja ia tak berpikir panjang dan langsung mengiyakan tawaran itu.


---


Keesokan harinya, Peter mengajak Nay ke Cilegon untuk membeli HP baru dan beberapa pakaian baru. Ia juga harus ke Bandung untuk menemui calon pembeli yang berminat dengan lahan yang ia jual.


"Mbak Nay, saya panggil Nay aja ya?"


"Iya Pak, gitu aja lebih baik.''


"Pekerjaan pertama kamu adalah ikut saya dulu ya. Kamu saya jadikan asisten saya dan karyawan pertama saya."


"Iya Pak." angguk Nay.


Di Cilegon, Peter dan Nay pergi ke GraPARI untuk mengaktifkan kembali kartu seluler mereka yang hilang bersama Handphone.


Sebelumnya Peter membeli dua unit HP untuknya dan Nay. Setelah mendapatkan nomor selulernya, Peter kemudian bergegas ke Bank mengurus keperluan Bank dan kembali menghubungi Dian untuk mengurus peminjaman uang itu.


"Nay, kamu tinggal di mana? kamu bilang kamu tinggal di Cilegon kan?"


Nay kelabakan dan takut ketahuan kalau ia bukan tinggal di sana. "Umm, sebenarnya pak, saya sudah ga kontrak lagi. Saya ga bisa bayar uang kontrakan jadi sebenarnya saya ke Anyer itu buat hilangkan stres saya."


Peter terdiam dan tak menyangka Nay memiliki cerita yang juga agak pelik. Namun ia coba memakluminya dan berpikir untuk membantunya meskipun ia juga masih ragu dengan keterus-terangan Nay.


- Bersambung ke Bab 6 -