
Peter telah kembali ke Anyer tapi hatinya masih merindukan seorang wanita yang ada jauh di sana, di Bali. Ia sadar masih ada banyak yang harus ia bereskan dengan Nay untuk melangkah lebih jauh lagi. Hal pertama yang harus ia pikirkan adalah mengenal dan menjalin hubungan yang baik dengan keluarga Nay serta memperkenalkan Nay pada putri satu-satunya, Amel. Dengan tekad yang kuat dan optimis, Peter yakin kalau Nay adalah pilihannya yang terbaik karena Nay lah yang berhasil membuka hatinya yang sempat hancur dahulu.
Sementara itu Nay yang masih berada di Bali, merasakan hal yang sama dengan Peter. Di tengah kesehariannya di Villa, Ia juga merindukan saat-saat bersama Peter. Hanya beberapa orang karyawan yang setia bersamanya serta Jun yang sering mengajaknya lari pagi dan sekadar bercengkrama sebentar.
---
Di Villa Camelia, Peter mendapatkan beberapa pesanan kamar untuk jelang akhir tahun 2019. Karena itulah ia lebih sibuk daripada biasanya.
Hari itu sama seperti hari-hari biasanya, Peter sedang berada di lobby dan menyapa beberapa orang tamu yang baru datang. Namun Peter betul-betul terkejut mendapati seseorang yang ia sayang muncul tepat di hadapannya. Dialah Amel. Amel berdiri tersenyum dan melambaikan tangan menyapa ayahnya saat itu. Peter girang dan menghampiri gadis kecilnya itu dan memeluknya dengan erat.
"Amel! ini kejutan sekali sayang. Bagaimana kamu bisa ke sini tanpa kasih kabar ke papa?'' sapa Peter yang masih berdebar-debar melihat putrinya.
"Papa, ... papa how are you up to?''
"I am so great now nak. It's because of you!''
"I am happy to see you pa!'' Amel memeluk lagi papanya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu sama siapa Amel?''
"Aku sama mama.'' Amel mendongak ke belakang dan mengarahkan pandangannya kepada sang ibu yang berdiri di dekat mobil yang sedang terparkir.
Peter berdiri dan menggandeng tangan Amel. Ia melempar senyum kepada Mey dan memberi isyarat agar ia mendekat padanya dan Amel. Mey lalu mendekat dan menyapa Peter.
"Apakabar?'' sapa Mey.
"Baik. Terimakasih sudah datang. Bagaimana perjalanan kalian?''
"Baik juga.'' Mey tak banyak bicara.
"Ayo masuk ke dalam. Kalian pasti lelah.'' ajak Peter.
Amel tak henti menempel pada papanya. Para karyawan yang berada di sana tak henti juga memperhatikan keluarga kecil itu. Mereka baru mengetahui bahwa sang bos punya keluarga kecil yang terpisah jauh. Beberapa dari mereka , sibuk bergosip tentang hubungan cinta sang bos dan Nayra yang entah masih berlangsung atau tidak.
Hari sudah sore. Peter mengajak Amel dan Mey untuk makan malam bersama di kafe villa. Mereka bercakap-cakap seakan terasa seperti waktu dulu masih bersama. Kegembiraan dan kebahagian tentu jelas tampak di wajah Amel yang sudah lama tak pernah merasakan kehadiran lengkap mama dan papanya. Ia mengakui betapa kesepiannya selama ini meski ia telah memiliki keluarga baru dari sang mama.
Setelah selesai makan malam bersama dan Peter asik menemani Amel berjalan-jalan di tepi pantai, sudah saatnya Amel istirahat dan tidur di kamar. Sementara itu Mey dan Peter berbincang di kafe sambil menikmati kopi hanya berdua.
"Aku tidak menyangka kalau kalian akan ke sini.'' ucap Peter.
Mey menyeruput kopinya dan meletakkan cangkirnya di meja. Ia bangun dari bangkunya dan berdiri meletakkan tangannya di atas pagar kayu bambu di sebelah bangkunya.
"Maafkan aku Peter.'' kata Mey singkat.
Peter kaget sekaligus bingung dengan ucapan Mey yang tiba-tiba dan membuatnya canggung.
"Maksud kamu apa?''
"Please forgive me. I know i have hurt your feeling when you were in malaysia last time.'' jawab Mey.
Peter diam dan menunduk lalu membalas, " No problem. I know you must have worried about everything. I feel sorry and regret too cause i can't be with Amel.''
"Saya ke sini karena Amel sangat merindukanmu. Ia terus mention your name and said wanna come to you. So i brought her here to you.''
"Sure, and i love it.''
"Can you help me Peter?''
"Please take care of Amel.''
Peter diam dan tak menyangka dengan ucapan Mey. "What do you mean?''
"I mean please take care of her and let her stay with you. I realize she is happier with you than me.''
"Are you sure?''
"Yes.''
"Then we should ask her. Saya tentu saja mau sekali ia bersama aku di sini.''
"Saya tahu saya seorang ibu yang egois dan tak bisa menjaga Amel dengan baik. Aku terlalu sibuk dengan suamiku dan bayiku. Aku merasa tak mampu menjaganya. Aku tak ingin Amel sedih dan terus merindukan papanya.''
"Jika itu maumu dan Amel setuju, tentu saja aku akan menjaganya di sini bersamaku.''
"Kalau begitu kita akan bicara dengannya besok.''
Peter dan Mey menghentikan obrolan mereka dan masing-masing masuk ke dalam kamar untuk tidur.
---
Keesokan paginya, Mey dan Peter mengajak Amel sarapan pagi dan menikmati lagi suasana pinggir pantai yang menyenangkan. Peter dan Mey memandang Amel yang asik bermain pasir dan mencari siput kecil di pasir.
Mey dan Peter duduk memperhatikan anak kecil yang polos dan murni itu. Dalam hati mereka terdalam, mereka sedikit menyesali keputusan mereka untuk bercerai karena ego masing-masing dan kekuatan cinta yang goyah di antara mereka. Terutama Mey yang masih sering menyesali dan menyalahkan dirinya karena telah berpaling hati dari Peter.
"Amel ... ke sini sayang ....'' ucap Peter.
Amel berlari kecil menuju sang papa dan mamanya yang duduk di atas bangku batang pohon.
"Amel, kamu suka berada di sini sayang?'' tanya sang papa kepadanya.
"Iya aku suka sekali papa.'' Amel tersenyum memperlihatkan pipinya yang merona.
"Kalau Amel tinggal di sini bersama papa, Amel mau?'' tanya Peter lagi.
Amel diam sejenak dan menaikkan bola matanya lalu ia tersenyum dan mengangguk. "Amel mau!"
"Are you sure?''
"Uumm, i think so ....'' jawab Amel masih sedikit ragu.
Mey menimpali, "Amel, kalau kamu tidak yakin, it's okay sayang. Kamu tidak rindu dengan teman-temanmu kah?''
"Umm, i can meet them online through video call.''
Peter dan Mey saling memandang dan mereka mendapatkan jawaban dari sang anak langsung hingga mereka tak kesulitan untuk menentukan langkah selanjutnya.
---
Sementara itu di Bali, Nay juga disibukkan dengan pesanan kamar yang lebih ramai lagi karena menjelang akhir tahun. Ia mencoba menghubungi Peter tapi yang didapatnya hanya tidak ada jawaban sehingga Nay berasumsi Peter mungkin juga sedang sibuk dengan villanya di Anyer.
- Bersambung ke Bab 24 -