
Peter tak percaya dengan apa yang ia dengar dari balik pintu kamar itu. Ia mengetahui kalau Nay diam-diam masuk ke dalam kamar sang tamu yang bernama Leo itu. Dan parahnya lagi mereka melakukan hubungan intim bersama di dalam kamar itu. Betapa marah dan kecewanya Peter dengan tindakan Nay yang mana adalah karyawannya sendiri. Peter seakan dihunus belati dengan tindakan Nay itu. Ia mencoba diam dan menghela nafas panjang, kemudian ia beranjak pergi dari situ.
Peter kembali ke kamarnya dan masih tak habis pikir dengan apa yang diperbuat Nay.
---
Keesokan paginya, Nay bersikap seperti tak terjadi apa-apa. Bahkan saat Leo akan check out dan kembali ke Jakarta. Nay sesekali memberikan kode kepada Leo bahwa ia akan menghubunginya lagi.
Peter yang berdiri tak jauh dari Nay menekukkan wajahnya dan menaruh rasa penasaran kepadanya. "Ahh, kenapa aku kepo sekali?'' gumam Peter dalam hati.
"Nay, bisa bicara sebentar?''
"Ya Pak.''
Nay berjalan mengikuti Peter ke taman samping lobi. Mereka duduk di bangku dan Peter mulai mengambil sebatang rokok di kantong celananya. Ia menyalakan pemantik api dan mulai menghisap rokoknya dengan seksama. Nay menyadari kalau Peter akan bicara yang serius dilihat dari tampang wajahnya yang tak seperti biasa.
"Nay, are you okay with that guy? Is there something you need to talk with me?'' tanya Peter tanpa basa basi panjang.
"Maksud bapak gimana?'' Nay berpura-pura naif.
"Kamu ga ngerti bahasa inggrisnya atau maksud ucapan saya?''
"Saya ga ngerti maksud bapak.''
"Kamu ada hubungan apa dengan pria itu?''
Nay terperanjat dan menduga kalau Peter mengetahui apa yang ia lakukan semalam. Nay mencoba berkilah dan mencari alasan. "Saya hanya kenal saja Pak.''
"Terus terang saya tidak suka dibohongi ya Nay. Kalau hanya sekadar kenal, apa harus sampai sejauh itu dengan yang kamu lakukan di kamarnya semalam?'' Peter memelototi Nay.
"Maaf pak, saya salah karena melakukan hal yang pribadi dengan tamu dan saya tahu itu tak pantas.''
"Kalau kamu bisa jelasin ke saya dengan jujur, saya akan coba telaah dan terjemahkan. Gimana maksudnya? saya ini atasan kamu dan pemilii tempat ini. Kamu harusnya sadar ini sudah peraturan jelas saya ga mau jadikan tempat ini senonoh apalagi dilakukan karyawan saya sendiri. Kamu bikin saya kecewa Nay.''
"Maaf pak. Tamu itu memang punya hubungan khusus dengan saya dan dia menemukan saya di sini. Saya juga tak menyangka ia akan datang ke sini.''
"Lalu ?''
"Dia meminta saya ikut dengannya tapi saya tidak mau. Saya mau di sini saja.''
"Adakah sesuatu yang lain yang kamu sembunyikan dari saya? Saya ga mau kamu menutupi sesuatu yang akan membuat masalah dengan saya dan tempat ini.''
"Tidak Pak.''
Peter meninggalkan Nay begitu saja dan tidak berkata apa-apa. Masih tersisa kekecewaan di hatinya untuk Nay yang telah membohonginya apalagi melanggar etika sebagai karyawan di tempat miliknya. Nay merasa bersalah dan bingung harus berbuat apa selanjutnya. Ia tahu dan sadar dengan tindakan bodohnya bersama Leo.
Beberapa hari berlalu dan Peter masih tak banyak bicara dengan Nay. Mereka hanya bicara seadanya.
Nay mendapatkan panggilan dari Leo dan mereka berkirim pesan.
Bunyi ponsel berdering,
"Aku sudah urus surat dan kartu-kartu penting kamu. Aku nanti akan ke sana lagi dan kita ketemu di sana ya.''
"Tapi ini juga penting kan. Aku mau jemput kamu segera dan kamu bisa kembali ke hidup kamu yang seperti biasa. Kalau kamu ga mau tinggal sama Anton, aku akan carikan kamu tempat sementara.''
"Aku masih mau di sini dulu. Aku juga belum jelasin lagi ke bos aku soal aku. Aku ga mau ninggalin bosku sendiri. Aku belum siap ketemu Anton.''
"Kamu mau menghindar sampai kapan? kamu mau sembunyi terus? sampai kapan kamu akan jadi pengecut seperti ini Nay?''
"Kamu kok ngomong gitu?'' Nay sedikit kesal dengan ucapan Leo yang sangat konstruktif dan tajam.
"Ya aku harus ngomong gini karena aku sangat peduli sama kamu Nay. Aku juga ga mau kamu gantung terus seperti ini. Ini demi kebaikan kamu juga Nay. Please kamu harus pikirkan masalah kamu di depan mata ini. Kamu harus lewati ini dan kamu ga bisa terus menerus sembunyi seperti ini. Kamu sudah dewasa Nay.''
"Iya aku tahu. Tolong kasi aku waktu.''
"Sebaiknya kamu segera kabari aku ya. Aku ada buat kamu.''
"Terimakasih Leo. Aku udah dulu ya. Bye.''
---
Nay tak menyadari kalau Peter diam-diam menguping pembicaraannya dengan Leo. Peter semakin curiga dan tak nyaman dengan Nay yang menutupi masalah pribadinya. Ia sadar ia tak mungkin bisa masuk ke ranah pribadinya terlalu jauh tapi ia tak bisa berhenti menyimpan rasa ingin tahu yang besar terhadap Nay.
Malam harinya, Peter duduk seorang diri di kafe sambil menikmati angin dari pantai yang berhembus sendu. Ia menyeruput secangkir kopi di hadapannya sembari merokok. Sudah belasan puntung rokok berseliweran di asbak dan ia tak menyadari bahwa malam pun semakin larut. Sementara Nay memperhatikannya dari sudut ruangan kafe. Nay tak berani mendekatinya karena ia akan dicecari banyak pertanyaan lagi. Nay seakan merasa lidahnya kaku tak mampu bicara terus terang dengan apa yang ia sembunyikan. Ia masih khawatir jika Peter memintanya pergi.
Peter lalu akhirnya menyadari jika Nay memperhatikannya dari jauh. Peter kemudian beranjak dan menghampiri Nay dengan langkah cepat. Nay perlahan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Tiba-tiba Peter merengkuh tangannya dan menghentikan langkah Nay.
Tatapan wajah yang dingin itu membuat Nay sedikit kaget dan tak tahu dengan maksud Peter yang meraih tangannya seperti itu.
"Apapun yang kamu sedang sembunyikan, tolong jangan buat aku cemas Nay.'' ucap Peter dengan nada datar tapi tegas.
"Maksud bapak gimana?'' jawab Nay bingung.
"Berhentilah pura-pura bodoh Nay. Kamu tahu apa yang aku pikirkan.''
"Sungguh saya tak mengerti maksud bapak. Kenapa pak?''
"Aku cemas sama kamu Nay. Benarkah kamu ada perasaan khusus dengan pria itu?''
"Pak, terimakasih sudah mencemaskan saya tapi saya rasa soal kehidupan pribadi saya, saya ga wajib beritahu semuanya ke bapak.''
"Iya saya tahu ... tapi saya tidak bisa berhenti memikirkan kamu Nay dan saya akui saya ....''
"Kenapa Pak?''
"Saya cemburu dan saya ingin memilikimu Nay!"
Peter langsung meraih wajah Nay dan mengecup bibir Nay dengan cepat. Nay kaget sejadi-jadinya dengan apa yang dilakukan Peter di tangga itu.
Nay pun terbawa perasaan dan larut dalam ciuman hangat dan mesra dari Peter, atasannya.
- Bersambung ke Bab 9 -