
Nay kembali ke Bali.
Hari-hari ia lalui seperti biasa namun hatinya tetap gundah memikirkan Peter. Ia mendadak berubah sejak berada di Jakarta beberapa waktu lalu dan setelah bertemu Amel untuk pertama kalinya. Baginya Amel adalah anak yang manis dan menyenangkan, tapi entah mengapa ia menjadi ragu untuk melangkah. Entah kenapa?
Jun datang mengunjungi Nay.
"Hai, Nay. Lama tak bertemu. Apa kabarmu?'' sapa Jun dari depan gerbang Villa Nayra. Ia membawakan sebotol wine di tangannya dan mengangkatnya sambil mengedipkan matanya.
Nay yang sudah cukup dekat mengenal Jun, langsung mengetahui bahwa Jun sedang dalam good mood dan ingin mengajaknya mengobrol.
"Ayo masuk!"' Nay berseru memanggil Jun untuk masuk dan mempersilakan ia duduk di gazebo tempat biasa mereka duduk dan bercengkrama.
Hari sudah malam dan menunjukkan jam sepuluh malam tapi Nay dan Jun masih asik mengobrol dengan santai.
Mereka menikmati sebotol wine yang sudah hampir habis dan beberapa snack kecil.
"Apa rencanamu selanjutnya dengan Peter, Nay?'' tanya Jun dengan nada agak serius setelah sebelumnya mereka banyak berbicara topik yang santai dan ringan.
"Umm, ....'' Nay menyeringai dan tidak berani berucap kata-kata apapun.
"Come on ... i know you have something in your mind. I can see it in your eyes. Kita sudah saling kenal beberapa bulan ini dan kita sudah dekat. You can tell me if you want, maybe i can help you.''
Nay tersenyum kecil dan mengisi lagi gelasnya dengan wine dari botol. Namun botol itu sudah kosong dan sudah habis mereka tenggak sedikit demi sedikit. Muka kedua orang itu mulai memerah dan Nay tampak makin oleng. Begitupun dengan Jun yang mulai mabuk dan tak bisa berbicara dengan jelas. Ia berkata-kata dengan bahasa Jepang dan dicampur dengan bahasa inggris serta indonesia yang diaduk-aduk tak jelas.
"Jun, kamu ngomong apa? aku ga ngerti.'' ucap Nay yang makin mabuk. Nay tak menyadari ponselnya berdering dan mendapatkan panggilan dari Peter.
Jun melompat dari duduknya dan melakukan sedikit gerakan stretching pada badannya. Ia berteriak sedikit kencang. "Subarashii!"
Nay tersenyum dan menghampirinya.
Tanpa sadar mereka berdua menari bersama di bawah terang bulan di atas langit. Mereka tertawa bahagia seakan tak ada hari esok. Nay bahkan lupa kalau sekarang ia memiliki seorang kekasih di Anyer.
---
Keesokan paginya Nay bangun dengan sekujur tubuhnya terasa pegal. Salah satu karyawannya memanggil dari luar kamar.
Nay membuka pintu kamar dengan rambut masih berantakan. "Ada apa Mbak Putu?''
"Maaf mengganggu Bu Nayra. Ada tamu di depan tapi orangnya ingin meminta beberapa bantuan. Bisa tolong ke depan Bu?''
Nayra merapikan rambutnya dan segera pergi ke lobi untuk mencari tahu.
Tampak di depan lobi ada sepasang suami istri paru baya sekitar umur lima puluh tahunan berdiri dengan sebuah koper.
"Selamat pagi Ibu, bapak ... bisa dibantu?'' sapa Nay.
"Selamat pagi mbak. Umm, ini ... saya kan udah booking di travelique atas nama Kusuma Hardi. Tapi waktu itu saya lupa saya sempat kehapus dan karena jaringan internet pas lagi error, sepertinya bookingan saya tidak ada di sini. Apa bisa saya booking ulang?'' kata si bapak tamu.
"Ohh, bisa aja kok pak. Coba saya cek ya. Kamar kami masih ada yang kosong sih.''
Selagi Nay mengecek data di komputer, Mbak Putu menyela dan mengatakan bahwa semua kamar sudah penuh karena siang nanti akan diisi oleh beberapa tamu dari Jakarta.
Nay mencoba mengecek lagi dan lalu menyarankan agar pasangan itu menginap di Villa milik Jun yang terletak di sebelah Villa Nayra.
"Bagaimana kalau bapak dan ibu menginap di Villa sebelah ibu? itu milik teman saya juga. Villanya juga sangat bagus dan pasti bapak ibu suka juga.'' Nay dengan berat hati menawarkan villa milik Jun.
"Tapi saya dapat rekomendasi di sini dari salah satu teman saya yang pernah menginap di sini. Katanya viewnya bagus sekali.''
"Baiklah kalau begitu, atas saran mbak saya akan ke villa sebelah.'' ucap pasangan itu.
"Kalau begitu mari saya antarkan ke sana pak, ibu ....'' ucap Nay.
Nay lalu mengantarkan pasangan suami istri itu ke villa milik Jun.
---
Sorenya, Jun datang ke villa Nay dan menengok ke dalam villa dan ternyata di villa itu sudah tampak banyak tamu yang mulai berdatangan.
Jun menyapa Nay yang sedang sibuk melayani para tamu. Jun melambaikan tangannya dari luar lobi.
Nay menyapanya kembali dengan juga melambaikan tangan ke Jun dan memberikan isyarat untuk menunggu sebentar.
Selang beberapa menit kemudian, Nay menghampiri Jun.
"Nay, tamumu banyak juga ya?'' sapa Jun.
"Iya rejeki nih.'' Nay tertawa kecil.
''Anyway aku mau say thank you ya. Kata karyawan aku, kamu ada tamu yang dikasi ke aku. Tadi pagi aku lagi keluar belanja perabotan jadi tidak tahu kamu datang.''
"It's okay. ngomong-ngomong kamu rapi sekali. Mau pergi ya?''
"Umm, iya aku ke sini mau ajak kamu dinner ke suatu tempat. Gimana bisa?'' ajak Jun.
"Dalam rangka apa nih?'' tanya Nay balik.
"Just wanna say thank you and just want to spend a night with fine dinner with you.''
'Umm, kamu mau ngajak aku kencankah?'' Nay dan Jun sama-sama tertawa.
"Yes, anggap saja begitu. Ayo?'' ajak Jun lagi.
"Okay, okay ... wait here. I will be ready in a minute.''
---
Sementara itu Peter masih terus mencoba menghubungi Nay tapi Nay tidak banyak merespon. Nay seakan bersikap acuh pada Peter dan hal itu membuat Peter menjadi gusar dan gelisah seakan Nay telah membuangnya.
Di sebuah kafe yang berjarak cukup jauh dari villa, Jun mengajak Nay makan masakan jepang yang populer di tempat itu.
Jun lalu memancing Nay untuk menceritakan soal hubungannya dengan Peter. Ia masih penasaran dengan persoalan asmara Nay dan Peter.
"Jadi, gimana dengan pertanyaan aku sebelumnya? soal kamu dan Peter. Apa kalian akan menikah?'' tanya Jun.
"Kamu masih mau mencari tahu soal itu Jun?''
"Iya, aku mau tahu aja gimana dengan hubungan kalian? apalagi kamu sudah sangat matang untuk menikah lagi kan? dan dia juga sebaya denganku.''
Nay menenggak minuman di depannya dan meletakkan sumpit di tangannya. Nay akhirnya mencoba terbuka pada Jun dan berharap ia bisa mendapatkan masukan dari Jun.
- Bersambung ke Bab 27 -