Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 22 - Cemburu tak beralasan



Nay menanyakan perihal foto wanita lain yang ada di ponselnya.


"Ayo Nay, kita balik ke villa. Udah malam.''


"Mas, siapa wanita yang ada di foto di HP mu itu? sepertinya kalian berfoto di villa?''


Peter diam sejenak mencoba berpikir dan mengingat. "Ohhh, itu Rose. Dia lawyer dan nginap di villa sama rombongannya belum lama ini.''


"Nginap di villa? tapi kok sepertinya kalian udah kenal lama? sampai dia bilang rindu gitu?''


"Kamu baca chat aku?'' Peter sedikit kesal.


"Kok mas kesal?''


Peter mengambil paksa HP nya dari genggaman Nay. Ia membaca pesan itu sebentar dan lalu mengajak Nay kembali dan menyelesaikan pembicaraan itu. Sementara Nay masih kecewa dengan sikap tertutup Peter yang sepele itu tapi harus marah. Seketika mood keduanya pun langsung buyar. Tadinya mereka bersenang-senang dan berbahagia karena lamaran yang romantis, tiba-tiba berubah hanya karena gara-gara chat dari seorang wanita. Nay mencoba bersabar dan diam sampai Peter mau membahas tentang wanita itu.


Sampai di Villa Nayra, Peter duduk di taman di depan villa sambil merokok. Ia merasa menyesal telah bersikap kurang menyenangkan pada Nayra. Nayra sendiri sudah masuk ke kamarnya dan mencoba tidur. Nayra tak begitu peduli dengan Peter yang telah bersikap seperti itu padanya.


"Bunyi ponsel Peter berdering"


Rose menelepon Peter dan Peter menerima panggilan itu.


"Halo?'' sapa Peter dengan nada pelan.


"Halo mas Peter selamat malam. Aku ganggu tidak?''


"Umm, sebenarnya sih udah mau tidur. Gimana Mbak?''


"Umm, chat saya tidak dibalas, jadi saya bertanya-tanya kalau Mas tidak nyaman dengan isi chat saya. Saya minta maaf kalau kurang berkenan. Mas abaikan saja ya.''


Peter diam sejenak lalu menjawab dengan bijak, "Umm, terimakasih mbak sudah punya perasaan sama saya. Saya tidak tahu sedalam apa perasaan mbak ke saya, tapi maaf saya tidak bisa membalas perasaan mbak.''


"Kenapa mas?''


"Saya, saya sudah punya seseorang saat ini. Jadi, saya harap mbak ga lebih jauh lagi. Saya akan hargai jika mbak hanya berteman saja.''


"Umm, maaf mas. Kalau boleh tahu, mas sudah punya pacar lagi? dan di mana dia?''


"Saya sedang bersamanya sekarang di luar kota. Jadi saya minta maaf saya tidak bisa membalas mbak.''


"Maafkan saya. Saya harap dan doakan mas dan mbaknya bahagia ya."


"Iya makasih mbak. Selamat malam.'' kata Peter menutup pembicaraan lalu ia masuk ke dalam kamar dan menemui Nayra.


---


Di kamar Nayra, Peter duduk di sampingnya di tempat tidur dan mengusap wajahnya yang sedang tertidur. Peter merasa bersalah dan ingin meminta maaf tapi Nayra sudah terlanjur tidur.


Peter pun merebahkan tubuhnya dan mendekap Nayra di pelukannya.


---


Keesokan paginya, Nayra sudah bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan untuk Peter yang masih tidur di kamar. Mas Eko yang sudah beres-beres menghampiri Nay.


"Bu Nayra, ada tamu bu di depan.''


"Oh siapa?''


"Biasa bu, Mr. Jun ....''


Nayra lalu membereskan piring dan makanan di meja lalu keluar menemui Jun.


"Hai, morning Mr. Jun ....'' sapa Nay kembali.


"Do you want to do some walk with me now?'' tanya Jun.


"Umm, sorry Mr. Jun. I don't think i am able right now. I have my guest now.''


"Ohh, ya ya sorry. That man is still here ya. Okay, i will go first. See you!''


"See you.'' balas Nay melambaikan tangannya dan tersenyum pada Jun.


Peter menghampiri Nay dan melihat Nay baru saja bersapa ria dengan pria yang sebelumnya ia lihat, yaitu pemilik villa sebelah.


"Umm, sepertinya kamu cukup akrab sama dia ya?'' kata Peter yang berdiri di belakang Nay.


"Ohh, iya seperti yang aku bilang sebelumnya Mas. Dia memang baik dan kami akrab.''


"Setahu aku expatriat Jepang tak bisa langsung dekat dengan orang lokal seperti kita kan?'' tanya Peter antusias.


"Iya tapi dia beda, dia memang awalnya tidak seperti ini. Seiring waktu kami cukup akrab.''


Peter memasang ekspresi wajah tidak suka dan mengangkat alisnya. Ia menatap Nay dan seakan ingin mengatakan padanya, "Jangan buat aku cemburu dengan dekat pria itu.''


Namun Peter hanya diam dan membiarkan Nay pergi masuk ke dalam.


Peter dan Nay sarapan nasi goreng dan jus jeruk di meja makan.


Nay membuka suaranya dan tampak tak begitu sebahagia waktu dia dilamar semalam.


"Kamu tidurnya nyenyak semalam, mas?'' tanya Nay sembari menyantap nasi goreng.


"Umm, iya aku nyenyak. Kamu gimana sayang?''


"Aku lumayan sih. Umm, gimana rencana kita hari ini? kamu mau aku ajak kemana?''


"Terserah kamu aja ke mana. Aku ikut aja selama bersama kamu.''


"Mas, terus terang hatiku masih ada sedikit ganjalan soal semalam. Apa mas tidak merasa perlu menjelaskan ke aku lebih jauh soal wanita itu?''


Nay memandang tajam ke Peter dan berharap Peter akan memberitahunya lebih.


"Rose itu aku kenal di pesawat waktu aku kembali dari Malaysia. Dan ternyata kami kebetulan ketemu lagi waktu dia dan rombongannya menginap di villa aku. Iya, aku juga tidak menyangka dia akan ke villa. Aku akui dia memang baru-baru ini mengungkapkan kalau dia rindu sama aku. Tapi aku juga tidak tahu seberapa jauh perasaan dia. Aku hanya bersikap wajar dan tidak ada apa-apa antara aku dan dia. Itu saja. Kamu harusnya mengerti itu dan tidak cemburu begitu saja. Kamu salah paham sama aku, Nay.''


"Lalu apa dia masih menghubungi kamu? kenapa kamu kesal waktu aku buka ponselmu? bukankah kamu baru saja melamar aku? dan bukannya artinya kita akan melangkah ke yang lebih jauh? artinya kita harus sama-sama terbuka kan?''


"Aku tahu aku salah. Aku sudah kasar sama kamu. Aku hanya khawatir aja kamu tahu lebih jauh soal pribadi aku. Aku minta maaf karena aku berlebihan sama kamu. Aku benar-benar minta maaf.''


Peter meraih tangan Nay dan menggenggamnya erat.


"Iya mas, aku juga minta maaf karena aku terlalu cemburu. Aku hanya takut kita berpisah. Long distance ini sudah cukup membuat aku resah tapi aku tidak mau ada pihak ke tiga juga hadir di tengah-tengah hubungan kita.''


"Percayalah padaku Nay. Aku hanya mencintaimu seorang.''


"Iya Mas, mas juga harus percaya sama aku juga sebagaimana aku percaya sama mas.''


---


Keesokannya, Peter harus berpisah dengan Nay dan kembali ke Anyer. Betapa sedihnya Nay karena harus berpisah lagi dengan Peter. Ia masih merindukan Peter dan tak ingin cepat berpisah. Namun inilah yang harus mereka jalani, karena sudah keputusan Nay untuk pindah ke Bali.


- Bersambung ke Bab 23 -