Memories Of Anyer

Memories Of Anyer
Bab 29 - Putus atau terus?



Jun menyapa Nay yang baru tiba di Villa.


"Hai, Nay ... dari mana saja?'' sapa Jun sambil tersenyum membawakan sebotol wine seperti biasa.


Nay yang sudah kenal Jun, langsung tahu bahwa Jun pasti ingin mengajaknya bertukar pikiran seperti biasa.


Sambil memandang bintang di langit malam itu, Nay dan Jun menikmati wine dan Jun mulai membuka pembicaraan.


"Nay, aku mau cerai dengan istriku.'' Jun membuka ucapan yang cukup mengejutkan.


"Why?'' tanya Nay sedikit kaget.


"You know, we are far away and we feel we can't do this again.'' Jun menenggak sedikit demi sedikit wine di gelasnya. Nay bisa melihat wajahnya yang datar itu tidak bisa menutupi kegelisahan dalam dirinya.


"Apa kamu sudah pikirkan harus bagaimana selanjutnya?''


"Aku bingung.''


Nay diam dan tak berkomentar sejenak.


Jun melanjutkan ceritanya.


"Aku mengajaknya ke sini dan tinggal di sini memulai hidup baru kami, tapi dia tak mau. Dia masih tak bisa lepas dari kekuasaan orang tuanya di sana. Dia punya keluarga yang hebat dan aku tak bisa mengimbangi diriku.''


"Kamu jangan merendah Jun.''


"That's the fact. Sejak aku kehilangan pekerjaan beberapa tahun lalu, aku kalut dan aku ke sini menjalani villa yang aku beli sejak sebelum aku menikah. Dan dia marah karena aku hanya lari dari kenyataan. Makanya dia kecewa sama aku dan ingin bercerai.''


"Boleh saya kasi saran?''


"Gimana?''


"Kenapa kamu tidak kembali ke Jepang? berkumpul bersama keluargamu di sana saja karena anakmu pasti membutuhkanmu juga kan? Apa artinya bahagia jika tak dekat dengan keluargamu Jun?''


"Aku tidak mau kembali ke sana. Aku tak bisa menghadapi sikap mertuaku yang sering merendahkanku.''


"Tunjukkan kepada mereka bahwa kamu tidak seperti itu. Kamu hanya sedang mengalami keterpurukan saja saat ini. Tapi aku yakin kamu akan baik-baik saja dan kembali seperti biasa dengan keluargamu.''


"Menurutmu aku bisa seperti dulu lagi?''


"Bisa. Jika kamu memang berniat ke sesuatu yang lebih baik demi keluargamu, Jun.''


Jun menenggak kembali wine di gelasnya dan menatap ke atas langit sambil tersenyum.


 


Dua bulan berlalu, hubungan Nay dan Peter masih sering diselimuti komunikasi dan rasa yang makin hambar di antara keduanya. Sampai suatu saat Nay harus pergi ke Jakarta untuk menjenguk orangtuanya dan menemui Peter di Anyer.


Sementara itu Peter masih seperti biasa menjalani hari-harinya di Anyer bersama Amel. Memang sejak Amel tinggal bersamanya, Peter lebih banyak menghabiskan waktu bersama putri semata wayangnya itu.


Nay menyempatkan diri untuk mengunjungi Peter dan Amel di Villa Camelia tanpa mengabari sebelumnya. Hal itu ia lakukan untuk memberikan kejutan kepada Peter. Jujur di dalam hatinya, ia sangat merindukan Peter.


 


Sebuah mobil SUV berwarna hitam melaju lebih cepat dan masuk ke halaman depan villa. Nay menyadari mobil itu hampir menyerobot mobilnya yang juga ingin masuk ke Villa. Dengan hati yang sedikit kesal, Nay bermaksud mencari tahu siapa pengemudi mobil yang tidak beretika itu. Saat mobil itu telah memarkir mobilnya dan begitu juga mobil Nay yang parkir tak jauh dari mobil itu, seorang wanita cantik berambut pendek dan berpenampilan elegan, keluar dari mobil itu. Nay ingin sekali menegur wanita itu tapi ia tak menyangka dengan apa yang ia lihat.


"Hai, Amel ...!" sahut wanita itu ke arah Amel yang berdiri di depan lobi.


Dalam hati Nay berpikir siapakah wanita ini yang tampak akrab dengan putri sang kekasih.


Tak lama kemudian, Peter datang dan menghampiri Amel dan wanita itu. Sementara itu Nay berdiri di depan mobilnya sambil memperhatikan mereka dari jauh. Peter yang menyadari keberadaan Nay, tampak sedikit kaget dan langsung menghampirinya.


"Nay ... kamu datang. Kamu kenapa ga kabari aku?'' sapa Peter tampak senang menyambut Nay.


"Umm, maaf aku ga kabari. Aku hanya mau kasi kamu kejutan. Kamu sama Amel gimana? kalian baik-baik saja?''


"Iya, kami baru saja akan makan siang. Ayo, kita makan dulu.'' ajak Peter menggenggam tangan Nay.


Wanita itu melihat Peter dan tampak tak begitu senang.


"Mbak Rose, kenalin ini Nayra. Nayra kenalin ini Rose Darmawan.'' Peter memperkenalkan keduanya dan Nay pun menjabat tangan wanita yang bernama Rose itu.


 


Mereka berempat makan siang bersama di kafe dan situasi tampak sedikit canggung bagi Nay dan Rose. Dikarenakan mereka sama-sama wanita, jadi mereka bisa merasakan satu sama lain bahwa mereka menaruh perasaan pada pria yang sama yaitu Peter yang sedang duduk di hadapan mereka. Diam-diam Nay memperhatikan gerak-gerik Rose yang tampak ingin menebar pesona dan menarik perhatian Peter, walau Peter tak menyadari betul sikap Rose itu.


"Jadi Mbak Rose ini seorang lawyer sekaligus punya bisnis travel, Nay. Beliau ini banyak sekali ngaturin trip dan nginap di Villa ini, Nay. Aku berterimakasih sama Mbak Rose ini.'' ucap Peter di sela-sela makan siang bersama.


"Iya sama sama Mas Peter. Kan kita partner sekarang. Bisnis mah saya hayo aja.'' balas Rose dengan wajah sumringah di depan Amel dan Peter.


Nay hanya tersenyum kecil dan mengangguk merespon ucapan Peter.


"Mbak Nay ini kerja atau usaha sendiri mbak?'' tanya Rose.


"Saya usaha kecil aja mbak di luar kota.'' Nay tampak memberi batas pada ucapannya tak ingin membuka lebar kehidupannya pada Rose.


"Nay ini juga punya Villa di Bali, Mbak Rose.'' timpal Peter.


"Tante Nay, bolehkah Amel ke sana? Amel ingin sekali ke Bali lagi.'' ucap Amel dengan polosnya.


"Tentu saja gadis cantik.'' Nay mengelus rambut Amel dengan lembut.


Rose tampak merasa sedikit tersaingi dan tak ingin kalah.


Sementara Nay mencoba bersikap kalem dan santai menikmati sikap Rose yang seperti wanita muda genit.


---


Rose kembali ke Jakarta sore itu dan pamit kepada Peter dan Amel serta Nay. Ia akhirnya mengetahui kalau Nay adalah kekasih Peter selama ini tapi ia tak ingin menyerah dan tetap berusaha mendapatkan Peter.


---


Hari sudah malam dan Amel tidur di kamarnya. Nay dan Peter duduk menikmati secangkir kopi dan sepiring jagung rebus.


"Mas, mas enggak kangen sama aku selama ini?'' tanya Nay.


"Pertanyaan bodoh banget Nay.'' Peter menjawab dengan tatapan yang cuek.


Nay memandang wajah Peter dengan ekspresi serius. "Mas, apa menurutmu kita bisa teruskan hubungan kita ini?''


"Apalagi ini? makin malam makin ngaco kamu deh.'' tatap Peter mulai gelisah.


"Mas, kita akhiri saja hubungan ini ...'' ucap Nay sedikit gugup.


---



Bersambung ke Bab 30 -