
Keesokan paginya, saat terbangun Nay menyadari kalau Anton semalam pergi lagi dan tak kembali ke rumah. Ia tahu kalau Anton bisa seenaknya pergi dan ke mana saja.
Nay mencoba menghubungi Anton via telpon tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Kamu di mana?'' tanya Nay di chat.
Beberapa menit kemudian baru ada jawaban dari Anton yang mengabari kalau ia ada urusan dan langsung ke kantor.
"Nanti malam kita bicara lagi.''
"Oke kalau begitu.''
Nay bersiap-siap berangkat ke kantor dan melanjutkan banyak pekerjaan tertunda selama ia tak ada.
Di kantor ia membuat kaget banyak karyawan yang tak mengetahui keberadaannya selama hampir dua minggu belakangan.
"Ibu ke mana aja? kata Pak Anton ibu lagi ke luar negeri dan ga bisa diganggu. Pantesan kami telpon dan chat ibu ga ada respon sama sekali. Ibu sehat ya bu?'' tanya sekretaris yang bernama Ana.
"Oh, saya ada keperluan aja. Semuanya baik-baik saja kan?'' tanya Nay balik dengan ekspresi datar. Ia mengetahui setelah ini, ia takkan bisa meneruskan bisnis ini karena akan diambil alih sepenuhnya oleh sang suami.
"Umm, Bu, ngomong-ngomong ... saya dengar sedikit dari Bapak Anton, kalau nanti ada rapat pemegang saham ya besok? Ibu sudah tahu ada masalah apa bu?''
"RPS? Umm, brengsek. Ternyata dia gerak cepat juga ya?'' Nay mengumpat dengan suara pelan.
"Gimana bu?'' tanya Ana yang tak begitu jelas mendengar ucapan Nay.
"Ga apa-apa. Kamu ikutin aja kata bapak. Siapin aja buat besok. Ada laporan apa lagi yang harus saya bereskan Ana?''
"Ini bu ....'' Ana menyodorkan beberapa map file untuk diperiksa oleh Nay dan beberapa di antaranya perlu konfirmasi dari Nay selaku Direktur yang masih berwenang di sana.
Sampai malam jam tujuh, Nay masih di kantor dan menyelesaikan beberapa pekerjaan dan membereskan project yang sempat ia tinggal. Tiba-tiba dia mendapat pesan chat dari Peter.
"Apa kabar Nay?'' sapa Peter.
Nay bingung harus menjawab apa dan hanya mendiamkannya sejenak.
"Saya lagi di Jakarta. Apa bisa bertemu?''
Sambung Peter lagi meneruskan chatnya tapi tetap tidak ada respon dari Nay.
Nay berusaha meredam perasaannya kepada Peter. Ia tahu apa yang ia lakukan bersama Peter sudah salah di tengah kemelut rumah tangganya bersama Anton. Dan ia harus berusaha menjaga agar ia tak melewati batas lagi untuk ke sekian kalinya. Dan akhirnya Nay mengacuhkan pesan itu dan kembali pulang ke rumahnya. Namun sebelum pulang ke rumah, ia pergi ke sebuah bar langganannya yang cukup ekslusif di kawasan PIK.
Jam 22.30 tak terasa sudah dua jam lebih Nay berada di bar itu dan minum sendirian. Pikirannya agak kacau karena memikirkan Anton dan perceraiannya di depan mata.
Selagi asik minum dengan pikiran mulai meracau, Peter menelponnya dan membuat Nay mulai kehilangan akal sehatnya lagi.
Nay menerima panggilan itu dan menyapanya.
"Halo Pak Peter ... apakabar?'' sapa Nay dengan suara yang menunjukkan ia mabuk.
"Kamu mabuk? kamu di mana Nay?'' tanya Peter cemas.
"Saya ... di mana ya? Umm?''
"Nay, kamu di mana?'' tanya Peter lagi mendesak.
"Saya di Blue Memories, tempat favorit saya Pak. Ayo ke sini aja Pak. Heehehe ....'' Nay makin tak sadar dengan ucapannya.
"Di mana itu?''
Nay lalu tiba-tiba tak sadar dan menjatuhkan handphone yang dipegangnya di meja dan ia pun tiba-tiba tak sadarkan diri karena mabuk terlalu berlebihan.
"Halo ... halo ?'' Peter masih di dalam panggilan itu.
"Halo ... ini kakaknya ga sadarin diri, mabuk nih.'' ucap seorang bartender di depan Nay mengambil alih pembicaraan.
"Ini di mana ya Mas?''
"Oh, Oke saya ke sana. Tolong jagain Mbak nya dulu ya Mas. Thank you.''
"Oke Mas.''
---
Peter bergegas menemui Nay di Bar Blue Memories dengan tergopoh-gopoh dan melihat Nay masih duduk tertidur di atas corner bartender.
Peter membangunkan Nay tapi ia terlanjur mabuk parah hingga akhirnya Peter membawanya keluar dan mencari kunci mobil atau apapun yang ada di tasnya, tapi ternyata Nay tidak membawa mobil. Dan Peter pun memutuskan untuk membawanya ke sebuah hotel terdekat agar ia bisa beristirahat.
Tanpa mengetahui alasan Nay mabuk dan bagaimana yang ia lalui beberapa hari sejak mereka berpisah, Peter nekad untuk membawanya ke hotel dan membiarkan ia di sana. Peter ingin sekali pergi dan meninggalkannya tapi ia tak sanggup membiarkan Nay seorang diri. Peter pun menemaninya di hotel dan tidur di sofa samping tempat tidur.
---
Keesokan harinya, Nay bangun dan melihat sosok Peter ada di sofa dan sedang tidur pulas. Nay mengingat-ingat lagi kejadian semalam hingga ia bisa ada di hotel dan bersama Peter. Nay kesulitan mengingat, tapi yang ia ingat secara pasti adalah yang terakhir ia menerima panggilan dari Peter.
UUUUUMMMMM .... Peter bangun dan membuka matanya.
Nay terkejut melihat Peter dan suasana pun menjadi awkward seketika.
"Kamu sudah bangun?'' sapa Peter.
"Hhmm, Pak gimana ceritanya kita bisa ke sini ya?'' Nay mencoba mengumpulkan lagi ingatannya semalam dan mencoba "mengumpulkan nyawanya".
Peter tertawa kecil dan berdiri lalu berjalan ke arah pantry mengambil dua botol minuman air mineral untuknya dan Nay.
"Ini.'' Peter memberikan sebuah botol air mineral ke Nay.
"Thanks Pak.''
"Maaf aku tiba-tiba menghubungi kamu tanpa janji terlebih dahulu.''
"Ada apa pak? bapak lagi ada urusan di Jakarta?'' tanya Nay sembari menenggak air mineral ke mulutnya sampai setengah botol.
"Tiba-tiba saya kepikiran kamu aja dan saya terus terang masih penasaran sama kamu Nay.''
"Kenapa pak?''
"Kalau saya lihat dari penampilan kamu, saya jadi menyimpulkan kamu bukan asli orang Cilegon dan tidak terlihat seperti orang yang sedang mencari kerja. Malah kamu seperti seorang atasan sebuah perusahaan. Betul?'' tanya Peter melempar senyum dengan seribu pertanyaan yang ingin sekali ia gelontorkan ke Nay.
Nay menyadari penampilannya memang tidak seperti Nay yang Peter kenal. Seorang karyawan yang putus asa mencari kerja serabutan.
"Hhhmm, iya saya minta maaf karena sudah banyak menutupi kebenaran soal saya sendiri. Saya tahu saya sudah menipu Bapak Peter. Saya memang keterlaluan.'' Nay menundukkan kepalanya.
"Nay, i miss you so much.''
???!!!!!
Nay kaget mendengar ucapan Peter yang tiba-tiba dan mendekatinya ke tempat tidur.
Nay menjadi salah tingkah dan mencoba menghindar tapi Peter bergerak dengan cepat dan duduk di sampingnya. Peter mencoba mencium Nay.
"Pak!!!!"
Nay menahan tindakan Peter.
"Pak, bapak tahu kan apa yang sedang saya alami sekarang?saya tidak bisa campur adukkan perasaan saya saat ini. Saya tidak mungkin tambah menyakiti bapak kan. Maafkan saya Pak.'' Nay memegang lengan Peter dan mencoba menolak gelagat Peter.
"Nay, apa yang harus saya lakukan jika saya sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu?''
..............
..............
- Bersambung ke Bab 14 -