Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
Journey to Nightshade - Talk to Nightshade




Talk to Nightshade


“KAMU YAKIN?” TANYA Miss Grewyinn sekali lagi.


Elle mengangguk dengan pasti. Hal itu justru membuat sang guru lebih cemas.


“Tapi aku lihat ... itu bunga yang tepat.” Sekali lagi Miss Grewyinn memancarkan sinar mata hijaunya. “Unsur penawar racun dari wolfbanes  jelas terdapat dalam tanaman ini.”


Adniel menyenggol Elle dengan bahunya. Membuat gadis itu hampir tersuruk andai tidak segera berpegangan pada bebatuan sisi gua.


“Apa yang diucapkan oleh bunga ini tidak begitu jelas. Dia hanya seperti bernyanyi.” Elle berkata lirih.


“Maksudmu?” tanya Miss Grewyinn penasaran yang ternyata mendengarnya.


Elle menatap gurunya dengan pandangan pasrah. “Maaf, Miss. Hanya saja ini bahasa baru. Aku belum pernah berkomunikasi dengan nightshade sebelumnya. Beri aku waktu sebentar.”


Elf cantik itu akhirnya bergeser ke samping Adniel. Dia memberikan jalan bagi murid perempuannya. Elle memusatkan perhatian. Ia berjongkok di depan sesemakan dan menajamkan pendengaran.


Berbicara dengan tanaman tidak sama seperti dengan hewan. Saat berhadapan dengan hewan, yang harus diutamakan adalah jaga kontak mata dan dapatkan kepercayaan. Sementara tanaman, rasakan dengan sentuhan.


Pesan dari mentornya kembali terngiang. Elle mengatur napas. Kembali ia memusatkan konsentrasi. Yang terdengar masihlah berupa nyanyian. Bukan lullaby. Hanya sebuah nada yang sarat kesedihan. Perlahan, ia ulurkan tangan untuk menyentuh daun berjari tiga itu.


Tahan! Siapa kau?


Akhirnya ada sebuah nada yang lebih jelas. Elle tersenyum.


Hai, aku Elle. Murid dari Maple High School Academy. Bolehkah aku menyentuhmu?


Adniel dan Miss Grewyinn berjengit kaget. Keduanya segera menutup telinga mereka dan saling pandang. Gadis remaja di depan mereka baru saja bernyanyi dengan suara yang tinggi.


Berhentilah! Dan kau tidak perlu berbicara menggunakan bahasaku. Lihat kedua temanmu.


Elle menengok ke belakang. Ia terheran-heran melihat guru dan temannya menutup telinga.


Kenapa mereka seperti itu? tanya gadis itu.


Karena kau mengikuti bahasaku.


Elle terperangah, ia segera menutup mulutnya, kemudian bernapas melalui mulut. Setelah helaan kelima, barulah ia membuka mulut. Gadis itu segera menghampiri kedua teman seperjalannnya.


“Maafkan aku,” ujar gadis berkacamata itu.


Pelan-pelan, Adniel dan Miss Grewyinn menurunkan kedua tangannya dari telinga.


“Apa yang baru saja kau lakukan?” sungut Adniel tak percaya.


“Kau tidak apa-apa?” Miss Grewyinn lebih mengkhawatirkan murid perempuannya.


Elle menyatukan kedua telapak tangan di depan dada, lalu memasang wajah bersalah. “Aku minta maaf. Tidak kukira akan seperti itu.”


Tak peduli dengan permintaan maaf muridnya, Miss Grewyinn meminta penjelasan. “Ada apa sebenarnya? Dan kenapa kau bernyanyi dengan suara melengking begitu?”


“Aku tidak—“ Elle menghentikan kalimatnya. Ia berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh gurunya. Suara lengkingan tinggi. Bernyanyi. Bahasa bunga.


Matanya membulat saat berhasil menyimpulkan. Gadis itu mencengkeram pergelangan gurunya. “Miss, kita punya masalah.” Elle berkata kalut.


Guru berambut hitam legam itu mendesah pelan. Ia menatap muridnya dengan lembut. “Nak, kita memang sedang dalam masalah. Satu-satunya pemecahan masalah adalah kita bisa memetik buah nightshade sesegera mungkin.”


“Bukan itu.” Elle berusaha meyakinkan gurunya. “Ada hal lain.”


Miss Gerewynn memandang Elle yang tampak kalut. Ia akhirnya bertanya, “Apa masalah yang harus kita hadapi ini, selain dari tiga siswa yang menunggu penawar racun?”


“Kita tidak bisa memetik buah itu sembarangan. Di sana ada dua jenis buah, berwarna merah dan ungu. Dan saat yang tepat adalah ketika bulan bersinar tepat di atasnya.”


“Ya,” kata Miss Grewyinn, “Itu hal yang sudah diketahui oleh semua ahli obat-obatan. Lalu di mana masalahnya?”


“Apa Miss Grewyinn tahu buah mana yang mengandung penawar racun yang tepat?”


Seketika guru cantik itu menutup mata. Ia mencoba mengingat lagi hal yang sudah lama ia pelajari. “Buah yang mendapat sinar bulan purnama adalah buah yang tepat sebagai penawar racun.”


Mata Elle berbinar mendapat informasi itu. “Sayangnya, posisi sesemakan itu bukan di dekat rawa seperti perkiraan kita.”


Seakan menyadari maksud dari perkataan muridnya, mata Miss Grewyinn membulat sempurna. Bahkan berkilat kehijauan. “Astaga! Sinar bulan purnama tidak tepat menyinari buah nightshade di tengah malam.”


Elle mendesah lega karena akhirnya sang guru menyadari maksudnya.


“Bagaimana kau menyadari hal itu?” tanya Adniel penasaran. Ia sedari tadi hanya memperhatikan tanpa bersuara.


“Bayangan.” Jari Elle menunjuk ke arah pintu gua. “Bayangan pepohonan tepat jatuh ke sana. Itu artinya sinar bulan ada datang dari arah barat daya. Kalo kita ikuti pergerakan bayangan, sinar bulan tidak tepat menyinari buah nightshade di tengah malam.”


Mulut Adniel membentuk O sempurna. Ia akhirnya memahami semua yang terjadi. “Artinya kita masih punya waktu, bukan?”


Elle menatap Adniel prihatin. “Sayangnya kita tidak tahu kapan waktu yang tepat dan buah mana yang tepat.”


“Bukankah kau bisa berkomunikasi dengan mereka?” Adniel berusaha memberikan solusi yang disambut dengkusan Elle.


Ketiga orang itu akhirnya terdiam. Suasana hening di Blackcave sama sekali tidak membuat ketiganya merasa terancam. Ada aura hangat yang menyelimuti mereka.


“Tidak adakah penangkal untuk suara lengkingan itu?” Adniel bertanya setelah ia bolak-balik beberapa kali di pintu gua. “Setidaknya mengurangi efek sakit telinga.”


Elle tersenyum mendengar usul dari Adniel. Ia menjentikkan jari. “Kita bisa membuat penyumbat telinga. Adniel, bukankah kemampuanmu telekinesis?” tanya Elle yang langsung diangguki oleh Adniel.


“Bisakah kau bawakan jenis barang yang kuminta kemari?”


“Tergantung, seberapa berat barang yang kau inginkan.”


“Tak berat. Justru ini sangat ringan.”


Adniel mengangkat bahunya. “Oke, kita coba saja.”


“Bagaimana caranya? Apakah kau harus melihat objeknya dulu?” Elle kembali memastikan.


Adniel tersenyum miring. “Jangan meremehkan. Aku sudah naik tingkat. Cukup dengan memikirkannya saja, aku bisa—“


“Oke, aku paham. Bersiaplah. Yang perlu kau bawa kemari adalah kapas.”


Adniel melongo dan memandang Elle tak percaya. “Elle, sepertinya kau salah paham. Aku memang bisa menggerakkan barang meskipun dengan pikiranku, tapi kalau sejauh jarak dari sekolah ke sini, aku belum sanggup.”


Elle tersenyum. “Siapa yang meminta kau membawanya dari Academy. Aku memintamu membawakan kapas dari perbatasan Dark Forest dan Clover Hills. Di sana berjajar pohon kapuk. Lagi pula itu hanya sebuah bahan. Kebetulan minggu kemarin The Prof sudah mengajarkan ramuan penebal benda.” Gadis itu mengeluarkan sebuah botol bening kecil dari dalam tasnya.


“Baiklah, akan aku coba,” kata Adniel.


Butuh hampir 30 menit bagi remaja berambut cokelat madu itu untuk bisa membawa kapas seperti yang diminta Elle. Dan ketika ia berhasil membawanya, ternyata gadis berkacamata kotak itu sudah membuat cetakan dari ranting-ranting yang disusun.


Diawasi oleh Miss Grewyinn, Elle meneteskan ramuan penebal benda di atas kapas yang sudah diletakkan di cetakan ranting buatannya. Sesuai anjuran dari Miss Grewyinn, ia hanya menjatuhkan dua tetes di tiap cetakan.


Tidak butuh semenit, kapas-kapas sudah menebal sesuai bentuk cetakan. Dengan bantuan pisau tembaga, Elle menghancurkan cetakan ranting itu.


“Hei, hati-hati dengan pisaumu!” sergah Adniel yang berdiri di sebelah kanannya.


Elle yang menyadari arah mata pisaunya hanya nyengir. Ia segera memasukkan pisau ke dalam tas dan memberikan gumpalan seukuran lubang telinga kepada Miss Grewyinn. Guru berasal dari ras Elf tersebut mengucapkan sesuatu dengan bahasa Elf dan gumpalan kapas itu menjadi bersinar kehijauan.


Miss Grewyinn dan Adniel memasukkan gumpalan kapas itu ke telinga mereka. Beberapa saat kemudian, cahaya kehijau itu bersinar terang dan padam. “Mantranya sudah bekerja dan telinga kita akan aman,” ucap Miss Grewyinn sambil memandang Elle dan Adniel.


Setelah itu, Elle kembali berjongkok dan menyapa tanaman semak nightshade.


Hai, maafkan kami kalau kurang sopan. Cukup lama Elle menunggu sebelum akhirnya ada jawaban.


Kau lagi rupanya. Apa maumu sebenarnya?


Aku dari Maple High School Academy—


Tawa lirih yang menyedihkan memutus kalimat Elle.


Kita lewatkan saja bagian perkenalan. Aku tahu kau dari sekolah. Terlihat dari seragammu. Yang kutanyakan, apa yang kaulakukan di sini? Berulang kali mengajakku bicara.


Elle tetap menjaga senyumnya.


Begini, ada beberapa siswa yang terkena racun wolfsbane. Dan hanya kaulah yang bisa menjadi penawarnya. Karena itu, aku meminta izin untuk memetik satu atau dua buahmu yang—


Wolfsbane katamu? Bagaimana bisa? Bukankah yang dengan teknologi sekarang, efek samping dari wolfsbane tidak sampai mematikan?


Masalahnya, siswa yang terkena racun wolfsbane adalah tiga murid dari ras Werewolf.


Ah ... begitu rupanya.


Tidak ada yang bersuara baik Elle maupun semak nightshade. Hal itu justru membuat gadis berkepang itu semakin gelisah.


Maafkan aku. Jadi, bolehkah aku memetik buah berry-mu?


Ah, iya. Tentu saja. Aku senang dapat berguna untuk para siswa. Dan tolong, ambil tiga buah. Setiap satu berry hanya bisa menyelamatkan satu jiwa.


Elle mendesah lega dengan persetujuan tanaman nightshade.


Lalu bagaimana dengan sinar bulannya? Aku tahu bahwa waktunya bukan di tengah malam.


Terdengar tawa dengan nada sedih.


Kau gadis pintar. Dahulu, kepala sekolah pertama sengaja menanamku di sini. Ia sengaja menyebarkan berita soal sinar bulan. Dan yang mendengarnya hanya berfokus di tengah malam. Lokasi ini sangat tepat dengan sinar bulan di pukul 02.20.


Elle segera mengecek arlojinya. Dan ia kaget saat menyadari waktunya sudah hampir tiba dan mereka sudah menghabiskan waktu hampir semalaman.


Bagaimana dengan keharusan buah disinari bulan dan warna yang tepat?


Jangan terkecoh dengan hal yang tak perlu, Nak. Gurumu sudah memastikan tentang kandungan yang ada dalam diriku, bukan? Dan tentang sinar bulan, lihat ke atas. Tidak ada satu pun yang menghalangi sinar bulan untuk menyinariku. Namun, satu hal yang perlu diingat. Buahku hanya bisa dipetik satu kali, karena itu yang perlu kau petik adalah yang bertangkai tiga.


Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, bulan bersinar tepat di atas mereka. Elle menundukkan kepala mengucapkan terima kasih. Gadis itu segera melihat ranting bertangkai tiga dengan buah berwarna merah berkilau karena pantulan sinar bulan. Saat itulah, ia menyadari bahwa semua buah berwarna merah. Warna ungu dari buah itu hanyalah ilusi mata. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Elle  segera memetiknya.


Terima kasih. Elle membungkukan badan memberi hormat.