
Unconscious
ELLE MEMBELALAKKAN MATANYA tak percaya ketika Miss Grewyinn menyapanya di pintu gerbang sekolah. Alih-alih menjawab sapaan dari guru farmasi itu, Elle memandangnya takjub. Cloak coklat yang tersampir tidak menutupi keseluruhan pakaian Miss Grewyinn. Celana kulit dan blouse lengan panjang berwarna daun membuat guru farmasi itu tampak berbeda.
Elle membandingkan pakaian yang dikenakannya. Celana kulot hitam dan kemeja linen warna gading yang dikenakannya terasa kurang pantas untuk perjalanannya malam ini.
“Miss Thompson,” panggil Miss Grewyinn sekali lagi membuat Elle tergagap.
“ Eh, selamat malam, Miss.” Elle menjawab sambil melepas kacamatanya.
Dengan pandangan puas melihat penampilan Elle, Miss Grewyinn berujar, “Bagus, sepertinya kau sudah siap secara maksimal. Bagaimana dengan bawaanmu?”
Elle menunjukkan sling bag yang tersampir. Tidak kelihatan karena tertutupi dengan jubah sekolahnya. Seperti yang disampaikan oleh Miss Grewyinn tadi sore, mereka berdua—Elle dan Adniel, diwajibkan menggunakan atribut sekolah sebagai pengenal kepada penghuni di luar Maple Academy.
Miss Grewyinn mengangguk setuju tanpa banyak bertanya, kemudian ia membalikkan badan dan menyapa Adniel yang baru datang. “Saya pikir saya yang terakhir tiba di sini,” kata Miss Grewyinn pelan, tetapi sarat sindiran.
“Maaf, Miss, saya salah.” Adniel menundukkan kepala.
Tanpa berkomentar lebih banyak, Miss Grewyinn berujar, “Kalau begitu kita berangkat sekarang.”
Miss Grewyinn menutup matanya sejenak, kemudian segera memimpin perjalanan. Adniel dengan segera mengikuti jejak gurunya diikuti Elle yang berjalan paling belakang.
Keheningan malam menjadi teman perjalanan mereka. Tidak ada seorang pun yang mencoba untuk membuka percakapan. Bagi Elle sendiri, itu bukan sesuatu yang membuatnya risi. Menghabiskan waktu di perpustakaan dalam waktu yang lama membuat gadis itu kebal dengan kesunyian. Meskipun sebenarnya mengobrol dengan teman seperjalanan akan membuat perjalanan lebih seru.
Berjalan paling belakang sebenarnya adalah kebiasaan Elle ketika sedang hiking bersama kedua orang tuanya. Sebagai ahli botani, Basil Thompson selalu mengajak keluarganya mendaki bukit yang tidak jauh dari desa mereka seminggu sekali. Sebuah quality time yang selalu dinantikan Elle. Ia selalu senang berada di alam terbuka, terutama di kelilingi tanaman dan hewan-hewan liar.
“Sebaiknya kita bertukar tempat. Tidak baik seorang perempuan berada di barisan paling belakang.” Sebuah suara membuyarkan kenangan Elle tentang keluarganya.
Tak yakin dengan pendengarannya, Elle mempercepat langkah dan berusaha menjejeri Adniel. “Tadi kamu yang bicara, kan?” tanya Elle.
“Hmm ….” Adniel menyugar rambut cokelat madunya. “Tentu saja aku. Menurutmu para pepohonan ini?”
Elle terdiam mendengar kalimat Adniel. Nada suara laki-laki itu sebetulnya sama sekali datar. Namun, Elle merasa tercubit dengan pertanyaannya yang terakhir.
“Asal kau tahu saja. Mereka memang bisa berbicara,” tukas Elle yang langsung mempercepat langkah dan mendahului Adniel.
Laki-laki berusia 16 tahun itu mengernyitkan kening karena mendengar nada bicara Elle yang sedikit tidak bersahabat. Ia mengangkat bahunya berusaha tak acuh. Matanya melihat ke sekeliling. Barulah ia menyadari mereka bertiga sedang melintasi Clover Hill–Padang Bunga Semanggi.
Seketika Adniel merasa tubuhnya terasa berat. Ia mulai mendengar kisik-kisik tak jelas. Sebagian kisikan itu memintanya untuk berbelok menuju Dark Forest. Langkahnya mulai melambat. Punggung Elle dan Miss Grewyinn mulai terlihat mengabur dalam pandangannya.
“Miss Grewyinn!” Samar ia mendengar suara panik. Kisik-kisik itu mulai terasa mendengung di sekitar telinganya, lalu ia mendengar gesekan-gesekan daun. Pandangannya mulai kembali fokus dan suara patahan itu pun terdengar jelas.
“Kau sudah sadar?” tanya Miss Grewyinn. Wajahnya menyiratkan kecemasan.
Adniel mengangguk mengiyakan. Lantas ia kembali menatap ke depan. Ia memandang seorang gadis yang mengeluarkan suara seperti gesekan daun yang berisik.
“Kenapa ... dia ... apakah ...?” pertanyannya yang tak sempurna hanya membuat Miss Grewyinn tersenyum kecil.
“Gadis itu adalah Sang Penutur. Dia penutur alam. Kemampuannya cukup unik. Dia mampu berbicara dengan tanaman maupun hewan dalam bahasa mereka. Seperti yang kau lihat sekarang. Dia sedang berbicara dengan semanggi.”
Adniel mulai memusatkan pandangannya. Saat ini ia sedang terduduk di hamparan padang semanggi. Terakhir kali ia kemari saat Summer Battle. Elle yang saat itu menjadi tim lawannya sekarang sedang berjongkok.
Ia memperhatikan gadis itu lama. Barulah ia memahami apa yang diucapkan oleh Elle sesaat sebelum ia hampir pingsan.
Mereka memang bisa berbicara.
“Maksud Miss Grewyinn, dia benar-benar berkomunikasi dan paham?”
Miss Grewyinn mengangguk. Nampak kebanggaan terpancar dari wajahnya. “Itulah alasan kenapa dia masuk ke dalam tim ini.”
“Maksud Miss Grewyinn?”
“Penawar yang kita cari sekarang, memiliki karakteristik yang unik. Pelajaranmu belum sampai ke ranah antiracun, tetapi ini bisa jadi bekal pelajaranmu. Tidak semua tanaman yang menghasilkan racun itu akan mudah ditemukan di area apotek hidup. Coba kau ingatkan lagi, apa itu obat?”
“Obat adalah racun yang tertakar,” jawab Adniel.
“Tepat. Semua obat adalah racun. Berawal dari racun. Jadi terkadang, kita menawarkan racun dengan racun. Termasuk dengan yang sedang menjangkiti teman-temanmu dari ras Werewolf. Anti racun yang kita cari memerlukan penutur yang dapat melindungi kita.”
Suara gemerisik daun menghilang. Miss Grewyinn dan Adniel menghentikan pembicaraan, lalu menatap Elle yang sedang menghampiri mereka.
“Bagaimana kondisi Adniel, Miss?” tanya Elle. Kacamatanya melorot ke pangkal hidungnya.
“Dia baik-baik saja. Bagaimana hasil perbincanganmu?”
Elle terdiam sejenak lalu berkata, “Mereka tidak yakin dengan yang kutanyakan. Mereka bilang sama sekali tidak ada yang melewati mereka. Sementara aku yakin mendengar suara ceiba.”
“Baiklah, anak-anak. Sebaiknya kita segera bergegas. Seharusnya kita sudah mencapai ujung Clover Hill. “ Miss Grewyinn mengambil keputusaan untuk segera bergegas.
“Maaf, Miss. Kalau boleh bertanya, ke mana sebenarnya tujuan kita?” tanya Adniel.
“Tentu saja Blackcave. Satu-satunya tempat nightshade tumbuh di Maple Island,” jawab Elle sebelum Miss Grewyinn sempat bersuara.
“Kau tahu?” tanya guru Farmasi heran.
“Tahu apa, Miss?” Elle kebimgungan dengan pertanyaan Miss Grewyinn yang tak sempurna.
“Kau tahu tentang nightshade?”
“Oh,” Elle baru memahami maksud dari guru farmasi cantik itu. “Ya, tentu saja. Err ... sebelumnya aku mencoba untuk mencari tahu.” Hampir saja ia memberi tahu sempat mencuri dengar pembicaraan di ruang Madam Polina.
“Miss, kita dikejar waktu.” Adnile mengingatkan yang membuat Miss Grewyinn buru-buru bangkit.
“Benar. Kita harus cepat. Nightshade yang memiliki antiracun hanya mekar di bawah sinar bulan purnama. Kita sebaiknya bergegas.”
“Maafkan aku.”
Elle menoleh ke arah teman seperjalanannya. Ia tak mengerti dengan ucapan maaf yang dilontarkan oleh Adniel.
“Maaf untuk apa? Kau tidak melakukan kesalahan apa pun,” jawab Elle.
Adniel berusaha menjejeri langkah gadis itu. Dalam jarak dekat, barulah Adniel bisa memperhatikan bahwa gadis itu memegang tali sling bag-nya dengan erat.
“Aku minta maaf atas ucapanku yang terkesan meremehkan. Aku tidak tahu tentang kemampuanmu yang bisa berbicara dengan para makhluk alam.”
Elle terperangah. Ia menaikkan kacamatanya yang merosot. Ini kali pertama ia berbicara dengan siswa lain di luar kelas dengan akrab. “Oh, itu. Tidak apa. Lagi pula itu bukan sesuatu yang luar biasa. Berbeda denganmu. Kemampuan telekinetikmu jelas sangat berguna untuk bertarung.”
“Kata siapa kemampuanmu tidak berguna? Salah satu alasan kau ikut di tim ini adalah karena kemampuanmu, bukan?”
Elle merasa seluruh wajahnya memerah karena pujian itu. “Terima kasih. Namun, aku menyetujui ikut karena sahabatku, Peony, menjadi salah satu siswa yang ikut tumbang.”
“Ah, si gadis berambut abu-abu yang selalu bersamamu itu, bukan?”
“Kau tahu?” tanya Elle tak percaya.
Adniel menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dengan salah tingkah ia mengaku, “Sebenarnya sejak akhir Summer Batlle aku berusaha untuk bisa mengobrol denganmu. Aku penasaran.”
“Apa?”
“Ya ... jadi aku berusaha untuk mencarimu dan mengobrol. Jujur saja, aku yakin timmu di Summer Battle itu bisa menang karena dirimu.”
“Omong kosong!” bantah Elle. Lagi-lagi ia merona.
“Ini mungkin memang terdengar seperti omong kosong. Namun, setelah Miss Grewyinn memberi tahu tentang kekuatanmu, aku semakin yakin bahwa dirimu yang membuat timmu menang di Summer Battle kemarin.”
Elle diam tak menanggapi. Ia ingat saat Summer Battle, dirinya hanya berperan sebagai pelindung. Bagaimana mungkin itu bisa jadi penyebab kemenangan tim?
“Aku tahu itu seperti tidak mungkin. Namun, harus kamu sadari, dalam pertarungan, sebuah tim harus terdiri dari penyerang, pembuat strategi, dan pelindung. Percuma memiliki penyerang dan pembuat strategi kalau tidak memiliki pelindung. Timmu akan lemah dan posisi pelindunglah yang justru menyelamatkan timmu kemarin.”
Adniel berhenti sesaat untuk mengambil napas.
“Semua serangan dari timku berhasil kamu pentalkan. Sepertinya kamu menggunakan bantuan dari para binatang kecil dan dedaunan untuk melindungi kedua rekan timmu.”
Elle tak menanggapi dugaan Adniel yang memang benar adanya. “Terima kasih,” katanya. “Hanya saja aku penasaran, kalau memang kamu sering berusaha untuk berbincang denganku, kenapa kau selalu tampak dingin?”
“A-aku?” tanya Adniel gelagapan.
Elle mengangguk membenarkan.
“I-itu karena sebenarnya aku mudah gugup. Aku tidak terbiasa berbicara sambil menatap lawan bicara. Jika aku menatap lawan bicara, entah kenapa aku selalu merasa rendah diri, karena itulah aku seperti mengabaikan orang ketika berbicara.”
“Oh.” Elle mengangguk paham. “Tapi kau bisa berbicara lancar tanpa gugup sekarang?”
Adniel terkekek. “Sebenarnya karena malam. Gelapnya malam membuatku tidak perlu melihat kamu secara langsung.”
“Anak-anak,” kata Miss Grewyinn di depan mereka. Elle dan Adniel gegas menuju guru mereka. “Kita sampai di perbatasan Clover Hill dan Blackcave. Dari sini sebaiknya berjalan tepat di belakangku. Kita tidak akan melalui jalur setapak yang normal, tetapi lewat jalan pintas.”
Baik Adniel maupun Elle menatap hamparan kegelapan yang ditunjukkan oleh lambaian Miss Grewyinn. Keduanya meneguk ludah. Tahun pertama mereka kini harus berhadapan dengan salah satu tempat yang cukup berbahaya di Maple Island.
“Miss Thompson, bersediakah kau meminta kunang-kunang menjadi pemandu jalan?”