Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
Journey to Nightshade - Talk to Fallen Angel




Talk to Fallen Angel


KEJADIAN SELANJUTNYA TIDAK banyak yang Elle perhatikan. Yang ia ketika Adniel tiba-tiba berlutut dan lehernya mendongak dengan kedua tangan tertarik ke belakang.


Remaja laki-laki itu berteriak tak jelas, sementra Samael merapalkan beberapa mantra yang tak dapat dipahami oleh Elle. Miss Grewyinn mengeluarkan sebuah tabung berpenutup gabus dari dalam tasnya. Wanita Elf itu meletakkannya tepat di posisi puncak bintang.


Setelah beberapa menit, Adniel terlihat kejang-kejang. Elle menutup mata, tak tega melihat Adniel yang kesakitan. Ia sempat membuka matanya hanya segaris, Elle melihat ada asap hitam yang keluar dari punggung Adniel yang langsung masuk ke dalam tabung yang diletakkan Miss Grewyinn. Gadis itu kembali menutup matan kala Adniel muntah.


Gumpalan kehitaman tampak dimuntahkan beberapa kali oleh remaja laki-laki berambut cokelat madu itu. Setelah itu,  ia jatuh pingsan.


"Miss Thompson." Elle membuka matanya mendengar panggilan itu. Ia menatap kedua guru yang tengah memperhatikannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Miss Grewyinn sambil menghampirinya.


Elle mengangguk. Ia segera merapikan diri. "Bagaimana dengan Adniel? Apa yang sebenarnya terjadi?" Elle segera menanyakan pertanyaan yang sejak tadi menggelayuti perasaannya.


Baru saja Miss Grewyinn hendak menjawab, Mr. Samael bersuara,"Kita bisa ceritakan itu nanti, yang harus kita lakukan sekarang adalah bergegas pulang ke Academy. Dan kita harus membawanya dalam keadaan seperti itu." Laki-laki dengan cambang berantakan itu menunjuk Adniel dengan tangannya.


"Tidak bisakah Anda—” Miss Grewyinn tampak mengisyaratkan kata menggendong dengan matanya.


Mr. Samael memdengkus kecil. "No. No. No. Lagi pula saya juga tidak meminta Anda untuk melakukannya."


Kedua guru itu terkesiap tak jadi melanjutkan perdebatan tidak penting mereka ketika terdengar suara entakan langkah. Namun, Elle justru dengan tenang mendekat ke arah suara. Dari arah suara nampak sebuah kilau laksana permata di kegelapan dari arah pepohonan mati. Lama-kelamaan membentuk sebuah siluet. Sesosok makhluk berjalan mendekat dengan anggun.


Elle berjongkok, lalu sosok itu mulai terlihat jelas. Seekor puma jantan. Ia memdekat ke arah gadis itu dan mendengus tepat di depan wajahnya.


Elle terkekeh lalu sedikit menggeram. Bisakah kau membantu kami? Aku sudah tahu kau mengikuti kami sejak awal perjalanan.


Puma itu memiringkan kepalanya sambil tetap menatap Elle. Membantu seperti apa?


Elle tersenyum, lalu menggaruk rahang bawah kucing besar itu. Bisakah kau mengggendong temanku di punggungmu dan memgantarkannya sampai ke Academy?


Puma itu mendengus lagi.  Kau menyamakanku dengan bagal, huh?


Elle menggeleng cepat. Oh, tentu tidak. Hanya saja sekarang aku cuma bisa meminta  sedikit pertolongan darimu. Kumohon!


Puma itu menggeram sekali yang langsung diartikan setuju oleh Elle. Ia lalu berdiri dan menatap kedua gurunya.


"Kita bisa membawa Adniel dengan menggunakan puma ini." Tangan Elle disenggol oleh moncong puma. "Oh, maksudku, puma ini bersedia menolong kita membawa Adniel."


Mr. Samael dan Miss Grewyinn saling pandang, lalu keduanya sama-sama mengendikkan bahu. Mereka sepakat kalau itu bisa jadi pilihan terbaik.


Setelah memindahkan Adniel ke punggung puma, Mr Samael memutuskan untuk pulang bersama mereka dan tidak terbang memakai sayap seperti biasaya. Ia berjalan di belakang puma bersama Elleanor. Elleanor juga tidak membawa flyboard karena jika dipakai di malam hari sangat berbahaya.


Perjalanan pulang tidak lebih lama dibanding saat berangkat. Cover Hills hanya terasa seperti lapangan rugby.


"Err ... Mr. Samael?" panggil Elle ragu-ragu.


"Hmmm." Laki-laki itu hanya menjawab dengan gumaman singkat.


Elle melirik guru di sebelahnya. Meskipun terlihat seperti ras Manusia, Mr. Samael adalah Fallen Angel yang paling misterius. Ia terlihat memiliki ketampanan yang tampak tidak manusiawi. Hampir seluruh siswi mengidolakan guru yang satu ini.


"Kenapa memanggilku, Miss Thompson?" tanya Mr. Samael. Laki-laki itu menegur Elle yang terlihat termenung.


Ditegur seperti itu membuat Elle tersipu. "Ah, tidak. Hanya saja saya penasaran, apakah Mr. Samael sudah mengikuti kami sejak awal?"


Guru laki-laki itu tidak langsung menjawab, ia terkekeh. "Sebenarnya yang kuikuti hanyalah anak itu." Ia menunjuk Adniel dengan dagunya. "Aku sudah cukup lama mencurigainya"


Elle mengerutkan kening tampak berusaha mencerna. "Maksud Anda sejak lama, apakah itu sejak awal tahun pelajaran?"


Mr. Samael segera menggeleng. "Bukan. Tepatnya sejak Summer Battle. Anak itu tampak lain sejak musim panas."


Gadis berambut hitam kepang itu tampak mengingat-ingat. Bukankah Summer Battle adalah ketika ia bertarung dengan Adniel?


"Jadi, maksud Anda, Adniel dirasuki sejak Summer Battle?"


Mr. Samael hanya diam tak menjawab.


Mr. Samael melirik Dark Forest yang berada di seberang Clover Hills dengan ekor matanya. Elle yang memperhatikan ikut melirik ke arah yang sama. "Itu adalah salah satu roh yang ada di Dark Forest."


"Roh Hutan? Maksud Anda, dryad?"


Mr. Samael menatap Elle sambil memicingkan mata. Ia nampak terganggu dengan pertanyaan terakhir yang dilontarkan murid perempuan ini. "Ahh, itu tidak sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar."


"Kalau begitu, tolong jelaskan," pinta Elle.


"Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik," kata Mr. Samael, "Hanya saja begini, di dalam Dark Forest pernah terjadi hal yang mengerikan. Peristiwa itu mengakibatkan ketidakseimbangan semua hal. Salah satunya adalah para roh yang tinggal di sana. Roh semakin tidak terkendali dan sulit diatur."


Elle yang serius menyimak menunggu kelanjutan penjelasan dari Mr. Samael. Namun, lelaki setengah malaikat itu tampak tak berminat untuk meneruskan. Hal itu membiat Elle akhirnya mengira-ngira apa yang terjadi.


"Roh-roh yang tak terkendali itu bisa merasuki?"


Mr. Samael terkeke,h lalu mengangguk. "Memang begitulah mereka. Mereka merasuki apa pun. Bisa pohon, binatang, manusia, bahkan ras Fallen Angel sekalipun."


"Tapi bagaimana bisa? Bukankah tidak mudah merasuki—”


"Yang paling sulit adalah mengendalikan apa yang sudah dirasuki." Mr. Samael memotong kalimat Elle. "Merasuki adalah hal yang mudah. Apalagi dengan kondisi fisik yang sudah lelah dan pikiran yang tidak fokus."


Elle terdiam. Lagi ia berusaha mencerna apa yang diungkapkan oleh gurunya ini, mengingat reputasi Mr. Samael sudah sangat terkenal di kalangan para siswa sebagai Si Pemberi Penjelasan Setengah-Setengah.


Gadis ini mendesah kesal. Ia mulai membandingkan The Prof yang meskipun misterius, tetapi memberi penjelasan sangat mendetail, berbeda dengan Mr. Samael yang selalu sok misterius.


"Begini, penggunaan kekuatan bakat kalian itu selalu menguras energi. Tak hanya energi fisik, tetapi juga energi jiwa. Itulah kenapa kalian harus melatihnya, agar bisa mengatur penggunaan energi jiwa dalam penggunaan bakat,” Mr. Samael berhenti sejenak. “Penggunaan energi yang berlebihan akan membuat kalian bukan hanya tidak fokus, bahkan bisa menyebabkan hilang kesadaran. Alasan itulah kenapa Summer Battle dibuat kelompok agar kalian bisa saling mendukung."


Mr. Samael terus berjalan sambil menerangkan. "Sepertinya Pangeran Kecil kami sudah terlalu memforsir energinya, baik secara fisik maupun  jiwa."


Elle tersenyum mendengar Mr. Samael menyebut Adniel Pangeran Kecil kami. Sedetik kemudian ia baru menyadari bahwa mereka berdua memang dari ras yang sama dan status Adniel memang seorang pangeran.


"Saya sendiri baru menyadarinya saat makan bersama. Anak itu begitu menghindari semua peralatan makan kita yang memang terbuat dari tembaga. Itu salah satu ciri awal seseorang yang sudah dirasuki roh. Tembaga adalah hal yang  yang paling menyakitkan bagi roh, mampu melemahkan roh meskipun dia sedang mendiami inangnya."


Seketika Elle teringat ketika Adniel waswas terhadap pisaunya. Ternyata ia bukan khawatir tentang tajamnya mata pisau, melainkan takut bersentuhan dengan tembaga.


"Sir, saya masih penasaran. Kenapa roh itu bermaksud menyakiti para siswa?"


"Bukankah kau juga mendengarnya, Nak?" tanya Mr. Samael, "Roh tidak ingin sekolah dibuka lagi."


Elle tampak berpikir keras. Ia mencubiti bibir bawah berulang kali. "Apakah memang kemauan dari roh itu sendiri?"


Mr. Samael melirik murid perempuannya. "Kau punya suatu pemikiran rupanya. Coba kemukakan apa yang terlintas dalam pikiranmu?"


Elle tertunduk. Ia tersipu mendengar nada pujian dalam kalimat guru tampannya itu. "Itu hanya pikiran selintas, Sir. Menurutku, ada yang memerintahkan roh itu ...." Suara Elle semakin lirih di ujung kalimatnya.


Mr. Samael terdiam dan menghentikan langkah. Membuat Elle yang memang berjalan di sisinya turut berhenti. Ia menatap sang murid. "Terkadang kita harus berhati-hati dengan apa yang kita pikirkan. Tidak semua hal perlu diungkapkan."


Elle mengangguk. Ia menyadari bahwa kalimat terakhirnya seperti sebuah ungkapan ramalan buruk. Dan itu adalah hal tabu di Maple Academy.


Dengan isyarat anggukan kepala, mereka berdua kembali melanjutkan langkah. Kini tiga orang dan seekor puma sedang melintasi Villagic yang masih sepi. Tidak ada kesibukan apa pun. Dan kedua guru merasa beruntung dengan situasi tersebut.


"Sir, satu pertanyaan terakhir."


Mr. Samel mendesah. "Kautahu, Nak. The Prof selalu membahasakan tentang dirimu dengan satu kata. Buku Ensiklopedia. Dia bilang kau akan terus bertanya sampai rasa ingin tahumu habis tak bersisa. Kamu laksana buku ensiklopedia yang berisi semua hal yang sudah kau tanyakan."


Elle nyengir sementara Miss Grweyinn yang tampaknya mendengar ungkapan Buku Ensiklopedia terkekeh. Uniknya gadis itu tidak merasa terhina.


"Sir, satu pertanyaan lagi."


"Baiklah." Mr. Samael akhirnya menjawab dengan tak acuh.


"Apa yang akan terjadi dengan roh itu?" Elle bertanya lurus sementara matanya menatap ke dalam tabung yang berisi asap hitam di tangan gurunya.


Mr. Samael terdiam. Ia terus melangkah membiarkan Elle penasaran. "Mengenai  hal itu, hanya kepala sekolah yang tahu. Saat kita tiba di Academy, kita akan akan menyelesaikan tugas kita. Miss Grewyinn akan meramu penawar racun. Aku akan menyerahkan botol ini ke kepala sekolah, dan kau harus memandu puma itu ke klinik dan langsung bertemu Madam Polina."


Saat itulah Elle baru menyadari mereka sudah tiba di depan gerbang Academy. Saat gadis itu  menoleh hendak berpamitan, Mr. Samael sudah menghilang dari pandangannya.


Ia mendesah lalu mempercepat langkahnya untuk mengikuti Miss Grewyinn ke Laboratorium Farmasi dan langsung melesat ke klinik.