
Secret Mission
"NAH, SUDAH SELESAI. Lukamu akan sembuh dalam tiga hari." Madam Polina menarik tangannya dari pipi Maya. Terdapat luka bakar yang memerah di bagian bawah dekat dagu.
"Terima kasih, Ma'am." Maya meraba lukanya yang sedikit membaik.
"Lain kali, berhati-hatilah." Madam Polina beranjak dari duduknya, "Saya permisi dulu," lalu meninggalkan ruangan itu.
Maya mendesah lega. Tak lama kemudian Lily menghampiri. Bukannya merasa khawatir, mereka malah berpelukan dan melakukan tos.
"Ini tak apa?" tanya Lily menunjuk pipi Maya yang kemerahan. Yang ditanya justru tertawa dan menggeleng.
Maya mengambil cermin dari balik jubah oranye yang ia kenakan. Ia menoleh ke kanan lalu ke kiri, mengamati wajahnya dengan saksama. "Aku masih cantik, kok," katanya sembari tertawa kecil.
"Hanya saja, aku mengkhawatirkan rambutku," lanjut Maya sembari menyisir bagian depan rambut cokelatnya yang berdiri kaku.
Lily memutar bola matanya malas, yang benar saja, barusan Maya terkena ramuan yang meledak. Tatapan mereka saling bertumbuk, lalu terbahak ketika mengingat kejadian di kelas Ramuan.
"Oh, astaga ramuannya meledak!" teriak Lily ketika melihat ramuan milik Maya mengepulkan banyak sekali asap.
Semua perhatian tertuju ke arah Maya. The Prof bahkan sudah berdiri di dekat Maya untuk mengecek keadaan muridnya itu. Dengan cekatan, The Prof menyingkirkan ramuan yang masih mengepulkan asap panas.
"Kau tak apa, Miss Calliston?"
"Astaga, panas sekali rasanya!" Maya mengibaskan tangan seperti orang kegerahan.
"Saya akan mengantarnya ke rumah sakit, Prof." Lily dengan cepat meraih tangan Maya dan berpamitan kepada The Prof.
"Kau memasukkan apa saja ke ramuanmu?" Masih dengan tawanya, Lily bertanya penasaran.
Maya mengetukkan telunjuk pada dagu dengan tatapan menengadah. "Entahlah. Kurasa ... mungkin telur Ashwinder yang masih hangat ke dalam ramuan ... Emm, apa ya? Aku lupa." jawab Maya yang tersenyum geli.
Lily menggeleng tak percaya, "Astaga, apa kau gila?"
"Gila artinya brilian," Maya mengendikkan bahu. "Lagi pula aku sudah meminum ramuan fire protection potion, jadi aku terlindungi."
Mereka kembali tertawa. Hingga langkah kaki menginterupsi. Efron dan Jace datang memasuki ruang rawat Maya.
"Kalian mendapatkannya?"
Jace tersenyum bangga, sedangkan Efron mengeluarkan botol kecil berisi cairan berwarna kuning. Maya dan Lily memekik girang, rencana mereka berhasil.
"O, iya, kudengar bahwa hari Sabtu kita free. Jadi, persiapkan dirimu bersama Jace untuk mencari kuda Sleipnir. Aku dan Maya akan mencari tahu tentang mantra pelepas roh," ucap Efron yang kini menyandarkan tubuh pada meja di samping ranjang.
Lily mengangguk meski sedikit berat hati. Ia tak bisa membayangkan saat dibiarkan berdua saja bersama Jace. Semoga kami tak menciptakan masalah baru lagi, batin Lily.
Sleipnir adalah kuda yang paling indah.
Lily dan Jace kini berada di Gingko Forest. Pagi-pagi sekali mereka berangkat dari asrama. Malam sebelumnya mereka telah mengorek informasi tentang Sleipnir dari Sibyl.
Kuda jantan berwarna kelabu dan besar.
Sejak tadi mereka sama sekali tak menemukan kuda satu pun. Meski begitu, senyum tak hentinya terukir di bibir Lily. Ia begitu menyukai Gingko Forest. Hutan ini adalah hutan paling indah di Maple Island. Banyak kupu-kupu yang menari bersama capung.
Sesekali Lily melompat kecil saat melewati akar cantik yang menjalar di tanah. Meski sekarang musim gugur, tetapi Gingko Forest tetap memesona bagi siapa pun yang melihatnya. Terlebih Lily adalah seorang pencinta tanaman.
Sleipnir adalah kuda berkaki delapan.
Lagi, informasi dari Sibyl terngiang di kepala Lily.
Hah, yang benar saja! Kuda berkaki empat saja belum kami temui. Apalagi berkaki delapan. Memangnya ada kuda semacam itu?
Mereka terus berjalan menelusuri Gingko Forest. Sampai sejauh ini masih tak ada tanda-tanda Sleipnir. Padahal di sini adalah tempat para satwa ghaib berkumpul. Meski terkadang beberapa satwa berpindah-pindah.
Matahari semakin terik, tetapi Lily bahkan belum mencapai tengah hutan. Gingko Forest memang luas. Lily memutuskan untuk beristirahat di dekat sungai kecil yang sangat jernih. Pemandangan yang menyejukkan selalu menyapa penglihatan.
Tak ada hutan seindah Gingko Forest, batin Lily.
Jace seperti biasa terus berceloteh. Mengungkapkan kekesalannya karena harus terlibat masalah bersama Lily. Hanya demi gelangnya, ia terpaksa membantu Lily.
"Gelangmu sepertinya biasa saja, tak ada bagusnya sama sekali," komentar Lily yang mulai kesal dengan gerutuan Jace.
Gelang yang terbuat dari rami itu pertama kali ia buat bersama ibunya sewaktu kecil. Sebuah kenang-kenangan manis sebelum Jace kehilangan keluarganya dalam sebuah kecelakaan beruntun di kotanya. Mata Jace memejam, berusaha menyembunyikan duka yang terpancar di dalamnya.
Lily menatap tak percaya. Jelas sekali ia menjadi tak enak hati kepada Jace.
"Lupakan saja, jangan memandangku dengan kasihan. Aku tak suka." Jace menatap Lily yang diam di sampingnya.
Holy crap! Lily tertangkap basah sedang memandangi Jace.
"A-apa? Tidak. Aku hanya ... hanya ...." Iris cokelat Lily bergerak cepat, khas orang panik yang sedang mencari alasan. "Oh, aku hanya baru tahu kalau matamu berwarna hijau. Kukira hitam pekat."
Lily tersenyum kikuk, lalu mengalihkan pandangan. Tatapannya tertuju pada pohon besar dengan serbuk cahaya yang berpendar di sekitarnya. Ia memandang takjub pohon tersebut. Konon katanya, ada peri kecil yang tinggal di pohon tersebut.
"Berhenti mengagumi hutan ini, tujuan kita mencari kuda Sleipnir, bukan untuk wisata."
Lily memandang malas pada Jace. Tak bisakah Jace membiarkannya bahagia sebentar saja? Padahal baru saja ia memiliki niat untuk berdamai. Bibir Lily memberengut sebal. Ia sangat malas melakukan pencarian Sleipnir hanya berdua bersama lelaki angkuh itu.
Sebuah ide tiba-tiba terlintas, "Bagaimana kalau kita berpencar saja?" tanya Lily dengan alis naik-turun.
Jace menatap Lily sesaat. Netra hijaunya seolah mengatakan 'terserah kau saja', kemudian mereka sepakat untuk berpisah dengan pohon tadi sebagai titik kumpulnya.
"Ingat, ya, hanya sampai senja. Kalau kuda itu belum ketemu, masing-masing dari kita harus kembali kemari," petuah Lily sebelum meninggalkan Jace.
Bunyi sepatu begitu nyaring mengetuk lantai di Kamar Ramuan. Maya tak hentinya mondar-mandir dengan panik, sementara itu Efron sibuk berkutat dengan botol-botol ramuan.
"Lebih baik kau membantuku, May. Tingkahmu membuat fokusku pecah," protes Efron yang kini melepas kacamata lab dan menatap tajam pada Maya.
"Ups, maaf." Maya mengambil tempat di depan Efron. Tangannya meraih beberapa bungkusan plastik berisi benda-benda aneh. "Ini apa?" Maya menunjuk pada bungkusan berisi bubuk bewarna hijau.
"Itu taring ular yang sudah diremukkan," jelas Efron. Ia mencampurkan beberapa serbuk dengan penuh hati-hati dengan menggunakan penjepit besi agar tak terkena racunnya.
"Kau seperti sedang membuat ramuan penyembuh bisul," ujar Maya dibarengi kekehan.
"Ramuan itu dibuat di atas tungku, bukan dalam botol seperti ini." Efron berdiri dan mengambil beberapa botol yang kemudian ia berikan kepada Maya. "Daripada cerewet terus, bantu aku meramu."
Efron menitah Maya untuk memasukkan beberapa bahan, seperti serbuk bulu landak yang dicampur dengan lendir siput hijau. Maya menuruti perintah Efron dengan teliti dan telaten.
Hingga langit mulai gelap, mereka baru menyudahi aktivitas itu. Efron memasukkan beberapa ramuan ke dalam botol kecil untuk dibawa ke asrama.
"Sepertinya ada yang kurang." Efron menghitung jumlah botol yang tertata di meja. "Kita masih perlu satu ramuan lagi agar bisa disatukan."
Maya menatap penuh tanya. Ia hanya mengikuti arahan Efron karena memang ia tak ahli di bidang ini. Sebenarnya aku ini ahli di bidang apa sih?
Saat berjalan keluar, tiba-tiba saja Maya merasakan sesuatu. Alisnya menyatu dan matanya memejam.
"Ada apa?" tanya Efron.
"Entah kenapa, aku merasakan hal buruk akan terjadi."
Langit sudah gelap, tetapi Jace tak kunjung kembali. Lily menunggu dengan cemas sejak tadi. Sesekali kepalanya melongok, barangkali Jace akan muncul. Namun, sudah hampir 1 jam lamanya, tak ada tanda-tanda Jace kembali. Apa jangan-jangan Jace meninggalkanku?
Lily mengeluarkan beberapa biji kecil dari balik jubahnya. "Livaere!" Kemudian meniupkan nyawa dan menebarnya ke tanah.
Lily berusaha fokus dan mengangkat tangannya hingga sebuah bayam tumbuh. Ia kembali mengambil sesuatu di balik jubahnya. Sebuah cairan berwarna kuning yang waktu itu diambil Jace dan Efron dari kelas ramuan. Cairan tersebut adalah luciferase. Luciferase mengandung cahaya yang diambil dari kunang-kunang. Lily mengoleskan pada helai daun bayam hingga terpencar cahaya kuning seperti lampu. Lily memetik bayam tersebut, kemudian membawanya untuk kembali menyusuri Gingko Forest.
"Jace?" teriak Lily. Dalam cahaya remang-remang, Lily terus berjalan tak tentu arah untuk mencari keberadaan Jace. Ia terus berteriak sepanjang jalan, tak peduli teriakannya akan mengganggu atau membangunkan penghuni hutan.
"Jace?" Lily membelah semak, ranting pepohonan, serta apa pun yang menghalanginya. Beberapa kali wajahnya tergores karena kurangnya pencahayaan.
Ia menyibak rambut merahnya dan keluarlah Lady, kepik hitam miliknya. "Lady, tolong bantu aku, ya!" Kemudian Lady pun mengikuti perintah Lily dan mulai terbang mencari keberadaan Jace.
"Jace?" teriak Lily semakin kencang. "Kau di mana, ha?"
Apa benar Jace meninggalkanku? Lily memilih duduk sebentar dan bersandar pada pohon besar di belakangnya. Napasnya terengah dengan keringat sebesar biji jagung membasahi kening.
Sebuah suara berisik lamat-lamat terdengar, seperti suara perkelahian. Lily semakin menajamkan pendengarannya. Tak lama dari itu, Lady kembali menghampiri. Lily segera bangkit dan mengikuti Lady yang menuntun jalan. Suara itu terasa semakin dekat. Lily memandang penuh waspada.
"Jace?" Kali ini suaranya berubah sangat pelan. "Jace, kau kah di sana?" Lily memelankan langkah. Berjingkat seolah takut ada yang mengetahui keberadaannya.
Lady terus menuntun langkah Lily semakin masuk ke dalam hutan. Semak-semak pun semakin lebat. Lily menyibak dedaunan yang menghalangi pandangan. Matanya seketika membola saat melihat apa yang ada di depan sana.
"Jace!"