Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
The Soul Blower - We are …




We are …


"HEI."


Hari-hari berikutnya, Jace tetap melakukan aksinya seperti sebelumnya. Bahkan ia ulangi persis sampai berkali-kali.


"Maaf."


Respons dari Lily, Maya, dan Efron pun hampir sama juga. Enggan menanggapi Jace yang seringkali merecoki kegiatan mereka.


"Teman?"


Namun, Jace tak pernah menyerah. Ia tetap berusaha mendapatkan maaf dan menjadi teman mereka bertiga. Ia bahkan rela cepat-cepat menyelesaikan hukumannya demi bisa membantu mereka—meski dianggap perusuh.


"Tolong, beri aku satu kesempatan lagi."


Dengan kemampuan bercelotehnya itu mampu membuat Lily dan Maya meradang. Pasalnya di saat sedang serius mengerjakan hukuman, Jace selalu datang tiba-tiba tanpa diminta.


"Kumohon," ucap Jace dengan tampang memelasnya.


Maya yang merasa tak tenang karena waktu makan siangnya diganggu, menggebrak meja dengan keras. Napasnya terengah karena menahan amarah.


Bukannya marah, Jace justru tersenyum puas. Ini adalah kali pertama ia direspons sedikit panjang dari biasanya.


"Aku tak akan berhenti sebelum kalian mau menjadi temanku," ucap Jace menaikkan salah satu sudut bibirnya.


"Oh, astaga! Baiklah, terserah kau saja. Dasar menyebalkan," gerutu Maya.


"Tapi May—"


"Persetan! Apa kau tidak lelah mendengarnya berceloteh terus, Lily?"


Lily memberengut, "Bagaimana menurutmu, Ef?"


Efron hanya mengendikkan bahu, "Terserah kalian saja."


Jace semakin tersenyum lebar. "Ayolah, Lily. Dua temanmu telah setuju. Ups, maksudku dua teman kita." Jace menaik-turunkan alisnya.


Lily terdiam sejenak. Menghela napas, ia mulai menatap Jace serius. "Baiklah, terserah kau saja. Namun ingat, kali ini saja aku mau berbaik hati. Ingat itu baik-baik!"


Jace tersenyum.