
The Next Step
SEORANG GADIS DENGAN rambut hitam bergelombang menatap sebuah buku di tangannya dengan tatapan kosong. Tercetak judul Rencana Masa Depanku di bagian depan buku tersebut. Di bawah judul itu tertera sebuah nama: Shalima Shero.
Shalima, atau yang biasa disapa Shal, sudah menatap buku itu selama lebih dari 15 menit. Banyak hal berkecamuk dalam pikirannya. Akhirnya, dia sampai pada suatu titik di mana dia mulai menangis. Shal mendekap buku itu dan menangis dalam diam.
“Shal, maafkan Ibu.” Sheris, Ibu Shalima, menghapus lelehan air matanya. Dia menatap Shalima yang terbaring lemas di tempat tidur.
“Ibu ini bicara apa? Jangan khawatir, Bu. Ini paling demam biasa. Mungkin aku sedang tidak fit dan pilek saja. Nanti juga sembuh sendiri.” Shal merasa sangat lemah, tetapi tetap tersenyum supaya ibu dan adiknya tidak khawatir.
Bagaimana ibunya tidak khawatir dan merasa bersalah? Kemarin ibunya memberi tahu Shal berita yang sangat buruk. Keadaan ekonomi keluarga mereka semakin sulit dan ibunya hanya bisa membiayai sekolah satu orang anak. Tentu Shal tidak akan rela adiknya tidak sekolah. Itu artinya Shal yang harus merelakan impiannya sendiri. Dia memutuskan tidak melanjutkan ke Sekolah Menengat Atas saat lulus lima bulan lagi. Ibu Shal yakin anaknya itu jatuh sakit karena frustrasi.
Shamuel, adik Shalima, menatap kakaknya dengan cemas. Seumur hidup, baru kali ini dilihatnya Shalima terbaring lemah di tempat tidur. Padahal, tadi pagi dia terlihat baik-baik saja. Ibunya juga pernah bilang, Shal termasuk anak yang sangat jarang sakit. Sekarang, gadis itu terbaring lemah. Sham hampir tidak percaya kalau kakaknya itu sedang sakit.
Dengan hati-hati Sham meletakkan plester kompres demam di kening Shal. Anak perempuan itu sudah memejamkan mata dan bernapas pendek-pendek. Sham mengira kakaknya sudah tidur, padahal Shal sama sekali tidak bisa tidur. Dia cemas bukan main.
Saat berjalan pulang dari Madam Hee’s Library, tempatnya bekerja paruh waktu, Shal merasa ada sesuatu yang menyambar tangan kanannya. Kejadiannya terjadi sangat cepat. Shal tidak bisa melihat apa yang menyambar tangannya karena jalan yang dilewati cukup gelap. Serangga? Tikus? Entahlah. Yang Shal sadari kemudian adalah pergelangan tangan kanannya agak bengkak dan ada dua titik berdarah di sana. Itu seperti bekas gigitan. Gigitan serangga? Gigitan tikus? Entahlah.
Sampai di rumah, Shal merasa tidak baik-baik saja. Ini menakutkan karena sebelumnya dia tidak pernah merasa seperti itu. Dia sangat jarang sakit dan luka fisik yang pernah dialaminya cepat sekali sembuh. Saat merasa tidak enak badan, Shal biasanya langsung makan bawang putih atau minum air kelapa, dan voila, beberapa jam kemudian dia langsung merasa sehat. Namun, hal itu tidak terjadi kali ini.
Pukul 7 malam tadi dia sudah minum obat dan air kelapa, tapi sampai tengah malam tidak menunjukkan tanda-tanda pulih. Shal malah menggigil hebat dan mengalami sakit kepala serta mual yang tak tertahankan. Tangannya kesemutan dan tenggorokannya sakit saat menelan. Saat tiba di rumah tadi Shal mengira ini flu biasa, tapi kini firasatnya mengatakan ini bukanlah flu.
Flu tidak akan menimbulkan memar seperti ini!
Shal bergumam dalam hati. Dia tadi memeriksa luka di tangannya dan sangat terkejut melihat ada bercak-bercak ungu di sepanjang lengan kanannya. Ibunya tertidur di pinggir tempat tidur, sementara Sham tidur di tikar. Shal menangis pelan karena merasa sangat ketakutan. Namun, dia tidak ingin membuat ibu dan adiknya khawatir.
Bagaimana kalau ini bukan penyakit main-main?
Bagaimana kalau tidak ada hari esok?
Bagaimana kalau ini saatnya aku bertemu dengan Ayah?
Bagaimana kalau besok di koran ditulis seorang gadis meninggal dengan luka gigitan di tangan dan memar di tubuhnya?
Apakah Ibu dan Sham akan sedih? Menangis?
Jadi apa Sham kalau sudah besar nanti?
Apakah aku harus meninggal dalam keadaan tidak baik-baik saja?
Beragam pikiran berkecamuk dalam hati Shal. Dia sendiri tidak tahu menjelang kematian dan kematian itu seperti apa. Namun, rasanya memang dia seperti mau mati.
Apakah ini bisa jadi gambaran saat-saat menjelang kematian?
Ini saat-saat yang memilukan. Hanya ada kamu, pikiranmu, dan rasa sakitmu.
Bagaimana seharusnya seseorang menghadapi rasa sakit dan kematian?
Yang mana yang lebih baik, menyerah dan pergi entah ke mana atau berjuang dan tinggal di dunia yang penuh kesakitan ini?
Shal tersadar dari lamunannya. Dia seperti dibawa kembali ke masa kini, setelah beberapa detik mengingat momen hidup-mati yang dialaminya beberapa bulan yang lalu. Sampai sekarang, Shal tidak tahu sakitnya waktu itu. Setelah merenung dan menangis selama beberapa jam, Shal tertidur. Paginya, dia bangun dengan tubuh sangat sehat dan segar. Shal merasa seperti dilahirkan kembali.
“Yang ini maksudmu?” Shal menunjukkan dua titik berwarna ungu di pergelangan tangannya. Setahun lalu tanda itu seperti luka gigitan, tapi seiring berjalannya waktu, luka itu sembuh dan meninggalkan bekas berupa dua titik ungu.
Seorang perempuan berambut lavendel, kira-kira umurnya 20 tahun, berdiri 3 meter di hadapannya dan mengangguk. Tadi dia memperkenalkan diri sebagai Eiter Crru, The Recruiter. Entah apa maksudnya. Perempuan itu juga mengatakan takdir mempertemukan mereka lewat luka gigitan di tangan Shal. Makanya, Shal berusaha memastikan apakah yang dimaksud benar-benar bekas luka di pergelangan tangannya itu.
“Rui bilang, iya.” Eiter tersenyum miring.
“Rui?” Shal terlihat bingung. Siapa lagi itu?
Tiba-tiba rambut lavendel Eiter yang tadinya digelung ke atas sudah terurai. Rambut lavendelnya bergerak-gerak, dan tiba-tiba saja Shal menyadari bukan rambutnya yang bergerak. Seekor ular berwarna lavendel menjalar di antara rambut-rambut Eiter, turun ke lengannya, dan akhirnya turun ke tanah. Shal menyadari, headband yang tadi menghiasi rambut Eiter ternyata adalah seekor ular kecil yang panjang.
Shal seperti terhipnotis saat ular itu menjalar mendekatinya, naik mengelilingi kakinya, dan tiba-tiba saja sudah melilit lengannya dengan lembut. Shal tidak menghindar sama sekali dan membiarkan ular itu merayap di tubuhnya. Kini lidah Rui, si ular, menjulur dekat dua titik ungu di pergelangan tangannya.
Eiter merapikan coat-nya sambil berjalan mendekati Shal. Suara langkah botnya di tanah terdengar sangat keren. Saat mereka sudah berhadapan, Eiter menekan beberapa tombol di jam tangannya dan jam itu langsung mengeluarkan hologram.
“Aku, Eiter Crru, The Recruiter. Ini Rui, The Recruiter Assistant. Kami adalah anggota tim perekrut Maple High School Academy.” Saat Eiter bicara, tiba-tiba sebuah printed business card meloncat keluar dari hologram jam Eiter. Business card itu langsung terbang ke tangan kiri Shal dan gadis itu langsung memperhatikannya dengan saksama.
“Bakat khusus?” Shal belum selesai membaca semua informasi di kartu nama, tapi kini sudah ada lebih dari sepuluh pertanyaan di kepalanya.
“Banyak bertanya. Cocok menjadi murid Maple High School Academy.” Eiter tersenyum miring lagi, kemudian menjentikkan jarinya. Dalam sekejap Shal dan Eiter sudah berada di kamar Shal. Pantat Shal mendarat mulus di atas kasurnya, sementara Eiter duduk di kursi bulat, yang Shal tidak tahu muncul dari mana. Mereka duduk berhadapan. Secara ajaib, Rui sudah menjalinkan dirinya dengan rambut Eiter dan kembali menjadi bandana.
Shal merasa otaknya agak kelelahan mencerna semua hal yang terjadi padanya hari itu. Beberapa jam lalu dia mengalami kecelakaan parah, tapi dokter menyatakan hanya ada luka gores tipis di tubuhnya. Belum cukup sampai di situ, seseorang dengan ular sebagai headband-nya muncul entah darimana, mengatakan hal-hal tidak masuk akal, dan dengan satu jentikan jari berhasil membawa ke kamarnya. Jarak dari tempat mereka bertemu dan kamarnya itu kurang lebih 2 kilometer! Ini gila! Namun, Shal merasa there are many more to come.
“Pertama-tama, maafkan aku yang tidak secara sistematis dan teratur menjelaskan semua ini kepadamu. Mau bagaimana lagi? Aku terlalu excited sudah menemukanmu! Aroma bakatmu itu … sangat menyenangkan!” Eiter menghirup napasnya kuat-kuat sambil mengipas-ngipas tangan di udara.
“Aroma?”
“Seperti yang tadi sudah aku sampaikan, saat luka di tanganmu sembuh, angin membawa aroma bakatmu ke lidah Rui dan dari lidahnya ke hidungku. Kami sudah menemukanmu 3 bulan yang lalu dan sejak saat itu secara intens mengamatimu.”
Eiter memajukan kepalanya lebih dekat ke depan wajah Shal.
“Kejadian kecelakaan siang ini benar-benar membuatku yakin kalau kamu memang berbakat dan berpotensi menjadi murid Maple High School Academy!”
Shal menelan ludah.
“Ah, maafkan aku yang tidak secara sistematis dan teratur menjelaskan semua ini kepadamu!” Eiter menarik kepalanya dan tertawa kecil, “Mau bagaimana lagi? Aku terlalu excited sudah menemukanmu! Sebaiknya mulai dari mana kita? Pernah dengar Maple High School Academy sebelumnya?”
Seorang gadis dengan rambut hitam bergelombang memusatkan pandangannya pada halaman sebuah buku yang terletak di atas meja.
Jangan hilang! Jangan hilang! Jangan hilang!
Gadis itu, Shalima Shero, dari tadi berdoa dengan hati yang teguh sampai keningnya berpeluh.
Eiter mengatakan ini adalah proses akhir perekrutan murid Maple High School Academy. Pada proses ini, Eiter akan menuliskan namanya di Buku Legenda Maple Academy. Jika namanya tidak hilang ketika dituliskan, berarti kemampuannya diakui oleh para legenda dan dia bisa lanjut mengejar mimpinya di Maple High School Academy. Namun, jika namanya hilang ketika sudah ditulis, berarti ditolak. Another heart break? Ah, Shalima tidak sanggup membayangkannya!
Shalima Shero.
Nama itu terlihat jelas dalam lembaran buku. Shal terus menanti sampai akhirnya Eiter menutup buku itu dan mencubit pipi Shal dengan gembira.
“Tidak kusangka aku benar-benar bisa menemukan jarum di tumpukan jerami! Selamat, Shalima Shero, kamu diterima sebagai murid Maple High School Academy!” Eiter tertawa lebar.
Shal hanya diam sambil tersenyum kaku. Eiter tersenyum geli.
“Aku punya berita lain yang akan membuatmu melongo” Eiter memajukan kepalanya lebih dekat ke depan wajah Shal, “Eero Iziah dari Winter Kingdom bersedia menjadi sponsormu!”
“Sponsor?” Shal bertanya dengan kening berkerut.
“Ya! Seperti yang sudah kamu ketahui, baru pertama kali Maple High School Academy menerima ras Manusia sebagai siswa. Ini hal yang baru, dan sebagai siswa mungkin kamu akan membutuhkan banyak penyesuaian. Saat Eero Iziah bersedia menjadi sponsormu, itu berarti dia bersedia mendampingi dan membantumu secara khusus saat menjalani masa adaptasi dan belajar di Maple Island.”
Seketika Shal tersipu malu. Eero Iziah adalah pria yang berhasil membuat ibunya mengizinkan Shal bersekolah di Maple Academy. Kini, pria itu juga bersedia membantunya sepanjang masa belajarnya di Maple Island, dunia baru yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Isn’t it too perfect? Entah kenapa Shal merasa dikasihi dan menjadi sangat bersemangat.
“Tadi hanya selingan informasi sedikit. Sekarang, mari kita bicarakan hal-hal yang harus kamu persiapkan untuk proses penerimaan siswa baru.” Eiter memencet beberapa tombol yang ada di jam tangannya.
Shal mengangguk kuat-kuat. Tanpa sadar, Shal memegang erat sebuah buku dalam pelukannya yang berjudul Rencana Masa Depanku. Shal tersenyum saat mengingat sebuah halaman dalam buku itu.
Mungkin impianmu terlihat seperti suatu titik di langit.
Namun, ingatlah,
langkah pertama yang diinjakkan manusia di bintang
dimulai dari sebuah langkah di bumi.
Tulis namamu di sini:
Shalima Shero
_________________________________________
Tulis impianmu di sini:
Dokter!