
Back to Autumn
"SPILL THE TEA!"
Efron mendengkus kala mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Lily. Itu merupakan sebuah pertanda bahwa sebentar lagi akan ada gosip dari dua makhluk yang ada di hadapannya.
"Cepat katakan, Lily!" bisik Maya dengan bersemangat. Membuat Efron semakin malas mendengarnya. Dasar wanita!
"Pelajaran Mitologi kali ini akan dilakukan di museum," ucap Lily dengan mata berbinar.
"Bagus!"
"Apanya yang bagus?" sahut Efron tak mengerti jalan pikiran dua temannya itu.
"Tentu saja bagus! Kau tahu 'kan, aku dan Lily tidak terlalu senang berada di Colloseum," jawab Maya sembari bersedekap dan memanyunkan bibir.
"Yeah, jangan lupakan betapa sinisnya Mr. Crionic saat mengawasiku. Dasar layar berjalan!"
Efron memutar manik kelabunya malas. "Kutahu bukan itu alasan kalian."
"Huh, baiklah. Kami tak pernah bisa berbohong darimu, Ef."
"Jadi?"
Lily mulai mengamati sekitar. Mencoba memastikan tak ada seorang pun yang berusaha menguping. "Kudengar Miss Aimer akan menunjukkan beberapa patung dewa Yunani dan—”
"Dan apa?"
Lily sedikit memajukan tubuhnya ke arah Efron. Detik berikutnya ia membisikkan sesuatu yang berhasil membuat mata Efron membola.
"Kau gila?" pekik Efron sedikit tertahan.
"Gila artinya brilian."
Jace merasa kepalanya berdenyut mendengar suara Miss Aimer Venmaris sejak jam pelajaran Mitologi berlangsung.
Kenapa mendadak seperti pelajaran Sejarah begini? Ck, kepalaku rasanya ingin meledak, batin Jace.
Ia berjalan dengan malas mengikuti rombongan kelasnya. Menyusuri ruangan demi ruangan tanpa henti yang membuatnya semakin tak bertenaga.
Jace Kalandra, dalam hidupnya tak pernah menyukai teori panjang lebar semacam ini. Terlalu banyak kalimat membuat kepalanya ingin pecah saja. Bahkan kalau boleh memilih, ia akan lebih senang dibiarkan tidur seharian di atas kasur yang empuk.
"Pemalas." Seseorang dengan sengaja menyenggol bahu Jace saat berjalan mendahului. Ingin sekali Jace menjambak rambut merah yang berayun di depannya itu.
"Sialan kau, Rambut Api!"
Sejak awal masuk Akademi, Jace merasa tidak senang melihat gadis rambut merah bernama Lily James itu. Alasannya cukup simple. Pertama, gadis yang tingginya di atas rata-rata itu selalu terlihat mencolok. Membuat Jace merasa bosan karena sejauh matanya memandang, tampang Lily yang terlebih dahulu tertangkap oleh netra gelapnya. Kedua, tingkah laku Rambut Api itu tak pantas disebut layaknya gadis pada umumnya.
Jangan lupakan fakta bahwa Lily seorang Van, pewaris kekuatan dewa Vanir pada Mitologi Nordik. Sedangkan Jace adalah seorang As yang mewarisi kekuatan dewa Aesir. Dari prosa berjudul Edda yang pernah ia baca, kaum Vanir dan Aesir sering terlibat perang. Maka sejak saat itu, Jace mendeklarasikan bahwa Lily adalah musuh bebuyutannya, bahkan sebelum mereka terlahir pun sudah ditakdirkan untuk saling berselisih.
"Baiklah, sampai sini saja penjelasan saya. Ada pertanyaan?" Suara Miss Aimer kembali terdengar. Wanita dengan mantel bulu itu menutup buku yang sedari tadi ia pegang.
Lily segera mengacungkan tangan kanannya dengan semangat.
"Ya, Nona James?"
"Emm ... apa kita boleh keliling museum untuk melihat-lihat, Ma'am?"
"Boleh. Kalian bisa berkeliling museum untuk melihat koleksi di sini. Namun ingat, jangan sentuh apa pun, oke?" jawab Miss Aimer dan sengaja menekan kalimat terakhirnya.
Lily bersorak senang dalam hati. Ia segera beranjak bersama Maya dan Efron menyusuri lorong-lorong museum. Maya pun sama bersemangatnya seperti Lily. Ia berjalan di depan, menuntun langkah dua temannya.
"Kalian yakin?" tanya Efron meyakinkan. Mereka telah sampai pada sebuah guci kecil berisi cairan bening.
Maya mengangguk mantap. "Kepalang tanggung, kita sudah di sini 'kan?"
"Lagi pula untuk apa cairan ini?"
"Koleksi," celetuk Maya dengan santai, "Kudengar ini nektar yang dikonsumsi para dewa agar awet muda."
"Kau tak boleh menyentuhnya, Maya. Atau kita bisa terkena masalah," ungkap Efron yang tampak sedikit frustrasi. "Kita masih bisa balik badan dan pergi dari sini jika kau berubah pikiran."
"Bisa," tegas Maya. Menelengkan kepala menatap Lily di samping kanannya, "Lily bisa membantuku."
Lily menyibak rambut panjangnya. Keluar seekor kepik berwarna hitam dari sela rambut merahnya. Itu adalah sejenis serangga peliharaan yang telah terikat kontrak dengan Lily.
Maya merogoh saku rok hitam yang dikenakannya. Satu botol kaca kecil dan bungkusan kain berukuran kecil kini berada di genggaman. Lalu, ia mengeluarkan sebuah jarum dari bungkusan tersebut dan memberikan pada kaki-kaki mungil Lady—kepik hitam milik Lily.
Kepik itu mulai terbang membawa jarum menuju guci. Satu tetes cairan menempel pada jarum dan Lady kembali menuju Maya.
"Good job." Maya mulai meneteskan cairan bening itu pada botol kaca yang ia bawa. "Hanya setetes untuk melengkapi koleksiku, Ef, kau tak perlu khawatir."
Maya tertawa. "Demi cinta."
Efron melotot. Astaga, sepertinya ia lupa berhadapan dengan siapa.
Lily yang tak tahu apa pun mengernyit heran. "Cinta apa?"
"Tidak, lupakan." Maya semakin tertawa keras. Bahkan sampai terbatuk-batuk. "Oh, pujaan hatiku ...." Lalu berjalan sembari melompat kecil meninggalkan mereka berdua dan juga si kepik hitam.
Lily menatap ngeri pada Maya. "Kukira kau benar, Efron. Kini aku meragukan kejiwaan Maya. Benar-benar gila," ucapnya lengkap dengan decakan di akhir kalimat.
"Gila artinya brilian," cibir Efron, kemudian berlalu menyusul langkah Maya. Meninggalkan Lily yang masih bergidik.
Seluruh penjuru museum tampak ramai. Beberapa siswa tampak sangat antusias dan sisanya sedang malas-malasan. Perhatian Lily tertuju pada sebuah lorong yang tampak sepi. Seperti ada magnet yang menarik, kakinya melangkah mendekat. Netra Lily mengitari penjuru ruangan. Tak ada sesuatu yang spesial. Semua benda di tutup dengan kain putih. Mengendikkan bahu, ia berbalik meninggalkan ruangan tersebut.
"Eh?"
Langkahnya terhenti saat tak sengaja tersandung salah satu kain penutup. Menyebabkan kain itu luruh dan tampaklah sebuah patung kayu di hadapannya.
Satu kata saat melihat patung tersebut, cantik. Rambutnya berwarna keemasan dan berkilauan. Bahkan hanya sebuah patung kayu, tetapi mampu membuat Lily terpesona. Tatapannya kemudian beralih ke bawah. Sebuah tulisan yang tertutup debu menyapa indranya. Ia meniup pelan untuk menyingkirkan debu yang menghalangi.
Sif from Asgard (Norse Mythology).
Asgard? Dahi Lily mengernyit. Seorang Dewi Aesir?
"Mengaguminya, eh?" sapa sebuah suara.
Seketika pikiran Lily melayang pada seorang lelaki angkuh bernama Jace Kalandra. Sekelebat wajah sombong itu tampak mengejeknya. Membuat Lily mendengkus sebal. "Ah, patung jelek! Hanya terbuat dari kayu murahan," cibir Lily.
Tangannya bergerak malas membenahi kain pada posisi semula. Namun, sebelum kain itu tertutup sempurna, sebuah ide jahil tiba-tiba terlintas. Bibirnya terangkat sebelah. Lalu perlahan bergerak merapalkan sesuatu. "Livaere!" Kemudian sedikit menggembungkan pipi dan meniupkan udara ke patung kayu tersebut.
Satu, dua, tiga, dalam hati, Lily mulai menghitung. Menunggu perubahan pada kayu yang baru saja ia tiup. Berharap ada dedaunan atau setidaknya lumut yang tumbuh.
Sudah 1 menit menunggu, tetapi tak kunjung terjadi apa pun. Alis Lily mengerut heran. Tidak bereaksi? Bibirnya mengerucut sebal. Lily kembali membenahi kain yang tadi tak sengaja dijatuhkannya, kemudian berlalu pergi dengan perasaan tak senang.
Suasana kian mencekam dengan sedikit pantulan cahaya dari sang dewi malam. Waktu hampir menunjukkan tengah malam. Seharusnya semua orang telah lelap dalam buaian mimpi. Namun, tidak untuk tiga orang dengan jubah bertudung warna hijau menyerupai cat tembok itu. Mereka berjalan—lebih tepatnya mengendap-endap—di pinggiran tembok sepanjang koridor asrama.
Langkah mereka penuh hati-hati. Tak mau tertangkap kamera pengintai milik jam ajaib di ruang berkumpul. Itu juga yang menjadi alasan mereka mengenakan jubah bertudung yang warnanya senada dengan dinding.
Mereka sudah sampai di ujung koridor. Masih dengan menempelkan tubuh pada dinding, tatapannya jatuh pada jalanan berpaving sepanjang kurang lebih 100 meter, dan berakhir pada sebuah gerbang tua—yang tampaknya jarang digunakan.
"Sekitar 2 menit lagi tengah malam." Salah satu dari mereka mulai berbicara, sangat lirih. Sedangkan dua yang lainnya hanya mengangguk paham. "Waktu kita hanya 1 menit, ingat? Tepat saat jam itu berbunyi—"
"Berteriak maksudmu?" potong seseorang di belakangnya.
"Ya, apa pun itu sama saja. Intinya, cepatlah berlari mencapai gerbang."
"Aku tahu, Ef," seseorang tampak mendengkus, "Bahkan setiap malam kau mengulangi kalimat yang sama."
Efron mengendikkan bahu, "Hanya mengingatkan, siapa tahu ingatan kalian jangka pendek."
Tatapan mereka kembali fokus pada titik tujuan, gerbang tua berkarat. Tak lama setelah itu, bunyi jam yang berteriak sangat keras mulai terdengar. Mereka bertiga segera berlari secepat kilat untuk mencapai gerbang.
Jam ajaib di ruang berkumpul memiliki kamera pengintai di seluruh asrama fantasi. Siapa pun yang ketahuan berkeliaran pada malam hari, jam tersebut akan meneriakkan nama mereka dengan keras hingga membangunkan seluruh penghuni asrama. Namun, sensor pengintainya akan melemah saat tengah malam. Hanya 1 menit, karena jam ajaib akan fokus berteriak, memberitahukan bahwa tengah malam telah tiba.
Mereka bertiga tampak sangat ahli. Pada jarak 30 meter, salah satu dari mereka berhenti pada rantai yang menjuntai ke bawah. Saat tangannya akan menggapai, seseorang yang asing ikut memegang rantai tersebut. Menyebabkan ia terperanjat.
"Kau!" pekik keduanya terlihat sangat terkejut. “Apa yang kau lakukan di sini?”
"Kalian berdua bekerja samalah! Waktu kita tidak banyak!" teriak seseorang di depan membuat mereka kembali tersadar akan tujuan awal.
Rantai itu akhirnya ditarik. Gerbang sedikit terangkat. Mereka kembali berlari secepat mungkin, lalu berguling melewati celah gerbang yang telah terangkat.
Mereka akhirnya keluar asrama fantasi tanpa ketahuan. Dengan napas yang saling bersahutan, mereka berjalan meninggalkan bangunan asrama.
"Kenapa berhenti?" tanya gadis yang kini telah menyibak tudungnya, sehingga memperlihatkan rambut merah keriting dan panjang.
"Aku merasakan sesuatu mendekat." Maya, gadis yang menghentikan langkah itu mengamati sekitar. Tatapannya lurus tepat pada kastil utama yang jaraknya tak jauh dari mereka.
Musim gugur menyebabkan dedaunan kering luruh menutupi jalan. Sebuah suara gesekan terdengar jelas. Seperti ada yang berjalan mendekat ke arah mereka berempat. Dilengkapi suara berderit seperti engsel pintu yang dibuka.
Tunggu ... suara berderit?
Mereka saling tatap. Merasa aneh dengan deritan yang semakin terdengar jelas atau terkadang seperti kayu yang akan patah.
Maya memegang dadanya, "Bukan suara hatiku yang patah," ucapnya pelan.
Lily, si rambut merah berdecak kesal. Bisa-bisanya dalam situasi seperti ini otak gilanya tetap bereaksi.
Mereka bersiap untuk bersembunyi menuju pohon besar yang daunnya telah rontok. Namun, Lily berusaha menghentikan saat netranya menangkap sesuatu yang aneh sedang berjalan.
"Ini bencana!"