
Friend
ELLEANOR BARU SAJA merebahkan tubuh di atas ranjang ketika pintu kamarnya berdering. Ia menggerutu sambil membuka pintu. Di hadapannya seekor puma dengan kulit sewarna pasir nampak bergelung nyaman.
“Apakah ini hewan kontrakmu?” Sebuah suara mengalihkan perhatian Elle dari si puma.
Seorang siswi dengan raut wajah jahil tersenyum lebar. Elle mengenalnya sebagai salah satu siswa dari ras Manusia juga. Maya namanya.
“Kalau ini hewan kontrakmu, aku cuma bisa bilang briliant!”
Elle hanya tersenyum kecil. “Eerrr ... dia bukan hewan—“ Kalimat gadis itu terputus oleh geraman si kucing besar. Mata puma itu menatap Elle dengan malas.
“Wooaaa!” Maya berseru takjub. Ia menatap puma dengan pandangan berbinar. “Hewanmu keren sekali!”
“Eerr ... Terima kasih,” kata Elle singkat. “Tapi Maya— namamu Maya, bukan?”
Gadis berambut lurus itu tersenyum lebar, “Ya. Itu aku. Oh, iya aku kemari karena mengantarkan pesan dari Miss Grewyinn. Dia menunggumu di Laboratorium Farmasi. Sekarang.”
Elle membelalakkan mata, lalu mendesah. Ia baru saja hendak beristirahat.
Kenapa juga aku harus ke Lab. Farmasi? Keluh gadis itu.
Itu karena kau masih tergabung dalam tim pencari. Sebuah suara terdengar di dalam pikiran Elle. Ia lalu menatap puma yang masih asyik tiduran di depan pintunya.
Kenapa?
Aku bisa mendengarmu dalam pikiranku dan kau bisa membaca benakku? Elle bertanya heran.
Tentu saja, Gadis Sok Pintar. Kau dan aku mulai sekarang adalah partner.
Harus Elle akui sudah terlalu banyak kejutan dalam hidupnya dalam semalam. Dan kini ia memiliki partner hewan.
Tapi bagaimana bisa?
Aku heran kenapa kau dipanggil Buku Ensiklopedia kalau sejarah dan peraturan Academy saja kau lupa.
Apa maksudmu? Elle tak suka mendapati hewan itu merendahkannya.
Nona Sok Pintar, salah satu peraturan di Academy adalah tidak ada hewan yang diizinkan masuk ke dalam Academy, kecuali dalam keperluan pendidikan dan atau merupakan hewan kontrak siswa atau perangkat sekolah.
Elle masih belum memahami apa yang disampaikan oleh kucing besar ini.
Sudahlah, kau sebaiknya bergegas ke laboratorium. Sepertinya penawar racun sudah siap.
Mendengar kata penawar racun, Elle seketika bersemangat. Ia langsung berlari menuju Kastil Sci-Fi. Beberapa siswa yang berpapasan dengannya keheranan mendapati ia berlari sepanjang lorong dengan seekor puma yang mengikuti.
Kenapa kau mengikutiku? tanya Elle. Ia mulai merasa tak nyaman.
Tentu saja aku mengikutimu. Kita belum saling mengikat kontrak.
Kontrak apa? Gadis 15 tahun itu sedikit panik.
Aish ... rupanya kau betul-betul sedang kacau. Diam sejenak.
Elle berhenti berlari. Laboratorium Farmasi sudah dekat, tetapi ia perlu menyelesaikan urusannya dengan si kucing besar.
Baiklah, jelaskan secara perlahan! pinta Elle. Kali ini ia tak lagi bersuara dalam benak. Gadis itu menggeram.
Kau yakin mau berbicara dalam bahasaku? Jauh lebih mudah kita berkomunikasi menggunakan pikiran.
Jelaskan! Elle menggeram lebih kencang.
Baiklah. Sistem perlindungan Academy membuat hewan-hewan tidak bisa masuk ke dalam Academy, kecuali hewan yang digunakan dalam pelajaran. Biasanya hewan-hewan itu diantar oleh Prodigy. Hewan lainnya yang bisa keluar masuk Academy adalah para hewan kontrak.
Elle mulai memahami apa yang terjadi. Ia tak lagi berwajah garang pada si kucing besar.
Dini hari tadi, saat kita memasuki Academy, sistem perlindungan mengenaliku sebagai hewan kontrakmu.
Kenapa aku? Elle bertanya keheranan. Bukankah mereka ada empat orang semalam.
Elle tampak mengingat hal itu. Ia mengacak-acak tatanan rambutnya yang sudah berantakan. Jadi sekarang kau adalah hewan kontrakku?
Puma menggeram. Belum. Kita harus saling mengikat janji.
Janji? Tiba-tiba Elle merasakan embusan angin panas. Di hadapannya si puma tampak berdiri sejajar dengan matanya. Ia menatap manik mata puma yang tampak berkilau menawan, lalu keduanya mengaum bersamaan.
Elleanor langsung menggelengkan kepala. Ia tampak seperti baru sadar dari disorientasi.
Apa yang baru saja terjadi?
Kita baru saja mengikat janji sebagai partner. Mulai sekarang aku adalah hewan kontrakmu.
Elle terkesiap. Ia tampak takjub. Apakah aku perlu memberimu nama?
Terserah.
Elle tertawa mendengar suara ketus puma.
Baiklah, mulai sekarang namamu adalah Sandy.
Puma itu menggeram tak suka.
Ha ha ha. Kau tidak bisa menolaknya. Baiklah. Kau kembalilah ke kamarku. Aku harus bergegas ke Laboratorium Farmasi.
“Apakah penawarnya berhasil?”
Miss Grewyinn tersenyum mendengar pertanyaan yang sama dari gadis yang sama. Ia baru saja selesai mencampur biji berry terakhir ke dalam tabung kimia buatan elf.
“Tenang saja, Nona!” kata Miss Grewyinn. “Jika setelah 30 detik cairan di dalam tabung tidak berubah warna, berarti kita berhasil.”
Demi mendengar penjelasan dari Elf cantik itu, Elle segera berhitung di dalam hati. Sementara Miss Grewyinn membalikkan sebuah jam pasir yang berukuran paling kecil.
Tepat saat pasir terakhir turun, tabung kimia yang menjadi pusat perhatian dua perempuan berbeda ras dan usia itu tampak mengeluarkan asap, tetapi sama sekali tidak berubah warna.
Miss Grewyinn menatap Elle dengan tersenyum cerah. “Kita berhasil.”
Elle mendesah lega.
“Sayang sekali Adniel tidak dapat melihatnya.” Kalimat Miss Grewyinn terdengar sedih di telinga gadia remaja itu.
“Jadi, kapan kita bisa memberikan penawarnya, Miss?” tanya Elle berusaha kembali memusatkan perhatiannya.
“Sekarang juga, Nak. Sekarang kau pergi dulu ke klinik. Beritahu Madam Polina. Sementara aku akan memghubungi kepala sekolah dan guru lainnya. “
Elle mengangguk. Tentu saja ia menyanggupi hal itu. Setelah melalui malam di Blackcave, bergegas menuju klinik bukanlah hal yang sulit.
Rupanya berita kepulangannya sudah menyebar begitu cepat. Sesampainya di klinik, Elle mendapati bangsal ras Werewolf sudah dipenuhi beberapa orang.
Gadis itu mengenali Amara dan Shalima yang berdiri tak jauh dari ranjang Valfred. Ia juga mendapati bahwa wakil kepala sekolah, The Prof, bahkan Mr. Samael sudah menunggu di bangsal itu. Kelihatannya mereka memang tinggal menunggu Miss Grewyinn untuk membawa penawar racun.
Sambil menunggu, Elle justru beranjak menuju bangsal Fallen Angel. Ia mendapati Adniel terbaring sendirian di bangsal itu.
“Dia akan baik-baik saja.” Elle terlonjak kaget saat mendapati the Prof berdiri di belakangnya.
“Benarkah?”
“Kau khawatir padanya?” tanya The Prof sambil menyunggingkan senyum kecil yang tak terlihat.
“Tentu saja. Dia teman pertamaku selain Peony. Dan sekarang keduanya terbaring sakit di sini.”
Obrolan kedua orang itu terputus ketika terdengar suara riuh dari bangsal Werewolf.
“Ada apa?”
“Sepertinya mereka sudah memberikan penawarnya. Dan Hasilnya sudah terlihat,” jawab The Prof dengan tenang.
“Apa?” Elle baru menyadari ia tidak berdiri di samping sahabatnya. Gadis itu segera berlari menuju bangsal Werewolf meninggalkan The Prof sendirian.