Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
Journey to Nightshade - The Native




The Native


ELLEANOR KEMBALI BERAYUN dari satu dahan ke dahan lainnya. Sesuatu bergerak cepat di belakang, membuatnya  tidak bisa berhenti sejenak meski untuk mengambil napas.


Gadis itu terpaksa berhenti ketika sudah berada di ujung pepohonan. Ia cepat membalikkan badan dan terbelalak ngeri saat berhadapan dengan sepasang mata yang berkilau. Secepat kilat, ia menahan napas. Bersyukur bukan Basilisk yang kali ini menjadi lawannya.


Pemilik sepasang mata berkilau itu menyeringai melihat lawannya sudah tersudutkan. Perlahan ia mendekati mangsa yang tampak menggiurkan itu. Sementara Elle yang sudah mulai kehabisan tempat berpijak, tampak kalut dan ketakutan. Ia tidak dapat berpikir jernih.


Gunakan kekuatanmu!


Sebuah suara terngiang di telinganya. Menyadarkannya tentang sebuah kenyataan bahwa ia tidak sepatutnya merasa takut.


Berhenti!


Geraman kecil terlontar dari mulut gadis berusia lima belas tahun itu, membuat langkah si pengejar terhenti.


Hei, aku bisa mendengarmu. Biasanya mereka, spesies sepertimu, yang kukejar hanya berkomat-kamit tak jelas. Mereka menggerakkan wajah bagian bawah mereka.


Elle terbatuk kecil. Ia menahan tawa mendengar deskripsi tentang mulut manusia dari lawannya kali ini. Namun, gadis itu tetap menjaga kontak mata. Itu adalah saran pertama dari mentornya saat pertama kali mereka bertemu. Mereka hanya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.


Mata tajam itu tampak berkedip. Kepalanya miring ke kanan sedikit. Ekspresi wajahnya tampak keheranan meski terlihat seperti menyeringai, bersiap menerkam.


Tapi kamu mengerti?


Elle menarik napas panjang. Ia bersyukur, setidaknya sudah berhasil menarik atensi makhluk di hadapannya. Selanjutnya, ia mulai membetulkan posisi tubuh. Kali ini ia berdiri tegap dengan kaki tetap pada posisi kuda-kuda. Tetap bersiap untuk pilihan terburuk. Siapkan akar yang paling kuat agar aku bisa segera berayun ke bawah.


Kali ini siulan kecil bernada laksana lullaby keluar dari mulut gadis itu. Hasilnya beberapa akar gantung tampak turun dari dahan. Siulan yang justru membuat makhluk di hadapan Elle menggeram kesal.


Apa yang kamu katakan? Bukankah tadi kamu bicara dengan bahasaku?


Menghiraukan nada kesal dari makhluk di hadapannya, Elle menatapnya intens. Tidak ada lagi raut takut di wajahnya. Makhluk berkaki empat dengan warna hitam mengkilat cantik itu jelas sedang memburunya. Ia harus menuntaskan misinya, yakni menaklukkan singa gunung yang bahkan lebih besar dari beruang.


Sambil meraih akar gantung terdekat, Elle menggeram kecil, Aku tidak ingin berbasa-basi. Katakan kepadaku, kenapa kamu memburuku?


Auman keras mengagetkan Elle yang seketika mencengkeram akar lebih erat.


Ha ha ha. Berburu? Siapa yang berburu? Bukankah kau sedang mengajakku bermain?


Gigi-gigi putih dan runcing tampak saat singa gunung bersurai emas itu menyeringai. Tanpa berusaha menyembunyikan, Elle bergidik ngeri melihatnya. Namun, tetap saja ia terperangah kala mendengar kalimat sang kucing besar.


Aku tidak mengajakmu bermain. Aku lari darimu. Kupikir kau sedang memburuku.


Elle menyanggah dugaan kucing besar yang tampak cantik itu.


Mana mungkin aku memburumu. Aku sudah lama sendirian. Dan ketika melihatmu, aku hanya ingin mengajakmu bermain. Kupikir ketika kau lari tadi, kau sedang mengajakku main kejar-kejaran.


Jauh di bawah pepohonan, tampak sesosok pria tinggi bertudung sibuk memperhatikan interaksi antara keduanya. Dia mencatat semua hal penting dalam pengawasannya di sebuah buku yang tampak tipis.


Sementara itu, Elle mulai melonggarkan cengkeramannya pada akar gantung. Ia justru melangkah maju mendekati si Raja Hutan itu. Siulan yang lantang terdengar seperti sebuah peringatan. Namun, gadis itu mengabaikan seruan dari pepohonan. Perlahan tangannya terulur ke moncong singa gunung. Seketika, kucing besar itu mendengus menghentikan gerakan tangan Elle di udara.


Kenapa kau menyentuhku? Hidungku jadi gatal. Apakah kita sudah selesai bermain kejar-kejaran?


Tawa Elleanor membahana tanpa bisa dicegah. Ia semakin berani mendekati si kucing besar  nan eksotik itu. Tanpa ragu, ia mulai menaiki dan duduk di punggung lawannya hari ini.


Permainan belum berakhir. Sekarang bawa aku turun ke tanah.


Rasanya baru saja menutup mata ketika ia mulai merasakan embusan angin menyapa kulit. Samar, ia pun dapat mencium bau tanah basah. Perlahan, ia mulai mengintip dengan membuka mata kanan.


Sampai kapan kau mau terus merapat padaku?


Auman singa membuat Elle membuka kedua matanya tiba-tiba. Akhirnya gadis itu sadar ia sudah tidak lagi berada di atas pohon. Segera ia turun dari punggung sang Raja Hutan. Saat kakinya sudah menjejak tanah, tangan Elle tetap berada di antara surai singa sambil menggaruk-garuknya. Ia mengusap hewan berwarna kelam itu dengan sayang.


Perlahan, tubuh kucing besar itu menghilang. Pepohonan yang menjadi tempat Elle berlarian sebelumnya pun menghilang tak berbekas. Ia berdiri dengan sikap sempurna, seolah menghilangnya hutan dan hewan tadi adalah hal biasa. Ia kini berada di tengah-tengah ruangan putih yang hanya berukuran 5x5 meter. “Elleanor Galina Thompson.” Sosok pria berjubah tudung menghampirinya.


“Yes, Sir,” jawab Elle lugas.


“Latihan kali ini, kamu dapat menyelesaikan 20 menit lebih cepat dari hewan terakhir. Sudah jauh lebih baik. Mengingat sebentar lagi akan ujian akhir tahun, seharusnya kau sudah bisa menguasai bahasa binatang buas dan melata. Untuk minggu depan, kita akan kembali ke tanaman. Dan selamat, bakatmu sudah naik level.”


Senyum kecil terukir di wajah gadis berkepang satu itu. “Yes, Sir.”


“Latihan hari ini selesai. Catatan mengenai perkembangan bakat hari ini sudah dapat diakses di kartu siswa. Silakan buka setelah kau sudah sampai di kamar.”


“Terima kasih, Sir.”


Kemudian sosok pria itu  menghilang seperti halnya singa dan hutan tadi. Setelah yakin dirinya tinggal sendirian, Elle memgembuskan napas lega. Ia pun terduduk di lantai sembari meluruskan kedua kaki. Wajahnya menunjukkan raut kelelahan sekaligus kepuasan.


 Menghabiskan waktu hampir 10 menit untuk melepaskan lelah, Elle segera bangkit dan beranjak keluar dari ruangan yang  sunyi itu. Di depan pintu, Elle berdiri di lantai berkarpet beludru merah. Ia menunjukkan kartu siswa ke depan interkom dan terdengar sebuah suara.


Latihan siswi Elleanor Galina Thompson dari Asrama Fantasi telah selesai.


 Pintu pun terbuka secara otomatis. Saat Elle melangkah keluar, tiba-tiba ia tidak bisa menggerakkan badan. Seorang gadis berambut abu-abu gelap memeluknya erat.


“Hei, kudengar bakatmu naik level. Selamat, ya!”


Elle tertawa kecil. Ia balas memeluk salah satu temannya di Asrama Fantasi. “Bukankah kita semua pasti naik level setiap minggunya, Peony? Itu yang dikatakan mentor kepadaku.”


Gadis berambut abu-abu itu melepaskan pelukannya. Ia memutar bola mata dan menatap Elle dengan jengkel. “Hanya karena kau naik level setiap minggu, bukan berarti kita semua juga sepertimu. Ayolah, kita segera kembali ke asrama. Hari mulai petang, yang lain sudah kembali. Aku sengaja menunggumu.”


Elle mengangguk sambil tersenyum. Ia meraih lengan Peony dan merangkulnya. ”Ayo, aku sudah sangat lelah berlarian seharian ini. Bagaimana dengan latihan pengembanganmu?”


“Membosankan. Apakah mentor dan lawan kita memang harus proyeksi? Tidak bisakah kita mendapat lawan yang nyata?” keluh Peony.


“Ahh ..., kalau kau mengeluh seperti itu, berarti level bakatmu juga naik, bukan?” Elle menggoda Peony, membuat gadis itu mengibaskan rambut panjangnya. Elle tertawa melihat tingkah temannya itu.


Tawa Elle berhenti ketika mereka berpapasan dengan tiga siswa lainnya. Ia hanya berjalan sambil melihat kakinya. Rangkulannya pada Peony pun terasa semakin erat. Tanpa  sadar, ia berjalan cepat sehingga telah jauh meninggalkan tiga siswa di belakangnya.


“Kenapa kau ini? Masih belum nyaman bergaul dengan siswa lainnya? Bukankah ujian Summer Battle kemarin kamu bisa berkolaborasi dengan baik?”


Elle nyengir lebar hingga matanya ikut menyipit. “Ujian kemarin itu aku tidak banyak bicara. Apalagi dalam timku, keduanya lebih ahli bertarung fisik. Aku cukup menjadi pelindung bagi keduanya.”


“Karena itu sudah seharusnya kau tidak menghabiskan waktu di perpustakaan. Apa kau tahu, Adniel tadi memperhatikanmu secara intens. Mungkin dia menyadari bahwa kaulah kunci kesuksesan timmu kemarin. Dia itu kan tim lawanmu.”


“Adniel?”


“Oh My God! Siswa yang tadi berpapasan dengan kita!” Peony menahan kesal melihat sahabatnya tak menyadari keberadaan Pangeran Malaikat. “Dengar Elle, seharusnya kau menjalin pertemanan juga dengan yang lain. Rasmu sebagai manusia, kan banyak di sekolah ini. Tidak seperti rasku yang hanya tiga orang. Bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa bangun lagi untuk selamanya? Siapa yang akan jadi temanmu? ”


“Sudahlah, ayo cepat kita kembali ke asrama.” Elle mengalihkan pembicaraan dengan menarik tangan Peony dan berjalan cepat.


Gadis itu tak mengacuhkan kalimat akhir dari sahabatnya. Sepertinya dia lupa, bahwa sahabat satu-satunya dari ras Werewolf itu memiliki bakat dalam peramalan.