Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
The Soul Blower - Treason




Treason


LILY TERSENYUM MENATAP begitu banyak bunga yang menggantung di setiap sudut ruangan. Layaknya musim semi, kelopak bunga warna-warni itu sesekali berhamburan mencapai lantai yang semakin dingin.


"Sayang sekali, sebentar lagi kau harus kembali, Sibyl." Lily menyandarkan tubuhnya yang lelah karena sejak tadi menari dan melompat kecil mengelilingi ruangan itu.


Kau masih bisa berbicara denganku nanti.


Sibyl mengayunkan lengan kayunya beberapa kali, menyebabkan beberapa bunga kembali tumbuh dengan indah.


Lily tak hentinya memandang takjub, bahkan sesekali ia berdecak tanpa sadar. "Suatu saat aku ingin bisa sepertimu."


Kenapa?


"Karena kau cantik, baik, dan menakjubkan." Lily beralih memutari tubuh kayu milik Sibyl. "Lihatlah ini, rambut emas yang sangat cantik. Bagaimana kau bisa mendapatkan ini?"


Ini bukan rambut asliku.


"Iya, aku tahu kalau ini hanya patung. Tapi rambut aslimu pasti lebih cantik dari ini. Bagaimana caramu mendapatkannya?" Lily mulai mengelus surai Sibyl yang terbuat dari emas asli. Sedikit berat, tetapi sangat indah.


Kau mau rambut yang sama?


Lily menatap antusias, "Memangnya bisa?"


Aku mendapatkannya setelah Loki putra Laufey membuatku botak. Kalau kau mau, aku bisa mencabut rambut merahmu sampai akar.


Seketika Lily memegang rambut keritingnya. "Aku berubah pikiran. Awas kalau kau berani macam-macam!"


Tawa Sibyl menggema dalam pendengaran Lily. Hingga sebuah ketukan pintu berhasil menginterupsi perbincangan mereka. Efron dan Maya memasuki ruangan dengan raut cemas.


"Gawat. Ini sangat gawat!"


 Akademi sedang kacau. Banyak sekali orang yang berlalu-lalang di sepanjang lorong. Beberapa siswa pun tampak diperiksa oleh para staff akademi.


"Apa yang terjadi?" Jace melangkah dengan kaki sedikit pincang. Sudah berlalu beberapa hari sejak kakinya cedera di Gingko Forest. Namun, sepertinya injakan kaki Sleipnir bukanlah hal biasa yang mampu sembuh dalam sekejap.


Lelaki dengan rambut cokelat madu itu menoleh, Adniel. Tangannya bersedekap dan kembali menatap kerumunan di hadapan mereka, "Entahlah. Sebentar lagi libur panjang, kita hanya tinggal menunggu pengumuman saja, tetapi ada yang berulah."


Jace tampaknya masih tak mengerti apa yang dikatakan Adniel. Matanya terus menatap penasaran, "Berulah? Maksudmu berulah seperti apa?"


Adniel mengarahkan dagunya pada sebuah benda yang cukup jauh dari mereka. "Pa-tung?" tanya Jace sedikit tergagap.


Adniel mengangguk kecil, kemudian menjelaskan tentang hilangnya patung Sif dari museum. Hal yang lebih parah lagi adalah patung tersebut diganti dengan ukiran patung biasa dengan rambut emas palsu yang berasal dari rambut Medusa.


Pikiran Jace langsung melayang pada rentetan kejadian dalam satu bulan terakhir ini. Bolos jam malam, bertemu Rambut Api, gelangku yang hilang, Sibyl, Sleipnir, sihir, ramuan, Gingko For—ah, rasanya kepalaku ingin meledak.


 "Jace, ini gelangmu!” Tangan Lily mengangsurkan gelang cokelat milik Jace.


Jace menatap bingung pada Lily. "A-pa yang ... tapi misi kita belum selesai dan roh Sibyl belum kembali."


"Anggap saja aku sedang berbaik hati padamu. Kau sudah sangat membantu dan aku berterima kasih soal itu." Dengan telaten Lily mengoleskan salep di kaki Jace yang terluka. Mereka telah tiba di Villagic beberapa saat yang lalu. "Dan ya ... aku pikir kau tidak seburuk itu."


Jace memutar bola matanya, "Seburuk apa maksudmu?"


"Kau selalu buruk dalam pandanganku," ucap Lily sembari memegang bawah matanya. "Apa pun yang menyangkut dirimu, aku menganggapnya buruk."


"Oh, satu lagi! Kau itu seperti burung berkicau, kau tahu? Terus saja mengoceh yang tidak penting, membuat telingaku panas," tambah Lily.


Jace menatap tajam pada Lily. Bisa-bisanya ia disamakan dengan burung berkicau. "Enak saja kau menyamakanku dengan burung berkicau!"


"Kalau kau bisa memanggilku dengan sebutan Rambut Api, maka aku juga bisa menyebutmu Burung Berkicau," jawab Lily dengan santai. "Panggilan itu diberikan oleh Maya," lanjutnya dengan tawa yang cukup kencang.


"Kau! Sepertinya kau begitu puas mengejekkku, ya?" kesal Jace.


"Ah, tidak juga." Lily mengibaskan tangan kanannya tepat di depan Jace. "Aku tidak mengejekmu. Aku hanya berkata jujur bahwa kau ini seperti burung berkicau. Mulutmu itu tak pernah bisa berhenti mengoceh sedetik saja," lanjut Lily yang diakhiri dengan kekehan. Tangannya bergerak seperti menirukan bibir orang yang berbicara.


Jace melemparkan botol kosong bekas ramuan kepada Lily. Hanya lemparan pelan, tetapi mampu mewakili kekesalannya pada ejekan Lily.


"Terima kasih."


"Untuk?"


"Telah membantuku, memang apa lagi?" Lily beranjak dari duduknya, lalu menjulurkan tangan kanannya tepat di depan Jace. "Teman?"


"Kurasa itu bukan ide buruk," jawab Jace sembari meraih telapak tangan Lily, kemudian mereka tertawa kecil.


 Jace tersentak dari lamunannya saat sebuah tangan menepuknya dengan kencang. Adniel yang berdiri di samping kanannya mengisyaratkan sesuatu. Di depan mereka sudah berdiri Miss Aimer Venmaris. Didampingi asistennya, Miss Aimer memulai sesi pemeriksaan kepada Jace dan Adniel. Beberapa kali pertanyaan dilontarkan dan mereka menjawabnya dengan baik—meski terkadang Jace terlihat gugup.


Miss Aimer merasa sedikit curiga dengan gelagat Jace. Ia mengamati dengan saksama gerak-gerik murid pirangnya itu. "Tuan Kalandra, ada yang ingin kau sampaikan?"


“Teman?”


Jace sedikit berjingkat ketika tiba-tiba mendengar suara Lily. Ia menengokkan kepala, berusaha mencari dari mana asal suara itu. Namun, tak menemukan tanda-tanda bahwa gadis merah itu ada di sana.


"Ada apa?" Miss Aimer kembali melayangkan pertanyaannya. Jace berusaha menetralkan kegugupannya. "Sepertinya kau mengetahui sesuatu," tuduh wanita dengan mantel bulunya itu.


Miss Aimer mengangguk mengerti. Ia meminta Jace untuk datang ke ruangannya setelah ini. Jace pun menyanggupi permintaan Miss Aimer.


Di setiap langkahnya, menggema pikiran Jace seolah merangkai beberapa kejadian saat ia bersama Lily dan kedua temannya.


"Teman?"


Lagi. Suara itu muncul tanpa diminta. Jace memejamkan mata. "Maaf," gumam Jace tanpa sadar.


"Terima kasih."


 "Udara semakin dingin, musim dingin tinggal menghitung hari. Aku harap waktu kita cukup sebelum keberadaan kita diketahui," ucap Efron serius yang disambut dengan anggukan oleh Maya dan Lily.


"Namun ... apa kalian yakin waktu paling tepat adalah saat musim dingin?" sela Maya yang tampak sedikit ragu.


Satu-satunya jalan untuk menuju Asgard adalah melalui air yang terbakar, udara yang bertubrukan dengan cahaya dan menimbulkan warna-warna yang bertengkar.


Lily mengangguk sangat yakin. "Kata Jace, maksud dari petunjuk itu adalah bifrost. Sedangkan bifrost sendiri adalah pelanginya para dewa. Sangat sulit menemukan pelangi jika tidak dalam waktu yang tepat."


"Maksudmu?"


"Kau tahu polar night? Saat di mana matahari hampir tak muncul seharian di musim dingin, maka saat itulah waktu terbaik untuk melihat pelangi yang menyembur di seluruh penjuru lagit—aurora borealis."


"Aku setuju dengan Lily," kata Efron yang masih sibuk berkutat dengan botol ramuannya. "Sibyl, apa kau bisa menunggu selama seminggu lagi?"


Sibyl yang ditanya sama sekali tak merespons. Hal tersebut membuat tiga kepala di sana menengok ke arahnya. Tatapan mereka disambut dengan cahaya keemasan yang menguar dari tangan Sibyl.


"Whoa ... itu indah sekali," kagum Maya saat melihat cahaya keemasan dari tangan Sibyl perlahan berubah menjadi kelopak-kelopak bunga yang sangat indah.


Ini untuk kalian.


Sibyl menyerahkan bunga emas yang ukurannya lebih besar dari bunga pada umumnya kepada Lily. Lily meraihnya dengan tatapan terpesona. "Ini ... apa?" Ia mendongak sebentar, kemudian menatap bunga itu lagi.


Itu Golden Hibiscus, sebuah bunga kebenaran.


"Tapi ini untuk apa?" Kini giliran Maya yang penasaran. Tak jauh sama dari Lily, ia pun memandang takjub sampai tak berkedip.


Itu adalah kenang-kenangan dariku. Suatu saat kalian akan memerlukannya.


"Ini adalah bunga paling cantik yang pernah kulihat," gumam Lily.


 Keringat terus menetes seiring dengan degup jantung yang berpacu dari biasanya. Meski udara dingin semakin menusuk di luar sana, tetapi tidak bagi Jace. Tangannya mengepal dan sesekali meremasnya karena gugup yang kian melanda.


Berhadapan dengan Jace, Miss Aimer menumpukan dagunya pada punggung tangan yang saling bertaut. "Sudah siap?"


Jace mengangguk pelan, keraguan terpancar jelas dalam rautnya. Duduknya tak tenang, begitu gelisah hingga kakinya tak henti untuk bergerak.


"Baiklah, katakan."


Jace mulai membuka mulutnya dan menjelaskan semua. Dengan sedikit bumbu kebohongan seakan dirinya tak terlibat apa pun dengan Lily dan kedua temannya.


"Kau sudah sangat membantu dan aku berterima kasih soal itu."


Suara itu muncul kembali. Jace memejamkan matanya cukup erat demi mengenyahkan bayangan Lily yang mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Kau baik-baik saja, Tuan Kalandra?" tanya Miss Aimer yang sejak tadi mengamati setiap ekspresi Jace.


Jace hanya bergeming, sama sekali tak merespons pertanyaan Miss Aimer. Dahinya semakin mengernyit tak nyaman seiring dengan pikirannya yang melayang pada bayang-bayang gadis yang ia panggil dengan Rambut Api itu.


"Teman?"


"Tidak!" Teriakan Jace membuat Miss Aimer terlonjak karena terkejut. Jace merutuki kecerobohannya, "Ma-maksudku ... aku ... kakiku terasa ngilu karena udara yang semakin dingin, Ma'am."


 Udara semakin dingin. Semua siswa Maple Academy sedang sibuk mempersiapkan diri untuk libur akhir tahun. Namun, tiga siswa dengan kemeja putih yang melekat justru tengah sibuk di kamar ramuan.


Efron seperti biasa, selalu sibuk dengan botol-botol kecil yang berisi cairan anehnya. Lily sibuk mengamati kertas pemberian Efron yang berisi salinan mantra dari prasasti di Colloseum. Sedangkan Maya, entahlah. Gadis itu sejak tadi terlihat gusar dan terus menatap ke luar jendela yang menampilkan butiran salju halus yang mulai berjatuhan.


"Sepertinya aku akan merindukan Sibyl nanti." Suara Lily memecah keheningan di antara mereka bertiga. Ia menyandarkan bahunya pada sandaran kursi kayu yang diduduki.


"Ya, dia itu baik sekali dan ... cantik," sahut Efron yang dihadiahi lemparan kertas dari Lily.


"Dasar lelaki genit!" kata Lily dengan tawa kecilnya. "Bagaimana denganmu, Maya?"


Tak mendapat sahutan dari Maya, Lily menengok ke arah temannya yang sedang duduk di pojok ruangan dan menatap ke arah luar. "Maya, ada apa?" tanya Lily yang kini menghampiri Maya.


"Ya, ada apa?" Maya tampak terkejut. "Kau bertanya apa, Lily?"


"Kau kenapa?" Lily meraih kursi dan duduk di samping Maya.


"Ti-tidak. Memang aku kenapa?" Bukannya menjawab, Maya justru membalikkan pertanyaan Lily.


"Ada apa? Kau merasakan sesuatu?"


Maya tersenyum, kemudian beralih menatap jendela—lagi. "Tidak ada. Aku hanya sedang mengagumi salju-salju yang turun.”


Mungkin hanya perasaanku saja.